Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 November 2025

Pangku - Review Film

 


Setelah nonton film Sore : Istri Dari Masa Depan, tiba-tiba saja aku ingin nonton film di bioskop lagi (bilang aja ketagihan). Eh, tunggu dulu. Aku nggak mau nonton sembarang film. Malas banget nonton film horor yang temanya diulang-ulang atau film cinta-cintaan nggak jelas. Aku ingin film yang filosofis.

Kebetulan hari itu, 11 November, aku ada waktu luang. Aku putuskan buat nonton film. Karena pilihan di Platinum Cineplex Magelang cuma dikit, akhirnya kupilih film Pangku. (emang judulnya gitu, bukan berarti nontonnya sambil dipangku emak, kan udah gede...) 

So, masuklah aku ke studio. Dan inilah hasil pengamatanku terhadap film Pangku : 

Alkisah, ada seorang perempuan muda bernama Sartika (Claresta Taufan)  yang sedang hamil 8 bulan. Ia pergi merantau sendirian untuk mencari kerja. Berawal dari menumpang truk, sampailah Sartika ke sebuah desa di pantai utara Jawa. Daerah ini adalah daerah pinggiran yang miskin, namun sering dilewati oleh truk pengangkut antar kota. Sebagai sarana hiburan untuk para sopir truk yang mampir, di sini terdapat tempat prostitusi, karaoke, dan warung kopi. 

Setelah melangkah tanpa tujuan, Sartika mampir ke warung kopi milik Bu Maya (Christine Hakim). Saat ditanya oleh Bu Maya, Sartika mengatakan ingin mencari kerja apa saja. Akhirnya Sartika ikut ke rumah Bu Maya. Bu Maya sangat miskin. Ia tidak memiliki anak dan  hanya tinggal berdua dengan suaminya, Pak Jaya (Jose Rizal Manua). Di sini Sartika mulai membantu pekerjaan mereka, seperti mencuci dan merapikan rumah.

Tibalah waktu bagi Sartika melahirkan anaknya, dengan hanya ditolong oleh Bu Maya. Meski kondisi serba terbatas, anak yang diberi nama Bayu itu tumbuh sehat. Untuk memenuhi kebutuhan anaknya, Sartika membantu Pak Jaya bekerja sebagai buruh tani.

Tak tega melihat Sartika harus bekerja berat, Bu Maya menawarkan pekerjaan lain untuknya. Kebetulan saat itu warung Bu Maya sepi karena kalah bersaing dengan warung lain yang memiliki jasa kopi pangku. Kopi pangku adalah tradisi dimana seorang wanita akan membuatkan kopi untuk pelanggannya, kemudian ia akan duduk di pangkuan si pelanggan yang sedang menikmati kopi sambil memijat. Awalnya Sartika ragu untuk menjadi kopi pangku  karena mengarah pada tindakan prostitusi. Namun demi Bayu, ia terpaksa menerima. 

Sejak kehadiran Sartika, warung Bu Maya kembali ramai. Bahkan datang pula beberapa wanita lain untuk pekerjaan yang sama. Lambat laun, Sartika pun menikmati pekerjaan itu. Dengan penghasilan yang lumayan pula, Pak Jaya bisa memiliki modal untuk berjualan mie ayam. Bu Maya dan Pak Jaya sudah menganggap Sartika dan Bayu seperti anak dan cucu mereka. 

Beberapa tahun berlalu, Sartika tetap menjadi kopi pangku karena tak ada pilihan lain. Terkadang ia harus mencuri-curi waktu untuk menidurkan Bayu. Bayu sendiri harus dibesarkan dalam kondisi seperti itu. 

Tak jauh dari desa tersebut adalah pesisir pantai dimana nelayan beraktivitas. Banyak orang datang melakukan jual beli dan pelelangan ikan. Di situ ada seorang sopir pengangkut ikan bernama Hadi (Fedi Nuril), didampingi dua orang kuli angkut bernama Asep (Muhammad Khan) dan Gilang (Devano Danendra). 

Suatu hari, Asep mengajak Hadi mampir ke warung Bu Maya. Di sini Sartika dengan senang hati duduk di pangkuan Asep, hingga akhirnya Sartika masuk untuk menidurkan Bayu. Melihat semua itu, Hadi menjadi kasihan pada Sartika karena harus mengurus anak sambil bekerja. 

Maka mulailah Hadi mendekati Sartika. Mulai dengan menghadiahkan ikan yang tidak terjual di pelelangan, hingga akhirnya mereka pergi jalan-jalan bareng. Bayu pun merasa cocok dengan Hadi.

Hadi juga menolong Gilang, teman kerjanya, yang diintimidasi oleh bosnya, sehingga Gilang mendapat pekerjaan sebagai juru parkir di sekitar warung Bu Maya. Sejak itu pula Gilang menjadi teman main Bayu. 

Masalah muncul ketika Bayu (Shakeel Fauzi)  sudah waktunya masuk sekolah. Ia tidak bisa mendaftar karena tidak ada identitas bapaknya. Di saat yang sama, kedekatan Hadi dengan Sartika makin erat. Hadi mengatakan bahwa ia menginginkan anak dan Sartika membutuhkan suami. Hadi siap menolong Sartika untuk berjualan mie ayam. Maka akhirnya keduanya menikah. Sartika dan Bayu pindah dari rumah Bu Maya ke rumah Hadi. Bayu pun bisa bersekolah karena Hadi telah menjadi bapaknya secara resmi.

Hari-hari sebagai pengantin baru dijalani Sartika dan Hadi dengan harmonis. Bayu yang menyukai layang-layang, belajar membuat sendiri dan menjualnya pada teman-teman sekolahnya. Kehidupan mereka cukup bahagia. Hadi memenuhi janjinya membuatkan gerobak untuk nantinya Sartika berjualan mie ayam. Namun karena masih kekurangan modal, Sartika belum bisa memulai usahanya. 

Suatu hari, Hadi pergi cukup lama untuk urusan pekerjaan. Sementara itu Sartika  hamil. Ia merasa galau karena suaminya tak kunjung pulang. Lewat petunjuk dari Gilang, Sartika berusaha mencari Hadi di tempat kerjanya. Alangkah terkejutnya saat ia mengetahui bahwa Hadi sebenarnya telah memiliki istri bernama Anisa (Happy Salma). 

Sartika merasa dikhianati oleh Hadi. Apalagi ketika akhirnya Anisa datang ke rumahnya dan membongkar fakta bahwa selama ini Hadi telah menyalahgunakan kiriman uang dari Anisa yang bertahun-tahun bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. 

Tanpa disuruh, Sartika segera mengemasi barang-barangnya. Ia bersama Bayu pergi meninggalkan Hadi. Terpaksa mereka kembali ke rumah Bu Maya, dan Sartika kembali bekerja sebagai kopi pangku. Sampai akhirnya Sartika melahirkan anak keduanya yang diberi nama Sekar.

Bertahun-tahun kemudian, Bayu telah dewasa dan berjualan mie ayam keliling. Sementara Sekar masih bersekolah.  Cerita berakhir saat Sartika menemukan surat dan uang sebagai kejutan ulang tahun dari kedua anaknya. Bayu dan Sekar bangga memiliki Sartika sebagai ibu yang berjuang tanpa lelah demi anak-anaknya. 


Karena menceritakan tentang kehidupan "wanita penghibur" , tak heran jika film ini memiliki label 17+ . Menurutku perilaku Sartika sebagai kopi pangku di sini tidak ditunjukkan secara eksplisit (mungkin agar tidak dicekal). Lebih sebagai wanita yang menemani pelanggan, bukan yang mengarah ke seksualitas, meski ada juga adegan Sartika dan Hadi bermesraan di tempat karaoke. 

Dengan setting pesisir utara Jawa yang terpencil, tampilan para tokohnya pun seperti orang pinggiran pada umumnya. Pakaian mereka seadanya, kehidupan mereka terkesan kurang bersih.

Akting para pemainnya pun jempolan, mampu menampilkan kepolosan. Setidaknya ada 3 pemain yang layak jadi sorotan. Pertama, Christine Hakim. Tentunya artis senior ini sudah tidak diragukan lagi. Berbagai karakter, termasuk tokoh Bu Maya di film ini ditampilkan dengan sempurna. Kedua, Fedi Nuril. Bisa dibilang aktor ini punya faktor X. Dari luar sering terlihat kalem tapi bisa menjiwai beragam karakter. Siapa sangka, Hadi yang dari luar terlihat baik ternyata aslinya jahat? Dan ketiga, Devano Danendra. Putra dari Iis Dahlia ini di dunia nyata terlihat glamour tapi di film ini bisa menjelma jadi orang pinggiran. Biarpun bukan tokoh utama, setidaknya karakter Gilang menunjukkan bahwa Devano bisa berakting dengan oke.

Oh ya, jika Reza Rahadian biasanya kita kenal sebagai aktor,  di film Pangku ini untuk pertama kalinya dia main di balik layar sebagai sutradara sekaligus penulis skenario. Wow!

Kekurangan dari film ini? Dari segi cerita sebenarnya tidak masalah. Hanya saja ada bagian yang kurang pas. Terlalu cepat bagi Sartika menerima Hadi sebagai suaminya. Selain itu, bagaimana mereka menikah tidak diceritakan, tahu-tahu Sartika sudah memasang foto pernikahan mereka di rumah Hadi. Bagian lain yang menurutku penting juga untuk diceritakan tapi tidak ada dalam film adalah bagaimana dan dengan siapa Sartika hamil Bayu (di awal cerita). Jadi terserah imajinasi penonton saja.  Sementara karakter paling unik di film ini adalah Pak Jaya. Nyaris tak ada dialog yang diucapkan.  

Yang pasti, secara keseluruhan, film ini ingin menggabungkan antara sisi kelam kehidupan masyarakat dengan masalah feminisme. Dimana seorang wanita bekerja  keras demi kehidupan anaknya hingga rela mengesampingkan harga dirinya sendiri. Jadi yang ditekankan di sini bukan soal seksualitas tapi soal perjuangan hidup. Sartika adalah sosok ibu yang bertanggung jawab terhadap anaknya. Meski hidup serba sulit, tak terpikir baginya untuk menelantarkan anaknya atau menitipkan di panti asuhan.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari film Pangku ini : 

- Hidup penuh dengan perjuangan, tapi hati-hatilah dalam melihat peluang.

- Jangan mudah percaya dengan orang lain meskipun dia terlihat baik.

- Bersyukurlah atas apa yang kita miliki sekarang, karena banyak orang di luar sana yang hidupnya kurang beruntung.

- Hargailah perjuangan orang tua kita yang telah membesarkan kita.



Sabtu, 07 September 2024

My Fourth Backpacker (Part 5) : Ujung Barat Bali Di Hari Libur

Tujuan pertamaku adalah Taman Siwa di seberang pelabuhan. Taman dengan patung besar Dewa Siwa ini seolah sebagai penanda bahwa kita sudah berada di Bali sekarang. Suasananya sih biasa aja, seperti taman kota pada umumnya. Tapi yang lebih memikat, di komplek taman yang sama kita bisa lihat pantai Teluk Gilimanuk! 




Dengan semangat aku menuju dermaga. Pantai berair tenang ini lebih diperuntukkan bagi nelayan setempat. Yang bikin salut, lautnya benar-benar biru bersih. Tidak banyak pengunjung siang itu, cuma beberapa orang yang sedang memancing. Secara keseluruhan memang tidak sekeren Sanur atau Tanjung Benoa, tapi lumayanlah untuk sekedar healing. 







Cuma satu hal yang bikin aku ketar-ketir. HPku kini benar-benar lowbat kurang dari 30 persen. Mana bisa bertahan sampai nanti sore, apalagi aku kan photoholic banget. Dengan susah payah kubuka Google Maps, cari Indomaret atau Alfamart terdekat. Biasanya minimarket di jalan utama provinsi punya teras ala cafe, jadi bisa nongkrong sambil numpang ngecas HP. 

Tapi sebelumnya aku punya satu tujuan lagi. Apa itu? Museum Manusia Purba. Yup, seperti halnya Sangiran, ternyata di Gilimanuk ini ada tempat untuk melihat artefak zaman purba. 

Kalau jalan kaki agak jauh sih dari Teluk Gilimanuk ini. Biarin lah. Berjalan di tengah eksotisme Bali bikin aku nggak mikirin capek. Rumah-rumah bergaya tradisional dengan gapura bentuk pura. Sebagian besar halamannya memiliki sanggah atau tempat sembahyang Hindu. Sesaji diletakkan di depan rumah dan sudut-sudut jalan, kadang dilengkapi dupa. Sesekali lewat pemuda pemudi berpakaian adat Bali membuat nuansa kulturalnya makin berasa.Aku berusaha menjaga langkahku, jangan sampai menginjak sesaji atau benda sakral lainnya. Termasuk jaga pikiran jangan sampai ngeblank atau mikir yang nggak pantas. Meski kita beda keyakinan, setidaknya menghormati. 






Setelah jalan 1 km, sampailah aku ke sebuah komplek bangunan. Di depan ada nama Museum Manusia Purba Gilimanuk. Tapi semua pagarnya tertutup. Lho, masuknya lewat mana? Sampai pojokan semuanya tutup, bahkan sepi. 

Di belokan, ada seorang ibu berpakaian adat Bali, sedang meletakkan dupa dan sesaji di sudut jalan, seperti hendak melakukan ritual. Di belakangnya ada seekor sapi yang mungkin untuk persembahan. Melihatku lewat, si ibu menanyaiku "Mas mau kemana?". Dengan  gugup, aku menjawab "Ini... masuknya lewat mana ya?". Dia menjelaskan "Museum ya? Lewat pojokan itu.  Biasanya ada penjaganya. Tapi  mungkin tutup, hari ini kan hari libur di Bali". 

Kuucapkan terima kasih lalu aku segera pergi tanpa bertanya lagi. Biar begitu aku heran juga, hari libur apa? Setahuku hari raya agama Hindu cuma Nyepi, Saraswati, Galungan, dan Kuningan. Sambil terus berjalan menuju jalan raya utama Gilimanuk, aku searching di HPku. 

Ternyata hari ini, 17 Juli, adalah hari raya Pagerwesi yang diperingati setiap Rabu Kliwon  menurut kalender Bali. Ucapan si ibu tadi tidak salah. Kondisi jalan yang kulewati benar-benar sepi. Di jalan kampung, cuma satu dua kendaraan yang lewat. Bahkan sampai di jalan utama Gilimanuk-Denpasar, banyak warung dan toko yang tutup. Kalaupun ada yang buka, itu milik warga pendatang atau non Hindu. Dan aku benar-benar kayak orang hilang karena cuma aku  traveler yang jalan kaki siang ini! Pelajaran berharga buatku, juga buat semua yang baca tulisanku ini, kalau mau ke Bali kita perlu cek kalender Bali, ada apa hari itu,  karena banyak hari-hari khusus yang tidak tercantum di kalender biasa. Masyarakat Hindu Bali sangat menghargai agama dan budayanya, jadi mereka meliburkan diri setiap ada perayaan khusus. 

Beberapa warung yang buka menyediakan makanan khas Gilimanuk, ayam betutu. Warung masakan Jawa juga ada. Meski sudah jam makan siang, aku menahan diri untuk masuk. Semua demi isi dompetku yang terbatas. 

Aku menemukan Indomaret di seberang jalan dan langsung masuk membeli beberapa snack buat ganjal perut. Biar jiwa Bali-nya nggak sia-sia, aku sengaja beli juga kacang kapri bumbu Bali buat oleh-oleh nanti. (Sesampai di rumah ternyata enak banget kacangnya, jadi nyesel cuma beli satu). 

Akhirnya aku duduk santai di teras Indomaret. Ngemil sambil numpang ngecas HP. Biar nggak bosan, kubaca lagi buku Antravelogi-nya Dini Novita Sari yang kubawa. Karena udara juga puanas bukan main, hampir sejam aku di sini. Aku nggak pedulikan orang yang keluar masuk Indomaret. Pikiranku tenggelam dalam cerita perjalanan Dini ke Thailand dan Balikpapan yang tentu saja bikin iri. 

Begitu baterai HP mencapai 30 persen, aku putuskan beranjak. Aku mau ke Pantai Karangsewu, pantai lain yang jadi bagian dari Taman Nasional Bali Barat. Syukur-syukur ketemu turis atau traveler lain yang bisa diajak jalan bareng. 

Untuk ke pantai itu, aku harus lewat jalan kecil di tengah kampung. Google Maps tetap jadi teman setia. Ternyata oh ternyata, setali lima uang, gerbang menuju pantai tertutup portal. Artinya tempat ini tutup juga karena hari libur. 

Bukan Robert namaku kalau menyerah gitu aja. Aku berusaha mencari celah. Minimal foto-foto ajalah. Ada seorang anak kecil di situ. Sepertinya habis numpang mandi di kamar mandi situ. Melihatku datang, dia teriak memanggil bapaknya. Ternyata si bapak penjaga loket. 

Aku diizinkan masuk, tapi tiketnya lebih mahal. Kalau hari biasa Rp. 10.000 , tapi kalau hari libur Rp. 15.000. Di tiket tertulis Taman Nasional Bali Barat. 

Semangatku menyala lagi melihat jalan menuju pantai dengan hamparan padang rumput. Sama sekali tak kalah dengan padang sabana di Afrika! Nggak nyesel juga aku batal ke Taman Nasional Baluran, karena di Bali Barat ini pun ada pemandangan serupa. Aku langsung tak tahan buat narsis sana sini. 







Setelah puas menikmati alam bebas ini, aku beranjak ke tujuan sebenarnya : Pantai Karangsewu. Kalau diperhatikan, pantai ini penataannya agak mirip dengan Teluk Gilimanuk tadi. Ada dermaga, dan lebih dikhususkan sebagai pelabuhan nelayan. Bedanya, di sini adalah sebuah laguna.  Airnya tenang, jadi lebih mirip danau. Diapit bukit-bukit yang luar biasa indahnya.

Sebagai cagar alam yang dilindungi, lahan pantai ini juga diperuntukkan untuk konservasi mangrove. Di bagian lain TNBB ini, tepatnya di arah menuju Singaraja. ada penangkaran burung jalak putih, tapi untuk ke sana harus jalan beberapa km lagi. Dengan pertimbangan udara panas, capek, kejar waktu, tambah lagi hari libur, aku urungkan ke sana. Tapi di pantai ini pun aku sudah merasakan atmosfer lain dari Bali. Kupandangi pantai yang berair biru di dermaga dengan damai tapi sedikit deg-degan karena lantai dermaga dari kayu. Siang itu pantai benar-benar sepi. Cuma ada pasangan yang lagi berduaan dan bapak-bapak pencari rumput. 

Tapi yang akhirnya bikin aku nggak nyaman, si bapak tiba-tiba mendekatiku. Dengan sikap yang aneh, dia tanya asalku dari mana dan ujungnya dia minta uang 5000. Aku langsung merasa ada yang nggak beres dengan si bapak. Buru-buru berkata tidak, lalu menjauh. Bukannya aku pelit, tapi aku takut kalau dia bermaksud jahat, apalagi sendirian di tempat sepi begini. 

Sebelum keluar, aku sempatkan istirahat dulu di gazebo sambil baca buku. Udara siang itu benar-benar panas. Jadi aku batalkan saja rencana melihat Candi Gelung Kori dan Tugu Cekik, beberapa km dari sini. Malas juga kalau harus jalan lebih jauh lagi. 

Lagi asyik-asyiknya baca, eh bapak tadi mendekati dan minta uang lagi. Aku nggak sabar lagi. Langsung kurapikan ranselku lalu berjalan keluar.  Untung si bapak nggak mengejar. Sayang banget, di tempat sebagus ini ada tukang palak. Sesampai di luar, bapak petugas tadi masih ada di sana. Tapi kupikir, nggak perlulah aku lapor soal itu, aku nggak mau jadi pemicu keributan di sini. 

Kembali ke jalan raya, aku mencoba mampir ke Alfamart di seberang jalan. Niat hati ingin numpang ngecas HP lagi. Apa daya, colokan listrik di situ tidak berfungsi. Ya, udah terlanjur ke situ, aku beli aja sebungkus Happytos dan air mineral buat cemilan saat pulang nanti. 

Menariknya, saat antri di kasir, aku ketemu serombongan turis. Ada dua orang bule dan empat orang berwajah oriental, entah China atau Jepang. Yang bikin kesel, para koko cici ini  antrinya lamaaaa banget, entah apa yang mereka bicarakan dengan kasir karena my listening for English is bad. Untungnya mbak kasirnya nampak sudah fasih banget menghadapi turis. Sama sekali nggak ada ekspresi capek, termasuk saat tiba giliranku. 

Nggak ada pilihan lain, terpaksa aku harus ke Indomaret tadi. Sekedar nongkrong, tanpa beli apa-apa lagi biarlah. 

Aku sempat melewati bangunan megah yang ternyata sebuah gereja. Namanya Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB) Agape. Biarpun gereja, tapi ciri khas Bali tetap dipertahankan, dengan gapura dan bangunan bergaya pura, hanya ditambah simbol salib di atapnya. Memang, Kekristenan sudah  berkembang di Bali seiring zaman kolonial dan banyaknya warga pendatang. Dari sekitar 4 juta penduduk Bali, 2 persennya adalah penganut Nasrani, dan mereka punya gereja khusus tanpa meninggalkan identitas budayanya. Malahan di Kabupaten Jembrana ini ada desa Kristen bernama Blimbingsari. Kata seorang temanku, gereja-gereja Bali sangat ramah terhadap pendatang, kita bisa saja mampir berkunjung atau bahkan numpang menginap. Mereka siap menyambut dengan senang hati. Sayangnya, siang itu gerbang GKPB Agape terkunci rapat, mungkin karena hari libur, jadi aku tidak bisa melihat-lihat dalamnya. 


Setelah ngecas HP di teras Indomaret, aku berjalan lagi. Waktu masih jam 15.00 WITA, masih terlalu cepat kalau aku langsung ke pelabuhan. Tapi terlalu mepet juga kalau harus mampir ke tempat yang jauh. 

Naluri penjelajahku memaksa buka Google Maps lagi. Aku lihat, di sebelah barat ada yang namanya Paragon View, tempat memandang ombak Selat Bali. Okelah aku coba ke sana. 

Sepanjang jalan, banyak deretan kios penjual oleh-oleh khas Bali. Ada pie susu dan aneka kaos bergambar Bali. Uniknya, mereka juga menjadi agen tiket kapal. Jadi bagi yang kesulitan beli tiket lewat online bisa pesan lewat agen. Aku sendiri nggak tertarik beli semua itu. Bukan apa-apa, aku sudah berulang kali dapat pie susu setiap kali ada teman yang pulang dari Bali, kaos Bali aku nggak terlalu suka modelnya. Lebih baik beli oleh-oleh khas Banyuwangi aja nanti. 

Melalui sebuah gang, sampailah aku di Paragon View.  Seketika aku terhenyak. Luar biasa! Sebuah jalan memanjang ala jogging track dibangun tepat di tepi laut,  menghadap ke Selat Bali! 

Aku langsung naik ke sebuah undakan. Ya memang posisi spot view ini agak tinggi karena memisahkan langsung antara pemukiman dan laut. Kalau kita mau turun ke laut sebenarnya juga bisa. Tapi jalannya agak curam berbatu-batu, dan lagi di bawahnya langsung kena ombak. Ogah deh kalau harus basah kuyup. 







Angin laut yang bertiup kencang menerpa diriku yang kelelahan ini. Di kejauhan laut biru bergelombang disinari matahari sore, dengan sesekali kapal lewat.  Lagu Lembayung Bali nya Saras Dewi seketika memenuhi benakku. Aku ingat juga saat study tour ke Bali zaman sekolah dulu 

Menatap lembayung di langit BaliDan kusadari betapa berharga kenanganmuDi kala jiwaku tak terbatasBebas berandai memulang waktu

Cukup lama aku duduk mengagumi tempat ini. Kalau bukan karena takut kemalaman, aku bisa saja menunggu sampai sunset. Akhirnya aku coba berjalan ke utara, berharap menemukan jalan ke pelabuhan. 

Sore itu cukup sepi. Hanya beberapa warga sekitar sedang nongkrong. Ada juga anak-anak yang main layang-layang. Saat aku lewat, mereka menyapa dengan ramah. Terlihat jelas mereka sudah biasa bertemu wisatawan. Mereka juga mengatakan bahwa jalan ini buntu, jadi aku harus memutar kalau mau ke pelabuhan. Tapi seakan tak peduli, aku jalan terus sampai ujung karena masih terkagum-kagum dengan tempat ini. Nampak mercusuar kecil berwarna kuning yang belasan tahun lalu pernah kupotret masih ada.  



Saatnya pulang. Aku kembali menyusuri kampung dan sampai di jalan raya lagi. Sama sekali tidak sulit menemukan jalan ke pelabuhan.  Sebelum pelabuhan, sebuah gapura dengan beberapa arca dewa Hindu berdiri tegak seolah mengucapkan selamat jalan. 




Maka, setelah menemukan jalan masuk,  bersiaplah aku mencetak tiket kapal. Seperti tadi, aku nggak perlu menunggu lama. Petugas langsung mengarahkanku ke kapal yang tengah merapat. Maka : sampai jumpa Bali ! 



Jumat, 12 Mei 2023

Sejumput Kisah Pecinan Magelang (Jelajah bersama Kota Toea Magelang) - Part 2

 Memasuki halaman Kelenteng Liong Hok Bio, suasana Imlek masih terasa. Lampion merah tergantung di mana-mana. Pohon  sakura yang jadi lambang musim semi menarik perhatianku buat selfie. Biarpun bunganya tiruan dari plastik tapi persis seperti aslinya. 




Seperti kuceritakan di postingan sebelumnya, kelenteng ini telah berusia 159 tahun, didirikan oleh seorang kapiten bernama Be Tjok Lok, dan difungsikan sebagai tempat ibadah 3 agama yaitu Buddha, Khonghucu dan Taoisme. Pada tahun 2014 kelenteng ini terbakar akibat sambaran api lilin. Jadi bangunan saat ini telah dipugar.  Ruangan utama dibuat lebih ke dalam dan bagian depan dibangun selasar. Di teras ruang utama terdapat meja dengan vas bunga melati, lilin-lilin merah dan dupa atau hio. Juga tempat meletakkan yong swa atau dupa sembahyang dan abu persembahan. Semua perabot itu dihiasi ukiran khas China. 







Walaupun kelenteng identik dengan budaya dan kepercayaan Tionghoa, namun keberadaan tempat ini juga menjadi salah satu cagar budaya kota Magelang.  Para pengurus kelenteng membangun relasi yang baik dengan berbagai kalangan. Dulu pernah diadakan pertemuan anak lintas iman, yakni Buddha, Kristen, dan Hindu, dimana adikku ikut menyanyikan lagu rohani Kristen. Pernah juga berlangsung pentas wayang kulit dan wayang potehi yang semua pemainnya adalah orang Jawa. Bahkan, atraksi barongsai sebagian besar pemainnya bukan orang Tionghoa! 

Kembali ke soal jelajah. Narasumber kami siang itu adalah Koh Paul dan Koh Sandi, pengurus dan aktivis kelenteng ini. Mereka menjelaskan tentang sejarah, fungsi, dan filosofi bangunan kelenteng ini. 








Kami juga diizinkan masuk. Untuk masuk tidak boleh sembarangan lho! Kami harus lewat pintu bergambar naga. Naga melambangkan sosok yang kuat, mendatangkan keberuntungan, kesehatan, dan perlindungan. Jadi singkatnya, saat kita masuk tempat ibadah menandakan kita dilindungi. Sedangkan kalau mau keluar, lewat pintu bergambar harimau sebagai lambang membuang segala gangguan . Artinya saat kita keluar diharapkan terhindar dari kesialan dan bahaya. Pintu tengah dulu diperuntukkan bagi raja-raja, tapi karena sekarang tidak ada kerajaan, maka Kim Sing atau patung dewa dianggap sebagai raja. Itulah sebabnya, pintu tengah tidak boleh dilewati sembarangan dan hanya dibuka di hari-hari tertentu seperti saat Imlek. 

Di dalam ruangan kelenteng, terdapat meja persembahan dan altar sembahyang dengan beberapa patung dewa. Persembahan kepada dewa umumnya berupa makanan dan buah-buahan. Meski tempatnya menjadi satu, namun prosesi ibadah tiga agama (Buddha, Khonghucu, dan Tao) dilakukan secara terpisah.  Adapun di kelenteng ini "tuan rumah" nya adalah Dewa Bumi. Dewa Bumi dipercaya memberikan kesuburan dan rezeki. Patung Dewa Bumi yang terdapat di sini berasal dari Kutoarjo dan sudah berusia lebih dari 2 abad, lebih tua dari kelenteng ini. Sementara beberapa patung dan arsitektur lainnya ada yang diimpor langsung dari China. 

Setiap tahun menjelang Cap Go Meh, ada tradisi Ci Suak, yaitu ritual penolak bala. Umat akan mendapat pemberkatan dari pemuka agama menurut shio masing-masing. Di Kelenteng Liong Hok Bio sendiri tahun ini pesertanya mencapai 1100 orang. Ada kalanya kelenteng mengadakan arak-arakan keliling kota Magelang dengan membawa patung dewa di atas tandu dengan tujuan ruwat bumi atau mendoakan keselamatan bagi warga kota. 

Setelah foto bersama di halaman kelenteng, kami lanjutkan perjalanan ke Kampung Juritan, salah satu pemukiman orang Tionghoa di Jl. Majapahit. Masyarakat Tionghoa di daerah sini telah berbaur dengan pribumi, jadi tak terlalu nampak bangunan khas Tionghoa di sini. Namun rumah-rumah lawas dengan pintu dan daun jendela besar masih cukup banyak. Zaman dulu daerah ini adalah basis pengusaha kayu dan mebel. Mereka berasal dari suku Kongfu di China.  Sayangnya, saat ini usaha mebel di daerah ini sudah punah. Satu-satunya yang tersisa adalah toko mebel milik Koh Djoe Kwie di Jl. Majapahit, yang kini pun hanya menjual mebel tapi sudah tidak memproduksi. 





Kami juga menemukan pabrik cigarette paper atau kertas rokok.  Seorang ibu menyambut kami dengan ramah dan memberi penjelasan. Kertas rokok cap Kucing ini telah diproduksi sejak lama (aku lupa tahunnya, kalau tidak salah 1940-an). Ia juga memberikan beberapa contoh kertas. Bergambar kucing berpakaian mayoret, kata "tjap" dan "kutjing" masih dengan ejaan lama. Soal kualitas, jangan ditanya, bahan kertasnya diimpor dari Rusia dan telah diekspor ke beberapa negara! Sayang seribu sayang, kami tidak diizinkan masuk untuk melihat proses produksi. Okelah. 

Selanjutnya kami melewati tepi Kali Manggis menuju Pasar Ngasem. Pasar tradisional ini membentang dari ujung Gang Jatayu hingga Gang Jembawan. Seketika suasana pasar yang hampir sepi kembali hiruk pikuk oleh rombongan kami. Di sini kembali pikiranku bernostalgia. Semasa kecil aku sering diajak ibu atau nenek belanja. Pasar ini tanpa bangunan permanen, hanya para pedagang yang menggelar dagangan dengan meja atau tampah, beratapkan payung atau terpal seadanya. Keberadaan pasar dimanfaatkan pula oleh beberapa warga setempat untuk membuka warung. Sekarang jumlah pedagang tidak sebanyak dulu karena banyak pedagang lama yang sudah pensiun. 







Tapi ada segelintir yang masih bertahan. Salah satunya penjual dawet yang kami sambangi siang itu. Es Dawet Bu Cowek ini konon sudah terkenal sejak 1960-an dan kini diteruskan oleh Bu Sukarti sebagai generasi kedua. Nama panggilan Bu Cowek karena dulu dawet disajikan dengan cobek tanah liat atau bahasa Jawanya cowek. Tapi sekarang penyajiannya dengan gelas atau mangkok porselen. 

Harga es dawet sangat murah, hanya 3000 per porsi. Isinya selain cendol, ada cincau, tape ketan dan roti tawar. Rasanya seger banget apalagi di siang yang panas ini. Khusus rombongan kami, Bu Sukarti telah menyiapkan puluhan gelas es dawet yang tentu saja langsung kami serbu. 

Di ujung pasar, kami juga menemui Cik Tin, penjual jenang legendaris di Pasar Ngasem ini. Asal tau aja, Cik Tin ini masih ada hubungan kerabat dengan mamaku. Dua kakak dari Cik Tin adalah suami dari dua orang tanteku (kakak mamaku). Usaha jenang ini sudah turun temurun dari Mak Bwee, neneknya Cik Tin. Aku tidak tahu kapan berdirinya, yang jelas tahun 1960-an sudah ada. Setelah Mak Bwee tiada, dilanjutkan oleh Mak Sutra, mamanya Cik Tin, sampai sekitar 1990-an. Di masa kecilku dulu, jenang ini sudah dikelola oleh Cik Ay, kakaknya Cik Tin. Dulu setiap kali beli, kesukaanku adalah jenang delima. Terakhir, kira-kira 10 tahun lalu saat Cik Ay sakit, jenang diteruskan oleh Cik Tin sampai sekarang. 




Ada beberapa macam jenang alias bubur manis di sini. Jenang delima, candil, ketela, dan sumsum. Per porsi harganya 5000. Untuk kami, jenang telah tersedia dalam kemasan gelas cup. Beberapa macam jenang disusun jadi satu. Mayoritas anggota rombongan langsung menyantapnya, malahan ada yang nambah. Tapi aku sendiri memilih bawa pulang, karena dawet tadi sudah memenuhi perutku. 

Ada beberapa tempat lagi yang kami datangi siang itu. Pertama, Gedung Bunder di Jalan Sriwijaya. Gedung ini unik karena bagian atasnya berbentuk melingkar tanpa atap. Menurut keterangan di dinding teras, bangunan ini didirikan pada tahun 1908 oleh Raden Tan Gwat Ling Secodiningrat, Pemuka Komunitas Tionghoa. Dari namanya sudah jelas bahwa beliau adalah orang berpengaruh pada masanya hingga dianugerahi gelar kebangsawanan Jawa. Kini Gedung Bunder dimiliki oleh kedua anaknya yaitu Raden Nganten Lilyanti Soewanto dan Raden Yongky Hartanto. Sayangnya keduanya saat ini berada di Jakarta sehingga kami tidak mendapat izin masuk ke dalam, hanya bisa melihat bagian depan saja. 





Awalnya gedung ini berfungsi sebagai rumah tinggal, namun pada awal kemerdekaan menjadi markas Laskar Rakyat dan markas militer Belanda. Pada tahun 1960-an  gedung ini sempat menjadi hotel, dimana band Dara Puspita pernah menginap waktu konser di Magelang. Bagian samping pernah juga digunakan oleh distributor teh cap Cangkir. Kemudian di tahun 2005, Bu Lily dan Pak Yongky merenovasi bangunan ini sebagai rumah keluarga, sekaligus mencatatkannya sebagai Bangunan Heritage Kota Magelang. 





Tempat selanjutnya yang kami lewati adalah bekas pabrik cerutu Ko Kwat Ie di Jl. Tarumanegara berikut rumah keluarganya di Jl. Sriwijaya. Kami pernah mengunjunginya beberapa tahun lalu. Tapi kali ini kami tidak diizinkan masuk. Menurut salah satu peserta yang kuajak ngobrol, setelah kunjungan kami waktu itu, cerita tentang bangunan Ko Kwat Ie viral dan pihak keluarga merasa tidak nyaman. Maklumlah, tidak semua pemilik atau penanggung jawab bangunan bersejarah bersedia ditelaah lebih lanjut oleh banyak orang. Takut mengganggu privasi. Begitupun dengan pabrik kecap Kalkun di seberangnya. Konon, Mas Bagus sudah beberapa kali mengajukan izin untuk jelajah namun tidak diperkenankan oleh pemiliknya. 




Ya, akhirnya kami harus pasrah hanya melihat-lihat. Kami kembali ke titik start melalui Jl. Pemuda tanpa mampir lagi. Maka inilah akhir jelajah kami hari ini. 

Jumat, 21 April 2023

Sejumput Kisah Pecinan Magelang (Jelajah bersama Kota Toea Magelang) - Part 1

Pecinan, berarti Kampung Cina. Nama sebuah kawasan yang menunjukkan kentalnya identitas Tionghoa di pusat kota Magelang. Teringat masa kecilku dulu, karena aku suka baca buku, ortu sering mengajakku ke toko buku di Pecinan. Begitupun kalau aku perlu sepatu baru, toko sepatu pun berada di sana. Kalau ingin cemilan, toko roti juga ada. Pokoknya apa pun.  Koko, cici, om, tante, emak, engkong, beserta para karyawannya siap membantu menyediakan  kebutuhan kita. 

Meski banyak orang mengidentikkan Pecinan dengan pemukiman dan pertokoan di Jalan Pemuda, kenyataannya kawasan Pecinan lebih luas. Keturunan Tionghoa di Magelang juga mendiami Jl. Majapahit, Jl. Medang, Jl. Sriwijaya, hingga Jl. Daha dan Jl. Jenggala. (wah nama jalannya kerajaan semua ya). Hj

Sayangnya, gemerlap Pecinan sekarang mulai pudar. Hanya beberapa sudut yang masih ramai. Sebagian toko-toko sudah tutup, sebagian lagi bertahan alakadarnya, istilahnya hidup segan mati tak mau. Maklum, perkembangan zaman menggerus semuanya. Orang lebih dimudahkan dengan belanja online yang banyak pilihan daripada datang ke toko yang pilihannya terbatas. Penyebab lainnya, generasi tua kebanyakan sudah tidak ada, sementara generasi muda lebih memilih buka usaha sendiri  daripada meneruskan usaha orang tua mereka. 

Untuk lebih mengenal lebih jauh tentang Pecinan, hampir setiap tahun komunitas Kota Toea Magelang mengadakan jelajah Pecinan. Bukan cuma di Magelang, mereka pernah menjelajah Pecinan di Muntilan, Temanggung, Parakan, hingga Ambarawa. Tapi untuk tahun ini kegiatan difokuskan di Magelang saja, karena situasi yang masih recovery setelah pandemi.

Sayangnya, jelajah kali ini terasa kurang greget bagi sebagian orang. Menurut Mas Bagus, sang koordinator, kendala utama adalah perizinan. Tidak semua pemilik bangunan tua bersedia rumah atau tempat usahanya dimasuki sembarang orang, sehingga kita hanya bisa melihat dari luar saja. 

4 Februari 2023, pagi itu sekitar 50 orang peserta dengan dresscode warna merah siap menjelajah. Kami berkumpul di Gedung Lokabudaya Sukimin Adiwiratmoko di selatan alun-alun.  Fakta menarik, meskipun judulnya jelajah Pecinan, tapi 90 persen peserta bukan keturunan Tionghoa, dan aku yang termasuk 10 persen sisanya. Biarpun sebenarnya aku kurang paham soal budaya Tionghoa, tahunya cuma kiong hie lalu dapat angpao... hehehe... 






Setelah briefing sejenak, acara dimulai dengan masuk ke dalam gedung. Lho? Ya, karena bertepatan dengan masa Imlek, di gedung ini KTM mengadakan Pameran Sejarah Pecinan selama beberapa hari . Di situ dipajang foto-foto dan benda bersejarah dari etnis Tionghoa di Magelang. 








Ruang pertama, terutama mengulas sejarah Kelenteng Liong Hok Bio, kelenteng  berusia 159 tahun di alun-alun Magelang. Pendirinya adalah Be Tjok Lok, Kapiten Kedu (setingkat Camat) pada zaman kolonial. Setelah pensiun, pada tahun 1864 beliau menyumbangkan tanah bekas kantornya untuk warga peranakan China, yang kemudian dibangun kelenteng tersebut.  Konon sebelum kelenteng berdiri, warga Tionghoa abad 19 telah melakukan ritual mereka dengan patung-patung Dewa Bumi yang berada di Jl. Daha.





Balik ke ruang pameran, terpajang juga beberapa kemasan kecap cap Kidang Jantra.  Bukan mau promosi atau sponsor lho, tapi tahu nggak sih, ternyata kecap yang biasa kita pakai sehari-hari  bukan hasil budaya asli Indonesia lho! Kecap diperkenalkan oleh perantau dari China. Saat menempuh perjalanan jauh mereka membawa bahan-bahan makanan yang awet, salah satunya kecap. Kecap Kidang Jantra sendiri diproduksi di Magelang sejak 1932. 

Lanjut, masuk ke ruang tengah. Kami  melihat foto-foto anak muda Tionghoa masa lalu, jadi aku bisa bayangkan engkong-emak kita itu waktu muda kayak gimana.  Ternyata style mereka rapi dan  modis juga, apalagi yang dari kalangan atas berpakaian necis alias parlente. Nggak kalah deh sama bintang film Mandarin! Biarpun model pakaiannya sederhana. Laki-laki mengenakan jas atau kemeja panjang, perempuan memakai gaun, sementara ibu-ibu berpakaian kebaya peranakan yang disebut kebaya encim.  












Ada juga foto pernikahan tahun 1970 di Gereja Katolik Santo Ignatius, dimana pakaian jas dan gaun pengantinnya tak jauh beda dengan zaman sekarang. Pernikahan dengan pakaian tradisional China sangat jarang karena warga keturunan Tionghoa sudah terpengaruh budaya barat dan setelah kemerdekaan banyak dari mereka berpindah agama ke Kristen dan Katolik. 







Kehidupan pemuda Tionghoa zaman dulu sama dengan masyarakat pada umumnya. Berolahraga seperti renang dan basket bukan sekedar hobi, tapi juga sarana keakraban mereka dengan lingkungan sekitar. Bukan cuma etnis Tionghoa saja, etnis lain juga boleh bergabung dengan mereka. Aku jadi ingat papaku waktu muda dulu bergabung dengan kelompok lari pagi, biarpun diprakarsai orang Tionghoa tapi pesertanya ada juga orang Jawa, bahkan orang India. 





Dalam hal tradisi pun orang Tionghoa telah mendapat tempat sejak dulu. Perayaan Imlek hingga Cap Go Meh berlangsung lancar seperti sekarang. Kirab barongsai ternyata sudah ada di tahun 1930-an! 



Soal sekolah, orang Tionghoa totok (keturunan langsung) lebih kolot dibanding Tionghoa peranakan. Maka mereka punya 2 sekolah khusus di Magelang.  Ada Hollands-Chinese School (HCS), sekolah Tionghoa di Jl. Tidar, dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Setelah kemerdekaan, sekolah ini tutup dan beralih fungsi menjadi SPWK (Sekolah Pekerja Wanita Kristen) dan kini menjadi SMK Wiyasa. Sekolah lainnya adalah Tiong Hoa Hwee Kwan atau CHH di Jl. Medang, yang berbahasa Mandarin. Itu sekolah papaku dulu. Sayangnya akibat peristiwa G30S/PKI 1965 sekolah ini tutup dan sebagai akibatnya banyak murid yang putus sekolah, termasuk papaku yang cuma sampai kelas 4 SD. Kini lokasi sekolah itu menjadi SMAN 3 Magelang. 


Ruang belakang pameran memajang dokumen dan peralatan yang berkaitan dengan masyarakat Tionghoa. Ada pamflet iklan, rekening air, undangan pernikahan, dan buku-buku tentang komunitas Tionghoa, mulai yang berbahasa Mandarin, Belanda, dan Indonesia.  KTP pun konon ada kartu identitas khusus orang Tionghoa. 















Untuk peralatannya, ada mangkuk berbahan logam, rantang, termos es, penakar minyak, mesin stensil, dan stempel. Semua alat ini dipinjam dari sebuah keluarga di Muntilan. 















Seperti kubilang di awal tadi, mayoritas orang Tionghoa bekerja sebagai pengusaha atau pedagang. Bahkan saat masa-masa sulit, mereka tetap mendapat hak dari kelurahan setempat untuk berdagang buah dan gula. 









Salah satu foto yang menarik adalah foto Ko Kwat Ie, pendiri pabrik cerutu zaman dulu. Salah satu produknya adalah cerutu Armada. Nama inilah yang menginspirasi pendirian perusahaan karoseri New Armada. 


Last but not least, ruang terakhir, yang dipajang di sini lebih berfokus pada acara kedukaan. Iklan dukacita dan foto-foto pemakaman zaman dulu terpajang di sini. Jangan bayangkan acara pelayatan dengan arak-arakan mobil seperti sekarang. Pelayatan dulu dilakukan dengan jalan kaki sementara jenazah diangkut dengan kereta kuda. Bahkan di tahun 1960-an meski sudah ada mobil jenazah pun masih ada pelayat yang berjalan kaki. Keluarga yang berduka mengenakan pakaian dan ikat kepala putih sebagai tanda berkabung. 









Kebanyakan warga Tionghoa saat itu dimakamkan di Kerkhof, bawah Bukit Tidar. Meski sebenarnya kuburan Belanda, mereka memilih lokasi ini karena paling dekat dengan pusat kota.  Bahkan sebelum era kemerdekaan, kawasan Bukit Tidar juga digunakan sebagai area pemakaman. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya prosesi pemakaman zaman dulu. Kalau sekarang, di Magelang sudah ada Yayasan Dharma yang siap membantu. 

Makam Kerkhof dibongkar pada awal 1990-an dan direlokasi ke berbagai tempat seperti Giriloyo, Soropadan, dan Gremeng. Ada juga yang kemudian dikremasi. Hanya beberapa makam yang dipertahankan hingga kini di antaranya makam Ko Kwat Ie dan makam Van der Steur. 

Dan... mari kita jelajah. Kami berjalan ke luar gedung. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Kelenteng Liong Hok Bio. 






Lagu Masa Lalu (32) : Sway

When marimba rhythms start to play Dance with me, make me sway Like a lazy ocean hugs the shore Hold me close, sway me more Like a flower be...