Minggu, 09 Agustus 2015

Solo Travelling (3) : Solo-Wonogiri dengan Railbus Batara Kresna

Wonogiri, Gunung Gandul
Pusat jamu Air Mancur
Dulu gersang, s’karang makmur
Berkat Waduk Gajahmungkur
Wonogiri, Gunung Gandul

Syair lagu di atas mengingatkan aku saat masih duduk di bangku SD. Ya, lagu “dolanan” yang dinyanyikan dengan irama lagu Tanjung Perak itu sering dinyanyikan saat latihan Pramuka. Ceritanya tentang daerah Wonogiri, kabupaten di selatan Jawa Tengah. Tapi pengalamanku kali ini bukan tentang lagu itu lho, tapi beneran tentang kunjunganku ke Wonogiri.
Bagaimana ceritaku bisa sampai ke Wonogiri? Hari ini, aku yang masih dalam masa penantian ujian harus ditinggal ortu pergi ke Banjarnegara untuk acara gereja. Nah, daripada merasakan home alone (gak takut sih sebenarnya, cuma kesepian aja), aku rencanakan solo travelling lagi.
Awalnya aku di antara dua pilihan (kayak judul sinetron aja). Pilihan pertama naik KA Kalijaga jurusan Semarang-Solo lalu jalan-jalan ke Solo. Intinya karena aku pengin naik kereta lewat Grobogan. Pilihan kedua, naik KA Prameks jurusan Jogja-Solo, disambung Railbus Batara Kresna ke Wonogiri. Ternyata, hatiku lebih kuat memilih yang kedua. Aku penasaran dengan moda transportasi baru yang diresmikan oleh Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, pada Maret 2015 ini. Railbus atau bus rel ini diaktifkan untuk mempermudah transportasi Solo-Wonogiri, sekaligus menghidupkan kembali jalur kereta api di daerah itu.
Seperti biasa, dari mbah google, aku ketahui alur perjalanan yang harus kutempuh. Railbus Batara Kresna berangkat dari Stasiun Purwosari, Solo jam 10.00. Jadi setidaknya aku harus naik KA Prameks dari Stasiun Tugu, Jogja yang jam 07.35.
Pagi itu aku betul-betul sport jantung. Jam 6 pagi, bus yang kutumpangi baru berangkat dari Magelang. Jam 07.05 baru sampai di Terminal Jombor. Sempat terpikir buat naik taksi ke stasiun, tapi takut uangku nggak cukup. Akhirnya dengan terpaksa naik bus Trans Jogja. Hampir tiap menit aku lihat jam, andai saja bus ini bisa terbang… eh jangan ding… bisa-bisa bukannya sampai ke Stasiun Tugu malah sampai ke Parangtritis.
Tepat jam 07.30 sampai di depan Stasiun Tugu, aku buru-buru lari ke stasiun. Tapi dasar sial, begitu mau masuk gerbang, para petugas menghentikan setiap orang yang mau masuk. Bukan karena ada razia, tapi karena ada kereta barang lewat. Aku yang sudah lari-lari mau nggak mau harus nunggu. Lebih dari 10 gerbong tuh kereta, jadi cukup menguji kesabaran. Dan yang aku takutkan sejak tadi terjadi di depan mata. KA Prameks yang kuharapkan sudah melaju kencang di rel sebelah sana! 
Tapi bukan Robert namanya, kalau nggak nekat cari alternatif lain. Dengan pedenya aku menuju ke loket. Biar deh, kalau nggak ada kereta ke Solo, kereta jurusan Madiun atau Surabaya juga boleh , asal nggak terlalu mahal. Uang, nanti bisa ambil di ATM kalau kurang, pikirku nakal. Aku tanya ke petugas loket.

Aku : Mbak, kereta yang ke Solo ada jam berapa?
Petugas : Ada Joglo Ekspres jam 08.15 tapi beli tiketnya bukan di sini mas, belinya di pintu selatan Jalan Pasar Kembang.
Aku : Kalau dari sini arahnya sebelah mana, mbak?
Petugas : Ini keluar sampai rel, belok kanan, lurus lalu belok kanan lagi.
Aku : Oke, makasih mbak.

Aku keluar dari stasiun, berjalan ke tempat yang ditunjukkan mbak tadi. Pas lewat rel, ups, tanpa diduga, di kejauhan ada kereta berjalan siap menerkam. Ekstrim banget, aku cepat-cepat lompat pagar pembatas keluar stasiun. Ya, biarpun ada humor yang mengatakan ketabrak kereta itu nggak terasa sakit, tapi jangan coba-coba lah ya.
Berjalan terus lewat Jalan Pasar Kembang, daerah yang sering dicap negatif sebagai tempat “begituan”. Tapi toh, nyatanya aku lewat dengan mulus, nggak ada gangguan sedikit pun, sampai ke pintu selatan stasiun. Ternyata sejak 7 Juli 2015, penjualan tiket kereta lokal pindah ke  pintu selatan ini.

Sesudah beli tiket seharga Rp. 20.000 aku langsung ke tempat pemeriksaan tiket, lalu naik ke kereta. Dari nomor tiketnya sih gerbong 1 kursi 15 A. Aku sempat bingung cari tempat itu, sampai harus tanya ke petugas. Eh, tapi dasar norak, aku nggak bisa bedain gerbong depan belakang. Alhasil, bapak petugas itu musti 3 kali jelasin. Maaf ya pak.
Dan kereta berangkat. Jes.. jes.. jes… bukan jug gijag gijug, soalnya ini kereta pagi…wkwkwkwk. Agak lama, aku mulai pusing. Ternyata kalau naik kereta itu lebih enak hadap depan daripada hadap belakang. Untungnya, nggak lama, jam 09.10 kereta udah sampai di Stasiun Purwosari.

Begitu turun, aku ke toilet dulu. Gratis lho toilet di sini, nggak usah bayar. Habis itu, cari loket tiket KA Perintis alias Railbus Batara Kresna. Cukup Rp. 4.000 buat satu orang, betul-betul murah meriah. Tapi eit.. aku baca tiketku kok “tanpa tempat duduk”, berarti aku musti berdiri nanti?
Masih tunggu sekitar 40 menit, aku keliling keliling dulu di stasiun. Ada seorang ibu, pemilik warung makan, menyapaku dengan keramahan khas Solo. “Monggo mas, mampir dulu, mau makan soto ayam atau pecel? Minumnya ada kopi, teh, es buah.”. Kelemahlembutan sang ibu membuatku tergoda (bahasanya bro..). Aku putuskan mampir, tapi karena sudah makan nasi di rumah, aku cuma pesan segelas kopi dan mencomot dua potong tahu goreng.
Setelah membayar (ya iyalah, kan beli bukan dikasih!), aku kembali ke peron stasiun. Dan Railbus Batara Kresna pun datanglah. Wow, bagus banget keretanya. Kereta ini cuma terdiri dari 4 gerbong. Jadi kupikir wajar lah, kalau pas ramai kita nggak dapat tempat duduk. Karena tiketku tadi juga tertulis tanpa tempat duduk, aku sengaja duduk di peron dulu, nanti kalau udah kurang 5 menit baru naik.



Tapi perkiraanku rupanya salah besar. Begitu masuk ke sebuah gerbong, kondisinya betul-betul sepi. Petugasnya malah mempersilahkanku duduk di “tempat terhormat”, alias bangku yang menghadap ke depan, biar enak, gitu katanya. Dan beberapa penumpang naik. Akhirnya, sampai berangkat, gerbong yang kutempati cuma berisi 8 orang : aku sendiri, seorang cowok, seorang cewek, tiga ibu dan dua anak kecil.
Aku sempat mengobrol dengan salah satu ibu. Hari itu dia bermaksud mengajak cucunya naik kereta bersama beberapa saudara. Berangkat dari Sukoharjo, sampai di Solo, habis itu balik lagi ke Sukoharjo. Ternyata nggak sedikit warga yang menggunakan transportasi ini untuk sekedar jalan-jalan PP alias pulang pergi, apalagi dengan adanya railbus ini jalur KA Solo-Wonogiri diaktifkan lagi sesudah absen beberapa tahun. Railbus ini kadang melewati jalan yang ramai, salah satunya Jalan Slamet Riyadi. Jadi nggak melulu kita lihat pemandangan desa atau hutan. Karena lewat dekat jalan raya, nggak heran kalau kecepatannya cuma sekitar 10-30 km per jam. Kadang-kadang agak ekstrim juga, ada rumah-rumah tepat di pinggir lintasan kereta, atau lewat jembatan layang di atas kota.
Railbus 3 kali berhenti buat naik turun penumpang : Stasiun Solo Kota, Stasiun Sukoharjo dan Stasiun Pasarnguter. Barulah kemudian perhentian terakhir di Stasiun Wonogiri. Sepanjang perjalanan, nggak banyak penumpang naik. Kebanyakan orang tua yang ingin mengajak jalan-jalan anaknya. Jadi suasana kereta diramaikan oleh keusilan anak-anak… hahaha.. Anak-anak tuh kadang suka manjat pegangan di kereta, atau lari-larian di dalam gerbong. Untungnya, saat itu cuma ada dua anak di dekatku, jadi aku nggak merasa terganggu.

Sampai di Wonogiri tepat jam 11.45. Baru aja turun, aku langsung buru-buru beli tiket lagi. Tapi karena masih setengah jam, aku cari makan siang dulu. Pilihanku jatuh pada warung makan di seberang stasiun, aku pesan nasi pecel dengan telur ceplok. Pecelnya lumayan bikin aku terengah-engah karena puedes, tapi aku udah pesan penawarnya : es teh.
Oh ya, Stasiun Wonogiri ini bukan hanya melayani tiket KA Batara Kresna saja lho. Bisa juga pesan tiket KA lain yang ada di Stasiun Solo. Di sebelah barat stasiun ada terminal bus kecil, yang kata orang Jawa disebut bus engkel. Di sebelah utara adalah Pasar Wonogiri. Sayangnya, aku nggak bisa jelajah lebih jauh, tinggal 15 menit, bisa-bisa ketinggalan. Kalau ketinggalan, pulangnya gimana ya?

Aku naik lagi ke railbus. Gak pake lama, railbus jalan lagi. Kembali penumpangnya kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak. Tapi kali ini minta ampun deh. Anak-anaknya rame banget, lari kesana kemari. Eh, ibu-ibunya malah pada ngerumpi. Mantabs ributnya. Biar aku nggak dipusingkan sama suara mereka, aku pasang earphone dengerin lagu. Dan biar lebih sesuai sama suasana kota Solo, aku sengaja putar lagu campursari. Alhasil, di kupingku, suara Didi Kempot bersahut-sahutan dengan suara ibu dan anak itu. Hihihi…
Tiba di stasiun Purwosari lagi! Terima kasih Railbus Batara Kresna! Jam 2 siang sekarang. Artinya aku cuma punya waktu 7 menit lagi buat naik KA Prameks ke Jogja. Aku segera ke toilet dan beli tiket seharga Rp. 8.000. Dan, seperti tadi di tiketku tertulis “tanpa tempat duduk”. Tapi pas aku naik ke kereta, toh tetap ada tempat duduk kosong. Kalau bisa duduk, ngapain berdiri? Keretanya sih nggak sebagus Joglo Ekspres, apalagi Batara Kresna, tapi lumayan enak juga kok.
Sekitar jam 15.15, aku sudah menjejak Stasiun Tugu lagi. Sebenarnya udah waktunya pulang. Tapi belum puas, aku pengin jalan-jalan di Malioboro dulu. Buatku, kota Jogja memang sangat berkharisma, biarpun udah ratusan kali aku ke sini, tapi nggak pernah bosen. Ya, biarpun sore itu perlu bersabar dengan antrean kendaraan pulang kerja yang bikin aku susah nyeberang. Beberapa tukang ojek menawarkan jasa, tapi aku tolak karena Malioboro nggak jauh lagi.

Di Malioboro,ya, sekedar JJS (jalan-jalan sore) aja, nggak beli apa-apa tapi udah puas. Tak jarang ketemu rombongan bule yang lalu lalang dari Malioboro sampai titik nol. Bahkan, sampai menyeberang ke Bank Indonesia pun bareng dengan serombongan keluarga bule. Aku tetap jalan aja, tanpa sempat menyapa “Hello mister”.


Barulah perjalanan hari ini kuakhiri di depan Taman Pintar. Aku segera mendekati halte Trans Jogja, untuk kemudian pulang ke Magelang via Terminal Jombor. Sampai jumpa!

Senin, 22 Juni 2015

Penyanyi Masa Lalu : Alfian


Kan kuingat s'lalu, kan kukenang s'lalu
Senja indah, senja di Kaimana
Seiring surya meredupkan sinar
Dikau datang ke hati berdebar
............................................




Alfian, atau nama lengkapnya Alfian Harahap, ada juga yang menyebutnya Alfian Nasution . Itulah nama penyanyi pria yang tenar pada tahun 1960-an ini. Mungkin bagi generasi zaman sekarang, nyaris tak mengenal siapa beliau. Bahkan, saat aku share nama beliau di sebuah grup Facebook, seorang teman bertanya-tanya. Tapi cobalah tanya ke ayah ibu atau kakek nenek kita, mereka pasti kenal penyanyi yang satu ini.
Alfian lahir di Binjai, Sumatra Utara pada 27 April 1943 dan meninggal di Jakarta pada 11 Januari 1992. Memulai karir bermusik sekitar tahun 1964 lewat album Senja di Kaimana, disusul album-album selanjutnya, termasuk Semalam di Cianjur yang lagunya beliau ciptakan sendiri, semakin melambungkan namanya di jagat musik Indonesia saat itu.  Sayang, namanya meredup pada tahun 1970-an, ketika bermunculan grup musik seperti Koes Plus dan Panbers.
Lagu-lagunya kebanyakan menggambarkan hidup dan cinta di tengah kesederhanaan namun sangat mengena di hati seperti Kasih Ibu, Kisah di Bulan April, Sahlawati, Anak Desa, Suling Bambu, Relakan, Hadiah Ulang Tahun hingga Gadis Pujaan.
Ada juga yang mengangkat kisah cinta dengan mengambil setting beberapa tempat di Indonesia seperti Senja di Kaimana, Semalam di Cianjur, Sebiduk di Sungai Musi, Semalam di Kota Bogor dan Sungai Kahayan. Semua beliau nyanyikan dengan irama pop-country nan apik, mengingatkan pada Pat Boone, penyanyi Amerika yang terkenal pada masa itu.
Satu lagu yang bikin aku terkesan adalah Anak Desa. Sampai-sampai lagu ini aku bawakan saat ikut audisi X Factor Indonesia. Lagu ini menceritakan seseorang yang mengembara di perantauan. Di tengah hidupnya yang sulit, ia tetap tabah. Dan ia berjanji, kelak akan berkumpul kembali dengan sanak keluarga. Mengharukan banget......
Lagu lainnya, Senja di Kaimana, menceritakan kenangan akan kisah cinta di Kaimana, Papua dalam suasana sunset yang sangat mungkin lokasinya di pantai. Kedatangan seorang kekasih yang memberi usapan lembut bagi pribadi yang terluka. Sungguh romantis. Apalagi ternyata, lagu ini diciptakan oleh prajurit Trikora yang saat itu berjuang dalam Pembebasan Irian Barat. Cinta kasih tak lekang walau di tengah gejolak konflik yang memanas.

Nah, itulah sepenggal ceritaku tentang Om Alfian. Adakah penyanyi masa kini yang mau membawakan lagunya? 

Kamis, 18 Juni 2015

Solo Travelling (2) : Puri Maerokoco


Aku pernah baca di sebuah majalah tentang Puri Maerokoco, letaknya dekat PRPP, kawasan Puri Anjasmoro, Semarang. Kabarnya di sini adalah “Taman Mini” nya Jawa Tengah.
Kamis, 30 April 2015 sepulang dari kampus di Salatiga, aku berangkat ke Semarang. Sebenarnya tujuanku kali ini adalah Pantai Marina Semarang, tapi karena aku sampai di Semarang sudah kesorean, juga masih perlu jalan kaki lagi, aku ubah haluan aja ke Puri Maerokoco.
Naik bus Salatiga-Semarang, turun di Tugu Muda, lanjut angkot ke Karangayu. Nah, di sini aku sempat bingung mau ngalor atau ngidul. Tanya sana sini, akhirnya aku naik bus jurusan PRPP-Klipang. Lumayan cepat jalannya, tapi nunggunya minta ampun lamanya.

Turun di depan PRPP, lagi-lagi aku kayak orang hilang, nggak tahu musti jalan ke mana. Ke kanan salah, ke kiri malah tambah salah. Apalagi udara panas di tengah kendaraan lalu lalang plus aroma sungai yang jauh dari harum bikin konsentrasi terbelah.  Tambahan lagi jalanan yang sempit tanpa trotoar bikin aku harus ekstra hati-hati. Tubuhku terguncang dihempas debu jalanan, begitu kata Ebiet G. Ade. 
Untunglah aku temukan plang Puri Maerokoco. Aku langsung ikuti arah, sampai di sebuah gerbang. Langsung menuju tempat penjualan tiket. Harganya 7000 untuk hari biasa. Kalau hari libur, aku agak lupa, 9000 kalau nggak salah.
Masuk ke Puri Maerokoco, terdapat denah lokasi. Urutan anjungan sengaja dibuat berdasarkan peta Jawa Tengah yang sebenarnya. Jadi misalkan kita ada di Kabupaten Semarang, sebelah baratnya adalah Kabupaten Kendal, begitu seterusnya.


Setiap anjungan terdiri dari rumah adat dan symbol dari masing-masing kabupaten. Aku masuk mulai dari anjungan Kabupaten Wonogiri. Tak jauh dari situ ada anjungan Kabupaten Sragen dengan replika manusia purba dan gajah purba Sangiran. Disusul anjungan Kota Solo dengan bangunan gaya keraton.




Memutar terus, ke anjungan Kabupaten Boyolali dengan patung orang memerah susu sapi. Di utaranya ada anjungan Kabupaten Purwodadi dengan replika Bledug Kuwu dan petani garam. Kabupaten Jepara dengan patung Ibu Kartini, Kabupaten Kudus dengan replika Masjid Menara Kudus, Kabupaten Demak yang terkenal sebagai penghasil belimbing dan seterusnya.




Yang sangat kusayangkan, tempat ini sepi dari pengunjung. Mungkin karena bukan hari libur. Hanya beberapa anak muda lalu lalang.  Ada yang memegang catatan. Kalau aku perhatikan, sepertinya mereka mahasiswa yang sedang kerjakan tugas atau skripsi.
Beberapa rumah adat dimanfaatkan sebagai warung kelontong atau kantor. Tapi ada juga yang menyimpan benda-benda khas. Sayang, aku nggak sempat masuk, agak sungkan karena keadaan sepi banget.
Aku sempat heran dengan anjungan Kabupaten Temanggung, bangunannya rusak tinggal kerangka. Belakangan aku cari tahu dari om google, anjungan ini terbakar beberapa bulan lalu. Aduh…




Kuakhiri perjalananku di anjungan Kabupaten Brebes, yang di depannya ada patung telur asin. Sebenarnya aku mau segera pulang, tapi tiba-tiba rasa haus menyerangku. Panasnya kota Semarang bikin aku dehidrasi akut. Air minum di tas tinggal sedikit lagi.
Akhirnya aku balik lagi ke anjungan Kabupaten Pekalongan. Di depannya ada penjual jus. Aku beli Pop Ice rasa leci dengan taburan chochochip dan sukade. 5000 harganya. Segarnya tiada terkira……



Aku kembali berjalan keluar. Tapi kuputuskan duduk sejenak di anjungan kotaku, Kota Magelang sambil menghabiskan minumanku. Kupandangi anjungan Kabupaten Temanggung tadi dengan heran, sudah berbulan-bulan kenapa masih dibiarkan mangkrak?
Oke cukuplah perjalanan hari ini… aku keluar dari Puri Maerokoco, naik bus ke Karangayu lalu lanjut ke Terboyo. Aku pun pulang ke Magelang dengan gembira. 

Rabu, 10 Juni 2015

Solo Travelling (1) : Pemandian Air Panas Diwak




Berawal dari membaca artikel dan blog tentang backpacker dan solo traveller, aku tertarik untuk melakukannya. Tapi karena biaya dan waktu yang terbatas, akhirnya aku cari tujuan yang dekat saja.

Setelah searching di google, aku temukan Pemandian Air Panas Diwak. Letaknya di daerah Bergas, Kabupaten Semarang. Jadi kalau dari arah selatan, sebelum Karangjati, Ungaran, di sebelah kiri ada pabrik Teh Sosro, nah di seberang pabrik itulah lokasi Desa Diwak.



Mungkin tujuanku ini bisa dibilang nekat, karena jujur saja aku nggak bisa berenang. Tapi karena mbah google mengatakan kedalaman kolam di sana nggak terlalu dalam, ya okelah. Dasarnya aku memang suka main air.
Hari Senin, 13 April 2015, sepulang dari kampus di Salatiga akhirnya aku berangkat ke Bergas. Sampai ke seberang pabrik the Sosro, ada papan penunjuk jalan ke pemandian air panas Diwak. Dari situ, aku jalan kaki sejauh 2 km. 

Sempat tanya sana sini, ternyata tempat ini mudah dicapai. Dari jalan di seberang pabrik Sosro itu, kita bisa jalan terus memasuki Desa Diwak sampai menemukan penunjuk jalan ke Pemandian Air Panas Diwak di sebelah kiri. Beloklah ke kiri , jalan sekitar 500 meter sampai ketemu gapura bertuliskan Selamat Datang di Pemandian Air Panas Diwak. Tapi belum cukup, kita lewat gapura, jalan lagi sampai kita temukan jalan menurun di sebelah kiri. Di bawah jalan menurun itulah tempatnya.


Aku yang punya penyakit takut ketinggian pun terpaksa melepas sepatu dan berjalan pelan untuk menuruni jalan tersebut. Habis mau gimana lagi, mau perosotan malu, mau lari takut jatuh. Butuh perjuangan buat aku sampai di bawah.

Sampai di bawah, kulihat ada warung kelontong dengan tempat lesehan. Sedangkan ticket box di sebelah kiri, aku pun langsung mendekat.
“Mau mandi ya mas?” tanya seorang bapak
“Ya pak” aku menjawab
“Tiga ribu mas, mau pakai loker?”
“Ya”
“Kalau pakai loker, tambah dua ribu”
Aku langsung membayar
“Kok sendirian mas?” bapak itu bertanya lagi
“Ya pak, habis dari kampus di Salatiga, coba mampir sebentar ke sini” aku terus terang aja.
“Kolamnya yang tengah ya mas, kalau yang kanan buat anak-anak”
“Tapi kedalamannya berapa pak?”
“Sama kok, satu meter”
“Oke pak”

Aku langsung menuju ke tempat loker, buka baju, simpan barang di loker, lalu nggak pakai lama langsung ke kolam. Dengan mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada, aku siap hadapi tantangan berikut ini. 
Aku pun nyebur ke kolam. Turun pelan-pelan aja, kalau langsung loncat "byur" bisa KO nanti. Rasa hangat langsung terasa. Bagian pinggir lumayan dangkal, jadi kita bisa berendam sambil duduk. Aku coba turunkan kakiku lebih dalam lagi. Astaga, dalam banget. Aku sempat deg-degan, jangan-jangan kolam ini dalamnya kayak sumur kecil. Tapi dasar nggak mau kunjunganku sia-sia, aku coba turunkan kaki sambil pegangan. Oh, ternyata nggak sedalam yang aku kira. Airnya cuma setinggi dadaku. Dasar kolam berupa batu-batu dan di bagian tengah ada semacam “jalan” ke tengah. Asyik!  Aku langsung “berenang” ke tengah. Di tengah pun airnya nggak dalam amat. Saking senangnya, aku coba beberapa gerakan renang yang pernah aku lihat.  Ya,  tapi jelas aja, tubuhku nggak bisa jaga keseimbangan, cuma bisa melayang sedikit lalu turun lagi. Biarpun nggak berani menyelam, tapi lumayan lah bisa menikmati. Kalau capek, bisa duduk sambil berendam di sudut. 



Air di kolam ini terlihat coklat kehijauan karena kandungan belerang yang konon bisa menyembuhkan penyakit kulit. Terlihat jelas gelembung-gelembung kecil pada air. Di belakang pemandian, ada sebuah sungai yang keruh dengan pepohonan dan sawah menghijau. Tapi jangan salah, air kolam bukan berasal dari sungai. Air belerang itu dialirkan langsung dari sumber mata air di dalam tanah.
Kolam di sini ada tiga, satu kolam dewasa yang kutempati saat itu, satu kolam untuk anak-anak, satu lagi kolam kecil buat menampung dan menyaring air dari sumbernya sebelum dialirkan ke kedua kolam. Kita dilarang berenang di kolam kecil ini, tapi bisa mengambil air dengan cara menimba. Di depan kolam ada tiga kamar mandi, satu toilet dan pancuran untuk bilas. 


Buat yang suka wisata hingar bingar, tempat ini mungkin agak membosankan. Tapi buat yang suka ketenangan dan relaksasi, tempat ini perlu dicoba.
Setelah satu jam berendam, aku segera naik untuk bilas. Aku sengaja memilih bilas di pancuran. Airnya betul-betul sejuk. Sesudah itu, aku bersiap untuk ganti pakaian di kamar mandi. Saat itulah, beberapa orang warga sekitar mulai berdatangan. Rupanya, banyak warga sekitar , terutama anak-anak, suka mandi di tempat ini setiap sore. Yang bikin aku takjub, ada seorang nenek masih lincah berenang. Wow, mantap mbah!
Habis beres-beres, aku kembalikan kunci loker lalu pulang. Nggak ada jalan lain, aku harus jalan kaki lagi sejauh 2 km sampai ke depan pabrik Sosro. Rileksnya langsung hilang, tapi nggak apa-apa lah.  
Ya, inilah sedikit review perjalananku. Pengalaman baru buatku, coba-coba berenang, sendirian pula.

Kamis, 28 Mei 2015

Pengalaman Pertama : X Factor Indonesia Season 2



Ya… inilah hari yang kutunggu-tunggu. Tapi bukan hari pernikahan, lagian aku belum pengin nikah. Lalu apa? Audisi X Factor Indonesia! Hmm… ikut audisi begini udah jadi impianku sejak masih anak-anak  sampai sekarang udah pantes jadi bapak.
Akhirnya keinginan yang lama terpendam itu (puitis dikit) terjadi juga. Tepat 24 Januari 2015 lalu aku berkesempatan ikut audisi X Factor Indonesia!
Dengan penuh percaya diri dan sejuta harapan buat lolos, aku berangkat sendirian. Awalnya beberapa teman mau bareng, tapi entah kenapa satu persatu akhirnya batal ikutan. Biarin, begini juga enak.
Dengan naik bus jurusan Yogya dari depan Artos Magelang, aku berangkat. Sepanjang perjalanan, ada beberapa penumpang yang menarik perhatianku. Ada seorang cowok berdandan ala Bang Rhoma Irama (padahal wajahnya gak mirip) bawa gitar. Ada juga seorang cowok lainnya bersama dua orang cewek. Mereka asyik ngobrol tentang grup vocal. Mungkinkah mereka juga ikut audisi? Entahlah, kenyataannya mereka sudah turun sebelum sampai Terminal Giwangan.
Sampai di Terminal Giwangan, sudah jam 6.30 . Karena nggak mau kesiangan, aku buru-buru ke toilet biar nanti nggak kebelet. Habis itu, naik apa? Sempat bingung karena halte Trans Jogja entah ke mana… entah di mana… akhirnya aku ketemu tukang ojek. Tawar menawar, akhirnya sepakat 25 ribu ke JEC.
Muter..muter.. akhirnya ..Yes!  Jogja Expo Center, lokasi audisi! Habis bayar ojek, dengan rasa dag dig dug.. tanpa dher.. aku masuk ke halaman JEC. Waww.. antriannya udah lumayan .. saking kagetnya aku nggak sempat ngukur berapa panjang antrian, lagian buat apa juga? Aku langsung masuk antrian belakang. 


30 menit, hanya berdiri di antara orang yang beraneka ragam. Aku menoleh, antrian di belakangku sudah semakin panjang, antrian sembako di kelurahan aja kalah. Semua ingin jadi artis. Ada yang dandan ala koboi atau James Bond . Termasuk aku yang beli baju baru khusus untuk momen ini. Tapi kebanyakan memilih tampilan sebagai diri sendiri aja. Bisa mewek ember kalo udah habis jutaan buat dandan malah gak lolos....



Akhirnya, ada cowok berambut gondrong ala Virzha Idol mengajakku ngobrol. Dia lulusan ISI (Institut Seni Indonesia). Katanya sih, dia sempat ikut Indonesian Idol tahun lalu dan lolos ke Jakarta, tapi dia batal berangkat karena sibuk kerja. Mendengar cerita dia, cewek berjilbab yang datang sama cowoknya di belakangku  pun antusias bercakap dengan kami. Ternyata dia berasal dari Boyolali dan kuliah di UKSW Salatiga seperti aku! Wah, makin asyik aja ceritanya. Apalagi, cowok gondrong tadi terus bercerita A sampai Z pengalaman audisinya tahun lalu.
Sayang, antrian kami segera terpecah. Beberapa kali antrian maju mundur cantik dan ganteng, karena pengaturan dari kru. Akhirnya, cewek berjilbab itu berada tiga empat orang di belakangku. Sedangkan cowok gondrong tadi sudah menghilang entah ke mana.

Buat menyemangati para peserta, panitia sengaja ngajak ngobrol beberapa peserta. Dan namanya calon penyanyi, nggak afdol kalo nggak disuruh nyanyi. Seorang cewek asal Makassar nyanyiin lagunya Avril, suaranya keren bro! Aku jadi agak jiper, apa bisa aku ngalahin dia? Ah, itu masalah nanti. Toh, dari beberapa sumber yang tidak mau disebutkan namanya.. eh maksudnya yang kubaca, suara bagus bukan jaminan untuk lolos.
Di sini juga kami sebagai peserta dituntut lebih ekspresif. Panitia mengajarkan kami tepuk tangan di atas kepala. Plok.. plok.. plok. Dan entah kena pelet dari mana, aku yang semula grogi jadi pede luar biasa. Apalagi ketika antrian mulai berjalan ke depan gedung.

Sekitar dua jam kami terkepung antrian sambil sesekali berekspresi atas permintaan panitia. Kamera di beberapa tempat mulai men-shoot kami-kami ini. Ternyata bukan rekaman biasa. Kabarnya sih, nantinya bakal ditampilkan di TV.  Asyik, masuk TV bro! Biar harus berpanas-panas, yang penting hasilnya.
Eh, ada yang lupa, momen ini harus diabadikan secara pribadi lah! Dengan sedikit sungkan, aku minta tolong peserta cowok di dekatku buat fotoin. Dan inilah hasilnya. Makasih bro... jasamu takkan kulupakan..


Suasana makin panas saat host X Factor Indonesia datang. Ya, Robby Purba! Dia bertugas membuka “gerbang audisi” dan tak lupa menyemangati kami.
Satu perkataan Robby Purba yang paling aku ingat :” Pengalaman audisi di kota lain, juri bosan dengar lagu jadul, jadi sebaiknya kalian pilih lagu yang baru”. Waduh, gimana nih, aku kan mau bawain lagu jadul! Pikir-pikir, akhirnya aku mutusin tetap pada pendirianku. Lagu jadul juga biar, yang penting aku berusaha. Maaf ya Bang Robby, Robert nggak nurut.
Dan, “gerbang audisi” dibuka sekitar pukul 9.30.  Diawali dengan antrian menuju teras JEC.  Beberapa baris antrian masuk duluan, beberapa menit kemudian baru baris berikutnya menyusul. Aku benar-benar “terjebak” di tengah antrian. Aku udah nggak kenal siapa-siapa lagi di situ, komposisi antrian sudah berubah.


Di teras JEC, kami diizinkan duduk sejenak. Masing-masing dibagi sebuah kipas untuk kenang-kenangan. Hmm… lumayanlah buat penyejuk sementara. 





Aku sempat kenalan lagi dengan peserta cowok asal Purwodadi, tapi kami nggak bisa ngobrol lebih lama. Baru beberapa menit, antrian kembali jalan, naik ke lantai 2, ke ruangan yang gede banget
Sampai di sana, ternyata sudah ada panggung hiburan dengan CND sebagai bintang tamunya. CND itu grup band yang jadi finalis Rising Star Indonesia 2014. Tak hanya sekedar tampil, , vokalis CND mengundang beberapa peserta untuk nyanyi bareng. Aku sendiri justru merasa lega nggak ditunjuk, soalnya mereka bawakan lagunya Guns n Roses yang aku awam banget. Apa kata dunia kalau ada orang tampil bareng artis tapi cuma bisa hm hm hm doang? 



Kelamaan nunggu, aku putuskan ke toilet sebentar. Sekalian merapikan sedikit penampilanku yang udah kusut gara-gara kepanasan. Begitu balik, lho antrian tadi udah maju jauh di depan. Lalu, kipasku yang tadi aku taruh di karpet kemana?

Sempat clingak-clinguk, akhirnya aku ketemu tempat kosong. Langsung saja aku duduk, meskipun itu bukan antrian yang tadi… untungnya juga orang-orang di samping nggak ada yang protes dengan keberadaanku di sini.. hehe….
Oh ya, kipas tadi? Kenang-kenangan satu-satunya itu udah raib digondol seseorang (bahasanya bro…), ah biarlah. 

Antrian pun maju tanpa mundur lagi.  Sampailah aku ke ruangan di belakang panggung. Tapi nggak lama, sekitar 20 orang, termasuk aku, dibawa masuk ke ruangan dalam. Antrian semakin menciut (maksudnya antrian yang aku tempati) karena dari 20 orang ini dibagi dalam beberapa kelompok, masing-masing 5 orang.



 Dan… inilah perjuangan yang sebenarnya : bilik audisi! Di sebuah ruangan ada beberapa bilik. Satu kelompok mengantri di satu bilik untuk berhadapan dengan juri di dalam bilik. Tapi jurinya bukan Ahmad Dhani atau Rossa lho! Jurinya adalah juri lokal yang mungkin adalah guru musik atau panitia acara ini.




Dari kelompokku, aku dapat giliran keempat. Teman-teman di depanku pun masuk satu persatu. Akhirnya, sampai juga giliranku. Aduh, deg-degan.
Masuk ke bilik, ada seorang juri, bapak-bapak.

Aku : Selamat siang
Juri : Selamat siang, namanya siapa
Aku : Robert Adi Kurniawan
Juri : Siapa?
Aku : (lebih keras) Robert Adi Kurniawan
Juri : Oke, mau nyanyi lagu apa?
Aku : Anak Desa dari almarhum Alfian
Juri : Eh… apa?

Dalam hati aku berpikir, ini suaraku yang terlalu lembut atau jurinya yang kurang pendengaran ya?

Aku : (lebih keras) Anak Desa dari almarhum Alfian
Juri : Oke, silahkan
Aku : (nyanyi) Aku… eh… (aduh… baru awal udah keseleo lidah).. aku anak desa… mengembara di rantau orang… kutinggalkan ayah bunda… bersama sanak saudara… tiap hari ku berjalan dari pagi hingga petang… bila malam pun mendatang… ku tidur di padang lalang
Juri : Oke.. lagu lainnya?
Aku : Vision dari Cliff Richard
Juri : Apa?

Aduh….jurinya bikin aku makin nervous aja

Aku : Vision dari Cliff Richard
Juri : Oke, silahkan
Aku : (nyanyi) Visions.. of you… inside of blue… smoking… shifting… lazily drifting…. my darling I miss you so.. ,,, (sempat lupa lirik sebentar) Time… goes by… no wonder my… senses.. go realing… your eyes so appealing.. i see the whole night through…….
Juri : Oke, stop… siapa tadi namanya? Robert Alfian?

Aku ketawa dalam hati . Waduh, gara-gara bawain lagunya Alfian lalu namaku dijadiin Robert Alfian.

Aku : Robert Adi Kurniawan
Juri : Robert Adi Kurniawan ya..silahkan… terima kasih
Aku : Terima kasih pak

Aku diberi sebuah kartu peserta lalu aku keluar dari bilik. 



Dan giliran peserta cewek di belakangku masuk. Sementara aku bersama 3 peserta sebelumnya menunggu dia keluar, soalnya nanti kami bakal ke result room bersama-sama.
Peserta terakhir ini agak lama di dalam bilik. Begitu dia keluar, kami berempat tanya sama dia, kok lama amat. Ternyata dia disuruh nyanyi berkali-kali sampai 5 lagu. Salah satu lagu yang dia bawain adalah Keong Racun.
Entah kenapa, aku berpikir, cewek ini bakal lolos. Sampai-sampai pas jalan ke result room, aku siap-siap kalau nanti dia pingsan karena kaget… waduh..

Bersama 3 kelompok lainnya, kelompok kami berada di result room. Satu persatu nama kami dipanggil, kami maju sambil menyerahkan kartu peserta ke panitia. Begitu selesai, panitia memanggil cewek di belakangku tadi “Aprilia, maju ke depan”
Lalu mas-mas panitia itu bilang “Selain Aprilia, terima kasih kalian sudah berpartisipasi. Mungkin kalian bisa coba lagi di lain kesempatan”
Tebakanku benar, cewek tadi lolos!  Bakat ngeramal nih kayaknya.

Aku? Ya, mungkin gara-gara nervous tadi akhinya gagal total. Pupus harapanku… . Dari sekitar 20 orang di result room, cuma 1 yang lolos.
Kami yang nggak lolos berusaha legowo, terima kekalahan. Satu persatu kasih selamat pada Aprilia lalu beranjak keluar dari gedung JEC.



Aku baru saja mengalami pengalaman yang luar biasa berkesan. Perasaanku campur aduk. Saking bingungnya, aku duduk beberapa saat di halaman JEC.  Kupandangi poster X Factor di pintu gerbang. Ingin berfoto di depannya, tapi sayang nggak ada orang yang bisa dimintai tolong.. kalau asal minta tolong, takutnya my phone dibawa kabur.. pffff...


Beberapa saat, rasanya nggak rela meninggalkan tempat ini. Tapi masa aku mau bermalam di sini? Aku tetap harus pulang, kembali ke rutinitas sehari-hari. Mungkin di lain waktu aku bisa berhasil.
Untuk melampiaskan perasaanku, sesampai di rumah, aku langsung posting di grup Facebook : X Factor Indonesia Season 2.  Aku upload foto yang berhasil kuambil, sekaligus bercerita tentang pengalamanku tadi. Komentar dan message pun langsung mengalir. Ada yang bertanya tentang jalannya audisi, terutama mereka yang mau ikut audisi di Bandung dan Jakarta, dan dengan senang hati aku balas semua. Rupanya, inilah hadiah terindah dari ajang ini : rasa persaudaraan di antara peserta biarpun awalnya tidak saling mengenal.
Malah ada yang tanya alamat blogku... heh... aku gak pernah ngeblog. Tapi ucapan dia menginspirasi banget, dan lahirlah sejarah baru : kubuat blog ini.
Biarpun gagal lolos, setidaknya momen ini jadi pengalaman tak terlupakan sampai kapan pun.






Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...