Tampilkan postingan dengan label transportasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label transportasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Agustus 2024

My Fourth Backpacker (Part 4): "Memanjat" Kereta Pandanwangi, "Bingung" Keluar Kapal Gilimanuk

Sesudah sarapan seadanya dengan roti dan cemilan, aku segera mandi. Keasyikan mandi, nggak taunya udah jam 07.40. Padahal KA Pandanwangi berangkatnya jam 07.47. Aku cuma punya waktu 7 menit buat ngejar kereta! Maka, setelah berpakaian necis, cepat kuangkat ranselku, pamitan pada Aldi yang baru aja bangun, lalu buru-buru ke stasiun. 

Huh, jam di HPku sudah jam 07.43. 4 menit lagi bro! Aku harus jalan cepat tapi tetap hati-hati soalnya jalan di sini berpasir. Nggak lihat kiri kanan lagi aku lari masuk stasiun. 

Syukur deh, kereta belum berangkat. Begitu lihat mesin cetak tiket aku buru-buru ketik kode booking dan klik Check In. Tapi lho... lho... tiketnya nggak tercetak. Ada mbak-mbak security di situ, tapi dia lagi jelaskan sesuatu ke seorang bapak yang bawel abis.   Duh...  cepetan napa. Begitu peluit kereta terdengar, kesabaranku udah nggak bisa ditolerir lagi. Aku menyela "Mbak, ini kok tiketnya nggak keluar." "Udah check in kan? Langsung masuk aja" jawabnya. Bilang dong dari tadi! 

"Naik KA Pandan kan? Cepetan, keretanya udah mau berangkat" kata petugas lainnya. Wawww... kereta udah mulai melaju setapak demi setapak. Udah kayak ngejar bus kota aja, aku langsung lari dan memanjat ke salah satu gerbong. Praise The Lord! 

KA lokal jurusan Jember-Ketapang ini nampak sepi hampir di semua gerbong karena penumpang lebih banyak turun di Stasiun Banyuwangi tadi. Saking sepinya, sampai-sampai satu gerbong kurang dari 10 orang. Tarifnya murah banget cuma Rp. 8.000. Jauh lebih murah dari angkutan lain. Tapi jangan salah, biarpun KA lokal tapi interiornya tetap seperti KA ekonomi yang duduk berhadapan dan bisa pilih tempat duduk. Seperti kebiasaanku naik KA, aku selalu pilih gerbong paling belakang. 

Baru 5 menit aku duduk, suara speaker sudah terdengar bahwa kereta segera memasuki Stasiun Ketapang. Dari jendela, daerah pesisir terlihat jelas. Yah.. kenikmatanku di KA ini sebentar banget, tapi mau gimana lagi. Lain kali lagi deh. 

Hatiku penuh sukacita saat turun. Akhirnya sampai juga aku di ujung timur pulau Jawa! Saking senangnya, aku nggak langsung keluar stasiun. Keliling dulu ambil foto sana sini. Di kejauhan nampak daerah perbukitan. Banyuwangi bagian barat  memang dataran tinggi.  Nun jauh di perbatasan Bondowoso, ada 3 gunung api yaitu Ijen, Raung, dan Merapi. Yang terakhir ini namanya memang sama dengan gunung di dekat Magelang. Entah kenapa dinamakan begitu. Yang jelas gunung Merapi versi Banyuwangi ini tidak seaktif Merapi versi Magelang. 







Sebagai stasiun terminus (perhentian terakhir), Stasiun Ketapang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Ketapang. Begitu keluar dari stasiun, cukup jalan kaki sekitar 500 meter lalu menyeberang jalan. 

Tak sulit bagiku mencari jalan masuk pelabuhan karena sudah ada penanda untuk penumpang umum. Karena aku sudah pesan tiket lewat Ferizy, jadi tinggal scan QR di mesin yang mirip ATM itu, lalu keluarlah 2 lembar tiket : satu untukku, satu untuk petugas. 

Selanjutnya, aku andalkan naluri aja sambil perhatikan penunjuk arah. Sampailah aku di dermaga. Tak perlu banyak tanya lagi, langsung dekati petugas yang jaga, tunjukkan tiket, bisa langsung ke kapal yang sudah merapat. 

Deg-degan juga rasanya. Ini pertama kali aku naik kapal sendirian. Tapi dasar photoholic, aku sempat-sempatnya abadikan suasana pelabuhan, biarpun posisiku harus melipir soalnya banyak kendaraan yang masuk kapal. Sensasi lain pastinya  goncangan tiap kali ada truk lewat. 



Begitu naik ke atas kapal, aku langsung duduk di dek depan, memandangi laut dan langit yang sama-sama biru. Sementara pulau Jawa mulai menjauh. Aku pernah melewati Selat Bali ini saat study tour SMA dulu. Tapi kali ini lebih menantang karena aku sendirian. Sesekali kapal bergoncang diterpa ombak. Kata orang, semakin siang angin laut akan semakin kencang. 

Bosan memandangi laut, aku masuk ke ruangan kapal. Ternyata di sini suasananya mirip di kafe. Ada yang lagi makan, ada yang tiduran di sofa. Memang ada kedai yang menjual Pop Mie, minuman, dan makanan ringan. Tapi aku blas nggak tertarik karena harganya pasti berkali-kali lipat dari kedai di darat. Biarpun ruangan luas tapi nggak ada AC, cuma beberapa kipas angin. Sementara aduh... baterai HPku tinggal 40 persen. Aku cari-cari colokan listrik, satupun nggak ada yang kosong. Kalaupun ada, udah ada yang pakai. Ya udahlah. Sambil dengerin lagunya Judika yang disetel di layar TV, aku memandangi laut dengan pasrah. 

Singkatnya, kapal mulai melaju pelan, tanda mau merapat. Sebagian besar penumpang mulai bersiap turun. Aku tunggu sampai kapal beneran berhenti. Yes, inilah Pulau Bali! 

Aku turun ke basement tempat parkir. Semua orang sudah masuk ke kendaraan masing-masing. Tinggal aku dan beberapa ibu-ibu yang kebingungan cari jalan keluar. Habisnya ruang basement penuh truk dan bus. Aku coba nyusup sana sini, eh nggak muat. Salah-salah bisa kena cium truk  karena lantai besi ini licin. Ya, terpaksa tunggu sampai kendaraan pada keluar kapal. 

Sambil melipir karena takut kepeleset aku melangkah keluar kapal, diikuti rombongan ibu-ibu tadi. Eksotisme Pulau Dewata sudah di depan mata dengan ornamen berbentuk pura. Di seberang pelabuhan ternyata sudah ada terminal. Sejumlah kernet dan calo langsung merubung kami menawari bus ke Denpasar. Ibu-ibu tadi langsung menuju bus karena memang tujuan mereka ke sana. Tinggallah aku sendiri melangkah keluar pelabuhan. 



Senin, 22 Juli 2024

My Fourth Backpacker (Part 2) : 12 Jam Dalam Gerbong Sri Tanjung

 Yesss... akhirnya terkabul juga keinginanku untuk naik KA Sritanjung ke Banyuwangi. Pas lihat jadwal keretanya, serasa tantangan. Bayangkan, sehari full dari jam 07.20 sampai menjelang jam 20.00 kita cuma duduk ! Buat yang nggak biasa bepergian jauh pasti bikin suntuk, mabok, atau orang Jawa bilang: mendhem. 

Kereta berangkat jam 07.20, aku harus berangkat sepagi mungkin dari Magelang. Dengan menggendong ransel dan menenteng tas besar berisi pakaian (nggak mau bawa koper karena ribet naik turunnya), aku memulai dengan naik ojol (Gojek) dari rumah, dilanjut bus jurusan Jogja dari depan Artos Mall. Hari masih gelap, matahari baru terbit saat bus mencapai Muntilan. 

Sengaja turun di Pasar Mlati, karena ojol dilarang naikkan penumpang dari depan Terminal Jombor. Malas juga kalau harus jalan jauh bawa tas berat. Sebelum turun dari bus, aku udah klik order ojol biar nggak kelamaan nunggunya. Nggak salah, aku masih harus tunggu 5 menit lebih baru abang ojolnya datang. 

Tepat jam 7, aku sampai di Stasiun Lempuyangan. Agak gemes juga karena si abang ojol nggak paham medan, jadi kebablasan, aku musti jalan agak jauh. Berulang kali dia minta maaf. Iya, iya, aku maafin. Yang penting belum ketinggalan kereta. 

Biar Jogja punya sejuta kharisma, aku merasa nggak perlu perhatikan yang lain-lain saat ini. Fokusku cuma pengin secepatnya cetak tiket dan masuk kereta. Untunglah aku nggak perlu antri lama. Ketik kode booking di mesin lalu syuuut. Pas masukin dompet ke tas, seorang pemuda menghampiriku "Pak, itu kuncinya jatuh." O lha, ternyata kunci rumahku sudah tergeletak di lantai. Spontan kuucapkan terima kasih. Syukur deh ada hal baik terjadi di sini. 

Makasih buat mas-mas baju oranye yang sudah temukan kunciku


Karena sudah jam 07.10, aku segera check in dan menuju kereta. Tak lama kereta berangkat. Tempat duduk di sebelahku masih kosong, sementara di depanku 2 orang ibu, satu masih muda, satu udah setengah tua. Aku tahan keinginan buat selonjoran, takut dibilang nggak sopan.

Berhubung belum sarapan, aku membuka kotak makanku yang berisi nasi dan omelet mie. Tak sampai 15 menit segera kuhabiskan. Kotak lainnya berisi roti tawar dengan olesan madu, coklat, dan abon. Kusimpan saja untuk makan siang. Ada juga beberapa cemilan lain. Ya, memang lebih baik bawa bekal sendiri daripada beli di kereta makan. Meski petugas lalu lalang menawarkan Pop Mie, minuman, hingga nasi goreng, aku sama sekali tidak tertarik. Bukan apa-apa, harganya mahal buat penggemar angkringan sepertiku. 

Aku melihat ke jendela saat kereta melewati daerah Klaten. Pemandangan ladang yang hijau disinari matahari pagi. Betapa indahnya. Dalam hatiku berkata, janganlah pagi ini cepat berlalu. Lho? 

Pagi yang cerah di Ceper, Klaten


Menit dan jam berlalu, kereta sudah memasuki Jawa Timur. Sampai di Jombang,  tempat duduk di sekitarku sudah terisi penuh. Tubuhku mulai capek duduk terus. Makanya saat kereta berhenti agak lama di stasiun, aku turun sebentar merenggangkan otot kaki sekalian ke toilet. 

Aku mulai loyo setelah lewat Sidoarjo. Udara siang bikin ngantuk, tapi mau tidur juga susah karena di kanan jendela di kiri ada orang. Main HP terus bikin capek mata. Akhirnya setelah makan bekal rotiku, aku membuka buku yang kupinjam dari perpustakaan kota Magelang. Judulnya AnTravelogi karya Dini Novita Sari. Seketika cerita pengalaman Mbak Dini waktu liburan ke Singapura bareng teman-temannya membuatku termenung. Aku memang suka cerita-cerita traveler begini dan selalu bermimpi jadi seperti mereka. Bakat menulisku udah ada, tapi yang mau ditulis belum banyak karena isi dompet yang terbatas. Dan lagi aku tidak banyak teman yang sehobi denganku. 

Buku AnTravelogi (foto kuambil di rumah)

Stasiun Probolinggo


Suasana hutan di jalur Probolinggo-Lumajang membawaku kembali ke dunia nyata.  Ya, daerah ini belum pernah kulihat sebelumnya, jadi sayang kalau dilewatkan. Pohon-pohon besar menjulang dengan langit yang masih biru seperti yang pernah kulihat di film 5 Cm. Sayang, karena posisiku di sebelah kiri, aku tidak bisa melihat Gunung Bromo dan Semeru. 

Sempat kulihat Stasiun Klakah, satu-satunya stasiun aktif di Lumajang. Tidak jauh dari sana ada Ranu Klakah, danau vulkanik di lereng Gunung Lamongan. Sebenarnya tempat itu masuk wishlist perjalananku sejak dulu, tapi karena KA Sritanjung tidak berhenti di Klakah, alhasil harus kuurungkan sementara. 

Saat berhenti di Stasiun Tanggul, aku kembali turun sebentar. Matahari mulai terbenam. Aku melihat-lihat sekitar stasiun tapi nggak berani jauh dari kereta. Stasiun ini berada di bagian barat Kabupaten Jember. Baik Jember maupun Banyuwangi wilayahnya cukup luas. Biarpun di peta terlihat dekat, ternyata jarak ibukota kedua kabupaten itu juauhhh... sekitar 100 km ! 

Stasiun Tanggul



Kereta mulai sepi begitu sampai Stasiun Jember. Ibu-ibu dan mbak-mbak di sekitarku udah pada turun. Tinggal seorang bapak yang baru naik, duduk di depanku. Hari benar-benar sudah gelap dan di luar sana  kurang penerangan jadi nggak ada yang bisa kuperhatikan selain mendengar pengumuman kereta berhenti di stasiun-stasiun kecil. Oh ya, di lintas Jember-Banyuwangi ini ada beberapa stasiun yang namanya mirip-mirip : Kalisat, Kalisetail, Kalibaru, Rambipuji, Rogojampi. Jadi yang mau turun di salah satu stasiun itu musti pasang telinga baik-baik. Salah dengar ya salah turun deh. 

Banyuwangi! Akhirnya.. Tak lupa aku chat WA ke Mas Rahmat, pemilik Rumah Singgah, bahwa aku akan segera sampai. Kupersiapkan tas-tasku. Di belakangku, beberapa orang bule juga bersiap turun. Tak salah, Banyuwangi sering menjadi tempat transit para turis sebelum menyeberang ke Bali atau  yang mau berwisata ke daerah sekitar seperti Baluran, Alas Purwo, dan Kawah Ijen.  Deg-degan juga, jangan-jangan di Rumah Singgah nanti bakal sekamar sama bule. Wow, fantastic... 

Sampai juga di Banyuwangi



12 jam perjalanan berakhir sudah. Dengan gembira, aku berjalan keluar dari stasiun Banyuwangi. Kutolak semua tawaran ojek maupun taksi karena menurut Google Maps, jarak Rumah Singgah cuma sekitar 200 meter dari stasiun. 

Aku sejenak mengagumi bangunan stasiun ini. Tidak terlalu besar, tapi bagus banget. Di samping bangunan utama ada gerai Roti O dan Indomaret. Keluar dari stasiun, berjajar warung makan, hostel, dan rental motor. Biarpun namanya Stasiun Banyuwangi Kota, lokasinya agak jauh dari pusat kota, bahkan agak di pelosok. Jalan menuju Rumah Singgah pun harus lewat hutan kecil yang  sepi dan kurang penerangan. 

Stasiun Banyuwangi Kota


Minggu, 21 Juli 2024

My Fourth Backpacker (Part 1) : Murah Meriah Menuju Bali

Prinsip utama seorang backpacker adalah  bagaimana bisa bepergian asyik dengan biaya sekecil mungkin.  Sepertinya perjalanan kali ini adalah latihan bagiku buat jadi backpacker sejati. 

Liburan ke Bali dengan budget kurang dari Rp. 500 ribu. Mana bisa? Bisa kok! Coba aja! 

Tentunya liburannya bukan ke Pantai Kuta atau Kintamani. Selain makan waktu lebih, keluar duitnya juga lebih. Jadi, aku pilih ujung barat Bali. Yang penting sampai ke Bali , itu aja! 

Ada lho, kereta api dari Jogja yang langsung ke Pelabuhan Ketapang. Namanya KA Sritanjung. Tiketnya Rp. 94.000, ditambah pajak Rp. 7.500 jadi cuma Rp. 101.500. Cuma ya itu, tiket murah begini cepat habis. Apalagi musim liburan begini!  Kita musti ubek-ubek aplikasi KAI, Tokopedia, Shopee, atau Indomaret, paling lambat H-7. Lebih dari itu, lupain aja deh! 




Bukan cuma harus pesan cepat, buat yang tinggal di luar Jogja wajib berangkat sepagi mungkin ke stasiun. Ini bagian paling menyebalkan bagiku, karena tarif bus dari Magelang dan ojol ke Stasiun Lempuyangan hampir separuh harga tiket kereta. Andai saja Magelang punya kereta... ah ! 

Pesan tiket kapal juga mudah, kita bisa pesan lewat aplikasi Ferizy. Menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk maupun sebaliknya cukup dengan Rp. 10.600 , ditambah pajak, jadi kurang lebih Rp. 13.000 buat sekali jalan. Jadi, dari Jogja ke Bali cuma perlu sekitar Rp. 114.500 !  




Terus soal penginapan. Nah lo... mau nginap di mana? Setelah searching pontang-panting, akhirnya kutemukan yang bukan cuma murah tapi GRATIS! Hah, serius? DUA RIUS! Tak jauh dari stasiun Banyuwangi Kota ada Rumah Singgah. (hmm... jadi ingat lagunya temanku, Fabio Asher). Yes, Rumah Singgah ini memang diperuntukkan untuk backpacker. Bayar seikhlasnya, tapi nggak bayar juga nggak apa-apa, asalkan tujuan kita nggak macam-macam. 




Belakangan, kutemukan juga berkat lainnya. Jarak dari Rumah Singgah ke Pelabuhan Ketapang kan lumayan jauh. Kalau naik ojol bisa Rp. 30.000. Untungnya, ada kereta api Pandanwangi jurusan Ketapang dengan tarif Rp. 8.000 ! Ya, cukup pesan tiket via aplikasi KAI Access lalu jalan kaki ke Stasiun Banyuwangi Kota. Yang Rp. 22.000 bisa buat beli sarapan atau oleh-oleh. 

Satu lagi, karena mau lebih hemat (biarpun agak repot), aku sengaja bawa bekal dari rumah. Pagi saat berangkat dari Magelang aku bawa nasi omelet buat dimakan di kereta, tak lupa lunch box berisi sandwich, roti dan beberapa cemilan beserta air mineral. (ini mau backpackeran apa mau camping ya). 

Itulah strategi perjalananku kali ini. Buat cerita lengkapnya, aku tulis di next part ya. 



Kamis, 09 Februari 2023

Solo Travelling (15) Magelang - Kutoarjo Cuma 11000

Sebenarnya aku nggak tertarik mengunjungi Kutoarjo.  Karena tidak ada yang istimewa dari kota kecil  di Kabupaten Purworejo ini. Bukan nggak bagus sih, tapi kuliner dan kondisinya tak jauh beda dengan daerah lain di Jawa Tengah.  

Tapi jangan salah,  Kutoarjo punya stasiun besar yang menjadi "pengumpan" bagi warga Purworejo dan sekitarnya untuk naik kereta api.  Sebenarnya di kota Purworejo ada stasiun,  tapi sudah tidak aktif (pernah kuceritakan beberapa tahun lalu)  dan lagi Stasiun Purworejo adalah stasiun terminus,  tidak punya sambungan menuju Kulon Progo. Entah kenapa.  Mungkin karena sebelah timur Purworejo ada bukit Menoreh yang sulit dibuat jalur kereta,  jadilah fokus  kegiatan perkeretaapian diserahkan ke Kutoarjo.  

Kembali ke diriku. 1 Januari lalu aku pertama kali naik bus Trans Jateng dari Terminal Bawen ke Semarang.  Setelah aku lihat detailnya lewat aplikasi Si Anteng,  ternyata Trans Jateng ada beberapa rute,  salah satunya Borobudur-Kutoarjo. Menariknya lagi tarifnya jauh maupun dekat cuma Rp. 4.000 ! Wowww.. sesuai kantongku banget ini.  

Maka seminggu kemudian, aku segera mencobanya. Nggak terlalu sulit, aku langsung menuju ke Borobudur, dari Terminal Magelang dengan angkot seharga Rp. 7.000. 

Sebuah halte terpampang di sisi kiri Terminal Borobudur. Nampak bus Trans Jateng terparkir di dekatnya. Bus berwarna merah dengan gambar burung kepodang yang jadi maskot provinsi Jateng. 



Karena hari libur, cukup banyak calon penumpang saat itu. Beberapa menit kemudian, bus siap berangkat. 

Aku cepat-cepat naik dan menyegel sebuah tempat duduk. Oh ya, di bus ini tempat duduk antara laki-laki dan perempuan dipisah untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan (padahal zaman sekarang sih  kejahatan nggak pandang bulu, kalau setan udah bicara, mau lawan atau sesama jenis tetap aja bisa kena). Bagian depan untuk laki-laki, bagian belakang untuk perempuan. Kalau anak kecil boleh ikut orang tuanya. 

Seperti kubilang tadi, tarifnya Rp. 4.000. Bisa dibayarkan langsung ke kondektur, tapi bisa juga pakai e-money seperti ShopeePay atau GoPay. 

Bus keluar dari terminal, menuju jalan raya Borobudur, tapi tidak melewati candi. Sesekali berhenti di beberapa halte seperti Balkondes Sakapitu dan Kembang Limus. Lalu melalui jalan menuju Salaman yang tidak terlalu lebar dengan pemandangan sawah dan Bukit Menoreh. 





Bus penuh sesak saat memasuki Salaman. Sempat dihadang macet karena arus balik setelah libur Tahun Baru, tapi sesampai di Krasak, jalan mulai lancar meski tetap harus pelan-pelan karena medan jalan yang menurun dengan hutan di kanan kiri. 

Selepas Loano, bus tidak berhenti lagi sampai memasuki Purworejo. Sebagian penumpang turun di Plaza Purworejo, karena bus ini tidak lewat pusat kota. Daerah pinggiran menjadi pemandangan selanjutnya, rasanya bikin perjalanan makin jauh. Ditambah lagi sesekali harus berhenti di halte untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Total ada sekitar 20 halte sepanjang perjalanan Borobudur-Kutoarjo ini. 

Total waktu perjalanan satu setengah jam (hampir 2 jam karena sempat macet). Aku turun di Terminal Kutoarjo. Terminal ini kecil dan tidak terlalu ramai seperti halnya Terminal Borobudur tadi. Tapi keberadaan bus Trans Jateng ini membawa warna tersendiri. Angkutan baru ini ternyata cukup diminati warga setempat. Ya, tidak lain karena tarifnya murah tadi.



Karena sudah jauh-jauh, aku tidak langsung pulang. Tapi kemana? Di sekitar sini tak ada tempat wisata atau kuliner khas. Aku tak kehabisan akal. Saat ada angkot berhenti di depanku, aku segera naik. Tujuanku adalah alun-alun, jaraknya 1 km dari terminal.

Setelah menembus kepadatan pasar, sampailah aku ke Alun-alun Kutoarjo. Memang kondisinya biasa saja, tapi lumayanlah untuk melihat suasana lain. 

Aku kagum dengan alun-alun ini. Secara bentuk memang tak jauh beda dengan alun-alun pada umumnya, tapi sangat bersih dan tertata rapi. Lapangan rumput yang luas dan hijau.  Pohon beringin di tengah. Tersedia selasar untuk bersantai atau sekedar berfoto. Ada juga semacam bangunan gardu pandang yang tidak terlalu tinggi, dengan toilet di sisi bawahnya. 









Beranjak dari alun-alun, aku jalan kembali ke terminal tadi. Sebenarnya mau naik angkot lagi, tapi karena bagiku tidak terlalu jauh, kuputuskan jalan kaki saja.

Sesampai di terminal, aku kembali menunggu bus Trans Jateng, setelah sebelumnya membeli beberapa cemilan dan minuman. Seperempat jam berlalu, bus siap berangkat, dan seperti biasa aku duduk di deretan depan. 

Kali ini aku berniat turun di bundaran Salaman untuk mempersingkat waktu karena angkot di  Borobudur sering lama ngetemnya. Tapi astaga, entah aku yang salah perhitungan atau ada hal lain dari bus ini, penumpang tujuan Salaman harus turun di halte depan SMKN Salaman yang jaraknya beberapa ratus meter dari bundaran. 

Ya, terpaksa aku turun di situ dan menunggu bus jurusan Magelang. Karena tak sabar, aku jalan kaki ke arah bundaran. Tapi menjelang sampai di bundaran, sebuah bus kecil lewat, dan naiklah aku, pulang ke Magelang.  

Minggu, 16 Desember 2018

Solo Travelling (13) : Berjalan di Kalasan


Kalau bicara tentang Kalasan, orang bakal ingat akan 2 hal : ayam goreng dan candi. Yes, siapa nggak kenal ayam goreng Kalasan yang gurih dengan bumbu khas Jawa itu? Tapi bukan itu yang mau aku bahas kali ini, lagian aku nggak suka ayam goreng. Aku mau share kunjunganku ke dua tempat bersejarah di Kalasan awal Mei lalu.

Kalasan, yang dalam bahasa Jawa berarti “kehutanan”. Bisa dibilang, daerah ini adalah “gerbang” dari Prambanan, karena selepas dari kota Yogyakarta, kita akan lewat Kalasan dulu baru sampai di Prambanan, kalo jalan terus sampai Klaten.

Sebagai eks wilayah Kerajaan Mataram Kuno, Kalasan penuh dengan peninggalan sejarah, terutama candi. Sezaman dengan Borobudur dan Prambanan, berdiri pula belasan candi-candi lainnya. Di Kalasan sendiri yang terkenal, yaitu Candi Sambisari, Candi Sari, dan Candi Kalasan. Satu lagi, Candi Kedulan, yang masih belum selesai dipugar. Karena Candi Sambisari dan Candi Sari sudah pernah kukunjungi dulu, sekarang aku mau ke Candi Kalasan. Candi ini memang dinamai sesuai nama kecamatan di timur Yogyakarta ini.

Biarpun lokasinya tepat di jalan raya Jogja-Solo, pengguna bus Trans Jogja tetap harus jalan kaki kurang lebih 1 km ke timur. Dan itulah yang terjadi pada diriku. Di tengah ramainya jalan raya, aku harus berjalan melipir karena trotoar di sini kurang luas.

Di sebuah gang, Candi Kalasan tegak menjulang. Dengan mudah aku mengenalinya, dan langsung membeli tiket masuk seharga Rp. 5000. Agak mengherankan juga, meski hari libur candi ini benar-benar sepi. Pengunjungnya hanya aku sendirian. Hmm…. Mungkinkah karena hari ini pas Hari Buruh jadi pada sibuk demo? Malas ah ngomongin hal begituan…



Candi ini berupa sebuah bangunan batu berukuran besar dengan teras yang cukup tinggi. Bagian atas dikelilingi oleh stupa kecil. Sementara di tiap sisinya terdapat pintu dengan tangga, menuju bagian dalam yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Uniknya, di setiap tangga menuju teras diapit oleh arca, yang menunjukkan bahwa ini adalah tempat yang sakral.




Konon candi bercorak Budha ini adalah sebuah kuil yang diperuntukkan untuk pemujaan pada Dewi Tara. Dibangun sekitar tahun 778 oleh Rakai Panangkaran, penguasa Kerajaan Mataram Kuno saat itu. Saat itu selain kuil, dibangun juga asrama untuk para pemuka agama, yang adalah Candi Sari.



Berlanjut ke halaman, terdapat batu-batuan lain, seperti candi perwara (candi kecil), arca, dan batuan candi yang tidak dapat disusun. Semua tertata rapi sehingga indah dilihat.



Setelah puas, aku keluar dari area candi. Mau kemana sekarang? Aku teringat Stasiun Kalasan. Salah besar kalau berpikir aku mau naik kereta, mau nunggu sampai tepar juga nggak akan bisa karena stasiun itu sudah tidak beroperasi. Justru karena tidak aktif itulah, aku ingin lihat kondisinya sekarang.


Huahhh… untuk kedua kalinya aku harus melipir di jalan raya Jogja-Solo. Beneran kayak orang hilang, karena nyaris tak ada pejalan kaki lain. Agak malas juga sebenarnya. Panas!
Di tepi jalan sempat kulihat pintu air yang adalah pertemuan antara Sungai Opak dengan Selokan Mataram,  saluran air legendaris di Yogyakarta.


Berbelok ke sebuah gang, sebuah palang perlintasan kereta api sedang beroperasi. Tapi tunggu dulu, mana stasiunnya? GPSku nggak mungkin salah lokasi Ternyata stasiun itu ada di sebelah timur. Halaman stasiun tidak terlalu terlihat karena tertutup rumput liar.

Aku berusaha lompat di antara rerumputan dan gundukan tanah, mendekati bangunan stasiun. Harus ekstra hati-hati karena berbatu dan dekat dengan rel kereta aktif. Kalau terpeleset pas ada kereta lewat nggak tahu deh gimana nasibku…




Akhirnya! Aku berhasil mencapai bangunan stasiun. Segera kamera HPku menjepret sana sini.  Tapi melihat gedung ini rasanya miris…. Coretan vandalisme di mana-mana, lantainya ada yang berlubang. Sebagian pintu dan jendela hilang tinggal kerangka. 




Di sini ada beberapa ruangan. Ruangan di depan kemungkinan adalah kantor dan ruang operasional, sementara bagian dalam yang tertutup rapat adalah ruang kepala stasiun dan loket penjualan tiket. Di sebelah timur ada bangunan lain, yaitu gudang stasiun. Kondisinya pun nyaris tak terawat. Bahkan tiang persinyalan pun sudah tidak ada. Satu-satunya yang masih aktif hanyalah palang perlintasan di tepi jalan kampung. Hampir tiap jam palang pintu dibuka tutup untuk memberi kesempatan kereta api lewat. Dan mereka semua melewatkan begitu saja Stasiun Kalasan. Sayang sekali memang…








Konon Stasiun Kalasan ini dinonaktifkan pada tahun 2007. Alasannya karena pembangunan jalur ganda Kutoarjo-Solo yang menyebabkan stasiun ini tidak lagi melayani persilangan. Untuk naik turun penumpang pun kurang efektif karena letaknya yang dekat dengan Stasiun Maguwo dan Stasiun Prambanan. Kini tempat ini hanya sesekali dikunjungi warga sekitar untuk menonton kereta api lewat. 

Aku keluar lewat pintu depan dan… ternyata ada akses jalan yang lebih baik. Yah, kenapa nggak dari tadi? Rupanya karena jalan di sini penuh batu bikin aku nggak ngeh…




Berjalan perlahan, aku meninggalkan tempat itu. Dan stasiun tua itu kembali tenggelam dalam kesunyian,  entah sampai kapan....

Jumat, 29 Juni 2018

My Second Backpacker (Part 2) : KA Kedungserpur, Perjuangan Mencapai Ngrombo


Setelah memutar otak, akhirnya aku putuskan, besok aku akan tetap naik KA Kedungsepur. Tiket berdiri? Ah biarin. Kan masih ada lantai kereta. Aku akan tetap duduk biarpun harus lesehan!

Malam itu, setelah makan malam di warteg dan pergi ambil uang di ATM, aku segera beristirahat di hotel. Alarm HP kupasang jam 04.00. Dalam hitungan menit, aku terlelap. Selain karena capek, tempat tidur ini sangat nyaman.

Tanpa terasa, alarm di HP bordering. Aaaah… masih ngantuk…. Eh, pilih tidur lagi atau ketinggalan kereta? Akhirnya aku bangun, langsung mandi biarpun agak menggigil. Habis itu siap-siap berangkat ke stasiun.



Tepat seperti kemarin, aku dapat tiket KA Kedungsepur untuk berdiri. Cukup dengan Rp. 10.000 aku akan menuju Ngrombo. Harga yang murah karena kereta ini sangat bersih dan dilengkapi AC. Makanya nggak heran, di hari libur begini minat masyarakat sangat tinggi

Biar tiketnya untuk berdiri, ogah banget kalau harus berdiri hampir 2 jam. Aku langsung “menyegel” sebuah sudut gerbong sebagai tempat lesehanku. Di sini enak, bisa selonjoran. Oh, tapi saat kereta berangkat ternyata kereta belum terlalu penuh. Langsung aja aku cari kursi kosong. Buat apa duduk di lantai kalau bisa duduk di kursi?







Aku sangat santai, memandangi suasana kota di jendela, biarpun harus siap tergusur kalau ada penumpang yang dapat kursi ini. Sempat berhenti di Stasiun Tawang, eh ternyata “pemilik kursi” ini belum ada, jadi aku masih aman. Lanjut!

Next Stasiun Alastua. Di sinilah akhirnya aku harus kembali ke tempat lesehan tadi. Kursi ini ternyata “milik” seorang ibu guru TK yang sedang mengajak murid-muridnya naik kereta. Dalam sekejap, kereta penuh. Yah, biarin aja, yang penting nggak ada yang ganggu  “daerah kekuasaanku”

Maka, sambil asyik berinternet ria lewat HP, aku duduk selonjoran di lantai. Sesekali aku berdiri melihat pemandangan di luar. Tidak terlalu istimewa, sebagian besar cuma sawah dan ladang. Ada 4 stasiun lagi yang disinggahi kereta ini sebelum sampai di Ngrombo, semuanya adalah stasiun kecil yaitu Brumbung, Gubug, Karangjati dan Sedadi.





Dalam 1 jam lebih beberapa menit, akhirnya KA Kedungsepur merapat di Stasiun Ngrombo. Aku cepat-cepat turun buat mencari sarapan dan beli tiket pulang. Waktuku cuma sekitar 20 menit karena KA Kedungsepur yang arah Semarang akan berangkat jam 07.50





Stasiun Ngrombo ternyata bukan stasiun kecil seperti yang kubayangkan selama ini. Buktinya, penataannya sangat rapi. Dan suasana pagi itu…… bukan main ramainya. Banyak pengunjung atau calon penumpang yang berombongan.
Kemungkinan terburuk pun terjadi…. TIKET HABIS! Bahkan meski aku sempat “mengemis” ke petugas, tiket berdiri juga nggak apa-apa, nyatanya tetap nggak dikasih. Huh…. Dengan perasaan campur aduk, aku berjalan ke luar stasiun. Mau nggak mau harus cari transportasi lain. Tapi kemana? Aku nggak tahu arah utara selatan timur barat. Salah-salah nyasar ke Solo atau Blora.

Melihatku kebingungan, bapak-bapak yang nongkrong di pos jaga menyapaku. Aku beranikan diri bertanya transportasi ke Semarang. Eh, bukannya kasih jawaban pasti, si bapak malah nawarin aku naik ojek ke Purwodadi. Katanya sih aku bisa naik bus dari terminal Purwodadi. Tarif Rp. 30.000 yang ditawarkan si bapak bikin aku berpikir ulang.

Biar pikiran gundah, aku tetap harus cari makan. Dan yang kuincar, apalagi kalau bukan pecel Gambringan. Syukurlah, aku nggak perlu jalan jauh. Tepat di seberang pintu masuk stasiun ada seorang ibu yang menjual nasi pecel. Bukan sebuah warung, hanya menggunakan meja dan kursi yang ditata di pinggir jalan. Tapi soal kelarisan, jangan ditanya. Banyak pembelinya.



Aku duduk dan memesan nasi pecel. Tak perlu waktu lama, si ibu menghidangkan nasi pecel di atas pincuk daun pisang. Sayuran yang disiram sambal kacang itu langsung memancing seleraku. Untuk pelengkapnya, ada gorengan. Aku memilih bakwan ketela, atau biasa disebut lentho. Benar-benar enak! Saking nikmatnya, rasa pedas tidak terlalu kurasakan. Harganya sangat murah, nasi pecel dengan 2 potong gorengan cuma Rp. 4000. 



Kenapa dinamakan pecel Gambringan? Dahulu kala (nyata lho, bukan dongeng), pecel ini amat terkenal di Stasiun Gambringan, beberapa kilometer sebelah timur Stasiun Ngrombo. Penjual yang menggunakan tampah atau bakul banyak menjajakan pecel ini di dalam stasiun hingga ke atas gerbong. Sayangnya, seiring larangan dari PT KAI untuk berjualan di atas kereta, ditambah Stasiun Gambringan tidak lagi melayani naik turun penumpang, terpaksa para penjual pecel ini pindah ke tempat lain. Adapun perbedaan pecel Gambringan dengan pecel lainnya terletak pada bumbu kacangnya yang ditumbuk tidak terlalu halus. Jadi serpihan kacangnya masih terasa. 

Sehabis makan, aku bertanya ke ibu penjual pecel ini, apakah ada bus ke Semarang dari depan stasiun ini. Ternyata memang tidak ada. Aku harus ke Terminal Purwodadi dulu. Caranya dengan naik bus yang dari arah Solo.

Aku mengucapkan terima kasih, lalu menyeberang jalan. Tak lama, bus jurusan Solo-Purwodadi lewat. Aku pun naik. Baru dalam hitungan menit, sudah sampai di Terminal Purwodadi. Barulah aku tahu, jarak dari Ngrombo ke Purwodadi ternyata cuma sekitar 7 km. Dekat banget kalau naik bus, tapi kalau jalan kaki… hmmm….nggak banget ah

Tidak sulit bagiku menemukan bus jurusan Semarang. Tak perlu menunggu lama, bus segera berangkat. Dalam perjalanan aku sibuk memelototi pemandangan Kabupaten Grobogan bagian utara yang baru pertama kali kulihat. Tidak ada yang istimewa memang. Di sebelah kanan adalah daerah perbukitan kapur yang gersang , sebelah kiri ladang dan pepohonan jati, sementara di depan sana aliran Sungai Serang dengan area persawahan.

Bus sempat berhenti lama di Pasar Godong. Di sini kesabaranku benar-benar diuji. Udara panasnya bukan main padahal bus tidak ada ACnya. Benar-benar serasa direbus. Aku melihat keluar jendela, berharap ada tukang es lewat, ternyata satu pun tidak ada....



Untunglah bus segera berangkat. Lewat Gubug, Tegowanu, Mranggen... semakin lama semakin mendekati kota Semarang hingga akhirnya berhenti di Terminal Penggaron. Perjalanan makan waktu 2 jam.

Bus dari Purwodadi memang hanya sampai Terminal Penggaron ini. Jadi aku harus naik angkot jurusan Pasar Johar untuk balik ke hotel. Itupun tidak sampai ke Jalan Layur. Terpaksalah aku jalan kaki dari jembatan Kota Lama. Ah, padahal aku sudah tidak tahan kepanasan.

Maka, sesampai di kamar hotel aku langsung menyalakan AC, dan rebah di kasur. Lelah dan gerah banget rasanya

Senin, 23 April 2018

Solo Travelling (12) : Satu Jam di Pekalongan




Kota batik di Pekalongan
Bukan Jogja, bukan Solo
Gadis cantik jadi pujaan
Jangan bejat, jangan bodo




Februari 2018…

Dari pengalamanku travelling, perjalanan dengan kereta api adalah yang paling menyenangkan buatku. Nggak seperti angkutan darat lainnya yang suka ngetem sembarangan atau pasang tarif seenaknya, waktu dan tempat naik kereta terjadwal dengan baik. Itu sebabnya, beberapa rute kereta api bikin aku penasaran ingin mencobanya.

Kali ini untuk pertama kalinya aku mencoba naik kereta api di jalur Pantura. Dengan segala perhitungan, terutama soal waktu, aku memilih Pekalongan sebagai tujuanku. Kereta yang kupilih juga tarif termurah, maklum kantong tipis. Lewat Traveloka, aku tentukan semuanya.

Cuaca di langit kota Semarang kurang bersahabat. Baru jam 10 pagi, tapi sudah hujan deras. Begitu turun dari bus, air banjir di Kaligawe sudah mencapai betisku. Aku nggak peduli, mau banjir sepinggang juga biar, yang penting tetap berangkat. Dengan rasa deg-degan takut ketinggalan kereta, aku pesan GoCar. Untungnya, aku sampai di Stasiun Tawang tepat waktu.

Nggak ada waktu lagi buat duduk santai di stasiun, aku segera cetak tiket. Tak lama, KA Kamandaka datang diiringi lagu Gambang Semarang, ciri khas stasiun ini. Aku langsung check in dan naik ke kereta.

Kereta api Kamandaka di Stasiun Tawang

Bagian dalam KA Kamandaka



KA Kamandaka ini jurusan Semarang-Purwokerto, tapi seperti kusebutkan di atas, aku mau turun di Pekalongan. Begitu naik, aku takjub karena kereta ini masih sepi. Cuma sekitar 15 orang di dalam gerbong. Sengaja aku pilih tempat nomor 1 di gerbong paling belakang. Tepat jam 11.00 kereta berangkat.

Ah, ternyata kelegaan ini pecah begitu sampai di Stasiun Poncol. Penumpang yang naik berjubel, dalam sekejap nggak ada lagi kursi kosong. Malah di depanku, ada 2 orang mahasiswi dan seorang bapak yang naik, barang bawaan mereka setumpuk. Yah… aku berusaha jangan sampai protes, lagipula apa gunanya, toh aku juga penumpang. Kualihkan saja pandanganku ke luar jendela.

Kereta melaju ke sebelah barat kota Semarang. Muara banjir kanal, tambak, hingga jalan sekitar pelabuhan jadi pemandangan awal. Daerah Semarang Utara memang dekat dengan laut, maka nggak heran jika sering banjir seperti tadi.

Perhentian berikutnya adalah Stasiun Weleri. Di sini berhentinya setengah jam, jadi penumpang boleh turun sebentar. Kebanyakan yang turun adalah bapak-bapak. Ada yang sholat Zuhur, ada yang merokok, ada juga yang sekedar nongkrong di stasiun. Aku? Jelas aku punya “acara sendiri”. Jalan keliling dari ujung ke ujung stasiun, nggak lupa sambil foto-foto.

Stasiun Weleri tidak terlalu besar. Tapi selalu ada hal menarik buatku. Jalan di sekitar rel masih berupa tanah dan penuh batu kerikil. Belum lagi banyak genangan air bekas hujan tadi. Maka aku harus hati-hati berjalan, bisa gawat kalau nyungsep.

Stasiun Weleri

Pose di depan bantalan rel

Besi bantalan rel yang ditumpuk di pinggir jalan juga menarik perhatianku. Tidak kuketahui fungsinya, apakah sisa pembangunan jalur ganda, atau apa. Yang jelas, selain jumlahnya tidak banyak, besi-besi itu dibiarkan saja kena air hujan.

Lanjut! Selepas Kabupaten Kendal, suasana berpindah ke Alas Roban, hutan terbesar di jalur Pantura. Lagi asyik memandangi pohon-pohon lebat, tiba-tiba sebuah pemandangan spektakuler terpampang jelas. Yang baru pertama kali lihat pasti terpesona.

Apa itu? Beberapa kali jalur kereta berada di tepi pantai! Terlihat jelas panorama Laut Jawa dengan ombak berdebur. Warna airnya kecoklatan, bukan biru. Bahkan pernah air laut seolah-olah ada di bawah jendela kereta, cuma dibatasi oleh batu-batu besar atau tebing yang tidak terlalu tinggi. Luar biasa!

Aku yang ingin tahu lebih lanjut, mencari info di google. Selidik punya selidik, jalur kereta tepi pantai ini satu-satunya yang masih aktif di pulau Jawa. Hebatnya lagi, ada stasiun tepi pantai, namanya Stasiun Plabuan. Sayangnya, stasiun ini cuma buat persilangan, bukan buat naik turun penumpang. Wah… seandainya penumpang bisa turun, pasti tempat ini jadi “arena selfie”. 

Tak berlangsung lama, kereta merapat ke Stasiun Pekalongan. Jam menunjukkan pukul 12.50. Saatnya aku harus turun. Ngomong-ngomong, aku cuma punya waktu 1 jam di kota ini, soalnya kereta pulang akan berangkat sekitar jam 14.00.

Nggak ada yang bisa kulakukan selain jalan-jalan di dekat stasiun aja. Stasiun Pekalongan ternyata letaknya di pusat kota. Aku langsung ingat pernah lewat jalan ini waktu pulang dari Jakarta. Dari pengamatanku, suasana jalan kota Pekalongan ini biasa aja, seperti kota pada umumnya. Maka, aku coba lebih teliti, kalau-kalau ada sesuatu yang menarik.


Keramaian kota Pekalongan

 
Karena udah waktunya makan siang, aku cari makan aja. Yeah, pastinya aku mau makanan khas Pekalongan. Nggak perlu jauh-jauh karena beberapa ratus meter dari stasiun ada Warung Makan Mbak Dur, yang khusus menyediakan kuliner khas kota batik ini. Garang asem, nasi megono dan tauto adalah beberapa menu utama.  Tapi tauto lebih mengundang seleraku. Coba yuk!

Tauto itu singkatan dari tauco soto, artinya soto yang dicampur bumbu tauco. Kuah berwarna coklat kemerahan diisi irisan daging sapi, ditambah soun. Hmmm… padahal aku nggak suka daging sapi utuh. Tapi demi rasa penasaran (dan rasa lapar pastinya), rasa mual harus kubuang jauh-jauh. Nyatanya toh, tauto ini lumayan enak. Manis, gurih, dan sedikit pedas. Tanpa terasa semangkuk beserta nasi putih berhasil kuhabiskan tanpa sisa. Nah lo?

Manis dan gurihnya tauto

 

Pas membayar, aku kaget ternyata harga seporsi tauto adalah Rp. 17.500. Tapi, positive thinking aja, harganya sebanding kok dengan mahalnya daging sapi…. eh dengan kelezatannya.

Selesai makan, inginnya sih cari oleh-oleh khas seperti capret atau limun oriental. Tapi dengan terpaksa kuurungkan karena toko yang menjualnya agak jauh dari sini. Nggak ada waktu lagi buat jalan jauh-jauh. Yah… aku cuma bisa jalan beberapa ratus meter lagi. Dan ternyata pusat kota Pekalongan tidak jauh dari sini. Seperti di Jogja, Pekalongan juga punya kawasan titik nol kilometer. Sebuah tugu dikelilingi taman berbentuk segitiga menghiasi Jalan Merdeka ini.

Titik nol kota Pekalongan

Wah, waktu sudah pukul 13.30! Aku segera balik ke stasiun setelah sebelumnya beli minuman di Alfamart dulu. Begitu masuk stasiun, ternyata KA Kaligung tujuan Semarang sudah datang. Cuma masih berhenti beberapa menit karena bersilang dengan KA Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya.

Kalau Stasiun Tawang dan Stasiun Weleri punya instrumen Gambang Semarang tiap kedatangan kereta api, maka di Stasiun Pekalongan ada Nyidam Sari. Sempat terdengar peringatan dari pengeras suara, agar penumpang jangan sampai salah naik kereta, karena kedua kereta berhenti berdekatan. Agak menggelitik juga, kalau sampai calon penumpang KA Kaligung yang notabene kelas ekonomi, salah naik ke Argo Bromo yang kelasnya orang berduit. Keberuntungan banget tuh…. hehehe.. tapi jangan coba-coba deh, nanti ketahuan petugas, terus diturunkan di tengah jalan kan gawat.

Hujan rintik-rintik mulai turun. Tapi dasar traveler, sebelum naik ke kereta aku masih sempat-sempatnya mengabadikan bangunan tua di sebelah timur stasiun. Yup, di Pekalongan juga banyak bangunan tua, bahkan stasiun ini konon juga peninggalan zaman Belanda.


Memotret bangunan tua sebelum naik KA Kaligung

KA Kaligung yang nyaman

Akhirnya tiba waktunya untuk pulang. KA Kaligung ini sudah penuh penumpang. Aku sendiri dapat tempat duduk di gerbong belakang, dua baris dari belakang. Nggak tahu kenapa kalau naik kereta aku suka yang belakang-belakang. Tapi no problem, nyatanya kereta ini sangat nyaman, bahkan lebih nyaman dari KA Kamandaka tadi. Di sini sebagian besar kursi penumpang menghadap depan, jadi kita nggak bakal pusing akibat berlawanan arah. Udah gitu, ACnya terasa banget sejuknya.

Rute kereta sama dengan saat berangkat tadi. Aku melihat lagi pemandangan pantai di jendela. Sungguh luar biasa negeriku ini….


Memandang laut dari jendela kereta


Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...