Kamis, 27 Agustus 2020

Bahasa Bhutan (Part 8): Hewan

 Sekarang kita belajar nama-nama hewan. Beberapa yang umum saja ya 



- Kucing = ji li

- Anjing = ro khyi

- Monyet = treu

- Tikus = ji tsi

- Kuda = ta

- Kambing = ra ke

- Ular = bul

- Buaya = chu sin

- Ikan = nya sha

- Kelinci = ri bong

- Ayam = jiu chung

- Bebek = dam ja

- Sapi = sol bam

- Gajah = langmo che

- Kerbau = ma he

- Singa = seng ge

- Harimau = tak tsang

- Jerapah = ke ring ta

- Burung = dap chak

- Nyamuk = zen dom

- Lalat = lu ze

- Kupu-kupu = chem la

- Lebah = ser jang

- Semut = gyok mo

- Kadal = tsi tsi marmo

- Cacing = bupa

- Babi = pak pa

- Keledai = bong ku 

- Unta = nga mong 

- Kura-kura = ru bel 

- Rusa = shawa 

- Penguin = tso ja 

- Belut = dam nya 

- Paus = nya wel 

Minggu, 14 Juni 2020

Solo Travelling (14): Mata Air Ndas Gending

Rasanya cukup lama aku nggak nulis pengalaman travelling. Kondisi keuangan, kesibukan, ditambah pandemi Covid bikin rencana berantakan.

Tapi kali ini aku nggak bisa lagi menahan diri. Rasa bosan dan suntuk di rumah udah sampai level tertinggi. Daripada duitku habis buat ke psikiater, sebaiknya aku memberanikan diri. Aku harus keluar... harus!

Tunggu dulu..  di sini aku bukan menganjurkan kita untuk piknik sebebas-bebasnya di tengah ancaman Covid. Pastikan kita tetap perhatikan protokol kesehatan. Oke? Tos

Aku pun tidak memilih tujuan ke luar kota. Bahaya! Jadi, aku pilih yang nggak terlalu jauh aja. Istimewanya lagi, kalau biasanya aku naik kendaraan umum, kali ini aku berani bersepeda. Sehat dan hemat pastinya.

Sebuah tulisan di blog teman tentang Mata Air Ndas Gending di Mertoyudan, Kabupaten Magelang bikin aku tertarik. Seperti yang sering kubilang, aku tidak bisa berenang tapi aku ini ibarat kappa, suka main air. Pantai, pemandian, air terjun dan sungai yang bersih adalah tujuan wisata favoritku.

Kulihat di Google Maps, jarak dari kota Magelang sekitar 8 km. Bisa lah ditempuh dengan sepeda. Aku sengaja lewat jalan raya Magelang-Jogja, belok ke daerah Pandansari, lanjut ke Japunan, Desa Bondowoso, dan setelah napas hampir habis sampailah aku ke Dusun Ganjuran, lokasi tempat itu.

Seperti pemandian pada umumnya, sebelum sampai Ndas Gending aku harus lewat lembah yang menurun. Aku harus menuntun sepedaku sambil jaga keseimbangan karena jalannya berbatu-batu di antara hutan bambu.





Keheningan pecah saat tiba di ujung jalan. Hari itu hari Sabtu, jadi suasana cukup ramai. Meski letaknya terpencil dan sedang pandemi Covid, toh tempat ini banyak diminati. Pedagang snack, cilok, sampai sosis bakar menjajakan dagangannya.



Tak ada tiket masuk, cukup bayar parkir aja. Saat mssuk, aku lebih dulu memandangi sekeliling. Ada 3 kolam di sini. Kolam pertama cukup besar adalah untuk perempuan atau keluarga. Kolam kedua untuk laki-laki. Kolam ketiga menyatu dengan Kali Ndas Gending. Dengan latar belakang hutan dan sungai, mana aku bisa tahan diri. Untuk amannya aku pilih kolam kedua yang kebetulan juga nggak terlalu ramai.




Olala.. saat kucari kamar mandi atau kamar ganti aku terbelalak. Bayangkan, untuk orang sebanyak ini cuma ada 1 kamar mandi di samping kolam pertama. Sebenarnya di dekat kolam kedua, ada 4 ruang ganti tapi nggak ada pintunya! Weladalah
.. kalau kita nggak berani malu harus pintar-pintar cari tempat persembunyian. Beberapa pengunjung juga terpaksa pulang dengan pakaian basah. Nggak heran juga sih, udah dijelaskan di berbagai tulisan kalau fasilitas di sini belum lengkap. Tas dan barang berharga pun usahakan jangan jauh dari tempat kita.

Sudahlah, itu urusan nanti. Beruntung aku udah pakai celana pendek dari rumah, jadi nggak ribet. Setelah lepas baju segera aja turun ke kolam.



Brrrr... air kolam ini ternyata dingin banget kayak air es. Kedalaman kolam hampir 2 meter jadi aku harus ekstra hati-hati. Untung saat itu cuma ada beberapa orang jadi aku lebih leluasa. Batu-batu besar di tepi dan dalam kolam kupakai buat pegangan. Cuma satu hal yang bikin jengkel, ada orang yang mandi pakai sabun. Air kolamnya kan jadi tercemar. Yah.... tapi memang udah biasa warga sekitar pakai tempat ini untuk mandi dan mencuci.

Beberapa anak terlihat berlari ke samping. Aku menoleh.. wow ternyata di sebelah sana ada kali. Langsung deh aku ikut-ikutan beranjak dari kolam ke kali.





Inilah Kali Gending, salah satu anak sungai Progo. Kali ini juga sering digunakan untuk rafting. Beneran nggak nyangka di Magelang ada tempat sekeren ini. Aliran sungai yang masih alami dikelilingi hutan bambu dan kebun pisang. MTMA banget, seandainya aku ada teman pasti lebih asyik. Pas juga kalau pengin photoshoot ala Tarzan karena beberapa cabang pepohonan menjuntai ke air. Cuma sayang seribu sayang, ada saja orang yang tidak bisa jaga kebersihan... sampah berserakan di dalam air. Huh, niatku mandi di kali jadi batal, takut gatal-gatal.






Setelah menyejukkan diri sejenak di kolam kedua tadi, aku bersiap pulang. Tentu saja untuk ganti pakaian aku harus ngumpet di balik tembok. Biar di sini cowok semua, kehormatan tetap harus dijaga lah ya... Ngomong-ngomong kalau boleh dikasih rating, skor tempat ini baru bintang 3. Banyak yang harus dilengkapi dan diperbaiki.

Matahari mulai redup. Agar tidak kesorean aku cepat keluar. Sempat ada insiden handukku ketinggalan (dasar pelupa). untung nggak hilang.




Ya, pulangnya aku harus lewat jalan tadi lagi. Lewat tanjakan lumayan bikin ngos-ngosan. Tapi aku cukup puas hari ini.


Sabtu, 30 Mei 2020

Bahasa Bhutan (Part 7): Bagian Tumbuhan


Dalam beberapa postingan ke depan, aku mau tulis soal tanaman (lu nor dalam bahasa Dzongkha). Karena dunia flora sangat luas, kita belajar dasar-dasarnya aja, hal-hal yang umum dibicarakan.

Untuk awalnya, inilah bagian-bagian tanaman.




Pohon = shing

Akar = ra to

Batang = chuk ma

Tangkai = zhi tram

Daun = dap ma

Bunga = me tok

Buah = dok ma

Cabang = zhel lak

Getah = shing kye chu

Biji = sa bon


Selasa, 26 Mei 2020

Bahasa Bhutan (Part 6): Body Parts

Kuzuzangpo la

Gom mathrae la (mohon maaf) jika kamus bahasa Bhutan ku sempat vakum sebulan ini. Kesibukanku berbisnis online yang rame menjelang Lebaran bikin mood untuk nulis hilang, selain lupa. Ji tar yang (anyway) pasti kulanjutkan kok, setidaknya sampai 20 part lah.

Nah, sekarang ini tentang bagian tubuh. Coba kita baca, sambil dipegang aslinya juga boleh (pegang tubuh sendiri ya, kan lagi physical distancing...)




TUBUH BAGIAN ATAS

Kepala = gu to

Rambut = u tra

Dahi = u tok

Pelipis = chalwa

Mata = tong shuk

Alis = min ma

Bulu mata = mik dzim

Pipi = khur to

Hidung = lha pa

Wajah = dong ngo

Bibir = tsik tsup

Mulut = ho kha

Gigi = so

Lidah = che sha

Dagu = ma khel

Telinga = dra dzin

Leher = tak ko


TUBUH BAGIAN TENGAH


Dada = jang khok

Perut = ku po

Pinggang = kedpa

Punggung = gel to

Ketiak = chen khung

Lengan = lak to

Tangan = lak pa

Jari = dzup mo

Kuku = chak zer


TUBUH BAGIAN BAWAH


Paha = le do

Pinggul = ke pa

Pantat = a buk gang tsik

Lutut = pu mo

Betis = kangam

Kaki = tsik tsam

Tumit = tingam

Jari kaki = kang dzup

Senin, 27 April 2020

Bahasa Bhutan (Part 5): Barang Berharga dan Perhiasan


Penting juga buat kita memahami nama-nama barang berharga dalam bahasa Dzongkha.

Uang = shok ngül

Koin = tik kyang

Dompet = zé ngül

Handphone = gyü trin

Kartu identitas = ngo jor lak khyer

Kartu kredit = ngül jang

Paspor = drup ten

Surat = yang sel

Kunci = dé mik bu

Cek = ngül dzin

Tabungan = sak nyik

Kalung = shel khor

Gelang = lak dup

Cincin = sor dup

Anting = sin chu

Bros = ting khap

Jam = chu tsö khor lo










Minggu, 19 April 2020

Bahasa Bhutan (Part 4): Angka



Kali ini kita belajar tentang angka dalam bahasa Dzongkha. Saat mencari referensi tentang ini, aku agak bingung karena pengucapannya berbeda-beda. Tapi di sini kita belajar sesuai aplikasi kamus yang kudapat, serta beberapa kata yang kudapat dari orang Bhutan asli.

0 (nol) = lay kor

1 (satu) = chi

2 (dua) = nee

3 (tiga) = som

4 (empat) = zhe

5 (lima) = nga 

6 (enam) = du 

7 (tujuh)  = deen 

8 (delapan) = gay

9 (sembilan) = gu 

10 (sepuluh)  = chu tam 

11 (sebelas) = chu chi 


Untuk angka belasan, cukup tambahkan "chu" sebelum angka satuan. Contoh: 13 = chu som.

20 (dua puluh)  = nee chu

Untuk angka puluhan, cukup tambahkan "chu" setelah angka satuan. Contoh: 50 = nga chu.

100 (seratus) = chi ja

Untuk angka ratusan, cukup tambahkan "ja" setelah angka satuan. Contoh: 700 = deen ja

1000 (seribu) = chi tong

Untuk angka ribuan, cukup tambahkan "tong" setelah angka satuan. Contoh: 2000 = nee tong.

1.000.000 (satu juta) = bum

Untuk angka jutaan, cukup tambahkan "bum" setelah angka satuan. Contoh: 4.000.000 = zhe bum.

1.000.000.000 (satu miliar) = ter bum.

Untuk angka khusus, mohon maaf, aku belum bisa jabarkan di sini karena sumber yang kudapat agak membingungkan. Semoga lain kali bisa kususulkan.






Rabu, 15 April 2020

Bahasa Bhutan (Part 3): Family and Relationship

Nima delek,

Ini adalah sebutan atau panggilan untuk seseorang dalam bahasa Dzongkha



Aku = Nga

Kamu = Choe

Dia (laki-laki) = Kho

Dia (perempuan) = Mo

Kita = Nga ce

Mereka = Khong cha chap

Kalian = Che cha chap

Ayah = A pa 

Ibu = A ma 

Kakek = A ge

Nenek = A bi

Paman = A zhang

Bibi = A ne

Saudara laki-laki = Po pun 

Saudara perempuan = Mo pun 

Sepupu = Nye pun 

Keponakan laki-laki = Tsa po 

Keponakan perempuan = Tsa mo

Anak laki-laki = Bu

Anak perempuan = Bu mo

Cucu laki-laki = Di bu

Cucu perempuan = Di bu mo 

Ipar laki-laki = Kudpo

Ipar perempuan = Ma tang

Menantu laki-laki = Magpa

Menantu perempuan = Na ma 

Ayah mertua = Gyos po

Ibu mertua = Gyug mo

Kawan = Drok 

Kekasih = Che che 

Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...