Kamis, 17 Agustus 2017

Lagu Masa Lalu (18) : Kepada Alam dan Pencintanya


Pendaki gunung, sahabat alam sejati
Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan
memploklamirkan dirimu pecinta alam
sementara maknanya belum kau miliki

Ketika aku daki dari gunung ke gunung
Disana ku temui kejanggalan makna
Banyak pepohonan merintih kepedihan
Dikuliti pisaumu yang tak pernah diam

Batu batu cadas merintih kesakitan
ditikam belatimu yang bermata ayal
hanya untuk mengumumkan pada khalayak
bahwa disana ada kibar bendera mu

Oh alam, korban keangkuhan
Oh alam, korban keangkuhan
Maafkan mereka yang tak mau mengerti arti kehidupan


Setiap tanggal 17 Agustus ada satu aktivitas yang digandrungi banyak orang, terutama anak muda. Ya, apa lagi kalau bukan mendaki gunung. Entah terinspirasi film 5 cm atau bagaimana, jalur pendakian gunung selalu ramai tiap tanggal itu.
Tidak sekedar mendaki, ritual paling wajib adalah menancapkan bendera merah putih di puncak gunung. Nggak lengkap juga, kalau nggak diikuti foto selfie sambil hormat bendera. Wuiiiih… bangganya. Nasionalis abis…

Ini foto saat aku mendaki gunung Ungaran (2015)

Buat kita yang betul-betul bersahabat dengan alam, pasti lancar-lancar aja. Tapi masalahnya nggak sedikit pendaki amatir yang nekat demi gengsi atau ikut-ikutan. Padahal mereka belum mengerti kondisi alam. Akibatnya, bisa jadi cedera. Masalah lain yang nggak kalah penting, apa mereka bisa menjaga lingkungan? Sering terjadi setelah musim mendaki, jalur pendakian akan dipenuhi sampah! Belum lagi, kerusakan lingkungan akibat ulah para pendaki.

Cover album Rita Rubby Hartland

Nah, lagu dari Rita Rubby Hartland ini bisa jadi teguran sekaligus sindiran buat para pendaki gunung yang tidak peduli dengan lingkungan. Ternyata pengrusakan lingkungan bukan cuma dilakukan oleh pendaki amatir. Orang yang menamakan dirinya pecinta alam pun bisa saja melakukannya!
Contohnya, ada sebagian orang yang membuat “prasasti” dengan menggores pepohonan. Ada juga yang memotong dahan untuk kenang-kenangan. Padahal pohon adalah makhluk hidup juga. Tak heran, di lagu ini digambarkan “banyak pepohonan merintih kesakitan”.
Begitu juga bebatuan. Tak jarang batuan gunung dirusak untuk menancapkan bendera. Memang, batu adalah benda mati. Tapi bagaimanapun ia adalah bagian dari kekayaan alam. Lebih ironis lagi, tidak satu dua orang yang melakukan pengrusakan! Jika dibiarkan terus menerus dapat mengancam kelestarian sumber daya alam.

Kenapa mereka melakukan itu? Yang jelas untuk memuaskan diri. Ini sangat menyimpang dari esensi “pecinta alam”. Makna dari mencintai alam adalah tidak sekedar menikmatinya, tapi juga menjaga dan melestarikannya. 
Rita Rubby Hartland sendiri adalah penyanyi yang ngetop di tahun 1980-an. Wanita kelahiran 13 April 1960 ini menekuni jalur musik country. Lagu-lagunya kebanyakan bercerita tentang kemanusiaan, seperti Kepada Alam dan Pencintanya, Suara Kecil Panti Asuhan, dan Nyanyian Sawah. 

Link video:

Kamis, 29 Juni 2017

Penyanyi Masa Lalu (10) : Patti Page


I was dancing with my darling to the Tennessee Waltz
When an old friend I happened to see
I introduced her to my loved one
And while they were dancing
My friend stole my sweetheart from me
I remember the night and the Tennessee Waltz
Now I know just how much I have lost
Yes, I lost my little darling the night they were playing
The beautiful Tennessee Waltz

Merdu dan syahdu, itu kesan pertamaku saat dengar lagu “Tennessee Waltz” ini. Aransemennya mengingatkan kita pada pesta dansa klasik zaman dulu. Memang, lagu country yang diramu dengan sentuhan klasik ini berasal dari Amerika tahun 1940-an, dimana “musik koboi” tersebut sedang berjaya. Lantas, siapakah penyanyinya?
Tersebutlah Patti Page, seorang wanita asal Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat. Nama sebenarnya adalah Clara Ann Fowler. Nama panggung Patti Page disandangnya saat dia menyanyi di stasiun radio KTUL, yang disponsori oleh Page Milk Company di tahun 1945. Kemudian ia bergabung dengan Jimmy Joy Band yang digawangi Jack Rael hingga tahun 1947. Wanita kelahiran 8 November 1927 ini sempat juga bergabung dengan kelompok orchestra Benny Goodman, sebelum memutuskan untuk bersolo karir.
Lewat perusahaan Mercury Records, Patti membuat berjudul “Confess”. Di single pertamanya ini ia  menggunakan teknologi overdubbing (paduan suara tiruan) karena masalah ekonomi yang membuatnya tidak bisa menggunakan penyanyi latar. Disusul “With My Eyes Wide Open I’m Dreaming” yang membawa penghargaan platinum untuknya. Lagu-lagu lainnya antara lain “All My Love”, “You Belong To Me”, “Changing Partner”, “I Don’t Care If The Sun Don’t Shine”. Hampir semuanya membuahkan penghargaan bagi Patti Page.
Namun, lagu “Tennessee Waltz” dinilai paling berarti buatnya. Meski pernah dibawakan oleh band Pee Wee King & His Golden West Cowboy, lagu ini sukses dibawakan kembali oleh Patti. Lagu ini pulalah yang membuat Patti memantapkan diri sebagai penyanyi country ternama di tahun 1950-an. Di samping lagu country, ia juga rekaman untuk lagu pop, folksong (lagu daerah Amerika), bahkan lagu anak-anak. Sukses di dunia musik, ia pun terjun ke film layar lebar, di antaranya “Elmer Gantry”, pada tahun 1960.

Patti Page dalam cover album Tennessee Waltz

Jika kebanyakan penyanyi memilih hengkang dengan bertambahnya usia, tidak demikian dengan Patti. Sampai usia tua, ia tetap produktif, menghasilkan rekaman, baik dengan Mercury Records, Columbia Records, maupun Nashville Records. Begitupun ketika ketenaran musik country mulai tergerus zaman, namanya tak ikut tenggelam. Hingga akhirnya Patti memiliki perusahaan rekaman sendiri,  C.A.F Records. Sudah tak terhitung berapa banyak penghargaan yang diperolehnya. Terakhir, ia mendapatkan Grammy Awards pada 1999 untuk album “Live In Carnegie Hall”.

Patti Page masih bernyanyi di usia senja. 

Patti pernah menikah 3 kali. Pernikahan pertama dengan Jack Skiba pada tahun 1948, berakhir dengan perceraian setahun kemudian. Pada tahun 1956, ia menikah lagi dengan Charles O’Curran, seorang koreografer, dan menghasilkan dua anak, namun bercerai juga di tahun 1972. Terakhir, ia menikah dengan Jerome Joseph Filicitto pada tahun 1990 dan berakhir dengan kematian sang suami di tahun 2009.

Sepanjang hidupnya, Patti telah menghasilkan lebih dari 100 album dan single. Memasuki usia kepala delapan, ia masih memenuhi berbagai undangan untuk tampil. Namun takdir jugalah yang mengakhiri semuanya. Tahun 2012, kesehatannya mulai menurun. Ia dinyatakan menderita penyakit jantung dan paru-paru, hingga ia memutuskan pensiun dari dunia musik. Tepat tanggal 1 Januari 2013, wanita bersuara lembut ini menghembuskan nafas terakhirnya. 

Link video:

Kamis, 18 Mei 2017

Lagu Nasa Lalu (17) : A Whiter Shade of Pale


We skipped the light fandango
Turned cartwheels 'cross the floor
I was feeling kinda seasick
But the crowd called out for more
The room was humming harder
As the ceiling flew away
When we called out for another drink
The waiter brought a tray

And so it was that later
As the miller told his tale
That her face, at first just ghostly,
Turned a whiter shade of pale
She said, 'There is no reason
And the truth is plain to see.'
But I wandered through my playing cards
And would not let her be
One of sixteen vestal virgins
Who were leaving for the coast
And although my eyes were open
They might have just as well've been closed

And so it was that later
As the miller told his tale
That her face, at first just ghostly,
Turned a whiter shade of pale


And so it was that later



Pernah dengar Procol Harum? Jangan bayangkan versi baru dari Procold, obat flu yang terkenal itu lho! Juga bukan merek minyak wangi. Ini adalah nama band slow rock dari Inggris di tahun 1960-an. Konon, nama Procol Harum berasal dari nama seekor kucing Siam. Tidak diketahui, kenapa grup ini memakai nama tersebut.



Nah, lagu di atas adalah single mereka yang paling terkenal. Lagu ini diciptakan oleh sang vokalis, Gary Brooker, sedangkan liriknya ditulis oleh Keith Reid. Sejak dirilis pada bulan Mei 1967, lagu ini dengan cepat menjadi hits di Inggris. Yang menarik, irama lagu ini terinspirasi dari musik klasik Johann Sebastian Bach.
Kalau lirik lagu ini diterjemahkan secara bebas, mungkin kita akan bingung memahami artinya. Maklum, banyak kata-kata yang puitis dan mengandung perumpamaan. Seperti “miller” atau penggilingan yang menggambarkan suasana yang berputar.
Tapi kalau kita pahami satu persatu, kemungkinan besar lagu ini menggambarkan pasangan muda-mudi yang tengah minum-minum. Setting lokasinya adalah tempat yang ramai, mungkin di bar. Meski mereka sudah mabuk, karena pengaruh orang-orang di sekitar, akhirnya mereka menambah minuman, lagi dan lagi. Sampai akhirnya mereka sama-sama mabuk berat. Digambarkan wajah si gadis menjadi pucat memutih, sementara si pemuda tidak bisa lagi mengendalikan diri dan…. akhirnya terjadilah hubungan terlarang.
Disinggung mengenai lirik lagu tersebut, Keith Reid pernah mengatakan, sebenarnya ia tidak ingin menciptakan suasana "hot". Ia justru awalnya ingin mengungkapkan kisah perkenalan antara laki-laki dan perempuan di tengah suasana ramai. Namun entah kenapa, ia kelepasan berpikir, dan terciptalah lirik seperti itu. 
Ah, terlepas dari semua itu, kita nikmati aja lagunya bro/sis, jangan praktekkan kisah di dalamnya. Oke? 

Link video:

Senin, 24 April 2017

Ingin Jadi Yang Terbaik, Malah Hampir Tertipu


Tidak bisa kupungkiri, aku selalu ingin terlihat menonjol di antara teman-temanku. Maklum, sebagai seorang introvert aku kerap mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Daripada membalas, kupikir lebih baik aku tunjukkan aja siapa diriku sebenarnya. Aku cari kemampuanku yang sebenarnya.
Itulah yang jadi pemikiranku 10 tahun yang lalu. Tapi dari hal itu, ada satu pengalaman tak terlupakan. Inilah ceritanya.

Pertengahan April 2007. Saat itu tepat 2 bulan menjelang kelulusan SMA. Sepulang sekolah aku melihat sebuah brosur di papan pengumuman sekolah. Akan diadakan audisi bertajuk “Idolaku – Bintang Pelajar Indonesia” untuk pelajar SD, SMP, dan SMA di Magelang. Audisi dibagi dalam 3 kategori : vokal, akting, dan model. Wah, ini dia! Muncul keinginanku mengikuti kategori akting. Ya, soalnya dulu itu aku pernah bermimpi jadi bintang film. Kalau vokal, suaraku belum terlalu bagus. Model, aku nggak tertarik.
Aku tertarik banget buat mendaftar. Soal ujian akhir, bisa dipikirkan nanti. Tapi, gimana kalau teman-temanku tahu aku ikut acara kayak begini? Pasti aku bakal diejek sana sini. Itulah sebabnya, biarpun bisa mendaftar di sekolah, aku cari alternatif lain buat pendaftaran. Untungnya, supermarket langgananku, Trio Plaza, juga membuka pendaftaran acara ini. Maka, nggak pakai lama, aku langsung mendaftar ke sana. Biaya pendaftaran cukup Rp. 20 ribu.
Sayangnya, di formulir tertulis bahwa peserta harus didampingi guru pendamping. Aku jadi bingung, guru pendampingku siapa? Dengan agak sungkan, aku curhat ke Bu Nia, guru BP di sekolahku. Beliau menganjurkan aku menemui Pak Slamet, guru kesenian. Singkat cerita, aku berhasil mendaftar.

11 Mei 2007, diadakan technical meeting. Seperti perintah dari Pak Slamet, aku datang ke sekolah sore itu untuk berangkat sama-sama. Ternyata ada beberapa adik kelasku yang juga ikut. Didampingi Pak Slamet, Bu Nia dan Bu Niken, kami berangkat ke Taman Kyai Langgeng, tempat acara itu.
Begitu sampai di sana…weladalah… antrinya luar biasa. Dari loket sampai depan pintu gerbang. Ada kalau 50 meter. “Ini belum apa-apa, Indonesian Idol bisa 4 shaft lho,” kata Louis, salah satu adik kelasku. Wuih.. ngeri juga membayangkan antri di Indonesian Idol (biarpun toh nantinya aku mengalami seperti itu juga…wkwkwk…). Agak lama, beberapa anak perempuan mulai mengeluh, “Aduh Bu, dehidrasi nih”. Untungnya Bu Nia segera membelikan Aqua.
Hampir satu jam antri, tiba giliranku di depan meja panitia. Aku hanya disuruh tanda tangan dan diberi nomor peserta beserta selembar kertas berisi penjelasan acara. Acara audisi akan diadakan pada 19 Mei 2007 di Taman Kyai Langgeng juga.
Detail acaranya seperti ini : aku diminta menampilkan suatu akting, tema bebas. Duh, aku bingung. Harus buat seperti apa. Pikir-pikir, akhirnya kuputuskan pura-pura jadi cowok yang marah sama pacarnya. Pada dasarnya aku emang gampang marah sih…

19 Mei 2007, tibalah waktu audisi. Hari itu, tepatnya hari Minggu pagi, audisi dimulai di Rumah Baca Taman Kyai Langgeng.  Kembali aku datang bareng dengan guru pendamping dan peserta dari sekolahku. Banyak banget pesertanya, sekitar 500 orang, tapi agak cepat karena dibagi kelompok dalam masing-masing kategori: vokal, akting dan model, beserta tingkatan sekolah : SD, SMP, SMA.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliranku. Aku pun masuk ke sebuah ruangan. Ada 3 orang juri, bapak-bapak. Setelah memperkenalkan diri dan dipersilahkan, aku siap beraksi.
Kira-kira beginilah akting yang kutampilkan:
“Dasar perempuan nggak tahu diuntung. Kamu lupa, aku ini sudah banyak berkorban buat kamu. Kerjakan tugas, aku bantu, mau SMS aku pinjami, butuh uang aku pinjami. Kurang apa aku ini? Kamu malah jalan sama orang lain”
“Tingkatkan intonasi anda!” tiba-tiba seorang juri berteriak.
Dibentak seperti itu, aku jadi ingin marah beneran.
“Pokoknya sekarang, jauhi dia atau kita putus!” teriakku.
Hmm…udah deh, gitu aja. Aku pun diam.
“Sudah?” tanya juri yang membentakku tadi. “Coba anda akting yang lain, misalnya sakit”
Aku mencobanya
“Aduuh… gigiku sakit… aduuuuh…. Mana nggak ada obat lagi”
Dengan gaya yang sok hebat, juri tadi langsung berkomentar, “Terus terang, anda menampilkan sesuatu yang datar dan tidak menarik sama sekali.”  Tapi dia melanjutkan “Tapi saya rasa anda punya potensi, saya kasih anda lolos”
Juri yang lain ikut bicara “Baru pertama kali ikut seperti ini?”
Aku mengangguk.
“Pantas, jelek banget”,  dia tertawa.
Huh, sombong amat sih dia. Kayak dia jago akting aja.
“Tapi untuk kali ini nggak apa-apa, anda lolos, silahkan ke meja sebelah sana”
Karena dua juri sudah mengatakan lolos, juri yang ketiga nggak perlu berkomentar. Aku pun langsung diarahkan ke meja lain, di situ aku disuruh tanda tangan dan diberi selembar kertas berisi penjelasan tentang audisi tahap berikutnya. Setelah selesai aku keluar. Perasaanku antara senang dan tidak. Senang karena lolos, tidak senang karena jurinya sombong banget.
Dari sekolahku ada sekitar 10 peserta, 6 di antaranya lolos termasuk aku. Sebelum pulang, kami istirahat sebentar sambil cerita pengalaman mereka tadi. Adik kelasku sempat mengeluh , “Uh jurinya nyengit (angkuh) ya”. Hehehe, ternyata bukan cuma aku yang berpikir begitu. Emang sih, jurinya kayaknya kurang professional. Ah, masa bodo ah.
Sambil istirahat, aku membaca persyaratan audisi tahap berikutnya. Minggu depan, kita harus unjuk bakat langsung di panggung, tentunya dengan supporter dan kostum khusus. Sebelumnya, kita harus ikut sesi latihan pada 24 Mei 2007, dengan mendaftar ulang lewat kantor Taman Kyai Langgeng dan membayar Rp. 10.000 . Sekali lagi, materi penampilan harus kita persiapkan sendiri.
Aku jadi bingung, kan aku nggak ada supporter. Teman-teman sekelasku mana mau? Apalagi aku sudah berusaha merahasiakan ini dari mereka.  Dan lagi, materinya? Apa lagi yang harus kutampilkan? Tentunya aku nggak ingin penampilanku memalukan. Kalau harus mengarang, gimana dengan belajarku? Ujian akhir tinggal dalam hitungan hari.

21 Mei 2007. Karena galau, aku curhat ke Bu Nia. Anehnya, nggak seperti kemarin dimana beliau mendukung banget, sekarang beliau malah bilang “Kalau kamu memang nggak sanggup, lebih baik mundur aja. Apalagi acara ini kok sepertinya nggak bagus, nggak jelas mereka dari event organizer atau stasiun TV mana, lalu nanti pemenangnya dikirim ke Jakarta diikutkan dalam acara apa juga nggak jelas. Sudahlah, kamu fokus belajar aja,  masih banyak acara seperti ini nanti.”
Akhirnya, aku menyetujui nasehat Bu Nia. Aku coba SMS ke panitia, mengundurkan diri. Awalnya kau beralasan nggak punya supporter. Mereka berusaha meyakinkanku, “Masih ada juri kok, nggak punya supporter nggak apa-apa”. Aku jawab lagi, aku juga sebentar lagi mau ujian jadi aku nggak ingin belajarku terganggu.
Sejak itu, aku benar-benar putus hubungan dengan acara itu. Tapi aku nggak menyesal, malah merasa lega banget. Aku pun belajar lebih giat. Hingga sebulan kemudian aku berhasil lulus dari SMA dengan nilai memuaskan. Kini aku bersiap “go international”, kuliah di luar kota.

4 Juli 2007, tanpa sengaja aku membaca sebuah berita di koran. “Ratusan Pelajar Terkecoh Lomba Pemilihan Model”. Hmmm… apa ini? Aku kaget, di situ tertulis lomba bertajuk “Idolaku”. Audisi yang kuikuti dulu! Ternyata itu penipuan! Final seharusnya digelar 3 Juli 2007, tapi batal karena pihak panitia menghilang. Faktanya, Taman Kyai Langgeng bukanlah penyelenggara acara itu, melainkan sebuah event organizer yang tidak jelas asal usulnya!  Wah, puji Tuhan! Untung aku mundur!
Di koran hari berikutnya, beritanya muncul lagi. Polisi telah memeriksa 28 orang saksi. Namun, penanggung jawab acara tersebut masih buron. Total 580 orang siswa yang jadi korban. Kabarnya audisi ini pernah digelar di Kabupaten Kulonprogo dan sedang dipersiapkan di Gunungkidul. Tidak diketahui apakah para siswa di Kulonprogo juga mengalami penipuan seperti ini atau sedang menunggu “dikirim ke Jakarta”.
Yang bikin aku makin lega, ada pengakuan salah satu orang tua peserta yang anaknya masuk 3 besar kategori model. Di tengah-tengah acara, peserta diharuskan membayar untuk biaya polling. Maksudnya untuk membeli kertas dukungan yang akan dibagikan ke teman-teman peserta. Tidak tanggung-tanggung, panitia meminta antara Rp. 300 ribu sampai Rp. 500 ribu. Tapi karena merasa keberatan, akhirnya para peserta hanya membayar Rp. 100 ribu. Pokoknya, tiap tahap audisi pasti ada uang yang diminta. Panitia memang merencanakan segala sesuatunya dengan rapi. Bahkan, sebelum acara diadakan, mereka sudah minta rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kota Magelang.
Untunglah, beberapa waktu kemudian, aku dengar “dalang” utamanya sudah tertangkap dan divonis 18 bulan penjara. Aku nggak habis pikir, begitu pintarnya dia mengatur penipuan ini sampai nggak seorangpun curiga. Tapi ya sudahlah, biarpun rugi Rp. 20 ribu ini jadi pengalaman buatku untuk lebih hati-hati.

Kesimpulannya, sebelum ikut lomba atau audisi, perhatikan hal-hal berikut:
1. Siapa yang mengadakannya (perusahaan, stasiun TV), lebih baik kalau kita tahu orang yang jadi penanggung jawabnya.
2. Kemana arah acaranya. Seperti di atas, pemenangnya akan dikirim ke Jakarta, ketahui dengan jelas, kita akan diikutkan dalam acara seperti apa.
3. Berapa besar hadiah yang dijanjikan. Kita berhak protes bila akhirnya hadiah yang diberikan tidak sesuai dengan janji di awal.
4. Jangan mau bila diminta membayar sejumlah uang, kecuali biaya pendaftaran. Biaya pendaftaran pun cuma 1 kali di awal acara.
5. Berteman dengan peserta lain, sehingga kita bisa saling berdiskusi dan bila terjadi penipuan seperti di atas, bisa sama-sama melapor ke pihak berwajib.
6. Jangan takut untuk bertanya bila ada hal-hal yang belum kita pahami.

So, pandai-pandailah memilih lomba yang terbaik, jangan biarkan mimpimu hancur oleh penipuan! 

Sabtu, 18 Maret 2017

Air Terjun Seloprojo : Menikmati Guyuran Air Di Atas "Sumur"


Kalau bicara soal potensi wisata di negeri kita ini seakan nggak ada habisnya. Banyak tempat-tempat yang mempesona, yang bisa dikembangkan jadi objek wisata baru. Tidak terkecuali di sekitar tempat tinggalku : Magelang. Dulu kalau ngomongin air terjun pasti pikiranku pasti tertuju ke Grojogan Sewu di Tawangmangu, Solo.  Ah itu sih jauh bro... di Kabupaten Magelang sini juga ada kok.  Ya, ini salah satunya.
Ada sebuah air terjun di Kecamatan Ngablak. Apa lagi kalau bukan Air Terjun Seloprojo. Letaknya di lereng gunung Telomoyo, beberapa kilometer sebelum Air Terjun Sekarlangit yang pernah kukunjungi dulu.
Dengan diantar teman, aku memulai petualanganku. Setelah melewati serangkaian jalan yang lumayan menantang, naik-turun-rusak, sampailah aku ke lokasi. 
Untuk menemukan lokasi wisata ini, kita harus jeli. Di tepi jalan Ngablak-Grabag, perhatikan gapura "Selamat Datang di Air Terjun Seloprojo". By the way, karena jalan menuju air terjun ini sempit, kalau kita bawa mobil, kita harus parkir di bawah bukit, lalu jalan kaki. Lain soal kalau bawa motor, kita bisa menanjak lewat jalan berbatu sampai depan loket retribusi. Tiket masuknya cukup 5000 rupiah aja.
Baru aja aku sampai, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Yah, terpaksa harus berteduh dulu. Biar nggak bosan, mataku menelusuri pemandangan sekitar. Kanan dan kiri menawarkan pemandangan yang berbeda. Sisi kanan berupa perumahan warga yang memenuhi lereng bukit. Mungkin itulah sebabnya, desa di bawah itu dinamai Pagergunung. Sedangkan sisi kiri adalah sawah dan perkebunan, lengkap dengan tanah bertingkat alias terasering untuk mencegah longsor. Air terjunnya sendiri terlihat samar-samar di belakangku.

Pemukiman di lereng bukit

Sawah dan ladang terhampar luas
Sempat mau nyerah karena hujan nggak kunjung reda, akhirnya tepat di tengah hari harapanku terkabul. Pelan-pelan, aku naik ke lereng bukit, yang ternyata jalannya udah disemen. Di jalan, aku sesekali ketemu warga sekitar yang baru pulang bertani dan beberapa anak muda yang baru saja ke air terjun. Ternyata biarpun letaknya terpencil dan bukan hari libur, tempat ini lumayan ramai juga.

Lewar jalan setapak menuju air terjun

Iseng-iseng turun ke sawah


Kayak mendaki gunung ya?
Maklum saja, selain dekat dengan pusat aktivitas warga, tempat ini memang indah banget. Sebuah sungai kecil berair jernih mengalir ke tempat rendah. Nggak salah lagi, airnya bersumber dari atas bukit, tempat air terjun itu berada. Ternyata sungai ini adalah sarana untuk mengairi sawah dan ladang di bawahnya. Semakin ke atas, jalan kita ibarat jalur pendakian gunung. Hutan pinus yang mengelilinginya bikin suasana jadi lebih adem. Ijo royo-royo, istilahnya dalam bahasa Jawa. Luar biasa! Tidak heran, di sini sudah dibangun camping ground. Cuma sayangnya, warung makan satu-satunya di sini saat itu sedang tutup.
Akhirnya aku menemukan anak tangga menurun ke lokasi air terjun itu. Dan… sampailah aku ke tempatnya.

Akhirnya sampai juga!

Air terjun ini punya bentuk yang unik. Air yang deras tercurah dari atas tebing , menuju ke dua buah cekungan besar yang bentuknya seperti kolam, lalu berlanjut ke sungai kecil di bawahnya. Kedua kolam ini bentuknya seperti sumur, dan dari sinilah mengalir sumber air bagi warga sekitar. Karena itu, air terjun ini disebut juga Air Terjun Sumuran. Antara kolam atas dan bawah dipisahkan oleh pancuran berbentuk patung singa dan burung. Mirip batuan candi, tapi sesungguhnya hanyalah arsitektur belaka.
Musim hujan membuat aliran air lebih deras. Dari sebelah kiri air terjun, kita sudah bisa menikmati guyuran airnya. Tapi kebanyakan pengunjung lebih suka ke sebelah kanan, soalnya fokusnya lebih pas. Nah, biar aman, buat menuju ke sebelah kanan sudah dibangun sebuah jembatan besi.

Duduk dulu di jembatan besi

Arsitektur pancuran yang mirip candi (abaikan orangnya)
Beberapa pengunjung sedang berfoto di bawah air terjun. Biar lebih leluasa main air, aku jalan-jalan di sekitar dulu. Baru sesudah mereka pergi, aku mendekati air terjun.

Ya, inilah air terjunnya!

Dengan hati-hati aku melangkah ke kolam, melompati pancuran.  Wah, rasanya nyaman luar biasa. Titik-titik air menerpaku dari atas, sedangkan di bawah, kakiku merasakan aliran air. Belum lagi pepohonan hijau di sekitar tebing yang bikin sejuk mata.

Welcome to  the waterfall!

Wah sejuuuk...

Nah, di tempat seperti ini, apa lagi yang lebih mengasyikkan selain main air? Berhubung aliran air agak deras dan nggak bisa berenang, aku cukup memercikkan air. Wow, lumayan dingin. Ngomong-ngomong, kolam bagian atas, kira-kira airnya setinggi pinggang. Sedangkan kolam bagian bawah jauh lebih dalam. Jadi aku mesti hati-hati, jangan sampai terpeleset ke kolam bagian bawah. Kalau kecebur, bisa-bisa aku nggak muncul lagi.


Puas main air, aku balik lagi ke tepi. Biarpun nggak lama di sini, aku merasa fresh. Ya, tempat ini cocok banget buat melepas penat. Memang belum dikembangkan sebagai objek wisata unggulan, tapi keaslian alamnya lebih mengesankan. 

Puas...puas..puas... Sampai jumpa! 

Selain Seloprojo dan Sekarlangit, masih ada beberapa lagi air terjun di sekitar daerah ini. Rencananya dalam waktu dekat aku mau kunjungi air terjun Kalipancur. Seperti apa? Tunggu ceritaku selanjutnya! Salam traveler! 

Selasa, 28 Februari 2017

Lagu Masa Lalu (16) : Scarlet Ribbons


I peeked in to say goodnight
When I heard my child in prayer
"And for me, some scarlet ribbons
Scarlet ribbons for my hair"

All our stores were closed and shuttered
All the streets were dark en bare
In our town, no scarlet ribbons
Scarlet ribbons for her hair

Through the night my heart was aching
Just before the dawn was breaking
In our town, no scarlet ribbons
Scarlet ribbons for her hair

I peeked in and on her bed
In gay profusion lying there
Lovely ribbons, scarlet ribbons
Scarlet ribbons for her hair

If I live to be a hundred
I will never know from where
Came those lovely scerlet ribbons
Scarlet ribbons for her hair



Scarlet ribbons, pita berwarna merah menyala, lambing kasih sayang dan doa yang terjawab. Sebuah kisah unik terekam dalam lagu ini.
Ceritanya, suatu malam, seorang ayah tidak sengaja mengintip anaknya berdoa. Didengarnya sang anak menginginkan pita merah untuk hiasan rambutnya. Bergegas, sang ayah keluar rumah, ingin membelikan pita itu. Sayang, karena sudah larut malam, toko-toko sudah tutup. Ia pun sedih karena tidak bisa memenuhi keinginan sang anak.
Tapi pagi harinya, ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Sebuah pita merah tergeletak di tempat tidur sang anak! Padahal sang anak masih tidur! (btw, jangan berpikir negative dulu dengan kata “gay profusion”, karena ini adalah ungkapan bahasa Inggris yang berarti sesuatu yang mencolok)
Lantas, dari mana pita merah itu? Apakah ada orang lain yang juga mendengar doa sang anak? Ataukah ini suatu mujizat? Saking herannya, sang ayah sampai berkata “Kalaupun saya hidup sampai seratus tahun, saya tidak akan tahu dari mana datangnya pita merah itu”.  Meski tidak diceritakan kejadian selanjutnya, tapi sang anak pasti akan merasa senang dan bersyukur.
Ya, inilah kekuatan doa!
Adapun lagu ini adalah ciptaan Evelyn Danzig dan Jack Segal dari Amerika Serikat pada tahun 1949. Awalnya dinyanyikan oleh Jo Stafford. Selanjutnya, lagu ini banyak disukai dan direkam oleh banyak penyanyi, Versi paling terkenal adalah yang dibawakan band The Cats pada tahun 1969. 

The Cats, band asal Belanda

Link video:


Selasa, 31 Januari 2017

Djeladjah Djaloer Spoor Mertoyudan - Blabak : Membuka Memori, Menguak Tragedi

Setelah semalam diguyur hujan lebat, pagi itu suasana Magelang cukup cerah. Aku mengayuh sepedaku menuju area Kuliner Mertoyudan. Ya, hari ini komunitas Kota Toea Magelang mengadakan acara bertajuk Djeladjah Djaloer Spoor 5. Rencananya, rute yang akan kami lewati sejauh 10 km, mulai dari Stasiun Mertoyudan hingga Stasiun Blabak.
Oh ya, perjalananku kali ini spesial, karena aku ditemani sahabatku yang paling imut, David. Aku berhasil meyakinkan dia buat ikutan, biarpun semalam dia sempat mau batal karena kota Salatiga hujan deras. David pun mengajak sepupunya, namanya Citra.

Bersiap jelajah : aku, Citra dan David
Tepat jam 08.00, bersama 112 peserta lainnya, kami berangkat menuju Stasiun Mertoyudan. Letaknya  di tepi Jalan Raya Magelang-Jogja, nggak jauh dari Kuliner Mertoyudan tadi. 
Bangunan stasiun ini masih berdiri kokoh. Masih terlihat ciri bangunan bergaya tahun 1950-an, yaitu lubang angin yang besar. Sejak ditutupnya jalur kereta api Magelang-Jogja, tempat ini sempat digunakan sebagai kantor PDAM, sebelum akhirnya tidak difungsikan lagi. Oo… tapi kami harus cukup puas melihat bagian depan. Pintu stasiun terkunci rapat dan nggak berpenghuni.
Koordinator komunitas, Mas Bagus menunjukkan beberapa foto kenangan stasiun-stasiun di Magelang. Para peserta pun mendengarkan penjelasannya dengan seksama. Aku mengabadikan momen dengan kamera HPku, sementara David menyaksikan di belakangku. Citra? Wow, dia antusias banget merekam penjelasan dari mas Bagus!

Bangunan Stasiun Mertoyudan, bergaya tahun 1950-an

Mas Bagus (pegang toa), sedang menjelaskan sejarah kereta api di Magelang
Jalur kereta api Magelang-Jogja adalah jalur bersejarah yang dibangun sekitar tahun 1893. Dan Stasiun Mertoyudan ini adalah salah satu stasiun utama, khususnya untuk daerah Kabupaten Magelang.
Di kota Magelang sendiri, stasiun terbesar adalah Stasiun Kebonpolo. Dari sinilah kereta api tenaga uap (yang dalam bahasa Jawa disebut sepur kluthuk), mengawali perjalanan menuju Jogja. 1 km dari daerah itu ada Halte Alun-alun, dan berikutnya adalah Stasiun Magelang Pasar, yang kini menjadi Pertokoan Rejotumoto. Dari situ, jalur terus bersambung menuju Stasiun Mertoyudan yang kami kunjungi ini.
Sebenarnya, sebelum Stasiun Mertoyudan, terdapat Halte Banyurojo, yang disebut juga Stasiun Lembah Tidar. Tapi stasiun kecil ini hanya diperuntukkan bagi penumpang dari Akademi Militer, khususnya para taruna yang akan pergi ke Jogja. Keretanya pun khusus, namanya Taruna Ekspres.
Menariknya, zaman dulu, jalur kereta api ini cuma punya satu lajur rel. Jadi tidak ada yang namanya persilangan. Kereta yang akan menuju Jogja wajib menyesuaikan jadwal dengan kereta dari arah sebaliknya. Akibat kondisi ini, pernah terjadi kecelakaan mengerikan. Seperti apa? Nanti akan dijelaskan.
Sayangnya, jalur ini ditutup pada tahun 1976, akibat ambruknya Jembatan Krasak di daerah Tempel. Penyebab lainnya, jumlah penumpang yang menurun karena jalan raya yang semakin ramai. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, sepur kluthuk sudah diganti dengan kereta diesel.
Berhubung hari mulai siang, kami tidak berlama-lama di Stasiun Mertoyudan. Kami berjalan lagi ke selatan, memasuki perkampungan yang dinamakan Pasar Anyar. Baru tahu aku, kalau jalur kereta di daerah ini bukan lurus mengikuti jalan raya sekarang, tapi belok-belok menyesuaikan dengan kontur tanahnya. Kalau lurus, bahaya buat kereta api, soalnya di jalan raya sana lahannya agak menurun.
Di daerah Pasar Anyar ini masih ditemui sisa-sisa rel kereta, biarpun sebagian besar sudah terpendam. Ada juga yang menggantung di permukaan karena tanahnya amblas. Tiang sinyal dan lampu perlintasan juga masih berdiri di antara kabel listrik.

Lampu perlintasan dan bekas jalur rel

Rel kereta yang menggantung di permukaan tanah
Kembali ke jalan raya, kami menyeberang ke arah Danurejo. Jalan beberapa ratus meter dari situ, lalu berbelok ke area persawahan! Nggak ada jalan lain, kami harus lewat satu persatu di pematang sawah, di antara tanaman padi yang lebat. Beberapa kali ada insiden terpeleset, termasuk aku sendiri. Hehehe… untung nggak luka. Cuma karena takut jatuh lagi, aku semakin hati-hati pegangan daun padi. Maaf ya pak tani, padinya kupetik lebih awal.
Setelah hampir nyerah, sampailah aku dan kawan-kawan ke sebuah halaman rumah, yang ternyata eks rumah dinas kepala stasiun. Pemilik rumah, Bu Sri, sudah menyediakan hidangan buat rombongan kami. Ada ketan lupis, kacang rebus dan ubi rebus yang langsung kami serbu.  

Rumah dinas Kepala Stasiun Blondo
Ketan lupis, ubi rebus dan kacang rebus. Khusus dibuat oleh Bu Sri untuk KTM
Sambil menikmati hidangan, kami beranjak sebentar ke Stasiun Blondo. Lagi-lagi perkiraanku tentang Stasiun Blondo salah. Bangunan stasiun ini ternyata berada di tengah-tengah perkampungan, tepat di samping rumah Bu Sri, bukan di tepi jalan raya seperti dugaanku dulu.
Terpampang sebuah bagunan yang masih asli, baik dinding maupun kayu-kayunya. Saat ini dimanfaatkan sebagai rumah tinggal oleh Pak Muhni Atmaja, mantan pegawai Pemkab Magelang. Sebagian bangunan lagi digunakan untuk usaha pijat tradisional. Menariknya, Pak Muhni adalah salah satu saksi hidup kecelakaan kereta api di jembatan Blondo pada zaman Jepang. Dan Bu Sri yang tadi menjamu kami adalah cucu dari masinis yang juga menjadi korban dalam tragedi itu.
Dengan ramah Pak Muhni menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu.
Trayek kereta api di Magelang dibangun sekitar tahun 1893. zaman dulu dikelola oleh Nederland Indie Spoorweg (NIS). Jalur sepanjang 120 km ini membentang dari Jogja hingga Kedungjati, Kabupaten Grobogan. Sesudah itu, pada tahun 1905, dibuat juga jalur Secang-Parakan.
Pak Muhni sempat menunjukkan buku Kembang Setaman terbitan tahun 1935 yang menceritakan perjalanan dari Magelang ke Jogja. Tapi karena berhuruf Jawa (hanacaraka), beberapa dari kami sulit membacanya.
Pada tahun 1943, ketika tentara Jepang mulai masuk ke Magelang, terjadilah misscomunication jadwal antara Stasiun Mertoyudan dengan Stasiun Blabak, sehingga kereta api dari arah berlawanan sama-sama berangkat. Padahal waktu itu tidak ada jalur persimpangan. Akibatnya terjadilah tabrakan kereta api di Jembatan Blondo. Korban pun berjatuhan dalam jumlah besar. Tragisnya, di antara korban ada rombongan pelayat yang membawa jenazah seorang warga Tionghoa. Ada juga gerbong pengangkut beras yang turut hancur dan muatannya berserakan.
Sejak peristiwa itu, dibuatlah stasiun baru di daerah Japunan, yang khusus melayani persilangan antar kereta.  Sementara, di daerah Secang, dibuat tiga persimpangan.
Mas Bagus juga menunjukkan beberapa foto repro tentang kecelakaan tadi. Foto-foto tersebut diambil setelah semua korban sudah dievakuasi. Namun karena keadaan sudah berubah, sulit diketahui arah utara-selatan dari foto itu. Terlihat jelas gerbong kereta yang hancur dan tercebur ke Sungai Elo, serta warga sekitar yang melihat dari atas jembatan. Ada juga tim penyelamat yang menyisihkan karung-karung beras yang berserakan.

Pak Muhni  menjelaskan tentang kereta api tempo dulu
Mas Bagus menunjukkan foto kecelakaan kereta api

Sebagian "kerabat" KTM di depan Stasiun Blondo


Kapan lagi bisa foto di tempat seperti ini?
Setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Muhni dan Bu Sri, kami melanjutkan perjalanan. Beruntung, kali ini jalan cukup landai jadi kami nggak perlu “jatuh bangun”. Tapi ya, lumayan jauuuh juga. Di tengah perjalanan, kami menemui sebuah pemandangan langka, yaitu tempat pembuatan batu bata. Sebuah “dapur api” sedang melakukan pembakaran batu bata. Prosesnya dilakukan secara tradisional, menggunakan kayu bakar. Benar-benar menarik! Nggak pakai lama, tempat ini langsung jadi arena selfie buat kami... wkkwkwkwk.

"Daput api", tempat pembakaran batu bata


Jalur kereta di daerah ini sebenarnya berbentuk letter U, yang nantinya berakhir di jembatan Sungai Elo. Namun, kami tidak melewatinya secara utuh, atau bisa dibilang cuma lewat pinggirannya saja, soalnya medannya sangat berat. 
Berbelok ke Kampung Kauman, di sana kami akan menemui narasumber lain, yang juga saksi mata dari kecelakaan tadi, namanya Mbah Khomsin.
Maka, di halaman rumah Mbah Khomsin yang terletak sekitar 100 meter dari jembatan Sungai Elo, kami berhenti. Sejenak menyelonjorkan kaki sambil mendengarkan cerita beliau.

Di depan rumah Mbah Khomsin

Mbah Khomsin adalah warga asli daerah ini. Beliau menjelaskan tentang kronologis kecelakaan itu. Di mana suara tabrakan kereta terdengar sampai jauh, muatan kereta yang terpaksa harus diangkat dengan katrol, hingga organisasi pemuda zaman Jepang yang menjadi sukarelawan menolong para korban. Sayangnya, karena aku sudah lelah, lagipula kurang paham bahasa Jawa kromo yang beliau gunakan, aku sulit "menangkap" cerita selanjutnya.
Selepas dari rumah Mbah Khomsin, kembali kami harus blusukan ke kebun yang lebat. Jarak yang dekat terasa makin jauh aja. Sampai-sampai aku berpikir, kenapa ya orang zaman dulu membangun rel kereta di tempat seperti ini? Hehehe... Untunglah, tak lama kemudian jalan raya kembali menyambut kami. Ternyata kami ada di dekat jembatan Sungai Elo, yang biasanya aku lewati kalau menuju ke Jogja. Ada tiga jembatan di jalan ini. Dua jembatan baru, dibangun beberapa tahun lalu untuk lalu lintas jalan raya. Satu lagi, letaknya lebih rendah adalah bekas jembatan kereta api. Masih kokoh, biarpun besi-besinya sudah berkarat. Dan jembatan ini adalah saksi bisu dua kecelakaan besar. Pertama, kecelakaan kereta api yang dijelaskan tadi. Kedua, tahun 1980-an pernah juga terjadi kecelakaan bus dengan minibus di tempat ini. Kecelakaan yang kedua ini juga cukup mengerikan, sampai-sampai di dekat sini pernah dibuat monumen kecelakaan dengan jargon "Jangan Menyusul Musibah Kami".

Jembatan kereta api di atas Sungai Elo. 

Usut punya usut, ternyata lokasi kecelakaan kereta itu bukan tepat di jembatan Sungai Elo ini, tapi beberapa puluh meter ke selatan. Ya, sebuah jurang yang kini banyak ditumbuhi pepohonan dan rumput lebat adalah tempatnya. Sebagian dari kami, termasuk David dan Citra, memberanikan diri turun ke bawah. Aku? Seperti biasa aku nggak bisa melawan acrophobia, jadi aku dengan beberapa peserta lain menunggu di atas, tepatnya di depan rumah seorang warga, namanya Mas Sodik. Sebenarnya Mas Sodik bukanlah saksi peristiwa itu, tapi karena sudah lama tinggal di sini, beliau tahu banyak.

Di jurang inilah lokasi kecelakaan itu

Di sekitar situ,  aku lagi-lagi menemukan pemandangan langka. Sawah dengan padi yang sudah menguning dan ladang, yang aku nggak tahu tanaman apa, terlihat hijau menyejukkan mata. Maka, selagi rombongan peserta duduk-duduk di depan rumah Mas Sodik, aku bersama David dan Citra asyik berfoto sambil bersantai.

Padi yang telah menguning, siap dituai

Benar-benar melintas alam

Jembatan rel tua yang sudah lapuk




Ayo jalan lagi! Rombongan berbelok ke belakang rumah Mas Sodik. Dan sekali lagi, kami harus lewat kebun pisang dan sawah. Oo... lemas aku. Rupanya jalur kereta memang berputar ke sini, terbukti dengan adanya rel dan jembatan yang sudah lapuk di antara rerumputan. Saking ekstrimnya sampai aku beberapa kali harus ngesot atau pegangan rumput. Tapi biarpun beberapa kali hampir jatuh, lumayan puas juga, karena aku bisa lihat suasana pedesaan. Bapak dan ibu tani yang sedang memanen padi. Hm... mengingatkanku pada sebuah lagu.

Waktu potong padi di tengah sawah
Sambil bernyanyi riuh rendah
Memotong padi semua orang
Sedari pagi sampai petang
Memotong padi sambil bersuka
Tolonglah kami bersama-sama

Terima kasih Bapak dan Ibu Tani

Pemandangan langka ini tidak boleh dilewatkan! Sambil bersenandung, aku menjepretkan kamera beberapa kali. Sayangnya, smartphoneku kehabisan batere, jadi aku terpaksa memotret pakai HP lamaku. Biarpun asyik, tetap harus hati-hati, karena jalan sempit dan melewati saluran irigasi.

Potong padi ramai-ramai di sawah.
Ani-ani dikerjakan semua
Bila tiba waktunya
Marilah kita pulang bersama


Memanen padi tanpa kenal lelah

Jalan agak terjal waktu kami sampai di depan rumah penggergajian kayu. Kalau kita pernah lihat meja atau patung yang terbuat dari akar pohon, di sinilah salah satu lokasi pengolahannya. Suasananya sangat alami, di tengah rimbunan rumput.

David di depan rumah pengolahan kayu


Stasiun Blabak
Syukurlah, nggak lama kemudian, kami balik lagi ke Jalan Raya Magelang-Blabak. Sesudah istirahat sebentar di Indomaret, kami menuju Stasiun Blabak.
Stasiun Blabak letaknya 1 km dari situ. Sebuah bangunan dari tahun 1898, yang tidak terlalu besar, dengan dinding dilabur semen, dan pintu serta jendela bergaya tempo dulu. .Lokasinya sangat strategis, karena sejajar dengan pabrik kertas Blabak yang terkenal itu. Sisa rel masih membentang di pinggir jalan raya, menunjukkan betapa kuatnya jalur kereta zaman dulu.
Saat ini, PT KAI menyewakan tempat ini sebagai warung makan.   Tak banyak yang bisa dilihat di sini, jadi kami langsung menuju destinasi terakhir : Pemandian Mudal. Mudal dalam bahasa Jawa berarti meluap.






Ya, ternyata 1 km di belakang Stasiun Blabak, berdiri sebuah pemandian. Tempat ini adalah sebuah mata air yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Terdiri dari satu kolam besar dan satu kolam kecil. Dilengkapi juga sebuah bangunan semacam pendopo, sehingga pengunjung bisa beristirahat. Eits, tapi jangan salah, air kolamnya bukanlah air hangat belerang seperti di Candi Umbul. Justru, di sini airnya sejuk.

Pendopo depan Pemandian Mudal
Kolam utama Pemandian Mudal

Maka, sambil menikmati hidangan spesial kupat tahu Blabak, kami asyik bersantai di tepi kolam. Siang itu, terlihat beberapa anak kecil asyik berenang. Tapi rombongan kami tidak ada yang berani mencebur, cukup merendam kaki saja.
Bukan main sejuknya saat aku mencelupkan kakiku. Rasa pegal langsung hilang. Pengin mandi sebenarnya, tapi kuurungkan, selain malu juga karena airnya lumayan dalam, hampir 3 meter. Ikan lele berukuran kecil terlihat hilir mudik. Wah, seandainya tempat ini dikembangkan seperti Umbul Ponggok di Klaten pasti keren banget!
Tak lama, David dan Citra mengajakku pulang. Maka, kami pun bersiap meninggalkan tempat itu. Di jalan, kami asyik bercerita dengan pengalaman tadi. Pengalaman pertama buat kedua temanku itu, jalan kaki sejauh 10 km! Sambil belajar sejarah lagi. So, sampai jumpa Kota Toea Magelang! Kapan-kapan lagi ya...

Thank you Kota Toea Magelang! 

Lagu Masa Lalu (30) : Pretty Little Baby

Pretty little baby (yeah, yeah) Pretty little baby (yeah, yeah) Pretty little baby, you say that maybe You'll be thinkin' of me, and...