Selasa, 06 Agustus 2024

My Fourth Backpacker (Part 4): "Memanjat" Kereta Pandanwangi, "Bingung" Keluar Kapal Gilimanuk

Sesudah sarapan seadanya dengan roti dan cemilan, aku segera mandi. Keasyikan mandi, nggak taunya udah jam 07.40. Padahal KA Pandanwangi berangkatnya jam 07.47. Aku cuma punya waktu 7 menit buat ngejar kereta! Maka, setelah berpakaian necis, cepat kuangkat ranselku, pamitan pada Aldi yang baru aja bangun, lalu buru-buru ke stasiun. 

Huh, jam di HPku sudah jam 07.43. 4 menit lagi bro! Aku harus jalan cepat tapi tetap hati-hati soalnya jalan di sini berpasir. Nggak lihat kiri kanan lagi aku lari masuk stasiun. 

Syukur deh, kereta belum berangkat. Begitu lihat mesin cetak tiket aku buru-buru ketik kode booking dan klik Check In. Tapi lho... lho... tiketnya nggak tercetak. Ada mbak-mbak security di situ, tapi dia lagi jelaskan sesuatu ke seorang bapak yang bawel abis.   Duh...  cepetan napa. Begitu peluit kereta terdengar, kesabaranku udah nggak bisa ditolerir lagi. Aku menyela "Mbak, ini kok tiketnya nggak keluar." "Udah check in kan? Langsung masuk aja" jawabnya. Bilang dong dari tadi! 

"Naik KA Pandan kan? Cepetan, keretanya udah mau berangkat" kata petugas lainnya. Wawww... kereta udah mulai melaju setapak demi setapak. Udah kayak ngejar bus kota aja, aku langsung lari dan memanjat ke salah satu gerbong. Praise The Lord! 

KA lokal jurusan Jember-Ketapang ini nampak sepi hampir di semua gerbong karena penumpang lebih banyak turun di Stasiun Banyuwangi tadi. Saking sepinya, sampai-sampai satu gerbong kurang dari 10 orang. Tarifnya murah banget cuma Rp. 8.000. Jauh lebih murah dari angkutan lain. Tapi jangan salah, biarpun KA lokal tapi interiornya tetap seperti KA ekonomi yang duduk berhadapan dan bisa pilih tempat duduk. Seperti kebiasaanku naik KA, aku selalu pilih gerbong paling belakang. 

Baru 5 menit aku duduk, suara speaker sudah terdengar bahwa kereta segera memasuki Stasiun Ketapang. Dari jendela, daerah pesisir terlihat jelas. Yah.. kenikmatanku di KA ini sebentar banget, tapi mau gimana lagi. Lain kali lagi deh. 

Hatiku penuh sukacita saat turun. Akhirnya sampai juga aku di ujung timur pulau Jawa! Saking senangnya, aku nggak langsung keluar stasiun. Keliling dulu ambil foto sana sini. Di kejauhan nampak daerah perbukitan. Banyuwangi bagian barat  memang dataran tinggi.  Nun jauh di perbatasan Bondowoso, ada 3 gunung api yaitu Ijen, Raung, dan Merapi. Yang terakhir ini namanya memang sama dengan gunung di dekat Magelang. Entah kenapa dinamakan begitu. Yang jelas gunung Merapi versi Banyuwangi ini tidak seaktif Merapi versi Magelang. 







Sebagai stasiun terminus (perhentian terakhir), Stasiun Ketapang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Ketapang. Begitu keluar dari stasiun, cukup jalan kaki sekitar 500 meter lalu menyeberang jalan. 

Tak sulit bagiku mencari jalan masuk pelabuhan karena sudah ada penanda untuk penumpang umum. Karena aku sudah pesan tiket lewat Ferizy, jadi tinggal scan QR di mesin yang mirip ATM itu, lalu keluarlah 2 lembar tiket : satu untukku, satu untuk petugas. 

Selanjutnya, aku andalkan naluri aja sambil perhatikan penunjuk arah. Sampailah aku di dermaga. Tak perlu banyak tanya lagi, langsung dekati petugas yang jaga, tunjukkan tiket, bisa langsung ke kapal yang sudah merapat. 

Deg-degan juga rasanya. Ini pertama kali aku naik kapal sendirian. Tapi dasar photoholic, aku sempat-sempatnya abadikan suasana pelabuhan, biarpun posisiku harus melipir soalnya banyak kendaraan yang masuk kapal. Sensasi lain pastinya  goncangan tiap kali ada truk lewat. 



Begitu naik ke atas kapal, aku langsung duduk di dek depan, memandangi laut dan langit yang sama-sama biru. Sementara pulau Jawa mulai menjauh. Aku pernah melewati Selat Bali ini saat study tour SMA dulu. Tapi kali ini lebih menantang karena aku sendirian. Sesekali kapal bergoncang diterpa ombak. Kata orang, semakin siang angin laut akan semakin kencang. 

Bosan memandangi laut, aku masuk ke ruangan kapal. Ternyata di sini suasananya mirip di kafe. Ada yang lagi makan, ada yang tiduran di sofa. Memang ada kedai yang menjual Pop Mie, minuman, dan makanan ringan. Tapi aku blas nggak tertarik karena harganya pasti berkali-kali lipat dari kedai di darat. Biarpun ruangan luas tapi nggak ada AC, cuma beberapa kipas angin. Sementara aduh... baterai HPku tinggal 40 persen. Aku cari-cari colokan listrik, satupun nggak ada yang kosong. Kalaupun ada, udah ada yang pakai. Ya udahlah. Sambil dengerin lagunya Judika yang disetel di layar TV, aku memandangi laut dengan pasrah. 

Singkatnya, kapal mulai melaju pelan, tanda mau merapat. Sebagian besar penumpang mulai bersiap turun. Aku tunggu sampai kapal beneran berhenti. Yes, inilah Pulau Bali! 

Aku turun ke basement tempat parkir. Semua orang sudah masuk ke kendaraan masing-masing. Tinggal aku dan beberapa ibu-ibu yang kebingungan cari jalan keluar. Habisnya ruang basement penuh truk dan bus. Aku coba nyusup sana sini, eh nggak muat. Salah-salah bisa kena cium truk  karena lantai besi ini licin. Ya, terpaksa tunggu sampai kendaraan pada keluar kapal. 

Sambil melipir karena takut kepeleset aku melangkah keluar kapal, diikuti rombongan ibu-ibu tadi. Eksotisme Pulau Dewata sudah di depan mata dengan ornamen berbentuk pura. Di seberang pelabuhan ternyata sudah ada terminal. Sejumlah kernet dan calo langsung merubung kami menawari bus ke Denpasar. Ibu-ibu tadi langsung menuju bus karena memang tujuan mereka ke sana. Tinggallah aku sendiri melangkah keluar pelabuhan. 



Jumat, 02 Agustus 2024

My Fourth Backpacker (Part 3) : Kisah Rumah Singgah Banyuwangi

Dalam kegelapan malam aku memasuki sebuah halaman luas dengan rumah-rumah bergaya Osing. Inilah rumah singgah yang akan kutempati untuk mandi dan tidur. Pengalaman ini jelas baru untukku, karena biasanya aku memilih hostel atau hotel buat bermalam kalau travelling. 

Sepi sekali, seorangpun tidak ada. Sampai seorang cowok datang dan masuk ke salah satu rumah. Dari penampilannya, jelas dia adalah tamu bukan pemilik. Terpaksa aku menghubungi lagi Mas Rahmat, pemilik tempat ini. Dia memberiku nomor kontak Mas Beni, penjaga tempat itu. 

Belum sempat aku menelepon Mas Beni, tiba-tiba datang seorang bapak memboncengkan seorang cewek. Saat aku mendekat, si bapak berkata "Robert ya? Silahkan masuk aja, nggak dikunci." Ia menunjuk salah satu bangunan. Selanjutnya ia menunjukkan cewek tadi sebuah bangunan lain dan menyuruh cowok yang tadi masuk untuk pindah sekamar denganku. 

Aku masuk dan meletakkan tas-tasku. Ruang ini biasa saja, hanya ada beberapa kasur yang bisa kita atur sendiri. Berdinding bata dan berlantai tanah. Sebuah AC terpasang di dinding, tapi kurasa tidak terlalu kuperlukan karena udara sudah cukup sejuk. Di samping kamar ada kamar mandi tak beratap, tapi bertembok tinggi, jadi nggak bakal bisa ngintip (lagian siapa juga yang mau ngintip). Ada juga kamar mandi di luar kamar yang biasa dipakai penjaga.

Sebentar kemudian, aku keluar lagi. Aku menemui bapak-bapak tadi. Tanpa memperkenalkan diri, dia menyalamiku. Lalu aku menyerahkan sebuah bungkusan yang sengaja kubawa dari Magelang. Isinya wingko, abon, dan kerupuk tahu. "Ini ada sedikit oleh-oleh dari Magelang mas" kataku. "Maturnuwun nggih mas" sahutnya.  Hmmm.. baru tahu aku, biarpun orang Banyuwangi berbahasa Jawa Osing kayak di lagunya Via Valen atau Nella Kharisma, tapi mereka tetap paham bahasa Jawa halus ala Jawa Tengah. 

Kembali ke kamar, aku ajak bicara teman sekamarku. Namanya Aldi, berasal dari Jogja. Dia juga solo traveler sepertiku. Sudah  2 hari dia di Banyuwangi, dan sudah mengunjungi hutan De Djawatan dan Taman Nasional Baluran. Sebenarnya dia berencana ke Kawah Ijen, tapi saat ini pendakian Ijen lagi ditutup karena kondisi tidak aman. Aldi juga mengatakan bahwa dia sudah pernah menginap di Rumah Singgah ini. Setiap kali liburan ke Bali, pasti pulangnya mampir ke sini. 

Memang tak salah jika traveler seperti kami merekomendasikan Rumah Singgah ini. Gratis, atau kalau mau bayar seikhlasnya aja. Konon berdirinya tempat ini berawal dari pengalaman pribadi Mas Rahmat. Dulu ia juga suka backpackeran dan mendaki gunung ke banyak tempat. Sebagaimana hakikat backpacker :  pengeluaran sekecil mungkin, Mas Rahmat berusaha mencari penginapan seadanya tiap kali pergi. Numpang tidur di rumah teman bahkan di pom bensin pernah dijalani. Dari pergaulannya dengan sesama backpacker, ia pun sering menerima mereka singgah di rumahnya. Akhirnya ia terinspirasi membuat Rumah Singgah ini. Siapa saja boleh menumpang gratis asalkan bersikap sopan dan so pasti reservasi lebih dulu. 

Terus, dananya dari mana? Tak kehabisan akal, Mas Rahmat membuka hostel berbayar dan rental motor di seberang Stasiun Banyuwangi. Yes, angkutan ke tempat-tempat wisata memang agak sulit, jadi sewa motor adalah solusi terbaik untuk Aldi dan traveler atau backpacker lainnya. Aku sendiri karena nggak mahir naik motor, ya pasrah aja deh. Oh ya, kadang-kadang Mas Rahmat juga menyediakan open trip ke Kawah Ijen. Untuk info Rumah Singgah dan Rental Motor bisa lihat di IG : rumahsinggahbwi atau FB : Meyhesa Rachmad. 

Sayangnya, selama 2 hari di sana aku tidak sempat ngobrol lebih lanjut dengan Mas Rahmat. Mungkin dia sibuk, mungkin juga karena aku pergi dari pagi sampai malam. Yang jelas, bagiku tempat ini sangat homey dan friendly. 

Kembali ke aku. Malam itu sebelum tidur aku mandi dulu. Kamar mandinya sederhana, belum dikeramik, dilengkapi toilet. Bedanya kalau kamar mandi yang di samping kiri masih pakai ember. Kamar mandi yang di samping kanan ada pancuran tapi saat kucoba airnya nggak keluar. Ya terpaksa pakai selang air! But it's no problem. Namanya juga backpaker. 

Setelah air sejuk Banyuwangi membersihkan tubuhku, aku bersiap tidur. Setelah main HP sebentar dan tak lupa berdoa, kuselubungi diriku dengan sarung. Aldi mematikan lampu dan kami segera terlelap di kasur masing-masing. 

Tak terasa, hari beranjak pagi. Biarpun tidur beralas kasur tanpa bantal, cukup hilangkan letihku.  Aku coba melihat keluar. Dan... kehangatan matahari pagi menyambutku. Suasana mirip di pedesaan. Kulihat material bangunan di pojokan. Mungkin di sini akan ditambah bangunan baru lagi. Kubayangkan kalau aku ke sini bareng teman-teman pasti kami bakal malas pulang. 

Ini foto-foto Rumah Singgah itu, sayang aku lupa foto bagian dalamnya : 








Senin, 22 Juli 2024

My Fourth Backpacker (Part 2) : 12 Jam Dalam Gerbong Sri Tanjung

 Yesss... akhirnya terkabul juga keinginanku untuk naik KA Sritanjung ke Banyuwangi. Pas lihat jadwal keretanya, serasa tantangan. Bayangkan, sehari full dari jam 07.20 sampai menjelang jam 20.00 kita cuma duduk ! Buat yang nggak biasa bepergian jauh pasti bikin suntuk, mabok, atau orang Jawa bilang: mendhem. 

Kereta berangkat jam 07.20, aku harus berangkat sepagi mungkin dari Magelang. Dengan menggendong ransel dan menenteng tas besar berisi pakaian (nggak mau bawa koper karena ribet naik turunnya), aku memulai dengan naik ojol (Gojek) dari rumah, dilanjut bus jurusan Jogja dari depan Artos Mall. Hari masih gelap, matahari baru terbit saat bus mencapai Muntilan. 

Sengaja turun di Pasar Mlati, karena ojol dilarang naikkan penumpang dari depan Terminal Jombor. Malas juga kalau harus jalan jauh bawa tas berat. Sebelum turun dari bus, aku udah klik order ojol biar nggak kelamaan nunggunya. Nggak salah, aku masih harus tunggu 5 menit lebih baru abang ojolnya datang. 

Tepat jam 7, aku sampai di Stasiun Lempuyangan. Agak gemes juga karena si abang ojol nggak paham medan, jadi kebablasan, aku musti jalan agak jauh. Berulang kali dia minta maaf. Iya, iya, aku maafin. Yang penting belum ketinggalan kereta. 

Biar Jogja punya sejuta kharisma, aku merasa nggak perlu perhatikan yang lain-lain saat ini. Fokusku cuma pengin secepatnya cetak tiket dan masuk kereta. Untunglah aku nggak perlu antri lama. Ketik kode booking di mesin lalu syuuut. Pas masukin dompet ke tas, seorang pemuda menghampiriku "Pak, itu kuncinya jatuh." O lha, ternyata kunci rumahku sudah tergeletak di lantai. Spontan kuucapkan terima kasih. Syukur deh ada hal baik terjadi di sini. 

Makasih buat mas-mas baju oranye yang sudah temukan kunciku


Karena sudah jam 07.10, aku segera check in dan menuju kereta. Tak lama kereta berangkat. Tempat duduk di sebelahku masih kosong, sementara di depanku 2 orang ibu, satu masih muda, satu udah setengah tua. Aku tahan keinginan buat selonjoran, takut dibilang nggak sopan.

Berhubung belum sarapan, aku membuka kotak makanku yang berisi nasi dan omelet mie. Tak sampai 15 menit segera kuhabiskan. Kotak lainnya berisi roti tawar dengan olesan madu, coklat, dan abon. Kusimpan saja untuk makan siang. Ada juga beberapa cemilan lain. Ya, memang lebih baik bawa bekal sendiri daripada beli di kereta makan. Meski petugas lalu lalang menawarkan Pop Mie, minuman, hingga nasi goreng, aku sama sekali tidak tertarik. Bukan apa-apa, harganya mahal buat penggemar angkringan sepertiku. 

Aku melihat ke jendela saat kereta melewati daerah Klaten. Pemandangan ladang yang hijau disinari matahari pagi. Betapa indahnya. Dalam hatiku berkata, janganlah pagi ini cepat berlalu. Lho? 

Pagi yang cerah di Ceper, Klaten


Menit dan jam berlalu, kereta sudah memasuki Jawa Timur. Sampai di Jombang,  tempat duduk di sekitarku sudah terisi penuh. Tubuhku mulai capek duduk terus. Makanya saat kereta berhenti agak lama di stasiun, aku turun sebentar merenggangkan otot kaki sekalian ke toilet. 

Aku mulai loyo setelah lewat Sidoarjo. Udara siang bikin ngantuk, tapi mau tidur juga susah karena di kanan jendela di kiri ada orang. Main HP terus bikin capek mata. Akhirnya setelah makan bekal rotiku, aku membuka buku yang kupinjam dari perpustakaan kota Magelang. Judulnya AnTravelogi karya Dini Novita Sari. Seketika cerita pengalaman Mbak Dini waktu liburan ke Singapura bareng teman-temannya membuatku termenung. Aku memang suka cerita-cerita traveler begini dan selalu bermimpi jadi seperti mereka. Bakat menulisku udah ada, tapi yang mau ditulis belum banyak karena isi dompet yang terbatas. Dan lagi aku tidak banyak teman yang sehobi denganku. 

Buku AnTravelogi (foto kuambil di rumah)

Stasiun Probolinggo


Suasana hutan di jalur Probolinggo-Lumajang membawaku kembali ke dunia nyata.  Ya, daerah ini belum pernah kulihat sebelumnya, jadi sayang kalau dilewatkan. Pohon-pohon besar menjulang dengan langit yang masih biru seperti yang pernah kulihat di film 5 Cm. Sayang, karena posisiku di sebelah kiri, aku tidak bisa melihat Gunung Bromo dan Semeru. 

Sempat kulihat Stasiun Klakah, satu-satunya stasiun aktif di Lumajang. Tidak jauh dari sana ada Ranu Klakah, danau vulkanik di lereng Gunung Lamongan. Sebenarnya tempat itu masuk wishlist perjalananku sejak dulu, tapi karena KA Sritanjung tidak berhenti di Klakah, alhasil harus kuurungkan sementara. 

Saat berhenti di Stasiun Tanggul, aku kembali turun sebentar. Matahari mulai terbenam. Aku melihat-lihat sekitar stasiun tapi nggak berani jauh dari kereta. Stasiun ini berada di bagian barat Kabupaten Jember. Baik Jember maupun Banyuwangi wilayahnya cukup luas. Biarpun di peta terlihat dekat, ternyata jarak ibukota kedua kabupaten itu juauhhh... sekitar 100 km ! 

Stasiun Tanggul



Kereta mulai sepi begitu sampai Stasiun Jember. Ibu-ibu dan mbak-mbak di sekitarku udah pada turun. Tinggal seorang bapak yang baru naik, duduk di depanku. Hari benar-benar sudah gelap dan di luar sana  kurang penerangan jadi nggak ada yang bisa kuperhatikan selain mendengar pengumuman kereta berhenti di stasiun-stasiun kecil. Oh ya, di lintas Jember-Banyuwangi ini ada beberapa stasiun yang namanya mirip-mirip : Kalisat, Kalisetail, Kalibaru, Rambipuji, Rogojampi. Jadi yang mau turun di salah satu stasiun itu musti pasang telinga baik-baik. Salah dengar ya salah turun deh. 

Banyuwangi! Akhirnya.. Tak lupa aku chat WA ke Mas Rahmat, pemilik Rumah Singgah, bahwa aku akan segera sampai. Kupersiapkan tas-tasku. Di belakangku, beberapa orang bule juga bersiap turun. Tak salah, Banyuwangi sering menjadi tempat transit para turis sebelum menyeberang ke Bali atau  yang mau berwisata ke daerah sekitar seperti Baluran, Alas Purwo, dan Kawah Ijen.  Deg-degan juga, jangan-jangan di Rumah Singgah nanti bakal sekamar sama bule. Wow, fantastic... 

Sampai juga di Banyuwangi



12 jam perjalanan berakhir sudah. Dengan gembira, aku berjalan keluar dari stasiun Banyuwangi. Kutolak semua tawaran ojek maupun taksi karena menurut Google Maps, jarak Rumah Singgah cuma sekitar 200 meter dari stasiun. 

Aku sejenak mengagumi bangunan stasiun ini. Tidak terlalu besar, tapi bagus banget. Di samping bangunan utama ada gerai Roti O dan Indomaret. Keluar dari stasiun, berjajar warung makan, hostel, dan rental motor. Biarpun namanya Stasiun Banyuwangi Kota, lokasinya agak jauh dari pusat kota, bahkan agak di pelosok. Jalan menuju Rumah Singgah pun harus lewat hutan kecil yang  sepi dan kurang penerangan. 

Stasiun Banyuwangi Kota


Minggu, 21 Juli 2024

My Fourth Backpacker (Part 1) : Murah Meriah Menuju Bali

Prinsip utama seorang backpacker adalah  bagaimana bisa bepergian asyik dengan biaya sekecil mungkin.  Sepertinya perjalanan kali ini adalah latihan bagiku buat jadi backpacker sejati. 

Liburan ke Bali dengan budget kurang dari Rp. 500 ribu. Mana bisa? Bisa kok! Coba aja! 

Tentunya liburannya bukan ke Pantai Kuta atau Kintamani. Selain makan waktu lebih, keluar duitnya juga lebih. Jadi, aku pilih ujung barat Bali. Yang penting sampai ke Bali , itu aja! 

Ada lho, kereta api dari Jogja yang langsung ke Pelabuhan Ketapang. Namanya KA Sritanjung. Tiketnya Rp. 94.000, ditambah pajak Rp. 7.500 jadi cuma Rp. 101.500. Cuma ya itu, tiket murah begini cepat habis. Apalagi musim liburan begini!  Kita musti ubek-ubek aplikasi KAI, Tokopedia, Shopee, atau Indomaret, paling lambat H-7. Lebih dari itu, lupain aja deh! 




Bukan cuma harus pesan cepat, buat yang tinggal di luar Jogja wajib berangkat sepagi mungkin ke stasiun. Ini bagian paling menyebalkan bagiku, karena tarif bus dari Magelang dan ojol ke Stasiun Lempuyangan hampir separuh harga tiket kereta. Andai saja Magelang punya kereta... ah ! 

Pesan tiket kapal juga mudah, kita bisa pesan lewat aplikasi Ferizy. Menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk maupun sebaliknya cukup dengan Rp. 10.600 , ditambah pajak, jadi kurang lebih Rp. 13.000 buat sekali jalan. Jadi, dari Jogja ke Bali cuma perlu sekitar Rp. 114.500 !  




Terus soal penginapan. Nah lo... mau nginap di mana? Setelah searching pontang-panting, akhirnya kutemukan yang bukan cuma murah tapi GRATIS! Hah, serius? DUA RIUS! Tak jauh dari stasiun Banyuwangi Kota ada Rumah Singgah. (hmm... jadi ingat lagunya temanku, Fabio Asher). Yes, Rumah Singgah ini memang diperuntukkan untuk backpacker. Bayar seikhlasnya, tapi nggak bayar juga nggak apa-apa, asalkan tujuan kita nggak macam-macam. 




Belakangan, kutemukan juga berkat lainnya. Jarak dari Rumah Singgah ke Pelabuhan Ketapang kan lumayan jauh. Kalau naik ojol bisa Rp. 30.000. Untungnya, ada kereta api Pandanwangi jurusan Ketapang dengan tarif Rp. 8.000 ! Ya, cukup pesan tiket via aplikasi KAI Access lalu jalan kaki ke Stasiun Banyuwangi Kota. Yang Rp. 22.000 bisa buat beli sarapan atau oleh-oleh. 

Satu lagi, karena mau lebih hemat (biarpun agak repot), aku sengaja bawa bekal dari rumah. Pagi saat berangkat dari Magelang aku bawa nasi omelet buat dimakan di kereta, tak lupa lunch box berisi sandwich, roti dan beberapa cemilan beserta air mineral. (ini mau backpackeran apa mau camping ya). 

Itulah strategi perjalananku kali ini. Buat cerita lengkapnya, aku tulis di next part ya. 



Minggu, 23 Juni 2024

Lagu Masa Lalu (28): House of The Rising Sun



There is a house in New Orleans
They call the Rising Sun

And it's been the ruin of many a poor boy
And God I know I'm one
My mother was a tailor
She sewed my new blue jeans
My father was a gamblin' man
Down in New Orleans
Now the only thing a gambler needs
Is a suitcase and trunk
And the only time he's satisfied
Is when he's all drunk
Oh mother tell your children
Not to do what I have done
Spend your lives in sin and misery
In the House of the Rising Sun
Well, I got one foot on the platform


Pertama kali dengar lagu yang dibawakan oleh grup band The Animals ini, aku salah sangka. Kata House Rising Sun aku gambarkan sebagai villa keluarga yang sering dikunjungi  saat musim panas. Tapi ternyata.... jauh berbeda.

New Orleans city (www.neworleans.com)



Sebenarnya ini adalah lagu daerah di Amerika. Judul aslinya Rising Sun Blues, bercerita tentang kehidupan yang kacau.  Tidak diketahui siapa pengarangnya, yang pasti lagu ini telah direkam dalam banyak versi. 

Banyak tafsiran tentang apa yang dimaksud House Rising Sun dan dimana lokasi sebenarnya. Nama kota New Orleans pun seringkali diganti dengan tempat lain. Pada banyak versi, Rising Sun dipercaya sebagai  rumah bordil di New Orleans pada abad 19. Melalui lagu ini, ingin disampaikan jeritan hati seseorang yang terjerat dalam dunia kelam, dan ia berpesan agar jangan ada anak-anak lain yang mengikuti jejaknya. 

Tafsiran lain menceritakan tentang penjara wanita di New Orleans, dimana seorang wanita mengisahkan hidupnya yang hancur karena melakukan tindak kriminal. Ada pula yang mengatakan bahwa House Rising Sun hanyalah sebuah perumpamaan sebagai kritik sosial untuk prostitusi yang marak di New Orleans.   

Lagu ini telah dibawakan oleh banyak penyanyi seperti Texas Alexander, Nina Simone, Robert Winslow Gordon, Joan Baez, hingga Bob Dylan. Namun versi paling terkenal dan lebih bisa diterima publik adalah yang dibawakan oleh band The Animals pada 1964. Dalam versi ini, tokohnya adalah laki-laki yang terjerat pada perjudian. 

Apa pun versinya, yang jelas lagu ini mengandung nasihat yang baik untuk menghindari maksiat. 

Cover album The Animals (www.stereogum.com)


Link video : 

Senin, 03 Juni 2024

Rekomendasi Warung Makan di Salatiga

Bisa dibilang,  Salatiga adalah my second hometown.  Hampir 8 tahun aku tinggal di sini buat cari ilmu. Sampai sekarang aku juga masih suka ke sana buat mengenang masa-masa kejayaan. Biar hidup serba sulit,  tapi zaman kuliah cukup membentuk mentalku yang labil ini.

Bicara soal kuliner, semasa kuliah, jujur aja aku jaraaang banget makan yang mewah-mewah, termasuk makanan yang masuk trademark Salatiga. Maklum, anak kost, bisa makan 3 kali sehari aja udah mujizat. 

Levelku tentu saja warteg, angkringan, warmindo, atau bakso-soto kaki lima. Kebiasaan ini masih sampai sekarang, aku lebih nyaman makan nasi kucing di angkringan daripada nasi goreng Hongkong di cafe. Yang pasti nggak perlu keluarin uang kertas hijau apalagi biru dari dompet (emang dasar pelit). 

Nah, di sini aku mau berbagi cerita tentang  dua warung makan di Salatiga yang bagiku recommended. Nanti kalau ada waktu, akan aku review tempat lain lagi. 

1. Warung Gelegar 

Buat mahasiswa UKSW yang kost di kawasan Kemiri pasti nggak asing dengan warung makan satu ini. Ya, warung yang terletak di Jl. Kemiri Raya no. 5 ini termasuk legend. Sebenarnya banyak warung makan di daerah ini, tapi tidak sedikit yang hanya bertahan dalam hitungan tahun. Minggu lalu aku mengunjungi lagi area kampusku, dan kulihat beberapa warung makan yang sempat menemani masa kuliahku sudah tutup, berganti warung atau cafe baru. Cuma Warung Gelegar ini yang bisa bertahan sekitar 4 dekade. 




Saat aku pertama kuliah tahun 2007, warung ini masih sederhana tapi sekarang sudah direnovasi dan menyatu dengan usaha laundry. Dulu dikelola oleh sepasang bapak-ibu. Sekarang dilanjutkan oleh anak dan karyawannya, karena si bapak sudah tiada dan si ibu sudah tua. 

Begitu masuk, kita tinggal mengatakan pada penjual, apakah mau makan di sini atau dibungkus. Selanjutnya kita akan diambilkan nasi, sayur dan lauk sesuai pilihan kita. Menu yang disajikan cukup beragam. Ada sayur sup, tumis sayuran seperti sawi, buncis, daun pepaya, cap cay, pecel, mie goreng, opor, sambal tumpang, pokoknya banyak deh. Berbagai lauk juga siap dipilih, seperti tahu dan tempe goreng, kering tempe, bakwan, perkedel, telur mata sapi, ayam krispi, ikan lele, pindang ikan. Minumannya standar seperti teh, kopi, dan es jeruk. Dan satu yang penting dicatat dari warung makan tradisional adalah beberapa menu belum tentu ada setiap harinya. Jadi jangan heran kalau misalnya kemarin ada cah jamur tapi hari ini tidak ada. 

Tapi tetap... menu-menu khas hampir selalu ada. Favoritku adalah sayur sup, tambah kering tempe, plus 1-2 potong gorengan. Soal harga terjangkaulah untuk kantong mahasiswa. Menu favoritku itu, ditambah segelas es teh, total harganya Rp. 11 ribu. 



Warung ini buka dari pagi hingga malam. Dengan eksistensi Gelegar, heran kalau bukan cuma mahasiswa, tapi para alumni yang sedang datang ke Salatiga suka mampir ke sini. Tak akan kami lupa keramahan bapak dan ibu bertanya "Makan, mbak/mas? Dibungkus atau makan sini". 


2. Warung Prasmanan Agung Lestari 

Sebenarnya aku belum pernah mengunjungi tempat ini semasa kuliah, soalnya letaknya agak jauh dari kampus, tepatnya di pusat kota. Aku tahu warung makan ini dari teman Facebookku dulu, Ibu Anthoneta Yulianti. Katanya sih harganya murah dan enak. Tak salah, pertama aku ke sana langsung jatuh cinta (sama makanannya lho).

Siang itu, setelah melepas rindu dengan kampus dan kost, aku berjalan ke Lapangan Pancasila. Di sebelah barat Polres Salatiga, berjajar pulau-pulau.. eh warung-warung. Agung Lestari terletak paling pojok, dekat tikungan, tertutup pohon besar. Jadi harus pasang mata baik-baik biar nggak terlewat. Warung ini pernah buka cabang di daerah Kembangarum, tapi cabangnya sekarang udah tutup. 




Tempat ini berbentuk memanjang. Tidak terlalu luas, jadi kalau di dalam lagi penuh kita harus makan di teras. Begitu masuk, kita tinggal putuskan, mau makan di tempat atau dibungkus. Nasi bisa pilih mau porsi kecil atau besar karena ada mangkuk penakarnya. Selanjutnya, kita bisa ambil sendiri lauk dan sayur yang disukai. Minuman pun tinggal ambil dari dispenser, mau jus buah, teh, atau air putih. 

Karena sebelumnya sudah makan siang di Gelegar, aku putuskan bungkus nasi aja di Agung Lestari buat nanti dimakan di rumah. 

Begitu pilih lauk... hmmm... aku jadi bingung mau yang mana. Serius, saking banyaknya pilihan. Mulai dari tumis-tumisan, sayur berkuah bening maupun santan, aneka gorengan, telur, ayam, ikan...  tak kurang dari 50 macam. Ya, aku akhirnya ambil tumis sawi hijau, mie goreng, perkedel, dan telur dadar yang dicetak.  Total semua Rp. 18 ribu, sepadan lah. 




Sesampai di rumah, langsung kunikmati. Mmm... maknyusss.. lezatos. Rasanya bumbunya sungguh pas dengan nasi yang pulen. Mie gorengnya punya rasa gurih tersendiri, seperti dimasak dengan margarin. 

Ya, kupastikan Agung Lestari masuk dalam list favoritku kalau nanti ke Salatiga lagi.


Minggu, 29 Oktober 2023

Petualangan Sherina 2 - Membuka Memori Masa Kecil

Nggak biasanya aku tertarik banget nonton film di bioskop. Karena bukan hobiku. Buatku film-film zaman sekarang nggak menarik. Film Indonesia isinya horor dan  cinta-cintaan mulu, film luar bikin pusing karena harus lihat translate. Seumur-umur baru 4 kali aku nonton di bioskop, itu pun 2 di antaranya terpaksa karena diajak teman. 

Tapi kali ini beda. Karena film yang satu ini beneran memicu rasa penasaranku. Film Petualangan Sherina 2 ! Yup, setelah 23 tahun berlalu, film anak-anak legend ini dibuat sekuel berikutnya. Tokoh utamanya masih sama, Sherina (diperankan Sherina Munaf) dan Sadam (Derby Romero). Cuma bedanya, saat ini mereka sudah dewasa. 

Sedikit banyak, film ini membuka memoriku saat kelas 6 SD. Dulu aku nonton sekuel pertamanya saat tayang di TV.  Dan saat itu filmnya booming banget. Di sekolah aku pernah disindir teman pakai lagunya "dia pikiiir... dia yang paling hebat..." . wkwkwk.

Makanya saat film sekuel kedua ini muncul, aku agak penasaran kayak apa filmnya. Godaan untuk nonton pun muncul saat salah satu teman di Facebook bikin status tentang Petualangan Sherina 2. 


Searching sana sini, akhirnya kuputuskan buat nonton langsung di bioskop biarpun sendiri. Tepatnya di Platinum Cineplex Artos Magelang. Dan karena takut kehabisan tiket, aku pesan dulu lewat GoTix di aplikasi Gojek. 

Jadilah aku ke bioskop siang itu. Aku sengaja pilih tempat di baris keempat dari depan. Oh lala, tak kusangka ternyata barisan depan kosong sampai baris keenam. Semua penonton lain kompak pilih tempat duduk belakang. Ya sudahlah, hitung-hitung aku bisa nonton dengan tenang, terhindar dari kerewelan anak-anak dan kebawelan emak-emak. 





Aku berusaha mengikuti jalan cerita dengan seksama. Sesekali aku dibuat tersenyum, sesekali serius. 

Jadi ini ceritanya menurut pengamatan dan bahasaku : 


Sherina sekarang udah dewasa dan berprofesi jurnalis. Nama perusahaannya Nex TV.  Nah suatu hari, Sherina semangat banget karena mau ditugaskan ke Swiss. Nggak taunya menjelang hari H... eng ing eng... project tugas itu dialihkan ke ke temannya dan sebagai gantinya Sherina disuruh meliput soal orangutan di Kalimantan. Jelas aja Sherina bete banget, merasa diPHP. Tapi yah.. karena udah resiko pekerjaan, mau nggak mau tetap berangkat. 

Tak disangka, di sana Sherina malah bertemu teman masa kecilnya, Sadam, yang kini bekerja di yayasan animal rescue. Setelah kangen-kangenan, mereka mulai menjalankan tugas, dimana saat itu dilakukan pelepasliaran orangutan. Jadi begini guys, orangutan yang kehilangan  habitatnya, entah itu karena ulah manusia, kebakaran hutan, atau terpisah dari induknya, akan dibawa ke penangkaran yang disebut sekolah alam. Di sini mereka akan belajar cara beradaptasi sebelum dikembalikan ke hutan. Diharapkan setelah "lulus", mereka bisa survive di hutan dan terhindar dari kepunahan. 

Kembali ke Sherina. Setelah pelepasliaran itu, tiba-tiba ada kawanan penjahat yang menculik anak orangutan bernama Sayu. Di sinilah inti masalahnya. Ternyata orangutan itu pesanan konglomerat di Jakarta bernama Ferdy Syailendra, untuk istrinya, Ratih. Ratih ini seorang nyonya besar yang suka koleksi hewan liar, mulai dari kucing liar, harimau, rusa, pokoknya ada kebun binatang mini di rumahnya. Dan semua itu  cuma untuk pamer ke sesama sosialita . Ngerinya lagi, setelah hewan-hewan itu mati, mayatnya diawetkan buat pajangan! 

Sherina tidak tinggal diam. Ia langsung menarik Sadam untuk mengejar penculik Sayu. Tapi penjahatnya terlalu kuat, lagipula kondisi pedalaman Kalimantan yang serba sulit, nggak ada angkutan umum. Malah keduanya hampir dibunuh. Akhirnya mereka harus melepaskan Sayu. Tapi Sherina masih penasaran dengan kasus ini. Dan di Jakarta lah kasus ini akhirnya terungkap berkat kecerdikan Sherina dan Sadam. Ferdy dan Ratih bersama komplotannya ditangkap polisi. 


Karena pemeran dan tokoh utamanya masih sama, chemistry di antara Sherina dan Sadam tetap terjalin baik. Bedanya, Sadam bukan lagi "anak mami" seperti dulu. Biarpun oleh mamanya masih suka dipanggil Yayang, tapi sekarang dia sudah jadi pria dewasa yang tegas berwibawa. Itu karena sejak kuliah dia sudah tinggal terpisah dari ortunya. Bisa disimpulkan kalau dari awal sebenarnya bukan Sadam yang manja, tapi ortunya yang overprotektif. 

Kalau Sherina, menurutku tidak banyak berubah. Lincah, pemberani, pintar ngomong. Hanya di sini sifat egois dan keras kepalanya lebih nampak. Terbukti saat Sayu diculik, Sherina ngotot untuk mengejar para penjahat, padahal Sadam inginnya  berkoordinasi dengan tim rescue-nya. Sampai saat Sayu berhasil dibawa kabur pun, Sherina masih  mau kejar terus. Akhirnya Sadam marah dan menyuruh Sherina balik ke Jakarta. Buatku ini tipe orang yang suka main hakim sendiri dan tidak mudah percaya dengan hukum.  Mungkin kalau aku jadi Sadam, bakal teriak "Lu kejar sendiri aja sono!" 

Baik Sadam maupun Sherina, jago banget saat berantem melawan penjahat. Seolah Sherina nggak ingin terlihat sebagai perempuan lemah. 

Adegan kocak di film ini dimainkan oleh Aryo (Ardit Erwanda) dan Ratih (Isyana Saraswati). Aryo adalah kameramen yang pergi bersama Sherina ke Kalimantan. Biarpun Aryo nggak tampil di konflik utama, tapi lumayan buat penyegaran. Terutama pas dia keceplosan panggil "Yayang" ke Sadam, bikin seisi bioskop ketawa. 

Sedangkan Ratih,  sangat genit selangit. Kalau ngobrol sama kucing peliharaannya, kayak ibu sama anaknya, pakai panggilan "mama". Ratih juga suka bermanja-manja sama suaminya, Ferdy di rumahnya yang kayak istana. Di film ini Isyana berhasil banget aktingnya. Beneran bikin gemes. 

Ada lagi yang menggelitik. Nama suami Ratih, adalah Ferdy Syailendra. Seketika mengingatkanku pada nama Ferdy Sambo. Mungkin kemiripan nama ini disengaja, biar terlihat "antagonis". Sayangnya akting Chandra Satria masih agak kaku. Karakter jahatnya kurang dapat.  Biarpun harus diakui nyanyi sambil dansanya jago.  

Yang menurutku paling dapat antagonisnya  adalah Pingkan (Kelly Tandiono), yang jadi orang kepercayaan Ferdy dan Ratih. Tatapan tajam, jago berantem, dan nggak kenal ampun. Pingkan juga yang mengatur strategi penculikan orangutan. Ia hampir membunuh Sherina! 

Tokoh lain yang patut dicatat adalah Sindai (Quinn Salman), seorang anak hutan yang mengikuti ayahnya di tim animal rescue Sadam. Biarpun nggak banyak dialog dan lebih seperti sosok misterius, Sindai bisa dibilang saksi utama dari penculikan Sayu, karena dia yang pertama kali melihat para penjahat. Sindai ini mirip banget sama Sherina kecil, cuma kulitnya lebih gelap. 

Tapi manusia memang tak ada yang sempurna.  Di balik adegan berkesan,  tentu saja ada adegan yang kurang pas.  Paling utama adalah menjelang akhir,  saat Sherina sebagai jurnalis  diundang ke pestanya Ferdy Syailendra.  Saat Sherina bingung karena Aryo yang diajaknya nggak datang,  eh tiba-tiba aja Sadam nongol  udah pakai jas rapi. Sama sekali nggak dijelaskan kenapa Sadam datang ke situ, apakah dia juga diundang ke pesta itu atau dia sengaja mengikuti Sherina.  Tapi setahuku,  pesta tempat orang kaya nggak sembarang orang bisa datang. Inilah yang bagiku agak klise. Sepertinya penulis skenario ingin bahwa harus ada Sadam di situ.  Nggak salah sih,  cuma penempatannya agak maksa.  

Lalu bagian klimaksnya juga agak terburu-buru.  Sherina dan Sadam nekat menyelinap ke gudang rumah Ferdy seolah mereka sudah tahu bahwa Sayu diumpetin di situ.  Hellooo...  nggak takut disangka maling pak buk?  Ya kalau bener,  kalau nggak?  

Jangan heran juga kalau di film ini banyak nyanyi.  Karena emang film musikal.  Di antara semua soundtrack,  Mengenang Bintang adalah yang paling so sweet.  

Overall,  film ini cukup seru buat ditonton. Hubungan Sherina dan Sadam beneran udah kayak sepasang kekasih.  Pasti penonton juga berharap mereka jadian.  Tapi mungkin karena segmennya untuk  semua usia, termasuk anak-anak, jadi adegan cinta-cintaan nggak ditampilkan secara eksplisit.  Aku berharap,  semoga ada sekuel berikutnya.  Entah Sherina dan Sadam menikah atau akhirnya punya pasangan  masing-masing,  kisah petualangan mereka selalu jadi memori yang indah. 




Lagu Masa Lalu (30) : Pretty Little Baby

Pretty little baby (yeah, yeah) Pretty little baby (yeah, yeah) Pretty little baby, you say that maybe You'll be thinkin' of me, and...