Jumat, 21 April 2023

Sejumput Kisah Pecinan Magelang (Jelajah bersama Kota Toea Magelang) - Part 1

Pecinan, berarti Kampung Cina. Nama sebuah kawasan yang menunjukkan kentalnya identitas Tionghoa di pusat kota Magelang. Teringat masa kecilku dulu, karena aku suka baca buku, ortu sering mengajakku ke toko buku di Pecinan. Begitupun kalau aku perlu sepatu baru, toko sepatu pun berada di sana. Kalau ingin cemilan, toko roti juga ada. Pokoknya apa pun.  Koko, cici, om, tante, emak, engkong, beserta para karyawannya siap membantu menyediakan  kebutuhan kita. 

Meski banyak orang mengidentikkan Pecinan dengan pemukiman dan pertokoan di Jalan Pemuda, kenyataannya kawasan Pecinan lebih luas. Keturunan Tionghoa di Magelang juga mendiami Jl. Majapahit, Jl. Medang, Jl. Sriwijaya, hingga Jl. Daha dan Jl. Jenggala. (wah nama jalannya kerajaan semua ya). Hj

Sayangnya, gemerlap Pecinan sekarang mulai pudar. Hanya beberapa sudut yang masih ramai. Sebagian toko-toko sudah tutup, sebagian lagi bertahan alakadarnya, istilahnya hidup segan mati tak mau. Maklum, perkembangan zaman menggerus semuanya. Orang lebih dimudahkan dengan belanja online yang banyak pilihan daripada datang ke toko yang pilihannya terbatas. Penyebab lainnya, generasi tua kebanyakan sudah tidak ada, sementara generasi muda lebih memilih buka usaha sendiri  daripada meneruskan usaha orang tua mereka. 

Untuk lebih mengenal lebih jauh tentang Pecinan, hampir setiap tahun komunitas Kota Toea Magelang mengadakan jelajah Pecinan. Bukan cuma di Magelang, mereka pernah menjelajah Pecinan di Muntilan, Temanggung, Parakan, hingga Ambarawa. Tapi untuk tahun ini kegiatan difokuskan di Magelang saja, karena situasi yang masih recovery setelah pandemi.

Sayangnya, jelajah kali ini terasa kurang greget bagi sebagian orang. Menurut Mas Bagus, sang koordinator, kendala utama adalah perizinan. Tidak semua pemilik bangunan tua bersedia rumah atau tempat usahanya dimasuki sembarang orang, sehingga kita hanya bisa melihat dari luar saja. 

4 Februari 2023, pagi itu sekitar 50 orang peserta dengan dresscode warna merah siap menjelajah. Kami berkumpul di Gedung Lokabudaya Sukimin Adiwiratmoko di selatan alun-alun.  Fakta menarik, meskipun judulnya jelajah Pecinan, tapi 90 persen peserta bukan keturunan Tionghoa, dan aku yang termasuk 10 persen sisanya. Biarpun sebenarnya aku kurang paham soal budaya Tionghoa, tahunya cuma kiong hie lalu dapat angpao... hehehe... 






Setelah briefing sejenak, acara dimulai dengan masuk ke dalam gedung. Lho? Ya, karena bertepatan dengan masa Imlek, di gedung ini KTM mengadakan Pameran Sejarah Pecinan selama beberapa hari . Di situ dipajang foto-foto dan benda bersejarah dari etnis Tionghoa di Magelang. 








Ruang pertama, terutama mengulas sejarah Kelenteng Liong Hok Bio, kelenteng  berusia 159 tahun di alun-alun Magelang. Pendirinya adalah Be Tjok Lok, Kapiten Kedu (setingkat Camat) pada zaman kolonial. Setelah pensiun, pada tahun 1864 beliau menyumbangkan tanah bekas kantornya untuk warga peranakan China, yang kemudian dibangun kelenteng tersebut.  Konon sebelum kelenteng berdiri, warga Tionghoa abad 19 telah melakukan ritual mereka dengan patung-patung Dewa Bumi yang berada di Jl. Daha.





Balik ke ruang pameran, terpajang juga beberapa kemasan kecap cap Kidang Jantra.  Bukan mau promosi atau sponsor lho, tapi tahu nggak sih, ternyata kecap yang biasa kita pakai sehari-hari  bukan hasil budaya asli Indonesia lho! Kecap diperkenalkan oleh perantau dari China. Saat menempuh perjalanan jauh mereka membawa bahan-bahan makanan yang awet, salah satunya kecap. Kecap Kidang Jantra sendiri diproduksi di Magelang sejak 1932. 

Lanjut, masuk ke ruang tengah. Kami  melihat foto-foto anak muda Tionghoa masa lalu, jadi aku bisa bayangkan engkong-emak kita itu waktu muda kayak gimana.  Ternyata style mereka rapi dan  modis juga, apalagi yang dari kalangan atas berpakaian necis alias parlente. Nggak kalah deh sama bintang film Mandarin! Biarpun model pakaiannya sederhana. Laki-laki mengenakan jas atau kemeja panjang, perempuan memakai gaun, sementara ibu-ibu berpakaian kebaya peranakan yang disebut kebaya encim.  












Ada juga foto pernikahan tahun 1970 di Gereja Katolik Santo Ignatius, dimana pakaian jas dan gaun pengantinnya tak jauh beda dengan zaman sekarang. Pernikahan dengan pakaian tradisional China sangat jarang karena warga keturunan Tionghoa sudah terpengaruh budaya barat dan setelah kemerdekaan banyak dari mereka berpindah agama ke Kristen dan Katolik. 







Kehidupan pemuda Tionghoa zaman dulu sama dengan masyarakat pada umumnya. Berolahraga seperti renang dan basket bukan sekedar hobi, tapi juga sarana keakraban mereka dengan lingkungan sekitar. Bukan cuma etnis Tionghoa saja, etnis lain juga boleh bergabung dengan mereka. Aku jadi ingat papaku waktu muda dulu bergabung dengan kelompok lari pagi, biarpun diprakarsai orang Tionghoa tapi pesertanya ada juga orang Jawa, bahkan orang India. 





Dalam hal tradisi pun orang Tionghoa telah mendapat tempat sejak dulu. Perayaan Imlek hingga Cap Go Meh berlangsung lancar seperti sekarang. Kirab barongsai ternyata sudah ada di tahun 1930-an! 



Soal sekolah, orang Tionghoa totok (keturunan langsung) lebih kolot dibanding Tionghoa peranakan. Maka mereka punya 2 sekolah khusus di Magelang.  Ada Hollands-Chinese School (HCS), sekolah Tionghoa di Jl. Tidar, dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Setelah kemerdekaan, sekolah ini tutup dan beralih fungsi menjadi SPWK (Sekolah Pekerja Wanita Kristen) dan kini menjadi SMK Wiyasa. Sekolah lainnya adalah Tiong Hoa Hwee Kwan atau CHH di Jl. Medang, yang berbahasa Mandarin. Itu sekolah papaku dulu. Sayangnya akibat peristiwa G30S/PKI 1965 sekolah ini tutup dan sebagai akibatnya banyak murid yang putus sekolah, termasuk papaku yang cuma sampai kelas 4 SD. Kini lokasi sekolah itu menjadi SMAN 3 Magelang. 


Ruang belakang pameran memajang dokumen dan peralatan yang berkaitan dengan masyarakat Tionghoa. Ada pamflet iklan, rekening air, undangan pernikahan, dan buku-buku tentang komunitas Tionghoa, mulai yang berbahasa Mandarin, Belanda, dan Indonesia.  KTP pun konon ada kartu identitas khusus orang Tionghoa. 















Untuk peralatannya, ada mangkuk berbahan logam, rantang, termos es, penakar minyak, mesin stensil, dan stempel. Semua alat ini dipinjam dari sebuah keluarga di Muntilan. 















Seperti kubilang di awal tadi, mayoritas orang Tionghoa bekerja sebagai pengusaha atau pedagang. Bahkan saat masa-masa sulit, mereka tetap mendapat hak dari kelurahan setempat untuk berdagang buah dan gula. 









Salah satu foto yang menarik adalah foto Ko Kwat Ie, pendiri pabrik cerutu zaman dulu. Salah satu produknya adalah cerutu Armada. Nama inilah yang menginspirasi pendirian perusahaan karoseri New Armada. 


Last but not least, ruang terakhir, yang dipajang di sini lebih berfokus pada acara kedukaan. Iklan dukacita dan foto-foto pemakaman zaman dulu terpajang di sini. Jangan bayangkan acara pelayatan dengan arak-arakan mobil seperti sekarang. Pelayatan dulu dilakukan dengan jalan kaki sementara jenazah diangkut dengan kereta kuda. Bahkan di tahun 1960-an meski sudah ada mobil jenazah pun masih ada pelayat yang berjalan kaki. Keluarga yang berduka mengenakan pakaian dan ikat kepala putih sebagai tanda berkabung. 









Kebanyakan warga Tionghoa saat itu dimakamkan di Kerkhof, bawah Bukit Tidar. Meski sebenarnya kuburan Belanda, mereka memilih lokasi ini karena paling dekat dengan pusat kota.  Bahkan sebelum era kemerdekaan, kawasan Bukit Tidar juga digunakan sebagai area pemakaman. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya prosesi pemakaman zaman dulu. Kalau sekarang, di Magelang sudah ada Yayasan Dharma yang siap membantu. 

Makam Kerkhof dibongkar pada awal 1990-an dan direlokasi ke berbagai tempat seperti Giriloyo, Soropadan, dan Gremeng. Ada juga yang kemudian dikremasi. Hanya beberapa makam yang dipertahankan hingga kini di antaranya makam Ko Kwat Ie dan makam Van der Steur. 

Dan... mari kita jelajah. Kami berjalan ke luar gedung. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Kelenteng Liong Hok Bio. 






Kamis, 09 Februari 2023

Solo Travelling (15) Magelang - Kutoarjo Cuma 11000

Sebenarnya aku nggak tertarik mengunjungi Kutoarjo.  Karena tidak ada yang istimewa dari kota kecil  di Kabupaten Purworejo ini. Bukan nggak bagus sih, tapi kuliner dan kondisinya tak jauh beda dengan daerah lain di Jawa Tengah.  

Tapi jangan salah,  Kutoarjo punya stasiun besar yang menjadi "pengumpan" bagi warga Purworejo dan sekitarnya untuk naik kereta api.  Sebenarnya di kota Purworejo ada stasiun,  tapi sudah tidak aktif (pernah kuceritakan beberapa tahun lalu)  dan lagi Stasiun Purworejo adalah stasiun terminus,  tidak punya sambungan menuju Kulon Progo. Entah kenapa.  Mungkin karena sebelah timur Purworejo ada bukit Menoreh yang sulit dibuat jalur kereta,  jadilah fokus  kegiatan perkeretaapian diserahkan ke Kutoarjo.  

Kembali ke diriku. 1 Januari lalu aku pertama kali naik bus Trans Jateng dari Terminal Bawen ke Semarang.  Setelah aku lihat detailnya lewat aplikasi Si Anteng,  ternyata Trans Jateng ada beberapa rute,  salah satunya Borobudur-Kutoarjo. Menariknya lagi tarifnya jauh maupun dekat cuma Rp. 4.000 ! Wowww.. sesuai kantongku banget ini.  

Maka seminggu kemudian, aku segera mencobanya. Nggak terlalu sulit, aku langsung menuju ke Borobudur, dari Terminal Magelang dengan angkot seharga Rp. 7.000. 

Sebuah halte terpampang di sisi kiri Terminal Borobudur. Nampak bus Trans Jateng terparkir di dekatnya. Bus berwarna merah dengan gambar burung kepodang yang jadi maskot provinsi Jateng. 



Karena hari libur, cukup banyak calon penumpang saat itu. Beberapa menit kemudian, bus siap berangkat. 

Aku cepat-cepat naik dan menyegel sebuah tempat duduk. Oh ya, di bus ini tempat duduk antara laki-laki dan perempuan dipisah untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan (padahal zaman sekarang sih  kejahatan nggak pandang bulu, kalau setan udah bicara, mau lawan atau sesama jenis tetap aja bisa kena). Bagian depan untuk laki-laki, bagian belakang untuk perempuan. Kalau anak kecil boleh ikut orang tuanya. 

Seperti kubilang tadi, tarifnya Rp. 4.000. Bisa dibayarkan langsung ke kondektur, tapi bisa juga pakai e-money seperti ShopeePay atau GoPay. 

Bus keluar dari terminal, menuju jalan raya Borobudur, tapi tidak melewati candi. Sesekali berhenti di beberapa halte seperti Balkondes Sakapitu dan Kembang Limus. Lalu melalui jalan menuju Salaman yang tidak terlalu lebar dengan pemandangan sawah dan Bukit Menoreh. 





Bus penuh sesak saat memasuki Salaman. Sempat dihadang macet karena arus balik setelah libur Tahun Baru, tapi sesampai di Krasak, jalan mulai lancar meski tetap harus pelan-pelan karena medan jalan yang menurun dengan hutan di kanan kiri. 

Selepas Loano, bus tidak berhenti lagi sampai memasuki Purworejo. Sebagian penumpang turun di Plaza Purworejo, karena bus ini tidak lewat pusat kota. Daerah pinggiran menjadi pemandangan selanjutnya, rasanya bikin perjalanan makin jauh. Ditambah lagi sesekali harus berhenti di halte untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Total ada sekitar 20 halte sepanjang perjalanan Borobudur-Kutoarjo ini. 

Total waktu perjalanan satu setengah jam (hampir 2 jam karena sempat macet). Aku turun di Terminal Kutoarjo. Terminal ini kecil dan tidak terlalu ramai seperti halnya Terminal Borobudur tadi. Tapi keberadaan bus Trans Jateng ini membawa warna tersendiri. Angkutan baru ini ternyata cukup diminati warga setempat. Ya, tidak lain karena tarifnya murah tadi.



Karena sudah jauh-jauh, aku tidak langsung pulang. Tapi kemana? Di sekitar sini tak ada tempat wisata atau kuliner khas. Aku tak kehabisan akal. Saat ada angkot berhenti di depanku, aku segera naik. Tujuanku adalah alun-alun, jaraknya 1 km dari terminal.

Setelah menembus kepadatan pasar, sampailah aku ke Alun-alun Kutoarjo. Memang kondisinya biasa saja, tapi lumayanlah untuk melihat suasana lain. 

Aku kagum dengan alun-alun ini. Secara bentuk memang tak jauh beda dengan alun-alun pada umumnya, tapi sangat bersih dan tertata rapi. Lapangan rumput yang luas dan hijau.  Pohon beringin di tengah. Tersedia selasar untuk bersantai atau sekedar berfoto. Ada juga semacam bangunan gardu pandang yang tidak terlalu tinggi, dengan toilet di sisi bawahnya. 









Beranjak dari alun-alun, aku jalan kembali ke terminal tadi. Sebenarnya mau naik angkot lagi, tapi karena bagiku tidak terlalu jauh, kuputuskan jalan kaki saja.

Sesampai di terminal, aku kembali menunggu bus Trans Jateng, setelah sebelumnya membeli beberapa cemilan dan minuman. Seperempat jam berlalu, bus siap berangkat, dan seperti biasa aku duduk di deretan depan. 

Kali ini aku berniat turun di bundaran Salaman untuk mempersingkat waktu karena angkot di  Borobudur sering lama ngetemnya. Tapi astaga, entah aku yang salah perhitungan atau ada hal lain dari bus ini, penumpang tujuan Salaman harus turun di halte depan SMKN Salaman yang jaraknya beberapa ratus meter dari bundaran. 

Ya, terpaksa aku turun di situ dan menunggu bus jurusan Magelang. Karena tak sabar, aku jalan kaki ke arah bundaran. Tapi menjelang sampai di bundaran, sebuah bus kecil lewat, dan naiklah aku, pulang ke Magelang.  

Kamis, 21 Juli 2022

Petualanganku Di Postcrossing

Rasanya udah sekian purnama blog ini nggak kuisi. Kesibukan dan kondisi hidup bikin aku bingung mau nulis gimana lagi (aslinya malas).  Tapi kali ini ada satu hal yang udah lama pengin kutulis. 

Minggu lalu, 17 Juli 2022, aku mengunjungi Solo. Bukan mau travelling, tapi memenuhi undangan Meetup sebuah komunitas, yakni Komunitas Postcrossing Indonesia. 

Bagi yang belum tahu, komunitas ini adalah sebuah wadah pecinta kartu pos, khususnya lewat Postcrossing . Postcrossing sendiri adalah sebuah situs buatan orang Portugal bernama Paulo Magalhaes , yang memudahkan para pecinta kartu pos untuk saling berinteraksi dan bertukar kartu. Jika kita jadi anggota, kita bisa request alamat untuk mengirim kartu pos ke seorang anggota secara random. Saat  kartu itu sudah sampai dan diregister oleh penerima, kita bisa mendapat balasan kartu dari anggota lain lagi. Istilahnya arisan kartu pos gitulah. Lebih lengkapnya, aku nggak akan jelaskan panjang lebar karena udah banyak blog yang mengulasnya, atau silahkan langsung ke www.postcrossing.com 






Aku gabung dengan Postcrossing sejak Agustus 2019 secara nggak sengaja saat menemukan kartu pos lama di gudang rumah dan tertarik buat kirim ke seseorang. Satu demi satu kukirim, akhirnya terasa asyik dan jadi hobi baruku. Aku mulai dapat postcard dari Jerman, USA, Rusia, Jepang, China, Inggris, Belanda, hingga Lithuania dan Slovenia. Secara pribadi aku juga mengajak beberapa orang lain untuk bertukar kartu (direct swap). Hasilnya aku dapat dari rare country seperti Azerbaijan, Kamerun, dan Grenada. Aku puas kalau bisa berkirim kartu tentang makanan khas atau pemandangan langka. Pernah aku kirim kartu bergambar warung angkringan ke daerah pedalaman Rusia. Rasanya bangga banget, orang sana pasti nggak tahu tentang warung yang tiap malam jual wedang jahe dan nasi kucing itu 😆

Dan.. Komunitas Postcrossing Indonesia (KPI) ini adalah kelompok dari orang-orang yang sehobi denganku di negeri ini. Kami berusaha melestarikan budaya mengirim kartu pos dan surat yang sudah jarang dilakukan.  Setahun sekali kami mengadakan Meetup Nasional di suatu kota.  Tapi karena pandemi, 2 tahun terakhir terpaksa diadakan virtual. Barulah tahun ini bisa diadakan secara onsite di beberapa kota. Aku hadir ke Solo karena di sinilah lokasi meetup terdekat dari kotaku. 

Nggak bisa dipungkiri, pandemi berpengaruh juga ke kelangsungan Postcrosser (sebutan untuk anggota kami). Kalau dulu Pos Indonesia bisa mengirim ke semua negara di dunia, sejak pandemi tujuan dibatasi. Malahan pernah kami hanya bisa berkirim ke 9 negara : Singapore, Malaysia, Thailand, USA, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, dan Indonesia sendiri. Nggak heran akhirnya banyak Postcrosser yang berhenti karena bosan. Kini saat kondisi mulai membaik pun, mereka sudah fokus dengan kehidupan masing-masing. 

Meetup di Kantor Pos Solo kali ini cuma dihadiri 9 orang: cik Novi, pak Paryono, bu Rini, mas Isna, mbak Martha, mbak Farikha, mbak Bila, mbak Olive, dan aku sendiri. Acara meetup lebih ke berbagi pengalaman dan berbagi postcard, sambil ngemil 😂. Setiap kali meetup, KPI mengeluarkan postcard khusus yang ditandatangani oleh semua hadirin. Oh ya, selain Meetup Nasional, kadang-kadang ada juga Meetup Regional. Aku ikut regional Jogja karena di Magelang cuma aku Postcrosser yang aktif. 





Yang jelas, kegiatan ini bisa menambah teman juga kemampuan berbahasa asing. Saat ini sudah ada sekitar 8600 anggota Postcrossing di Indonesia, tapi yang aktif di KPI cuma beberapa ratus. Bagi yang mau gabung, mudah saja, silahkan cari di Facebook : grup Komunitas Postcrossing Indonesia. Nggak usah takut, kakak-kakak di sini ramah-ramah kok 😊. 



Bulan ini kami cukup beruntung karena jangkauan pengiriman pos sudah 48 negara, semoga kondisi dunia segera pulih agar kita bisa kirim ke mana saja. Amin. 





Kamis, 26 Agustus 2021

Lagu Masa Lalu (26) : Berkibarlah Bendera Negeriku (Merah Putih)

 



Mumpung masih dalam bulan Agustus yang adalah bulan kemerdekaan, aku mau review satu lagu nasional yang sangat menyentuh hatiku. 

Konon lagu ini adalah ciptaan almarhum Gombloh. Tidak banyak referensi tentang kapan diciptakannya, yang jelas lagu ini justru populer setelah Gombloh tiada. Tepatnya pada tahun 1995, ketika Indonesia merayakan ulang tahun emas (50 tahun), lagu ini dibawakan beramai-ramai oleh para artis Musica Studio, di antaranya Chrisye, Dicky Chandra, Novia Kolopaking, Trio Libels dan Harvey Malaiholo. Beberapa tahun terakhir pun kembali mencuat saat dibawakan oleh Shanna Shannon dan Agnez Mo.

Spirit nasionalisme yang tertuang begitu luar biasa. Berisi keinginan untuk memberi yang terbaik bagi negeri, menunjukkan pada dunia bahwa inilah Indonesia yang indah dan berkharisma. Bersama melangkah dalam persatuan untuk meraih cita-cita. Sungguh lagu yang pas untuk memberi semangat pada generasi muda. 


Berkibarlah bendera negeriku

Berkibarlah engkau di dadaku

Tunjukkanlah kepada dunia

Semangatmu yang panas mambara

Daku ingin jiwa raga ini

Selaraskan keanggunan

Daku ingin jemariku ini

Menuliskan karismamu

Berkibarlah bendera negeriku

Berkibar di luas nuansamu

Tunjukkanlah kepada dunia

Ramah tamah budi bahasamu

Daku ingin kepal tangan ini

Menunaikan kewajiban

Putra bangsa yang mengemban cita

Hidup dalam kesatuan


Sabtu, 17 Juli 2021

Lagu Masa Lalu (25): Seemann





Seemann, deine Heimat ist das Meer
Seemann, lass das Träumen
Denk nicht an zuhaus
Seemann, Wind und Wellen
Rufen dich hinaus
Deine Heimat ist das Meer
Deine Freunde sind die Sterne
Über Rio und Shanghai
Über Bali und Hawaii
Deine Liebe ist dein Schiff
Deine Sehnsucht ist die Ferne
Und nur ihnen bist du treu ein Leben lang
Seemann, lass das Träumen
Denke nicht an mich
Seemann, denn die Fremde
Wartet schon auf dich
Deine Heimat ist das Meer
Deine Freunde sind die Sterne
Über Rio und Shanghai
Über Bali und Hawaii
Deine Liebe ist dein Schiff
Deine Sehnsucht ist die Ferne
Und nur ihnen bist du treu ein Leben lang




Mendengar lagu berbahasa Jerman ini imajinasiku melayang ke pantai atau laut. Memang benar, lagu ini bercerita tentang kehidupan pelaut,  Coba deh kita lihat terjemahannya:


Pelaut, rumahmu adalah laut

Pelaut, berhentilah bermimpi
Jangan pikirkan rumah
Pelaut, angin, dan ombak
Panggil kamu keluar

Rumahmu adalah laut
Temanmu adalah bintangnya
Tentang Rio dan Shanghai
Tentang Bali dan Hawaii
Cintamu adalah kapalmu
Kerinduanmu adalah jarak
Dan hanya kepada merekalah kamu setia seumur hidup

Pelaut, berhentilah bermimpi
Jangan pikirkan aku
Pelaut, karena orang asing
Sudah menunggumu

Rumahmu adalah laut
Temanmu adalah bintangnya
Tentang Rio dan Shanghai
Tentang Bali dan Hawaii
Cintamu adalah kapalmu
Kerinduanmu adalah jarak
Dan hanya kepada merekalah kamu setia seumur hidup

Lagu ini diciptakan oleh Werner Scharfenbegner dan Fini Busch pada tahun 1959 dan dinyanyikan oleh Lolita. Dikemas dengan aransemen yang enak didengar dan vokal yang merdu, lagu ini cepat menjadi hits, bahkan banyak penyanyi mengcovernya dalam banyak bahasa. Selain versi Jerman, yang paling terkenal adalah versi Inggris dengan judul "Sailor", dibawakan oleh Petula Clark. 

Liriknya menggambarkan seseorang yang menghantar para pelaut pergi ke laut lepas. Bukan sembarang pelaut, tapi penjelajah dunia. Mereka hidup berteman angin dan ombak, tanpa memikirkan rumah dan kekasih.

Yang menarik, lagu ini menyebut "Bali" sebagai salah satu tujuan para pelaut. Tidak diketahui apakah Fini Busch sang penulis lirik pernah mengunjungi Bali. Yang jelas, dari sini kita tahu Pulau Bali sudah terkenal sebagai destinasi turis asing sejak zaman dulu, 

Lolita yang bernama asli Edith Einzinger adalah penyanyi asal Austria. Memulai karir pada tahun 1957, wanita kelahiran 17 Januari 1931 ini suka membawakan lagu-lagu eksotis, di samping lagu-lagu daerah Jerman dan Austria, Ia meninggal pada 30 Juni 2010 akibat penyakit kanker. 





Link video:

Selasa, 13 Juli 2021

Bahasa Bhutan (Part 13): Perabot dan Elektronik

 Tro tu ni tsik dzo!  (Lanjutkan kamusnya!) 

Alangkah baiknya kita belajar juga tentang benda-benda yang ada di rumah.  




Meja = chok tse

Kursi = do tri

Lemari = chak gam

Brankas = 

Rak buku = hang ku

Ranjang = nyel tri 

Karpet = dram den

Kulkas = sil drom 

Freezer = khyek drom

Televisi = gyang tong 

Radio = re dio 

Kipas angin = sil yap

Mesin cuci = khyu trul

Mesin jahit = trul tsem 

Telepon = gyu trin

Akuarium = shel dzing




Rabu, 10 Maret 2021

Bahasa Bhutan (Part 12): Cuaca dan Suhu

Halo drok (teman)! 


Berhubung cuaca saat ini nggak menentu (siang panas, sore hujan, malam dingin) aku jadi kepikiran belajar tentang weather dalam bahasa Bhutan. Inilah kamusnya: 

Panas = tsadpa

Sejuk = drang sil

Dingin = khodam

Hangat = dron

Cerah = nyim tsa tsawa

Hujan = charpa

Awan = trin

Mendung = hu ma dur dur 

Kabut = muk 

Berkabut = sa muk yodpa 

Salju = khawa

Bersalju = khawa chen 

Angin = lung ma

Berangin = lung ma tsa sa

Badai = truk kyen

Berbadai = lung tsup chen 

Badai salju = bu yuk kha lung

Topan = lung tsup drag po

Musim = nam du

Cuaca = nam shi

Musim semi = chu mik

Musim panas = nam jar

Musim gugur = ton ka

Musim salju = nam gun



Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...