Pretty little baby (yeah, yeah)
Pretty little baby (yeah, yeah)
kisah nyata seorang pemimpi
Pretty little baby (yeah, yeah)
Pretty little baby (yeah, yeah)
2026 tinggal sehari lagi...
10 tahun lebih blog ini "beroperasi".
Banyak jatuh bangun yang kualami, Ada saatnya blog ini ekstra aktif, dengan tulisan hampir tiap minggu. Tapi pernah juga mangkrak. Banyak alasannya. Tapi yang utama karena laptopku rusak.... Yes, tepatnya saat pandemi Covid menyerang, Axioo Neon-ku ikutan almarhum.
Lho kan bisa ngeblog pakai HP? Silahkan percaya atau tidak, moodnya beda dibanding pakai laptop! Emosi lebih dapat saat jari bermain di tombol keyboard daripada layar sentuh.
Dan... di akhir tahun ini akhirnya aku berhasil beli laptop baru. Lenovo IP3. Horeeee.... akhirnya moodku untuk menulis balik lagi. Terpikir buatku menjadi blogger profesional. Harapanku ini bisa jadi selingan yang sempurna di balik bisnis online yang kujalankan.
Pucuk dicinta ulam tiba, rencana Tuhan selalu indah. Aku temukan di Instagram, info Webinar Pelatihan Kepenulisan Blog yang diadakan oleh Nasyiatul Aisiyah Kota Malang. Acara ini terbuka untuk umum, gratis dan bersertifikat pula. Tunggu apa lagi?
Sungguh tepat, acara ini bikin aku semakin termotivasi. Bukan hanya soal bikin blog dan meraih penghasilan darinya, tapi juga soal creative writing. Yang terpenting ada niat dari diri kita.
Nah sekarang, aku akan awali tahun 2026 dengan bikin blog baru. Di situ aku akan aktif menulis tentang travelling dan kuliner. Rencananya aku bakal update tulisan minimal seminggu sekali. Bahkan aku bercita-cita beli domain agar blog baru nanti bisa bergelar ".com".
Hah? Lalu blog yang ini dikemanain?
Don't worry! Blog yang hampir beranjak "remaja" ini tidak akan mati. Tapi blog ini akan aku "reaktivasi" menjadi blog gado-gado. Isinya bisa review lagu, film, bisa juga curhat atau pengalaman berkesan di luar konteks travelling. Aku nggak punya timeline untuk menulis di sini, Pokoknya bakal lebih sering update dari sebelumnya deh.
Oh ya, sebenarnya ada satu lagi blog aku, reviewmieinstan.blogspot.com . Seperti judulnya, aku bakal mereview berbagai varian mie instan. Cuma berhubung faktor kesehatan membuatku harus batasi konsumsi mie instan, tulisan di sana bakal update setidaknya sebulan dua kali.
Oke, nantikanlah launching blog baruku dan tetaplah stay in tunggu tulisan terbaruku. Di 2026 aku siap terbang lebih tinggi !
UPDATE : Blog Baru aku :
Kalau jodoh sudah tertulis
Harus jumpa si gadis manis
Dari India atau di Inggris
Panah amor tidak akan miss
Dengar cerita orang dahulu
Memang cinta buta selalu
Saling cinta itu yang perlu
Panah amor tak pilih bulu
Yang jangkung, yang pendek, ya sama saja
Yang mancung, yang pesek, ya sama saja
Yang muda, yang nenek, jikalau cinta
Kalau jodoh tidak kemana
Yang bodoh cari yang molek
Yang cantik cari yang jelek
Yang mancung cari yang pesek
Panah amor tidak berengsek
Suami tua berbini muda
Orang muda memilih janda
Dari dulu larangan tiada
Jika amor datang menggoda
Di dusun, di kampung, bertemu juga
Di Peking, di Bandung, bertemu juga
Dipikir, direnung, bertemu juga
Kalau jodoh tidak kemana
Mendengar kabar wafatnya Gary Iskak kemarin cukup mengagetkan. Seraya turut belasungkawa, aku kembali ingat latar belakang keluarga Gary Iskak yang bukan orang sembarangan. Kakeknya adalah sutradara dan pejuang kemerdekaan bernama Robert Iskak (eh namanya kok mirip denganku ya), kemudian om dan tantenya adalah artis Indonesia tahun 1950an hingga 1960an yaitu Boy Iskak, Indriati Iskak, dan Alice Iskak. Gary Iskak sendiri adalah anak dari Irwan Iskak, putra bungsu keluarga ini. (just info : mereka tidak ada hubungan dengan pelawak Iskak yang jadi temannya Ateng)
Nah, di sini yang mau aku bahas adalah salah satu lagu milik almarhum Boy Iskak, yang liriknya sudah kucantumkan di atas. Lagu berjudul Kalau Djodoh itu diciptakan oleh Maroeti, seniman keroncong zaman dulu. Lagu ini terangkum dalam album berjudul Double D. Albumnya dirilis sekitar tahun 1963. Boy Iskak membawakannya bersama Orkes Simanalagi pimpinan Jules Fioole. Dalam album piringan hitamnya sebenarnya ada empat lagu, tapi lagu Kalau Djodoh menjadi hits utama. Aku tidak tahu apakah Boy Iskak punya album lain karena tidak ada infonya, catatan di internet juga sangat minim.
![]() |
| Album Double D (sumber : musictime.nl) |
Oke, lagu Kalau Djodoh bercerita tentang pepatah "jodoh tak akan kemana". Diibaratkan dengan panah Amor si dewa cinta, biarpun jaraknya jauh, biarpun beda status, beda usia, sampai beda bentuk fisik, kalau sudah berjodoh pasti akan bertemu dan bersatu. Lirik lagu ini cukup menggelitik, secara keseluruhan masih relevan buat zaman sekarang. Misalnya "yang muda, yang nenek, jikalau cinta". Pernah dengar kan, pemuda menikahi nenek-nenek?
Aku pengin banget cover lagu ini, tapi aku cari-cari not dan chordnya belum ketemu. Mungkin karena sudah lama banget ya.
![]() |
| Boy Iskak (sumber : indonesiancinematheque.blogspot.com) |
Sedikit info, Boy Iskak bernama asli Robertus Armand Iskak, lahir tahun 1939. Ia adalah aktor dan penyanyi tahun 1960an. Di dunia film ia menjadi pemeran utama dalam film Masih Ada Hari Esok (1961) dan Maut Mendjelang Maghrib (1963). Setelah menikah, ia tidak aktif lagi menjadi artis. Namun putranya, Reynaldi Iskak, mengikuti jejaknya dengan menjadi aktor tahun 1990an. Di masa tua, Boy Iskak tinggal di Cicurug, Sukabumi hingga meninggal pada tahun 2009 karena penyakit diabetes.
RIP Gary Iskak dan Boy Iskak.
Link video :
Setelah nonton film Sore : Istri Dari Masa Depan, tiba-tiba saja aku ingin nonton film di bioskop lagi (bilang aja ketagihan). Eh, tunggu dulu. Aku nggak mau nonton sembarang film. Malas banget nonton film horor yang temanya diulang-ulang atau film cinta-cintaan nggak jelas. Aku ingin film yang filosofis.
Kebetulan hari itu, 11 November, aku ada waktu luang. Aku putuskan buat nonton film. Karena pilihan di Platinum Cineplex Magelang cuma dikit, akhirnya kupilih film Pangku. (emang judulnya gitu, bukan berarti nontonnya sambil dipangku emak, kan udah gede...)
So, masuklah aku ke studio. Dan inilah hasil pengamatanku terhadap film Pangku :
Alkisah, ada seorang perempuan muda bernama Sartika (Claresta Taufan) yang sedang hamil 8 bulan. Ia pergi merantau sendirian untuk mencari kerja. Berawal dari menumpang truk, sampailah Sartika ke sebuah desa di pantai utara Jawa. Daerah ini adalah daerah pinggiran yang miskin, namun sering dilewati oleh truk pengangkut antar kota. Sebagai sarana hiburan untuk para sopir truk yang mampir, di sini terdapat tempat prostitusi, karaoke, dan warung kopi.
Setelah melangkah tanpa tujuan, Sartika mampir ke warung kopi milik Bu Maya (Christine Hakim). Saat ditanya oleh Bu Maya, Sartika mengatakan ingin mencari kerja apa saja. Akhirnya Sartika ikut ke rumah Bu Maya. Bu Maya sangat miskin. Ia tidak memiliki anak dan hanya tinggal berdua dengan suaminya, Pak Jaya (Jose Rizal Manua). Di sini Sartika mulai membantu pekerjaan mereka, seperti mencuci dan merapikan rumah.
Tibalah waktu bagi Sartika melahirkan anaknya, dengan hanya ditolong oleh Bu Maya. Meski kondisi serba terbatas, anak yang diberi nama Bayu itu tumbuh sehat. Untuk memenuhi kebutuhan anaknya, Sartika membantu Pak Jaya bekerja sebagai buruh tani.
Tak tega melihat Sartika harus bekerja berat, Bu Maya menawarkan pekerjaan lain untuknya. Kebetulan saat itu warung Bu Maya sepi karena kalah bersaing dengan warung lain yang memiliki jasa kopi pangku. Kopi pangku adalah tradisi dimana seorang wanita akan membuatkan kopi untuk pelanggannya, kemudian ia akan duduk di pangkuan si pelanggan yang sedang menikmati kopi sambil memijat. Awalnya Sartika ragu untuk menjadi kopi pangku karena mengarah pada tindakan prostitusi. Namun demi Bayu, ia terpaksa menerima.
Sejak kehadiran Sartika, warung Bu Maya kembali ramai. Bahkan datang pula beberapa wanita lain untuk pekerjaan yang sama. Lambat laun, Sartika pun menikmati pekerjaan itu. Dengan penghasilan yang lumayan pula, Pak Jaya bisa memiliki modal untuk berjualan mie ayam. Bu Maya dan Pak Jaya sudah menganggap Sartika dan Bayu seperti anak dan cucu mereka.
Beberapa tahun berlalu, Sartika tetap menjadi kopi pangku karena tak ada pilihan lain. Terkadang ia harus mencuri-curi waktu untuk menidurkan Bayu. Bayu sendiri harus dibesarkan dalam kondisi seperti itu.
Tak jauh dari desa tersebut adalah pesisir pantai dimana nelayan beraktivitas. Banyak orang datang melakukan jual beli dan pelelangan ikan. Di situ ada seorang sopir pengangkut ikan bernama Hadi (Fedi Nuril), didampingi dua orang kuli angkut bernama Asep (Muhammad Khan) dan Gilang (Devano Danendra).
Suatu hari, Asep mengajak Hadi mampir ke warung Bu Maya. Di sini Sartika dengan senang hati duduk di pangkuan Asep, hingga akhirnya Sartika masuk untuk menidurkan Bayu. Melihat semua itu, Hadi menjadi kasihan pada Sartika karena harus mengurus anak sambil bekerja.
Maka mulailah Hadi mendekati Sartika. Mulai dengan menghadiahkan ikan yang tidak terjual di pelelangan, hingga akhirnya mereka pergi jalan-jalan bareng. Bayu pun merasa cocok dengan Hadi.
Hadi juga menolong Gilang, teman kerjanya, yang diintimidasi oleh bosnya, sehingga Gilang mendapat pekerjaan sebagai juru parkir di sekitar warung Bu Maya. Sejak itu pula Gilang menjadi teman main Bayu.
Masalah muncul ketika Bayu (Shakeel Fauzi) sudah waktunya masuk sekolah. Ia tidak bisa mendaftar karena tidak ada identitas bapaknya. Di saat yang sama, kedekatan Hadi dengan Sartika makin erat. Hadi mengatakan bahwa ia menginginkan anak dan Sartika membutuhkan suami. Hadi siap menolong Sartika untuk berjualan mie ayam. Maka akhirnya keduanya menikah. Sartika dan Bayu pindah dari rumah Bu Maya ke rumah Hadi. Bayu pun bisa bersekolah karena Hadi telah menjadi bapaknya secara resmi.
Hari-hari sebagai pengantin baru dijalani Sartika dan Hadi dengan harmonis. Bayu yang menyukai layang-layang, belajar membuat sendiri dan menjualnya pada teman-teman sekolahnya. Kehidupan mereka cukup bahagia. Hadi memenuhi janjinya membuatkan gerobak untuk nantinya Sartika berjualan mie ayam. Namun karena masih kekurangan modal, Sartika belum bisa memulai usahanya.
Suatu hari, Hadi pergi cukup lama untuk urusan pekerjaan. Sementara itu Sartika hamil. Ia merasa galau karena suaminya tak kunjung pulang. Lewat petunjuk dari Gilang, Sartika berusaha mencari Hadi di tempat kerjanya. Alangkah terkejutnya saat ia mengetahui bahwa Hadi sebenarnya telah memiliki istri bernama Anisa (Happy Salma).
Sartika merasa dikhianati oleh Hadi. Apalagi ketika akhirnya Anisa datang ke rumahnya dan membongkar fakta bahwa selama ini Hadi telah menyalahgunakan kiriman uang dari Anisa yang bertahun-tahun bekerja sebagai TKW di Arab Saudi.
Tanpa disuruh, Sartika segera mengemasi barang-barangnya. Ia bersama Bayu pergi meninggalkan Hadi. Terpaksa mereka kembali ke rumah Bu Maya, dan Sartika kembali bekerja sebagai kopi pangku. Sampai akhirnya Sartika melahirkan anak keduanya yang diberi nama Sekar.
Bertahun-tahun kemudian, Bayu telah dewasa dan berjualan mie ayam keliling. Sementara Sekar masih bersekolah. Cerita berakhir saat Sartika menemukan surat dan uang sebagai kejutan ulang tahun dari kedua anaknya. Bayu dan Sekar bangga memiliki Sartika sebagai ibu yang berjuang tanpa lelah demi anak-anaknya.
Karena menceritakan tentang kehidupan "wanita penghibur" , tak heran jika film ini memiliki label 17+ . Menurutku perilaku Sartika sebagai kopi pangku di sini tidak ditunjukkan secara eksplisit (mungkin agar tidak dicekal). Lebih sebagai wanita yang menemani pelanggan, bukan yang mengarah ke seksualitas, meski ada juga adegan Sartika dan Hadi bermesraan di tempat karaoke.
Dengan setting pesisir utara Jawa yang terpencil, tampilan para tokohnya pun seperti orang pinggiran pada umumnya. Pakaian mereka seadanya, kehidupan mereka terkesan kurang bersih.
Akting para pemainnya pun jempolan, mampu menampilkan kepolosan. Setidaknya ada 3 pemain yang layak jadi sorotan. Pertama, Christine Hakim. Tentunya artis senior ini sudah tidak diragukan lagi. Berbagai karakter, termasuk tokoh Bu Maya di film ini ditampilkan dengan sempurna. Kedua, Fedi Nuril. Bisa dibilang aktor ini punya faktor X. Dari luar sering terlihat kalem tapi bisa menjiwai beragam karakter. Siapa sangka, Hadi yang dari luar terlihat baik ternyata aslinya jahat? Dan ketiga, Devano Danendra. Putra dari Iis Dahlia ini di dunia nyata terlihat glamour tapi di film ini bisa menjelma jadi orang pinggiran. Biarpun bukan tokoh utama, setidaknya karakter Gilang menunjukkan bahwa Devano bisa berakting dengan oke.
Oh ya, jika Reza Rahadian biasanya kita kenal sebagai aktor, di film Pangku ini untuk pertama kalinya dia main di balik layar sebagai sutradara sekaligus penulis skenario. Wow!
Kekurangan dari film ini? Dari segi cerita sebenarnya tidak masalah. Hanya saja ada bagian yang kurang pas. Terlalu cepat bagi Sartika menerima Hadi sebagai suaminya. Selain itu, bagaimana mereka menikah tidak diceritakan, tahu-tahu Sartika sudah memasang foto pernikahan mereka di rumah Hadi. Bagian lain yang menurutku penting juga untuk diceritakan tapi tidak ada dalam film adalah bagaimana dan dengan siapa Sartika hamil Bayu (di awal cerita). Jadi terserah imajinasi penonton saja. Sementara karakter paling unik di film ini adalah Pak Jaya. Nyaris tak ada dialog yang diucapkan.
Yang pasti, secara keseluruhan, film ini ingin menggabungkan antara sisi kelam kehidupan masyarakat dengan masalah feminisme. Dimana seorang wanita bekerja keras demi kehidupan anaknya hingga rela mengesampingkan harga dirinya sendiri. Jadi yang ditekankan di sini bukan soal seksualitas tapi soal perjuangan hidup. Sartika adalah sosok ibu yang bertanggung jawab terhadap anaknya. Meski hidup serba sulit, tak terpikir baginya untuk menelantarkan anaknya atau menitipkan di panti asuhan.
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari film Pangku ini :
- Hidup penuh dengan perjuangan, tapi hati-hatilah dalam melihat peluang.
- Jangan mudah percaya dengan orang lain meskipun dia terlihat baik.
- Bersyukurlah atas apa yang kita miliki sekarang, karena banyak orang di luar sana yang hidupnya kurang beruntung.
- Hargailah perjuangan orang tua kita yang telah membesarkan kita.
Aku tahu film Sore ini dari sebuah komsel komunitas rohani. Teman-teman di situ begitu getol ngomongin film ini. Seketika aku penasaran, sebagus apa sih filmnya. Biarpun mereka udah jelasin panjang lebar, kalau aku nggak nonton sendiri, mana paham.
Daripada jadi misteri dalam hidup... haha... akhirnya aku cari kesempatan buat nonton. Puji Tuhan, di Platinum Cineplex Magelang filmnya masih ada. Sepertinya memang film ini lumayan laris karena udah tayang sebulan lebih.
Malam itu, di bioskop cuma ada segelintir orang, mungkin karena ini hari-hari terakhir film ini tayang. Dan seperti biasa, cuma aku yang sendirian, lainnya sama teman atau pasangan. Ah biarin!
Film ini dibintangi oleh dua tokoh utama yakni Dion Wiyoko dan Sheila Dara. Aku menduga, apakah film ini bernapaskan rohani? Hmmm... nanti dulu.
Jonathan (Dion Wiyoko) adalah seorang fotografer berdarah Tionghoa-Indonesia yang tinggal di Groznjan, Kroasia. Di awal film diceritakan, ia suka berburu foto ke berbagai tempat bahkan sampai ke Arktik dengan pemandangan aurora. Di Kroasia, Jonathan tinggal sendirian, tapi ia punya sahabat bernama Karlo dan pacar bernama Elsa. Hidup bebas membuat Jonathan tidak memikirkan kesehatannya. Ia suka merokok dan minum miras.
Suatu pagi, saat bangun, tiba-tiba ada seorang perempuan Indonesia di samping Jonathan. Ia mengaku bernama Sore, istri Jonathan dari masa depan. Jonathan mengira Karlo sengaja mengerjainya dengan mengirim Sore. Meski Karlo membantah, Jonathan tetap tak percaya. Sore terus mengikuti kemana Jonathan pergi hingga membuatnya kesal. Bahkan Sore muncul saat Jonathan bersama Elsa hingga berakibat putusnya Jonathan dengan Elsa.
Jonathan berusaha mengusir Sore. Tapi Sore tetap menunggu di depan rumah, hingga terpaksa Jonathan mengajaknya makan. Di sinilah Sore mengatakan bahwa ia tahu segala hal tentang Jonathan, apa yang akan terjadi di masa depan. Mereka akan bertemu di pernikahan Cindy, kakak Jonathan, tiga tahun lagi. Jonathan mulai percaya dengan Sore, sehingga ia membiarkan Sore tinggal di rumahnya. Sore mengatakan bahwa ia datang untuk mengubah hidup Jonathan. Dimulai dari melarang Jonathan merokok dan minum miras, sampai mengajarinya hidup sehat. Sore juga membantu Jonathan memilih foto yang terbaik untuk pameran fotografi, termasuk menjadi modelnya. Tapi ada satu hal yang tidak diketahui Sore, yaitu Jonathan menyembunyikan sesuatu di lemari. Sampai suatu hari, Sore marah besar melihat Jonathan merokok lagi. Jonathan meminta sekali ini saja. Tapi Sore mengingatkan bahwa delapan tahun lagi Jonathan akan meninggal karena serangan jantung akibat kebiasaan merokok. Ia menegaskan bahwa segala sesuatu bisa dimulai dari awal. Tiba-tiba hidung Sore berdarah, lalu ia roboh, entah pingsan atau meninggal, tidak dijelaskan secara pasti.
Film berlanjut ke segmen kedua. Jika di segmen pertama tadi, cerita lebih dari sudut pandang Jonathan, kini dari sudut pandang Sore. Asal usul Sore tidak dijelaskan di sini. Tapi semua flashback segmen pertama dirangkum secara cepat, lalu adegan kembali lagi ke waktu pagi saat Sore datang di samping tempat tidur Jonathan (untuk selanjutnya kusebut adegan inti). Sepertinya Sore ingin memulai untuk menyadarkan Jonathan dari awal. Tapi gagal lagi karena Jonathan tidak bisa mengubah kebiasaan buruknya. Kembali ke adegan inti, karena Jonathan tidak percaya bahwa Sore benar-benar istrinya, Sore mencoba meninggalkan Jonathan. Ia mencari pekerjaan sampai akhirnya bekerja di sebuah butik pengantin milik Marko. Suatu hari, Jonathan datang bersama Elsa, mereka akan memilih pakaian pengantin. Sore terkejut, tapi ia tak berani membuka jati dirinya. Tanpa sengaja, Sore mendengar pertengkaran Elsa dengan Jonathan bahwa Jonathan tidak boleh melupakan papanya. Ternyata papa Jonathan telah menikah lagi saat Jonathan masih kecil hingga Jonathan membencinya, padahal papanya juga tinggal di Kroasia. Sore merasa bahwa ia harus membantu Jonathan berdamai dengan papanya. Maka, film kembali ke adegan inti. Selagi Jonathan belum bangun, Sore membuka lemari dan menemukan tulisan-tulisan kekecewaan Jonathan terhadap papanya. Saat Jonathan bangun dan bertanya siapa dia, Sore memperkenalkan diri dan menegur Jonathan tentang papanya, sehingga Jonathan langsung mengusirnya. Sore mencoba lagi kembali ke adegan inti dan berkata ingin mendamaikan Jonathan dengan papanya, kali ini Jonathan tidak main-main langsung menghubungi polisi.
Sore tidak menyerah. Mulai dari adegan inti sampai adegan Jonathan ketahuan merokok lagi, ia mencoba bicara tentang papa Jonathan. Jelas sekali bahwa Jonathan berkeras tidak bisa memaafkan papanya. Alhasil di sini Sore pingsan lagi. Lagi-lagi balik ke adegan inti, kali ini dalam suasana romantis, Sore mencoba ngomong baik-baik hingga Jonathan setuju menemui papanya. Tapi... olala.. sesampai depan rumah papa Jonathan, Sore malah kolaps... harus ulang dari awal lagi deh.
Segmen ketiga, berkaitan dengan waktu. Di sini sepertinya terbongkar bahwa Sore punya "alergi malam". Setiap kali malam tiba, ia selalu kolaps. Gara-gara itu, ia nggak pernah bisa sampai ke rumah papa Jonathan karena selalu kemalaman sampainya. Akhirnya Sore menyerah, ia sadar bahwa Jonathan sendirilah yang harus mengubah semuanya. Tapi sampai kapan pun, Sore tetap menjadi istrinya.
Adegan berlanjut ke delapan tahun kemudian, saat Jonathan telah meninggal. Sore berduka karena ditinggal sendirian. Ia memutuskan pergi ke Kutub Utara untuk mengenang Jonathan. Lalu entah bagaimana caranya, ia kembali ke masa lalu karena ingin mengubah hidup Jonathan.
Selanjutnya, waktu kembali saat Jonathan bangun tidur, tapi kali ini Sore tidak muncul lagi. Ajaibnya, setelah itu Jonathan melakukan semua yang diinginkan Sore. Ia punya tekad untuk mengubah hidupnya. Ia berhenti merokok dan minum miras, putus dengan Elsa, bahkan ia menulis surat untuk papanya bahwa ia sudah mengampuni papanya.
Sesudah itu, Jonathan pulang ke Indonesia. Ia mulai rajin olahraga hingga mamanya heran. Menjelang akhir cerita, Jonathan mengadakan pameran foto tentang Kutub Utara. Saat inilah Sore datang melihat-lihat. Tentu saja mereka tidak saling kenal. Tapi saat mereka berjabat tangan, tiba-tiba, semua flashback adegan tadi muncul di pikiran mereka dan mereka pun berpelukan. Tidak jelas apakah mereka segera menikah dan apakah Jonathan konsisten memperbaiki hidupnya atau tidak, film berakhir begitu saja.
Ok, mari kita review.
Secara jalan cerita, film ini terkesan abstrak. Bagi yang tidak paham filsafat atau psikologi, pasti akan bingung. Terutama pas perjuangan Sore menyadarkan Jonathan dengan "kembali ke awal", bisa saja kita akan heran "Lho kok balik adegan itu lagi". Jadi, kita perlu nonton dari awal sampai akhir untuk paham maksudnya.
Inti dari film ini adalah Sore datang ke masa lalu untuk memperbaiki hidup Jonathan karena ia sedih Jonathan meninggal akibat gaya hidup yang tidak sehat. Jujur aja, aku langsung ingat cerita Doraemon. Pasti tahu kan, Doraemon itu dikirim dari masa depan oleh canggah Nobita untuk memperbaiki hidup Nobita yang pemalas, agar masa depan Nobita dan keturunannya lebih baik.
Karakter Sore bisa dibilang unik. Sebenarnya maksudnya baik, ingin agar Jonathan memperbaiki hidup secara lahir batin. Tapi saking ambisiusnya, Sore kadang bertindak konyol juga. Di menit awal, dia bikin Jonathan kesal karena terus mengikuti. Terus yang bikin aku pengin ketawa adalah saat balik ke adegan inti dimana Jonathan baru bangun, Sore tanpa ba bi bu langsung nerocos bahwa ia dari masa depan dan ingin Jonathan berdamai dengan papanya. Jonathan langsung mengusir Sore dan menghubungi polisi. Ya iyalah, siapa yang nggak marah kalau tiba-tiba orang nggak dikenal masuk kamar lalu kepo sama urusan pribadi kita?
Paling membingungkan tentu saja siapa Sore sebenarnya. Bagaimana Sore bisa lakukan time traveler dan kembali ke waktu yang sama berulang-ulang. Kenapa pula ia selalu kolaps tiap malam tiba. Mungkin seperti namanya ya, sore akan hilang tiap malam tiba.
Karena tidak dijelaskan secara pasti, kita berhak menebak sesuai pemikiran kita. Ada kemungkinan Sore sebenarnya bukan istri Jonathan tetapi malaikat atau dewi penolong. Ada juga yang bilang time travelling itu hanya khayalan Sore sesudah Jonathan meninggal, termasuk di adegan terakhir dimana Jonathan berdamai dengan papanya. Bisa juga kehadiran Sore yang tiba-tiba itu adalah mimpi Jonathan yang kemudian mengubah jalan hidupnya. Apa pun versinya, yang jelas bisa disimpulkan bahwa Sore sangat mencintai Jonathan.
Yang pasti ada beberapa dialog menarik dari film ini :
1. Orang berubah bukan karena rasa takut tapi karena dicintai
Hanya cinta kasih yang bisa menyentuh hati seseorang untuk berubah. Kita tidak bisa mengubah hidup seseorang dengan tekanan dan aturan.
2. Langit selalu menerima senja apa adanya
Cinta sejati selalu menerima kelebihan dan kekurangan orang lain.
3. Kita mulai dari awal lagi
Saat seseorang gagal, beri kesempatan untuk dia mulai berjuang lagi dari awal.
4. Jika aku harus hidup sepuluh ribu kali, aku akan selalu memilihmu
Kekuatan cinta akan selalu menerima walau hidup jatuh bangun.
5. Ada tiga hal yang tidak bisa diubah dalam hidup ini : masa lalu, rasa sakit, dan kematian
Jangan paksakan diri untuk mengubah hal yang tidak bisa diubah dari orang lain.
6. Jangan biarkan aku (Sore) hilang ditelan waktu
Selagi kita masih punya waktu dan kesempatan dengan orang lain, pergunakanlah dengan baik agar tidak menyesal di kemudian hari.
7. Hai, aku Sore , istri kamu, selamanya
Cinta sejati tidak perlu mengungkit dari mana kita berasal, tapi jadikanlah anugerah untuk terus bersama. Bukan sampai seseorang berubah, bukan sampai ia layak dicintai, tapi selamanya.
Kembali ke kalimatku di awal. Film ini bisa dianalogikan secara rohani, tentang kasih Tuhan bagi manusia. Kasih Tuhan adalah kasih agape, kekal dan tak terbatas, bahkan jauh dari kasih seorang Sore di film ini. Ingatlah, Tuhan selalu mau menerima manusia apa adanya walaupun manusia selalu jatuh bangun dalam dosa. Dalam hidup kita punya kehendak bebas, tapi kita manusia lemah, sehingga kita memerlukan Tuhan untuk membawa kita pada kebenaran. Dia selalu memberi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki hidup. Sampai kapan pun Dia mau menjadi kekasih abadi kita. Maka, hargailah kesempatan yang Dia berikan itu.
Naik kapal kali ini cukup menguntungkan bagiku. Selain menemukan colokan listrik untuk ngecas HP, economy room di sini memutar lagu-lagu Iwan Fals yang sebagian sudah akrab di telingaku. Mulai dari Wakil Rakyat sampai Bento. Tapi yang paling kena di hati jelas lagu Kemesraan. Bikin aku berandai-andai, kalau ada yang menemaniku saat ini pasti feelnya makin meleleh.
Selang satu jam, kapal mulai mendekati pulau Jawa lagi. Aku melihat ke geladak depan. Pemandangan sunset yang keren menyambutku, karena arah pandang ke sebelah barat.
Kali ini aku lebih mudah turun dari kapal karena sudah paham situasi. Saat kembali menginjak tanah Jawa, hatiku sungguh puas dan bersyukur. Pengalaman baru nih, perjalanan melintas pulau sendirian dan berhasil.
Sebelum kembali ke Rumah Singgah, aku berencana beli oleh-oleh dulu. Aku menyeberang ke Indomaret di seberang pelabuhan biar bisa pesan Gojek. Tujuanku adalah Toko Oleh-oleh Ardial di Jl. Basuki Rahmat, Banyuwangi.
Dengan diantar Gojek, aku menuju ke sana, melewati jalan di Banyuwangi yang mulai beranjak malam. Sepertinya ini daerah pinggiran kota, karena terlihat sepi.
Sampailah aku ke sebuah toko yang tidak terlalu besar tapi terlihat lengkap. Mataku langsung berkeliling memelototi satu-satu produk yang dijual. Nah, ini... Bagiak! Kue kering khas Banyuwangi terbuat dari tepung sagu, bentuk dan teksturnya mirip kapur tulis. Rasanya beragam, ada susu, jahe, nangka, durian, wijen, mocca, dan keningar (kayu manis). Harganya Rp. 11.000 untuk kotak besar dan Rp. 20.000 untuk kotak kecil. Sesudah pikir-pikir, aku akhirnya pilih 1 kotak kecil rasa jahe, 1 kotak kecil rasa mocca dan 1 kotak besar rasa nangka.
Lalu aku berkeliling toko, cari penganan khas lainnya. Bingung juga, karena sebagian besar banyak dijual di toko lain. Pie susu dan kacang Bali juga banyak. Akhirnya aku tertarik pada sale pisang khas Banyuwangi, yang dicetak panjang-panjang sebesar jari. Harganya Rp. 13.500. Oke juga!
Sekeluarnya dari toko oleh-oleh, sebenarnya aku terpikir buat beli nasi tempong di Alun-alun Banyuwangi. Berhubung HPku lowbat, takut nggak bisa pulang, terpaksa kuurungkan. Nanti aku cari dekat Rumah Singgah atau order GoFood aja
Aku kembali order Gojek buat pulang. Kali ini drivernya perempuan. Mbak gojeknya santai aja, malahan aku yang agak gugup. Jangan mikir aneh-aneh ya, ini soal gender dalam berkendara aja, biasanya cowok yang boncengin cewek, ini malah sebaliknya.
Sempat lewat alun-alun Sritanjung. Kota Banyuwangi ini ternyata tidak terlalu besar, malah menurutku lebih sepi dari kotaku Magelang. Di beberapa titik, penerangan kurang. Tapi si mbak sepertinya sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Bahkan sesampai di jalan menuju Rumah Singgah yang sepi bin gelap, nggak ada ketakutan sedikit pun. Dia sempat bertanya dari mana asalku. Wah jadi ngobrol panjang lebar deh.
Kembali ke Rumah Singgah, aku segera mandi lalu mencari makan malam. Tak tahu kenapa aku kurang berselera dengan menu warung makan sekitar stasiun, jadi aku putuskan order GoFood.
Rugi lah kalau datang jauh-jauh tanpa mencicipi makanan khas. Nasi tempong khas Banyuwangi adalah pilihanku. Menurutku menu ini perpaduan antara nasi pecel dengan penyetan. Isinya sayuran seperti timun, taoge, kubis, dan bayam. Ditambah lauk bakwan, tempe dan tahu goreng. Hmmm.. nikmat. Sambalnya sendiri adalah sambal tomat terasi. Tapi sesudah kucicipi sedikit.. oh hahhhh racun banget pedesnya.. entah pakai cabai berapa puluh, buru-buru kusisihkan dan nggak berani kulanjutkan.
Malam itu pula Aldi pulang dari perjalanannya ke Alas Purwo. Karena sama-sama lelah, tidak banyak yang kami ceritakan selanjutnya. Kami segera terlelap di kasur masing-masing.
Saat pagi menjelang, tak ada yang bisa kulakukan selain packing. KA Sritanjung akan berangkat jam 08.00 jadi nggak ada waktu buat santai. Tanpa kusadari, isi tasku beranak juga biarpun sebagian besar bekal sudah kuhabiskan.
Setelah mandi, terpikir untuk membeli sarapan. Malas jalan keluar, aku pesan GoFood aja, nasi goreng telur sosis. Dan karena perutku masih kenyang dengan nasi tempong semalam, makannya nanti aja di kereta.
Tiba saatnya untuk berpamitan. Aku kirim WA ke Mas Rahmat, ucapkan terima kasih. Tak lupa, aku pamit ke Aldi. Ia juga akan pulang ke Jogja nanti sore dengan naik bus. Dengan agak sungkan aku minta akun medsosnya. Tapi ia memberiku nomor WA nya. Lumayanlah nambah kenalan.
Di tengah cahaya matahari pagi, kupandangi sekali lagi Rumah Singgah. Rumah-rumah kecil itu begitu damai di antara pepohonan hijau dan kicau burung yang merdu. Rasanya malas untuk beranjak. Tapi apa mau dikata. Waktuku tinggal 15 menit lagi.
Segera aku berjalan ke stasiun, mencetak tiket. KA Sritanjung sudah datang, jadi aku langsung naik. Beberapa menit kemudian kereta berangkat dan... see you again Banyuwangi!
Perjalanan panjang kembali kutempuh. Aku perhatikan dengan seksama pemandangan di luar jendela, daerah Kabupaten Banyuwangi yang berupa desa dan hutan. Inilah kenapa aku suka naik kereta pagi. Suasananya bikin hati tentram.
Memasuki Jember, aku membuka kotak nasi goreng yang kubeli tadi. Ternyata lezat banget! Nyesel juga nggak beli 2, padahal kan bisa kusimpan buat makan siang.
Selesai sarapan, aku kembali tenggelam dalam laju kereta. Sejenak kubuka aplikasi Alkitab di HPku dan membaca satu dua pasal. Ya, biarpun sedang dalam perjalanan jangan lupakan firman Tuhan. Apalagi aku gabung komunitas Baca Alkitab Harian di gerejaku dan kemarin belum sempat baca.
Lalu apa lagi yang bisa kulakukan buat menikmati perjalanan? Ini dia.. aku keluarkan buku lain yang kupinjam dari perpustakaan. Judulnya : The Naked Traveler - 1 Year Round World Trip. Nama penulisnya Trinity. Awalnya kukira dia orang asing, tapi ternyata orang Indonesia yang punya hobi travelling ke berbagai negara. Nama aslinya adalah Ade Perucha Hutagaol.
Membaca bab awal saja aku langsung suka dengan ceritanya. Sungguh luar biasa, Trinity bisa mengunjungi berbagai negara Amerika Latin seperti Kolombia, Peru, Kuba, Jamaika, hingga Guatemala. Perlu perjuangan bagi orang Indonesia biasa untuk masuk ke negara-negara itu. Malah tidak sekedar berwisata, dia juga berusaha membaur dengan warga setempat. Padahal situasi Amerika Latin beda jauh dengan di sini, mereka masih percaya hal-hal mistis dan angka kriminalitasnya cukup tinggi. Belum lagi soal sulitnya cari penginapan, sampai terpaksa menginap di gedung tua. Hebatnya, Trinity dengan senang hati menjalani semua itu. Meski ditemani kawannya, Yasmin, terlalu ekstrim bagi perempuan pergi sendiri ke berbagai negara. Aku sendiri yang cowok pun pikir-pikir (terutama soal biaya). Dari hasil searchingku ternyata buku Trinity ini ada sekitar 8 seri. Kalau nanti ke perpustakaan lagi aku cari deh.
Membaca serunya cerita Trinity, muncul inspirasi baru di pikiranku. Selagi masih muda, kenapa aku tidak coba travelling lebih jauh? Toh dari aplikasi Ferizy, kita bisa pesan tiket kapal ke Kalimantan dan lainnya. Ke luar negeri, why not? Dengan menabung dari sekarang aku bisa menjelajah dunia. Cuma untuk awalnya, yang dekat-dekat aja dulu. Singapore dan Timor Leste adalah wishlist paling masuk akal bagiku. Kalau sudah terwujud, baru rencanakan ke negara lainnya.
Jam demi jam berlalu, KA Sritanjung sampailah di Stasiun Surabaya Kota. Seperti biasa di sini lokomotif berbalik arah, gerbong depan jadi yang terbelakang dan sebaliknya. Kereta berhenti lamaaa sekali. Sementara kondisiku mulai teler karena kecapekan. Aku sudah lelah baca buku dan main HP. Makan bekal roti yang tersisa pun sudah tidak selera. Yang kuinginkan sekarang cuma bantal dan kasur....
Kereta berangkat lagi. Waktu sudah jam 14.00. Udara terasa panas biarpun AC gerbong menyala. Aku ngantuk berat. Sambil bersandar di jendela, berusaha kupejamkan mata ini. Lambat laun aku tertidur juga.
Posisi tidur yang nggak nyaman bikin aku nggak bisa terlelap lama. Tapi capekku lumayan berkurang. Begitu kereta berhenti di Kertosono aku turun lagi sebentar. Malah bukan cuma aku, banyak juga penumpang yang turun, mungkin kecapekan duduk terus dari tadi. Kota kecil yang disebut di lagu dangdut Ngamen ini adalah persimpangan antara jalur Surabaya-Kediri. Nothing special here, but i feel enjoy.
Perjalanan selanjutnya, tak banyak yang kulakukan selain melamun, tidur, dan sesekali melirik HP. Rasanya juauhhh dan lamaaa sementara langit makin meredup. Baru ketika kereta memasuki Stasiun Purwosari Solo, hatiku lebih lega. Aku sudah di Jawa Tengah lagi. Sedikit lagi sampai.
Beberapa menit berlalu, plang nama Stasiun Maguwo nampak di jendela. Yogyakarta! Aku dengan cepat merapikan ransel dan tas besarku. Tak lupa, kucabut charger HP dari colokan.
Ah... akhirnya, aku mendengar bunyi peluit Stasiun Lempuyangan. Tanda aku harus berpisah dengan KA Sritanjung yang sudah 13 jam menemani.
Lantas gimana caraku pulang ke Magelang? Beragam celah pasti ada. Aku ingat bus atau travel DAMRI yang dulu pernah kutumpangi waktu ke bandara atau stasiun. Cuma sayangnya aku harus ke Stasiun Tugu dulu. Tak apalah.
The last, dengan tarif Rp. 80.000, travel DAMRI mengantarku ke Magelang. Lega hatiku ketika aku menginjak halaman Hotel Wisata Magelang. Tinggal jalan kaki 5 menit ke rumah.
Tujuan pertamaku adalah Taman Siwa di seberang pelabuhan. Taman dengan patung besar Dewa Siwa ini seolah sebagai penanda bahwa kita sudah berada di Bali sekarang. Suasananya sih biasa aja, seperti taman kota pada umumnya. Tapi yang lebih memikat, di komplek taman yang sama kita bisa lihat pantai Teluk Gilimanuk!
Dengan semangat aku menuju dermaga. Pantai berair tenang ini lebih diperuntukkan bagi nelayan setempat. Yang bikin salut, lautnya benar-benar biru bersih. Tidak banyak pengunjung siang itu, cuma beberapa orang yang sedang memancing. Secara keseluruhan memang tidak sekeren Sanur atau Tanjung Benoa, tapi lumayanlah untuk sekedar healing.
Cuma satu hal yang bikin aku ketar-ketir. HPku kini benar-benar lowbat kurang dari 30 persen. Mana bisa bertahan sampai nanti sore, apalagi aku kan photoholic banget. Dengan susah payah kubuka Google Maps, cari Indomaret atau Alfamart terdekat. Biasanya minimarket di jalan utama provinsi punya teras ala cafe, jadi bisa nongkrong sambil numpang ngecas HP.
Tapi sebelumnya aku punya satu tujuan lagi. Apa itu? Museum Manusia Purba. Yup, seperti halnya Sangiran, ternyata di Gilimanuk ini ada tempat untuk melihat artefak zaman purba.
Kalau jalan kaki agak jauh sih dari Teluk Gilimanuk ini. Biarin lah. Berjalan di tengah eksotisme Bali bikin aku nggak mikirin capek. Rumah-rumah bergaya tradisional dengan gapura bentuk pura. Sebagian besar halamannya memiliki sanggah atau tempat sembahyang Hindu. Sesaji diletakkan di depan rumah dan sudut-sudut jalan, kadang dilengkapi dupa. Sesekali lewat pemuda pemudi berpakaian adat Bali membuat nuansa kulturalnya makin berasa.Aku berusaha menjaga langkahku, jangan sampai menginjak sesaji atau benda sakral lainnya. Termasuk jaga pikiran jangan sampai ngeblank atau mikir yang nggak pantas. Meski kita beda keyakinan, setidaknya menghormati.
Setelah jalan 1 km, sampailah aku ke sebuah komplek bangunan. Di depan ada nama Museum Manusia Purba Gilimanuk. Tapi semua pagarnya tertutup. Lho, masuknya lewat mana? Sampai pojokan semuanya tutup, bahkan sepi.
Di belokan, ada seorang ibu berpakaian adat Bali, sedang meletakkan dupa dan sesaji di sudut jalan, seperti hendak melakukan ritual. Di belakangnya ada seekor sapi yang mungkin untuk persembahan. Melihatku lewat, si ibu menanyaiku "Mas mau kemana?". Dengan gugup, aku menjawab "Ini... masuknya lewat mana ya?". Dia menjelaskan "Museum ya? Lewat pojokan itu. Biasanya ada penjaganya. Tapi mungkin tutup, hari ini kan hari libur di Bali".
Kuucapkan terima kasih lalu aku segera pergi tanpa bertanya lagi. Biar begitu aku heran juga, hari libur apa? Setahuku hari raya agama Hindu cuma Nyepi, Saraswati, Galungan, dan Kuningan. Sambil terus berjalan menuju jalan raya utama Gilimanuk, aku searching di HPku.
Ternyata hari ini, 17 Juli, adalah hari raya Pagerwesi yang diperingati setiap Rabu Kliwon menurut kalender Bali. Ucapan si ibu tadi tidak salah. Kondisi jalan yang kulewati benar-benar sepi. Di jalan kampung, cuma satu dua kendaraan yang lewat. Bahkan sampai di jalan utama Gilimanuk-Denpasar, banyak warung dan toko yang tutup. Kalaupun ada yang buka, itu milik warga pendatang atau non Hindu. Dan aku benar-benar kayak orang hilang karena cuma aku traveler yang jalan kaki siang ini! Pelajaran berharga buatku, juga buat semua yang baca tulisanku ini, kalau mau ke Bali kita perlu cek kalender Bali, ada apa hari itu, karena banyak hari-hari khusus yang tidak tercantum di kalender biasa. Masyarakat Hindu Bali sangat menghargai agama dan budayanya, jadi mereka meliburkan diri setiap ada perayaan khusus.
Beberapa warung yang buka menyediakan makanan khas Gilimanuk, ayam betutu. Warung masakan Jawa juga ada. Meski sudah jam makan siang, aku menahan diri untuk masuk. Semua demi isi dompetku yang terbatas.
Aku menemukan Indomaret di seberang jalan dan langsung masuk membeli beberapa snack buat ganjal perut. Biar jiwa Bali-nya nggak sia-sia, aku sengaja beli juga kacang kapri bumbu Bali buat oleh-oleh nanti. (Sesampai di rumah ternyata enak banget kacangnya, jadi nyesel cuma beli satu).
Akhirnya aku duduk santai di teras Indomaret. Ngemil sambil numpang ngecas HP. Biar nggak bosan, kubaca lagi buku Antravelogi-nya Dini Novita Sari yang kubawa. Karena udara juga puanas bukan main, hampir sejam aku di sini. Aku nggak pedulikan orang yang keluar masuk Indomaret. Pikiranku tenggelam dalam cerita perjalanan Dini ke Thailand dan Balikpapan yang tentu saja bikin iri.
Begitu baterai HP mencapai 30 persen, aku putuskan beranjak. Aku mau ke Pantai Karangsewu, pantai lain yang jadi bagian dari Taman Nasional Bali Barat. Syukur-syukur ketemu turis atau traveler lain yang bisa diajak jalan bareng.
Untuk ke pantai itu, aku harus lewat jalan kecil di tengah kampung. Google Maps tetap jadi teman setia. Ternyata oh ternyata, setali lima uang, gerbang menuju pantai tertutup portal. Artinya tempat ini tutup juga karena hari libur.
Bukan Robert namaku kalau menyerah gitu aja. Aku berusaha mencari celah. Minimal foto-foto ajalah. Ada seorang anak kecil di situ. Sepertinya habis numpang mandi di kamar mandi situ. Melihatku datang, dia teriak memanggil bapaknya. Ternyata si bapak penjaga loket.
Aku diizinkan masuk, tapi tiketnya lebih mahal. Kalau hari biasa Rp. 10.000 , tapi kalau hari libur Rp. 15.000. Di tiket tertulis Taman Nasional Bali Barat.
Semangatku menyala lagi melihat jalan menuju pantai dengan hamparan padang rumput. Sama sekali tak kalah dengan padang sabana di Afrika! Nggak nyesel juga aku batal ke Taman Nasional Baluran, karena di Bali Barat ini pun ada pemandangan serupa. Aku langsung tak tahan buat narsis sana sini.
Setelah puas menikmati alam bebas ini, aku beranjak ke tujuan sebenarnya : Pantai Karangsewu. Kalau diperhatikan, pantai ini penataannya agak mirip dengan Teluk Gilimanuk tadi. Ada dermaga, dan lebih dikhususkan sebagai pelabuhan nelayan. Bedanya, di sini adalah sebuah laguna. Airnya tenang, jadi lebih mirip danau. Diapit bukit-bukit yang luar biasa indahnya.
Sebagai cagar alam yang dilindungi, lahan pantai ini juga diperuntukkan untuk konservasi mangrove. Di bagian lain TNBB ini, tepatnya di arah menuju Singaraja. ada penangkaran burung jalak putih, tapi untuk ke sana harus jalan beberapa km lagi. Dengan pertimbangan udara panas, capek, kejar waktu, tambah lagi hari libur, aku urungkan ke sana. Tapi di pantai ini pun aku sudah merasakan atmosfer lain dari Bali. Kupandangi pantai yang berair biru di dermaga dengan damai tapi sedikit deg-degan karena lantai dermaga dari kayu. Siang itu pantai benar-benar sepi. Cuma ada pasangan yang lagi berduaan dan bapak-bapak pencari rumput.
Tapi yang akhirnya bikin aku nggak nyaman, si bapak tiba-tiba mendekatiku. Dengan sikap yang aneh, dia tanya asalku dari mana dan ujungnya dia minta uang 5000. Aku langsung merasa ada yang nggak beres dengan si bapak. Buru-buru berkata tidak, lalu menjauh. Bukannya aku pelit, tapi aku takut kalau dia bermaksud jahat, apalagi sendirian di tempat sepi begini.
Sebelum keluar, aku sempatkan istirahat dulu di gazebo sambil baca buku. Udara siang itu benar-benar panas. Jadi aku batalkan saja rencana melihat Candi Gelung Kori dan Tugu Cekik, beberapa km dari sini. Malas juga kalau harus jalan lebih jauh lagi.
Lagi asyik-asyiknya baca, eh bapak tadi mendekati dan minta uang lagi. Aku nggak sabar lagi. Langsung kurapikan ranselku lalu berjalan keluar. Untung si bapak nggak mengejar. Sayang banget, di tempat sebagus ini ada tukang palak. Sesampai di luar, bapak petugas tadi masih ada di sana. Tapi kupikir, nggak perlulah aku lapor soal itu, aku nggak mau jadi pemicu keributan di sini.
Kembali ke jalan raya, aku mencoba mampir ke Alfamart di seberang jalan. Niat hati ingin numpang ngecas HP lagi. Apa daya, colokan listrik di situ tidak berfungsi. Ya, udah terlanjur ke situ, aku beli aja sebungkus Happytos dan air mineral buat cemilan saat pulang nanti.
Menariknya, saat antri di kasir, aku ketemu serombongan turis. Ada dua orang bule dan empat orang berwajah oriental, entah China atau Jepang. Yang bikin kesel, para koko cici ini antrinya lamaaaa banget, entah apa yang mereka bicarakan dengan kasir karena my listening for English is bad. Untungnya mbak kasirnya nampak sudah fasih banget menghadapi turis. Sama sekali nggak ada ekspresi capek, termasuk saat tiba giliranku.
Nggak ada pilihan lain, terpaksa aku harus ke Indomaret tadi. Sekedar nongkrong, tanpa beli apa-apa lagi biarlah.
Aku sempat melewati bangunan megah yang ternyata sebuah gereja. Namanya Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB) Agape. Biarpun gereja, tapi ciri khas Bali tetap dipertahankan, dengan gapura dan bangunan bergaya pura, hanya ditambah simbol salib di atapnya. Memang, Kekristenan sudah berkembang di Bali seiring zaman kolonial dan banyaknya warga pendatang. Dari sekitar 4 juta penduduk Bali, 2 persennya adalah penganut Nasrani, dan mereka punya gereja khusus tanpa meninggalkan identitas budayanya. Malahan di Kabupaten Jembrana ini ada desa Kristen bernama Blimbingsari. Kata seorang temanku, gereja-gereja Bali sangat ramah terhadap pendatang, kita bisa saja mampir berkunjung atau bahkan numpang menginap. Mereka siap menyambut dengan senang hati. Sayangnya, siang itu gerbang GKPB Agape terkunci rapat, mungkin karena hari libur, jadi aku tidak bisa melihat-lihat dalamnya.
Setelah ngecas HP di teras Indomaret, aku berjalan lagi. Waktu masih jam 15.00 WITA, masih terlalu cepat kalau aku langsung ke pelabuhan. Tapi terlalu mepet juga kalau harus mampir ke tempat yang jauh.
Naluri penjelajahku memaksa buka Google Maps lagi. Aku lihat, di sebelah barat ada yang namanya Paragon View, tempat memandang ombak Selat Bali. Okelah aku coba ke sana.
Sepanjang jalan, banyak deretan kios penjual oleh-oleh khas Bali. Ada pie susu dan aneka kaos bergambar Bali. Uniknya, mereka juga menjadi agen tiket kapal. Jadi bagi yang kesulitan beli tiket lewat online bisa pesan lewat agen. Aku sendiri nggak tertarik beli semua itu. Bukan apa-apa, aku sudah berulang kali dapat pie susu setiap kali ada teman yang pulang dari Bali, kaos Bali aku nggak terlalu suka modelnya. Lebih baik beli oleh-oleh khas Banyuwangi aja nanti.
Melalui sebuah gang, sampailah aku di Paragon View. Seketika aku terhenyak. Luar biasa! Sebuah jalan memanjang ala jogging track dibangun tepat di tepi laut, menghadap ke Selat Bali!
Aku langsung naik ke sebuah undakan. Ya memang posisi spot view ini agak tinggi karena memisahkan langsung antara pemukiman dan laut. Kalau kita mau turun ke laut sebenarnya juga bisa. Tapi jalannya agak curam berbatu-batu, dan lagi di bawahnya langsung kena ombak. Ogah deh kalau harus basah kuyup.
Angin laut yang bertiup kencang menerpa diriku yang kelelahan ini. Di kejauhan laut biru bergelombang disinari matahari sore, dengan sesekali kapal lewat. Lagu Lembayung Bali nya Saras Dewi seketika memenuhi benakku. Aku ingat juga saat study tour ke Bali zaman sekolah dulu
Menatap lembayung di langit Bali
Dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
Bebas berandai memulang waktu
Cukup lama aku duduk mengagumi tempat ini. Kalau bukan karena takut kemalaman, aku bisa saja menunggu sampai sunset. Akhirnya aku coba berjalan ke utara, berharap menemukan jalan ke pelabuhan.
Sore itu cukup sepi. Hanya beberapa warga sekitar sedang nongkrong. Ada juga anak-anak yang main layang-layang. Saat aku lewat, mereka menyapa dengan ramah. Terlihat jelas mereka sudah biasa bertemu wisatawan. Mereka juga mengatakan bahwa jalan ini buntu, jadi aku harus memutar kalau mau ke pelabuhan. Tapi seakan tak peduli, aku jalan terus sampai ujung karena masih terkagum-kagum dengan tempat ini. Nampak mercusuar kecil berwarna kuning yang belasan tahun lalu pernah kupotret masih ada.
Saatnya pulang. Aku kembali menyusuri kampung dan sampai di jalan raya lagi. Sama sekali tidak sulit menemukan jalan ke pelabuhan. Sebelum pelabuhan, sebuah gapura dengan beberapa arca dewa Hindu berdiri tegak seolah mengucapkan selamat jalan.
Maka, setelah menemukan jalan masuk, bersiaplah aku mencetak tiket kapal. Seperti tadi, aku nggak perlu menunggu lama. Petugas langsung mengarahkanku ke kapal yang tengah merapat. Maka : sampai jumpa Bali !
Pretty little baby (yeah, yeah) Pretty little baby (yeah, yeah) Pretty little baby, you say that maybe You'll be thinkin' of me, and...