Jumat, 21 April 2023
Sejumput Kisah Pecinan Magelang (Jelajah bersama Kota Toea Magelang) - Part 1
Kamis, 09 Februari 2023
Solo Travelling (15) Magelang - Kutoarjo Cuma 11000
Sebenarnya aku nggak tertarik mengunjungi Kutoarjo. Karena tidak ada yang istimewa dari kota kecil di Kabupaten Purworejo ini. Bukan nggak bagus sih, tapi kuliner dan kondisinya tak jauh beda dengan daerah lain di Jawa Tengah.
Tapi jangan salah, Kutoarjo punya stasiun besar yang menjadi "pengumpan" bagi warga Purworejo dan sekitarnya untuk naik kereta api. Sebenarnya di kota Purworejo ada stasiun, tapi sudah tidak aktif (pernah kuceritakan beberapa tahun lalu) dan lagi Stasiun Purworejo adalah stasiun terminus, tidak punya sambungan menuju Kulon Progo. Entah kenapa. Mungkin karena sebelah timur Purworejo ada bukit Menoreh yang sulit dibuat jalur kereta, jadilah fokus kegiatan perkeretaapian diserahkan ke Kutoarjo.
Kembali ke diriku. 1 Januari lalu aku pertama kali naik bus Trans Jateng dari Terminal Bawen ke Semarang. Setelah aku lihat detailnya lewat aplikasi Si Anteng, ternyata Trans Jateng ada beberapa rute, salah satunya Borobudur-Kutoarjo. Menariknya lagi tarifnya jauh maupun dekat cuma Rp. 4.000 ! Wowww.. sesuai kantongku banget ini.
Maka seminggu kemudian, aku segera mencobanya. Nggak terlalu sulit, aku langsung menuju ke Borobudur, dari Terminal Magelang dengan angkot seharga Rp. 7.000.
Sebuah halte terpampang di sisi kiri Terminal Borobudur. Nampak bus Trans Jateng terparkir di dekatnya. Bus berwarna merah dengan gambar burung kepodang yang jadi maskot provinsi Jateng.
Karena hari libur, cukup banyak calon penumpang saat itu. Beberapa menit kemudian, bus siap berangkat.
Aku cepat-cepat naik dan menyegel sebuah tempat duduk. Oh ya, di bus ini tempat duduk antara laki-laki dan perempuan dipisah untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan (padahal zaman sekarang sih kejahatan nggak pandang bulu, kalau setan udah bicara, mau lawan atau sesama jenis tetap aja bisa kena). Bagian depan untuk laki-laki, bagian belakang untuk perempuan. Kalau anak kecil boleh ikut orang tuanya.
Seperti kubilang tadi, tarifnya Rp. 4.000. Bisa dibayarkan langsung ke kondektur, tapi bisa juga pakai e-money seperti ShopeePay atau GoPay.
Bus keluar dari terminal, menuju jalan raya Borobudur, tapi tidak melewati candi. Sesekali berhenti di beberapa halte seperti Balkondes Sakapitu dan Kembang Limus. Lalu melalui jalan menuju Salaman yang tidak terlalu lebar dengan pemandangan sawah dan Bukit Menoreh.
Bus penuh sesak saat memasuki Salaman. Sempat dihadang macet karena arus balik setelah libur Tahun Baru, tapi sesampai di Krasak, jalan mulai lancar meski tetap harus pelan-pelan karena medan jalan yang menurun dengan hutan di kanan kiri.
Selepas Loano, bus tidak berhenti lagi sampai memasuki Purworejo. Sebagian penumpang turun di Plaza Purworejo, karena bus ini tidak lewat pusat kota. Daerah pinggiran menjadi pemandangan selanjutnya, rasanya bikin perjalanan makin jauh. Ditambah lagi sesekali harus berhenti di halte untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Total ada sekitar 20 halte sepanjang perjalanan Borobudur-Kutoarjo ini.
Total waktu perjalanan satu setengah jam (hampir 2 jam karena sempat macet). Aku turun di Terminal Kutoarjo. Terminal ini kecil dan tidak terlalu ramai seperti halnya Terminal Borobudur tadi. Tapi keberadaan bus Trans Jateng ini membawa warna tersendiri. Angkutan baru ini ternyata cukup diminati warga setempat. Ya, tidak lain karena tarifnya murah tadi.
Karena sudah jauh-jauh, aku tidak langsung pulang. Tapi kemana? Di sekitar sini tak ada tempat wisata atau kuliner khas. Aku tak kehabisan akal. Saat ada angkot berhenti di depanku, aku segera naik. Tujuanku adalah alun-alun, jaraknya 1 km dari terminal.
Setelah menembus kepadatan pasar, sampailah aku ke Alun-alun Kutoarjo. Memang kondisinya biasa saja, tapi lumayanlah untuk melihat suasana lain.
Aku kagum dengan alun-alun ini. Secara bentuk memang tak jauh beda dengan alun-alun pada umumnya, tapi sangat bersih dan tertata rapi. Lapangan rumput yang luas dan hijau. Pohon beringin di tengah. Tersedia selasar untuk bersantai atau sekedar berfoto. Ada juga semacam bangunan gardu pandang yang tidak terlalu tinggi, dengan toilet di sisi bawahnya.
Beranjak dari alun-alun, aku jalan kembali ke terminal tadi. Sebenarnya mau naik angkot lagi, tapi karena bagiku tidak terlalu jauh, kuputuskan jalan kaki saja.
Sesampai di terminal, aku kembali menunggu bus Trans Jateng, setelah sebelumnya membeli beberapa cemilan dan minuman. Seperempat jam berlalu, bus siap berangkat, dan seperti biasa aku duduk di deretan depan.
Kali ini aku berniat turun di bundaran Salaman untuk mempersingkat waktu karena angkot di Borobudur sering lama ngetemnya. Tapi astaga, entah aku yang salah perhitungan atau ada hal lain dari bus ini, penumpang tujuan Salaman harus turun di halte depan SMKN Salaman yang jaraknya beberapa ratus meter dari bundaran.
Ya, terpaksa aku turun di situ dan menunggu bus jurusan Magelang. Karena tak sabar, aku jalan kaki ke arah bundaran. Tapi menjelang sampai di bundaran, sebuah bus kecil lewat, dan naiklah aku, pulang ke Magelang.
Kamis, 21 Juli 2022
Petualanganku Di Postcrossing
Rasanya udah sekian purnama blog ini nggak kuisi. Kesibukan dan kondisi hidup bikin aku bingung mau nulis gimana lagi (aslinya malas). Tapi kali ini ada satu hal yang udah lama pengin kutulis.
Minggu lalu, 17 Juli 2022, aku mengunjungi Solo. Bukan mau travelling, tapi memenuhi undangan Meetup sebuah komunitas, yakni Komunitas Postcrossing Indonesia.
Bagi yang belum tahu, komunitas ini adalah sebuah wadah pecinta kartu pos, khususnya lewat Postcrossing . Postcrossing sendiri adalah sebuah situs buatan orang Portugal bernama Paulo Magalhaes , yang memudahkan para pecinta kartu pos untuk saling berinteraksi dan bertukar kartu. Jika kita jadi anggota, kita bisa request alamat untuk mengirim kartu pos ke seorang anggota secara random. Saat kartu itu sudah sampai dan diregister oleh penerima, kita bisa mendapat balasan kartu dari anggota lain lagi. Istilahnya arisan kartu pos gitulah. Lebih lengkapnya, aku nggak akan jelaskan panjang lebar karena udah banyak blog yang mengulasnya, atau silahkan langsung ke www.postcrossing.com
Aku gabung dengan Postcrossing sejak Agustus 2019 secara nggak sengaja saat menemukan kartu pos lama di gudang rumah dan tertarik buat kirim ke seseorang. Satu demi satu kukirim, akhirnya terasa asyik dan jadi hobi baruku. Aku mulai dapat postcard dari Jerman, USA, Rusia, Jepang, China, Inggris, Belanda, hingga Lithuania dan Slovenia. Secara pribadi aku juga mengajak beberapa orang lain untuk bertukar kartu (direct swap). Hasilnya aku dapat dari rare country seperti Azerbaijan, Kamerun, dan Grenada. Aku puas kalau bisa berkirim kartu tentang makanan khas atau pemandangan langka. Pernah aku kirim kartu bergambar warung angkringan ke daerah pedalaman Rusia. Rasanya bangga banget, orang sana pasti nggak tahu tentang warung yang tiap malam jual wedang jahe dan nasi kucing itu 😆
Dan.. Komunitas Postcrossing Indonesia (KPI) ini adalah kelompok dari orang-orang yang sehobi denganku di negeri ini. Kami berusaha melestarikan budaya mengirim kartu pos dan surat yang sudah jarang dilakukan. Setahun sekali kami mengadakan Meetup Nasional di suatu kota. Tapi karena pandemi, 2 tahun terakhir terpaksa diadakan virtual. Barulah tahun ini bisa diadakan secara onsite di beberapa kota. Aku hadir ke Solo karena di sinilah lokasi meetup terdekat dari kotaku.
Nggak bisa dipungkiri, pandemi berpengaruh juga ke kelangsungan Postcrosser (sebutan untuk anggota kami). Kalau dulu Pos Indonesia bisa mengirim ke semua negara di dunia, sejak pandemi tujuan dibatasi. Malahan pernah kami hanya bisa berkirim ke 9 negara : Singapore, Malaysia, Thailand, USA, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, dan Indonesia sendiri. Nggak heran akhirnya banyak Postcrosser yang berhenti karena bosan. Kini saat kondisi mulai membaik pun, mereka sudah fokus dengan kehidupan masing-masing.
Meetup di Kantor Pos Solo kali ini cuma dihadiri 9 orang: cik Novi, pak Paryono, bu Rini, mas Isna, mbak Martha, mbak Farikha, mbak Bila, mbak Olive, dan aku sendiri. Acara meetup lebih ke berbagi pengalaman dan berbagi postcard, sambil ngemil 😂. Setiap kali meetup, KPI mengeluarkan postcard khusus yang ditandatangani oleh semua hadirin. Oh ya, selain Meetup Nasional, kadang-kadang ada juga Meetup Regional. Aku ikut regional Jogja karena di Magelang cuma aku Postcrosser yang aktif.
Yang jelas, kegiatan ini bisa menambah teman juga kemampuan berbahasa asing. Saat ini sudah ada sekitar 8600 anggota Postcrossing di Indonesia, tapi yang aktif di KPI cuma beberapa ratus. Bagi yang mau gabung, mudah saja, silahkan cari di Facebook : grup Komunitas Postcrossing Indonesia. Nggak usah takut, kakak-kakak di sini ramah-ramah kok 😊.
Bulan ini kami cukup beruntung karena jangkauan pengiriman pos sudah 48 negara, semoga kondisi dunia segera pulih agar kita bisa kirim ke mana saja. Amin.
Kamis, 26 Agustus 2021
Lagu Masa Lalu (26) : Berkibarlah Bendera Negeriku (Merah Putih)
Mumpung masih dalam bulan Agustus yang adalah bulan kemerdekaan, aku mau review satu lagu nasional yang sangat menyentuh hatiku.
Konon lagu ini adalah ciptaan almarhum Gombloh. Tidak banyak referensi tentang kapan diciptakannya, yang jelas lagu ini justru populer setelah Gombloh tiada. Tepatnya pada tahun 1995, ketika Indonesia merayakan ulang tahun emas (50 tahun), lagu ini dibawakan beramai-ramai oleh para artis Musica Studio, di antaranya Chrisye, Dicky Chandra, Novia Kolopaking, Trio Libels dan Harvey Malaiholo. Beberapa tahun terakhir pun kembali mencuat saat dibawakan oleh Shanna Shannon dan Agnez Mo.
Spirit nasionalisme yang tertuang begitu luar biasa. Berisi keinginan untuk memberi yang terbaik bagi negeri, menunjukkan pada dunia bahwa inilah Indonesia yang indah dan berkharisma. Bersama melangkah dalam persatuan untuk meraih cita-cita. Sungguh lagu yang pas untuk memberi semangat pada generasi muda.
Berkibarlah bendera negeriku
Berkibarlah engkau di dadaku
Tunjukkanlah kepada dunia
Semangatmu yang panas mambara
Daku ingin jiwa raga ini
Selaraskan keanggunan
Daku ingin jemariku ini
Menuliskan karismamu
Berkibarlah bendera negeriku
Berkibar di luas nuansamu
Tunjukkanlah kepada dunia
Ramah tamah budi bahasamu
Daku ingin kepal tangan ini
Menunaikan kewajiban
Putra bangsa yang mengemban cita
Hidup dalam kesatuan
Sabtu, 17 Juli 2021
Lagu Masa Lalu (25): Seemann
Denk nicht an zuhaus
Seemann, Wind und Wellen
Rufen dich hinaus
Deine Freunde sind die Sterne
Über Rio und Shanghai
Über Bali und Hawaii
Deine Liebe ist dein Schiff
Deine Sehnsucht ist die Ferne
Und nur ihnen bist du treu ein Leben lang
Denke nicht an mich
Seemann, denn die Fremde
Wartet schon auf dich
Deine Freunde sind die Sterne
Über Rio und Shanghai
Über Bali und Hawaii
Deine Liebe ist dein Schiff
Deine Sehnsucht ist die Ferne
Und nur ihnen bist du treu ein Leben lang
Selasa, 13 Juli 2021
Bahasa Bhutan (Part 13): Perabot dan Elektronik
Tro tu ni tsik dzo! (Lanjutkan kamusnya!)
Alangkah baiknya kita belajar juga tentang benda-benda yang ada di rumah.
Meja = chok tse
Kursi = do tri
Lemari = chak gam
Brankas =
Rak buku = hang ku
Ranjang = nyel tri
Karpet = dram den
Kulkas = sil drom
Freezer = khyek drom
Televisi = gyang tong
Radio = re dio
Kipas angin = sil yap
Mesin cuci = khyu trul
Mesin jahit = trul tsem
Telepon = gyu trin
Akuarium = shel dzing
Rabu, 10 Maret 2021
Bahasa Bhutan (Part 12): Cuaca dan Suhu
Halo drok (teman)!
Berhubung cuaca saat ini nggak menentu (siang panas, sore hujan, malam dingin) aku jadi kepikiran belajar tentang weather dalam bahasa Bhutan. Inilah kamusnya:
Panas = tsadpa
Sejuk = drang sil
Dingin = khodam
Hangat = dron
Cerah = nyim tsa tsawa
Hujan = charpa
Awan = trin
Mendung = hu ma dur dur
Kabut = muk
Berkabut = sa muk yodpa
Salju = khawa
Bersalju = khawa chen
Angin = lung ma
Berangin = lung ma tsa sa
Badai = truk kyen
Berbadai = lung tsup chen
Badai salju = bu yuk kha lung
Topan = lung tsup drag po
Musim = nam du
Cuaca = nam shi
Musim semi = chu mik
Musim panas = nam jar
Musim gugur = ton ka
Musim salju = nam gun
Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)
Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...
-
Setelah nonton film Sore : Istri Dari Masa Depan, tiba-tiba saja aku ingin nonton film di bioskop lagi (bilang aja ketagihan). Eh, tunggu ...
-
Kan kuingat s'lalu, kan kukenang s'lalu Senja indah, senja di Kaimana Seiring surya meredupkan sinar Dikau datang ke hati berde...
-
I peeked in to say goodnight When I heard my child in prayer "And for me, some scarlet ribbons Scarlet ribbons for my hair...









































































