Minggu, 16 Oktober 2016

Solo Travelling (10) : Sekelumit Cerita dari Kotagede


Di samping Malioboro, ada satu kawasan yang nggak boleh dilewatkan kalau berkunjung ke Yogyakarta. Ya, tidak bukan dan tidak lain adalah Kotagede, yang berada di selatan kota Jogja.
Keinginan menjelajahi Kotagede muncul secara tidak sengaja. Tujuan utamaku ke Jogja hari itu sebenarnya mau cari info lowongan kerja di Kantor Pos Besar Yogyakarta. Tapi sesudah membaca sebuah artikel tentang Kotagede, aku jadi tertarik buat datang ke sana.
Nah, simak perjalananku kali ini.

Inilah jalan masuk Kotagede
Sama sekali nggak sulit buat mencapai ibukota Kerajaan Mataram ini, biarpun sedikit angkutan umum yang masuk daerah itu. Dengan bus Trans Jogja jalur 3A (dari arah Terminal Giwangan) atau 3B (dari arah Bandara Adisucipto), kita turun di Jalan Tegal Gendhu, lalu jalan kaki ke arah timur. Saat kita melihat jembatan Sungai Gajahwong, itulah pintu masuk Kotagede. Tegal Gendhu sendiri adalah "kampung terluar" dari Kotagede. 
Banyak orang sudah tahu, Kotagede dikenal sebagai sentra kerajinan perak bertaraf internasional. Tak salah lagi, belum sampai di jembatan Gajahwong, sudah banyak kutemui toko yang menjual kerajinan perak. Dan uniknya lagi, beberapa bangunan toko memiliki bentuk dan arsitektur khas Jawa tempo dulu. Bangunan tua yang telah direnovasi hingga tetap berdiri kokoh sebagai peninggalan sejarah dan budaya. Keeksotisan inilah yang jadi daya tarik buat para pelancong.

Resto Omah Dhuwur, bangunannya bergaya tempo dulu
Salah satu pusat kerajinan perak
Semakin masuk ke kawasan Kotagede, nuansa Jawa tempo dulu sangat terasa. Mulai dari rumah, tugu, lampu jalan, sampai papan nama jalan, sebagian besar bergaya etnik. Memang, sejak beberapa abad silam, Kotagede sudah dikenal sebagai pusat pertumbuhan di selatan Jogja. Sayang, daerah ini sangat ramai oleh kendaraan yang lalu lalang, sehingga agak mengurangi kenyamanan.
Sampailah aku ke Pasar Kotagede. Pusat ekonomi masyarakat ini dinamakan Pasar Legi, yang konon ramai pada hari pasaran Legi menurut penanggalan Jawa. Namun pada hari biasa pun, aktivitas jual beli tetap berjalan. Sebuah gardu listrik dari tahun 1900 menjulang di sisi barat pasar. Gardu ini dinamakan Babon Aniem, karena merupakan gardu induk yang menyalurkan listrik ke seantero Kotagede di masa itu. 

Pasar Legi Kotagede
Tugu Babon Aniem

Salah satu sudut pasar
Papan nama jalan bergaya etnik
Toko-toko yang menjual kerajinan perak pun bertebaran di mana-mana, khususnya di Jalan Kemasan (utara pasar) yang merupakan pusat pengrajin perak. Konon, harga yang ditawarkan mulai dari puluhan ribu rupiah untuk hiasan kecil seperti bros, hingga jutaan rupiah. Berhubung uang pas-pasan, aku cukup window shopping aja… hahaha…

Salah satu toko kerajinan perak di Jalan Kemasan
Setelah semangkuk bakso mengenyangkan perutku siang itu, petualanganku berlanjut ke Makam Raja-raja Mataram yang letaknya di belakang pasar. Karena hari ini bukan hari libur, aku berpikir, jangan-jangan pengunjungnya cuma aku sendiri. Tapi perkiraanku salah. Ada juga beberapa orang lalu lalang. Warung yang menjual souvenir juga tetap buka. Di tempat yang dinaungi oleh pohon beringin besar ini juga ada beberapa rumah, yang adalah tempat tinggal para abdi dalem. Abdi dalem adalah orang-orang yang bertanggung jawab menjaga masjid dan makam di sini.

Jalan masuk Makam Raja-raja Mataram

Gerbang masuk bergaya candi
Aku pun mencoba memasuki gerbang depan Masjid Agung Kotagede. Uniknya, meski sebuah masjid, tapi gerbang masuknya lebih mirip candi. Penyebabnya, karena pada waktu itu pengaruh Hindu masih kuat dalam kebudayaan Jawa. Jadi meskipun agama Islam sudah menjadi agama resmi dalam kerajaan Mataram, arsitektur bangunan tetap disesuaikan dengan budaya saat itu, agar proses akulturasi antara agama dan budaya bisa berjalan lancar. Ini jugalah yang diterapkan pada Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah.
Tak perlu terlalu jauh, begitu memasuki gerbang, langsung terlihat masjid dengan bangunan bergaya keraton. Masjid yang dibangun pada tahun 1589 ini adalah salah satu komponen utama kota kuno Kotagede yang masih bertahan. Meski pernah terbakar dan mengalami kerusakan, tapi berhasil diperbaiki tanpa mengubah bentuk aslinya.

Inilah Masjid Agung Kotagede
Total ada tiga gapura bergaya candi yang menjadi akses menuju masjid. Gapura sebelah selatan adalah gerbang menuju ke makam raja-raja Mataram. Dipicu rasa penasaran, aku nekat memasuki gapura. Ternyata kita nggak langsung masuk ke makam. Di dalam area ini masih ada area sebelum memasuki makam. .
Halaman ini adalah tempat untuk administrasi pengunjung. Beberapa buah pendopo tersedia di sini, yang fungsinya untuk kegiatan abdi dalem dan persiapan pengunjung yang mau berziarah. Makam dipisahkan oleh gapura di sebelah barat. Oh ya, demi menghormati para raja yang sekaligus leluhur keraton, ada hal-hal yang harus dipatuhi bagi peziarah saat masuk ke makam. Pertama, harus mengenakan pakaian adat Jawa. Pengunjung bisa menyewa di situ. Kedua, dilarang memakai perhiasan emas. Ketiga, dilarang memotret di area makam.

Salah satu pendopo administrasi

Art shop di dekat pendopo
Raja-raja yang dimakamkan di sini adalah Panembahan Senopati (raja Mataram Islam pertama), Ki Gede Pemanahan (ayah Panembahan Senopati, yang juga pelopor daerah ini), Panembahan Krapyak (putra Panembahan Senopati), Sri Sultan Hamengkubuwono II, Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang, dan beberapa keluarga kerajaan Mataram lainnya.
Kerajaan Mataram Islam berdiri pada abad ke-16. Dulu, sebelum abad ke-10, di daerah ini pernah berdiri Kerajaan Mataram Hindu. Namun, peradaban tersebut berpindah ke Jawa Timur, diduga kuat akibat letusan dahsyat Gunung Merapi tahun 1006. Baru pada abad ke-16, Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang memberikan daerah yang sudah menjadi hutan ini kepada Ki Gede Pemanahan, yang selanjutnya dikembangkan menjadi Kerajaan Mataram Islam. Kini, warisan kerajaan ini dikelola oleh Keraton Yogyakarta.
Di pendopo pertama, dua orang abdi dalem atau petugas berpakaian adat Jawa dengan ramah menyambutku. Tak ada tarif, aku cukup mengisi buku tamu (yang nantinya sebagai bahan laporan untuk keraton) lalu mengisi kotak sumbangan seikhlasnya. Dari pendopo itu terlihat gapura menuju halaman kedua. Beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang bersembahyang di depan gapura. Karena aku  nggak ingin berziarah, petugas menunjukkan tempat menarik lainnya, yaitu Sendang Selirang.
Dengan antusias, aku menuruni anak tangga ke arah Sendang Selirang, yang juga dipisahkan dengan gapura bergaya candi. Di bagian selatan adalah Sendang Putri untuk perempuan, yang airnya berasal dari pohon beringin di dekat makam. Di bagian barat Sendang Kakung untuk laki-laki yang airnya dari sumber air di bawah makam. Bentuknya hampir sama, mata air yang dikelilingi tembok dan pagar. Kedua mata air ini selain untuk membersihkan diri bagi peziarah, juga untuk kebutuhan mandi dan mencuci bagi warga sekitar. Yang tak kalah menarik, sebagian sendang digunakan untuk memelihara ikan, khususnya ikan lele. \

Tempat mandi di Sendang Kakung
Kolam ikan lele
Sumur di dekat Sendang Kakung
Setelah puas melihat-lihat, aku meninggalkan tempat itu dengan tidak lupa pamit ke petugas.
Gang sempit di luar masjid bikin aku tertarik buat menjelajahinya. Udara panas tak peduli, yang penting segala yang indah tidak boleh dilewatkan! Ternyata lorong ini menuju ke pemukiman warga. Banyak rumah warga yang mempertahankan bentuk joglo atau limas dengan dinding kayu dan pintu besar. Sampai-sampai pos ronda pun dirancang dengan pakem yang sama. Eksotis tapi menakjubkan.

Joglo, atap rumah khas Jawa

Rumah tradisional Jawa, dilengkapi dengan gerbang


Lampu kuno di balik tembok makam


Poskamling pun bergaya etnik. Wow!
Sedangkan di luar tembok makam, di antara rumah warga terdapat Sendang Kemuning, yang juga masih difungsikan untuk memenuhi kebutuhan air warga sekitar.
Hari semakin siang, tapi aku belum puas. Aku mengikuti jalan menuju selatan pasar.  Sebuah penunjuk arah bertuliskan “Watu Gilang” membuatku penasaran. Tempat apakah itu?
Belum sampai ke Watu Gilang, aku dibuat takjub sama hal lain. Terdapat sebuah gerbang menuju perkampungan kecil. Bahasa kerennya adalah “Between Two Gates”, karena terdapat dua gerbang untuk masuk ke daerah ini .  Sebuah komplek perumahan dengan arsitektur joglo yang sudah ada sejak tahun 1840. Rumah-rumah bergaya klasik ini adalah milik pribadi, namun jarang ditinggali oleh pemiliknya.  Untuk berkunjung pun, kita wajib lapor ke ketua RT.

Between Two Gates

Bagian dalam Between Two Gates

Reruntuhan benteng Cepuri
Nggak jauh dari Between Two Gates, kita juga bisa temukan reruntuhan benteng Cepuri, tepatnya di mulut sebuah gang. Unik banget, ada benteng di tengah pemukiman. Benteng ini dulunya menjadi tembok pertahanan bagi kerajaan Mataram.
Ternyata Watu Gilang adalah situs bebatuan yang diyakini adalah singgasana Panembahan Senopati. Tidak cuma itu, di sini tersimpan juga Watu Gatheng, bola batu yang merupakan mainan Raden Rangga (putra Panembahan Senopati) dan Watu Genthong yang adalah tempat air wudhu Panembahan Senopati. Sayang, kita nggak bisa lihat langsung. Benda-benda tersebut disimpan dalam sebuah bangunan tertutup, yang hanya bisa dibuka dengan izin ke petugas di makam Hastorenggo. Makam Hastorenggo terletak di dekat situ. Tempat ini adalah komplek makam dari keluarga Sultan Hamengkubuwono VIII.

Penjelasan tentang situs Watu Gilang
Makam Hastorenggo, milik keluarga Sultan Hamengkubuwono VIII
Dalam perjalanan pulang ke Halte Tegal Gendhu, aku sengaja memilih jalan berseberangan dengan waktu berangkat tadi. Tujuanku biar bisa lihat lebih dekat rumah-rumah besar di jalan masuk Kotagede tadi. Memang, seperti kuceritakan di awal, baik rumah, art shop maupun restoran di sini banyak yang bergaya tempo dulu.

Kafe dengan desain yang unik
Seharian itu kamera HPku nggak berhenti menjepret sana sini. Mengabadikan segala hal eksotis, yang belum tentu kutemui di daerah lain. Warisan sejarah dan budaya tetap terjaga di Kotagede meski arus modernisasi bermunculan. Mungkin kalau aku telusuri dari kampung ke kampung, masih banyak pemandangan menarik di sini. Sayang, waktu jugalah yang membatasi. 

Jumat, 30 September 2016

Berbagi Tips Ikut Audisi Pencarian Bakat

“Mari ikut saya ke ruangan sebelah sana”, seorang panitia audisi Rising Star Indonesia di Hotel Sahid Yogyakarta membawa aku dan 9 orang lainnya ke sebuah tempat.
Hal seperti ini tidak asing lagi buatku. Sudah ketiga kalinya, aku mengalami ini. Result room, penentuan lolos atau tidak dari tahap awal audisi pencarian bakat nyanyi di TV. Asal tahu aja, persaingan di audisi ini ketat banget. Kita bersaing dengan ribuan orang, jadi lolos dari tahap awal aja udah membanggakan banget.

Di hadapan kami, panitia itu membuka sebuah amplop. 

“Yang saya sebut namanya, silahkan maju ke depan”.  

Seketika rasa deg-degan menghinggapi kami. Ibarat penentuan hidup mati.

“ROBERT”

HAH? Aku kaget luar biasa. Rasanya nggak percaya, namaku disebut. Loloskah? Hm… nanti dulu.

“Yang kedua, IMAS”

Seorang cewek berjilbab pun maju dan berdiri di sampingku.

“Untuk yang lainnya, mohon maaf, kalian belum bisa lanjut, mungkin kalian bisa coba lagi di waktu lain”

DHUARRRR! Perasaanku campur aduk. Tapi berbalik 360 derajat dengan audisi yang sudah-sudah. Aku kini mendapat hadiah manis bahwa aku…. LOLOS! YESSSSS!. 
Seketika kedelapan peserta lainnya kasih ucapan selamat ke aku dan Imas. Tapi perjuanganku belum selesai. Masih ada serangkaian tahap sebelum aku tampil di TV nanti. Apa itu? Maaf, aku nggak bisa tulis di sini. Bukannya sombong, tapi rahasia perusahaan.


Setelah perjuangan berkali-kali, akhirnya.....

Nah, biar nggak kecewa, aku mau kasih beberapa tips buat kalian yang pengin atau suka ikut audisi seperti ini

1. Latihan
Ini hal yang paling penting dilakukan. Seorang penyanyi harus mempersiapkan diri agar penampilannya maksimal. Materi lagu (lirik, nada, penghayatan) harus dikuasai dan tampil nggak boleh malu-malu. 
Latihan bisa dilakukan di mana aja, di tempat karaoke, di kamar tidur, di kamar mandi, atau di mana aja kamu merasa nyaman. Akan lebih baik kalau kamu latihan tampil di depan orang lain. Undanglah teman-teman yang paham musik dan mintalah mereka kasih masukan untuk penampilan kamu.

2. Jaga suara
Sebagai penyanyi, suara adalah modal utama. Maka, suara harus dijaga. Istirahat yang cukup dan batasi makanan seperti gorengan, susu dan es agar tidak mengganggu pita suara. Hindari berteriak terlalu kencang kecuali kamu lagi dalam bahaya. 
Satu ramuan yang biasa aku minum, air jeruk nipis ditambah sedikit kapur sirih dan madu. Minumnya cukup seminggu sekali aja. Kabarnya ramuan ini bisa menguatkan pita suara sehingga suara yang dikeluarkan lebih merdu.

3. Pilih lagu yang tepat
Lagu yang mau kamu bawain harus benar-benar pas dengan karakter kamu. Kalau suara kamu bass jangan coba-coba deh bawain “I Want To Break Free” nya Queen.
Hindari lagu-lagu yang asing atau terlalu jadul, karena selera juri biasanya kekinian. Untuk lirik lagu pun, kamu harus benar-benar hafal. Nggak perlu malu bawain lagu Indonesia kalau bahasa Inggris kamu kurang. Karena yang paling penting di sini adalah penampilan kamu bisa menghibur. Ingat, Justin Bieber atau Britney Spears bisa aja kalah sama Rayi RAN!

4. Hindari nervous
Beberapa peserta awalnya pede banget, tapi begitu ketemu juri langsung buyar semua.. Lupa lirik, fals, ekspresi kaku, itu yang bisa terjadi kalau kamu gugup.
Jalan keluarnya, jangan kamu anggap juri sebagai sosok yang “siap menerkam”. Bayangkan seakan-akan kamu tampil di depan panggung. Dengan begitu, ekspresi kamu lebih “lepas”. Pandangan lurus ke depan dan jangan menunduk.

5. Tidak sekedar menyanyi
Salah besar kalau kamu beranggapan suara bagus pasti lolos. Selain suara, gaya dan penampilan kamu juga masuk penilaian. Jadi, persiapkan performa terbaikmu. Jangan takut untuk berekspresi, gokil dikit nggak masalah asal jangan over acting. Untuk pakaian, pilih aja yang rapi, sopan dan nyaman dipakai.

6. Ramah
Juri nggak bakal tertarik kalau kamu pasang muka masam kayak pepaya. Saat masuk ke bilik audisi, perkenalkan dirimu dengan sopan dan tersenyum, sampai juri mempersilahkan kamu bernyanyi. Sesudah selesai, ucapkanlah terima kasih. Pokoknya buatlah juri merasa dihargai.

7. Jadi diri sendiri
Kamu lihat orang lain suaranya keren, lalu nyalimu ciut? Don’t worry! Ini adalah sebuah kompetisi. Setiap orang berhak mengeksplor kelebihan masing-masing tapi keputusan di tangan juri. So, tetaplah pada pendirian dan karakter kamu. Kamu pasti punya kelebihan yang belum tentu dimiliki orang lain.
Dalam membawakan lagu, kamu bisa keluar dari karakter penyanyi aslinya. Contohnya, untuk lagu berirama slow rock bisa dibikin lebih semangat. Tapi sesuaikan juga dengan not dan tema lagunya.

8. Enjoy
Nikmati aja setiap proses yang ada, nggak perlu terlalu berambisi. Kalau pikiranmu cuma fokus pada lolos dan tidak lolos, kamu bakal merasa terbebani dan ujung-ujungnya mengacaukan penampilanmu. Ubahlah stigma "aku pasti lolos" menjadi "aku mungkin lolos", karena seperti aku bilang di awal, persaingan di sini ketat banget, suara bagus pun nggak menjamin kamu lolos.

9. Akrab dengan peserta lain
Di sekitarmu banyak orang kan? Nah, cobalah berkenalan dan mengobrol dengan mereka. Kalian bisa saling sharing pengalaman sampai vokal. Apalagi kalau orang yang kamu temui sudah sering ikut audisi seperti ini, kamu kan bisa tanya banyak hal. Tapi hat-hati juga, jangan langsung percaya dengan info yang belum tentu benar.
Terlepas kamu lolos audisi atau nggak, kamu bisa dapat teman baru di sini. Siapa sangka, salah satu dari kalian akhirnya jadi juara di ajang ini. Bangga kan, punya kenalan artis? Atau syukur-syukur malah ketemu jodoh di sini? Hehehe... ya itulah, persahabatan adalah hadiah terindah dari ajang ini!

10. Berdoa
Yang nggak kalah penting, berdoalah sebelum berjuang. Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.


Itulah beberapa tips yang aku dapat dari serangkaian pengalamanku. Bukan bermaksud menggurui, tapi mau berbagi.
Nah, sekarang, aku lagi nunggu pengumuman buat ke tahap selanjutnya. Lolos atau nggak, aku pasrah aja, yang penting pengalaman ini begitu berharga. TETAP SEMANGAT! YESSSSS! 

UPDATE
Aku lolos sampai tahap Room Audition di depan juri artis. Biarpun aku harus terhenti di situ, pengalaman itu sungguh tak terlupakan seumur hidup. Salah satunya, aku sempat satu grup dengan Ghea Indrawari yang nantinya jadi peserta Indonesian Idol!  


Sabtu, 03 September 2016

Penyanyi Masa Lalu (8) : Elvis Presley

It's now or never, come hold me tight
Kiss me my darling, be mine tonight
Tomorrow will be too late,
it's now or never
My love won't wait.

When I first saw you
with your smile so tender
My heart was captured,
my soul surrendered
I'd spend a lifetime
waiting for the right time
Now that your near
the time is here at last.

It's now or never, come hold me tight
Kiss me my darling, be mine tonight
Tomorrow will be too late,
it's now or never
My love won't wait.

Just like a willow,
we would cry an ocean
If we lost true love
and sweet devotion
Your lips excite me,
let your arms invite me
For who knows when
we'll meet again this way

It's now or never, come hold me tight
Kiss me my darling, be mine tonight
Tomorrow will be too late,
it's now or never
My love won't wait.



Suatu hari, di tahun 1953, seorang pemuda datang ke Memphis Recording Service, Amerika Serikat, untuk merekam suaranya. Hanya satu keinginannya, membuat sebuah rekaman lagu sebagai hadiah untuk ibunya, meski sebenarnya ia sendiri memang punya bakat terpendam dalam hal musik. Tak disangka, suara pemuda tersebut, yang melantunkan lagu “My Happiness”, menarik perhatian seorang karyawati di studio tersebut. Kebetulan, ia punya relasi dengan Sun Records (perusahaan rekaman lokal di AS). Serta merta, ia menawarkan pada si pemuda untuk membuat rekaman lagi untuk ditunjukkan ke pihak Sun Records. Hasilnya, Sun Records “meminang” si pemuda untuk bergabung dengan perusahaan rekamannya. Dan siapa sangka, kelak pemuda ini akan menjadi penyanyi ternama dengan gelar “King of Rock”.
Siapakah pemuda tersebut? Pasti semua sudah mengenalnya. Elvis Presley. Terlahir di East Tupelo, Mississippi pada tanggal 8 Januari 1935. Masa kecil Elvis jauh dari menyenangkan. Selain keluarganya miskin, ayahnya pun pernah masuk penjara akibat penggelapan cek. Namun, terlepas dari semua itu, Elvis tertarik pada dunia musik. Lagu gospel yang sering dinyanyikan di gereja maupun lagu country yang kerap dibawakan anak muda di masa itu menjadi inspirasi baginya. Ketika keluarganya pindah ke Memphis, Elvis mengikuti ajang pencarian bakat tingkat lokal dan berhasil menjadi juara. Namun, ia tidak segera menjadi penyanyi. Setelah menyelesaikan sekolah pun, ia menekuni berbagai pekerjaan seperti karyawan toko dan supir truk. Barulah, ketika ia mencoba rekaman, ia mulai memupuk kesuksesan.
Tak sia-sia pula Elvis bergabung dengan Sun Records. Sam Philipps, pimpinan Sun Records, jeli melihat talenta pemuda yang baru berusia 18 tahun ini. Sam jugalah yang menganjurkan Elvis mempelajari alat musik gitar dan bass. Pada tahun 1954, Elvis meluncurkan single perdana “That’s All Right”.  Hal ini membawanya melakukan roadshow di berbagai daerah.
Album pertamanya “Heartbreak Hotel” cepat mendapat tempat di hati penggemar.  Disusul “Hound Dog”, yang terjual hingga 5 juta copy. Radio, televisi, hingga live concert mulai banyak menampilkan Elvis. Sejak itulah, gelar “King of Rock” disandangnya biarpun Elvis juga bisa membawakan lagu pop, country dan gospel.

Elvis Presley, King of Rock

Sukses di dunia musik, Elvis mulai mendapat tawaran sebagai pemain film. Film pertamanya adalah “Love Me Tender” (1956), di mana ia juga mengisi soundtracknya.
Atas kesuksesannya, di usia muda, Elvis mampu membeli sebuah kawasan mewah di Memphis. Lokasi yang dinamakan Graceland tersebut menjadi kediamannya.
Selama beberapa tahun, Elvis bergabung dengan militer AS dan ditugaskan di Jerman. Namun, hal ini tidak menyurutkan karir musiknya. Malahan, ia semakin populer sebagai artis papan atas AS. Tahun 1960, sekembalinya dari Jerman, ia meluncurkan album “Are You Lonesome Tonight” dan “It’s Now or Never”, hingga album lagu rohani berjudul “How Great Thou Art”. Ia juga tetap eksis sebagai aktor, salah satunya dalam film Viva Las Vegas (1964). Berbagai penghargaan emas dan platinum pun diterimanya.


Elvis bersama Ann Margret dalam "Viva Las Vegas"

Ada hal yang lucu dari penampilan Elvis, ia pandai bergoyang pinggul saat membawakan lagu rock. Justru gayanya yang tidak biasa ini menjadi “faktor X”. Cara berpakaian dan gaya Elvis banyak menginspirasi budaya Amerika. Bahkan John Lennon pun mengaku bahwa “soul” The Beatles juga terinspirasi dari Elvis. Sampai saat ini, penampilan Elvis yang mengenakan jumpsuit atau jas tanpa dikancingkan sambil memainkan gitar banyak ditiru. Padahal, siapa sangka, Elvis nyaris tidak pernah tampil di luar Amerika Serikat!


Cover album Elvis

Tak selalu yang baik berakhir baik. Begitupun dengan Elvis. Pernikahannya dengan Priscilla Wagner harus berakhir dengan perceraian. Di samping itu, kesibukan membuatnya bergantung dengan obat-obatan seperti obat tidur, obat penenang dan penghilang rasa sakit. Kebiasaan ini semakin menjadi-jadi ketika ia memiliki masalah kegemukan, obat pelangsing pun dikonsumsinya. Sayang, dokter pribadinya, George Nichopoulos, justru dengan mudah memberikan resep seperti permintaan Elvis.
Kesehatan bermasalah, namun karir tetap jalan. Kepopuleran Elvis pun tetap terjaga dengan konser di berbagai daerah, membuat rekaman baru, hingga acara televisi yang disiarkan hingga 40 negara.
Sampai akhirnya, pada tanggal 16 Agustus 1977, “King of Rock” ini ditemukan meninggal di kediamannya. Penyebab kematiannya diduga akibat gagal jantung. Ada juga yang menyebutkan karena overdosis obat. Namun, apa pun itu, kematian Elvis mengejutkan banyak orang. Mereka tidak menyangka, sang  “King of Rock” harus tiada di usia muda, 42 tahun.
Berbagai cara dilakukan fans sebagai penghormatan kepada almarhum. Danny Mirror, seorang musisi Belanda, merilis lagu “I Remember Elvis Presley”. Patung lilin Elvis terpampang di Madame Tussauds Museum. Namanya pun diabadikan dalam Rock and Roll Hall of Fame.
Kediaman Elvis, yakni Graceland, kini dikelola oleh putrinya, Lisa Marie Presley. Tempat ini dibuka untuk umum. Setiap tahun, para fans berkunjung ke sini untuk mengadakan acara “tribute”. 

Priscilla Presley (kiri) bersama Lisa Marie Presley

Graceland, kediaman Elvis Presley
Link video:


Selasa, 16 Agustus 2016

Lagu Masa Lalu (13) : I Remember Elvis Presley


Spoken:
Last night I turned radio on for the midnight news
Suddenly I thought I died of a broken heart
When I heard the announcer say
(“Ladies and gentlemen, the king is dead
Elvis Presley just died in a hospital in Memphis, Tennessee
42 Years on this planet, but he'll be here forever”)

Berita kematian Elvis di surat kabar
(Sumber : za.pinterest.com)
I remember Elvis Presley
Lord, how I love to hear him sing!
So I'll adore him just forever
For he's the one and only king

I remember Elvis Presley
And he won't ever set me free
Like he was singing "Now or never"
He's just a golden memory

Good luck charm is not forever
Good luck songs we need 'em ever
Again, again I'll play your songs
‘Cause in my mind you haven't gone

Are you lonesome tonight?
Do you miss him tonight?
Tell me, dear, are you lonesome tonight?

I remember Elvis Presley
Lord, how I love to hear him sing!
So I'll adore him just forever
For he's the one and only king

I remember Elvis Presley
And he won't ever set me free
Like he was singing "Now or never"
He's just a golden memory

My dear friend, I won't forget you
When I need you I can hear you
King, though I don't know where or when
There'll be a day we'll meet again

Wise man say
Only fools rush in
But I can't help falling in love again

Spoken:
Elvis Presley
I wanna thank you for all the happiness you gave so many people
All over the world during many, many years
I remember the DJ was playing "Jailhouse rock"
When I had my first date with a beautiful girl
And since that evening you've been my friend, Elvis

I remember Elvis Presley
Lord, how I love to hear him sing!
So I'll adore him just forever
He's just a golden memory


Hari ini tepat 39 tahun yang lalu, seorang penyanyi top Amerika Serikat telah berpulang. Ya, dialah Elvis Presley. Seluruh dunia dibuat terkejut oleh kematian Elvis yang begitu mendadak dalam usia yang sangat muda, 42 tahun. Penyebab kematiannya masih simpang siur hingga sekarang. Ada yang menyebutkan Elvis mengalami serangan jantung, ada juga yang mengatakan akibat overdosis.

Eddy Ouwens alias Danny Mirror
(Sumber : secondhandsongs.com)
Namun, apa pun penyebabnya, banyak pihak merasa kehilangan seorang superstar. Bukan cuma para fans, tapi juga para musisi lain yang terinspirasi oleh Elvis. Ini juga yang dirasakan tiga musisi asal Belanda , Eddy Ouwens, Dick Bakker dan Dunhill. Uniknya, mereka bukan orang Amerika, tapi orang Belanda. Sebagai “penghormatan” pada sang idola, mereka menciptakan lagu untuk mengenang Elvis, “I Remember Elvis Presley”. Lagu ini dibawakan sendiri oleh Eddy Ouwens, dengan nama panggung Danny Mirror. Dalam beberapa minggu menjadi hits di seantero Eropa.
Lagu diawali dengan sebuah narasi tentang kabar kematian Elvis yang disiarkan di radio. Setelah itu, lewat nada, Danny Mirror mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Elvis. Bagi Danny, Elvis adalah kenangan yang akan hidup sepanjang masa.
Dalam lagu ini diselipkan juga petikan lirik lagu Elvis, “Are You Lonesome Tonight” dan “Can’t Help Falling In Love”, membuat suasana makin mengharukan. Tak lupa, Danny mengucapkan rasa terima kasih kepada Elvis karena telah menjadi penghiburnya. Lagu “Jailhouse Rock”, yang dibawakan Elvis menjadi awal perkenalan Danny dengan penyanyi yang dijuluki “King of Rock” ini.


Begitulah, seorang idola juga manusia, cepat atau lambat dia pasti berpulang. Tapi seperti kata pepatah “harimau mati meninggalkan belangnya”, demikian juga kenangan tentang seseorang akan terus melekat di hati pecintanya.

Link video:


NB: Tunggu biografi Elvis Presley di postingan selanjutnya



Minggu, 31 Juli 2016

Lagu Masa Lalu (12) : Don't Cry Joni

Jimmy please say you'll wait for me
ll grow up someday you'll see
Savin' all my kisses just for you
Signed with love forever true

Joni was the girl who lived next door
I've known her I guess 10 years or more
Joni wrote me a note one day
And this is what she had to say

Jimmy please say you'll wait for me
I'll grow up someday you'll see
Savin' all my kisses just for you
Signed with love forever true

Slowly I read her note once more
Then I went over to the house next door
Her teardrops fell like rain that day
When I told Joni what I had to say

Joni, Joni, please don't cry
You'll forget me by and by
You're just fifteen I'm twenty two
Joni I just can't wait for you

Soon I left our little home town
Got me a job and tried to settle down
But her words kept haunting my memory
The words that Joni said to me

Jimmy please say you'll wait for me
I'll grow up someday you'll see
Savin' all my kisses just for you
Signed with love forever true

I packed my clothes and I caught a plane
I had to see Joni, I had to explain
How my heart was filled with her memory
And ask my Joni if she'd marry me

I ran all the way to the house next door
But things weren't like they were before
My teardrops fell like rain that day
When I heard what Joni had to say

Jimmy Jimmy please don't cry
You'll forget me by and by
It's been five years since you've been gone
Jimmy I married your best friend John.

Joni Lee berduet dengan Conway Twitty (Sumber : geocities.ws)

Alkisah, ada seorang gadis berumur 15 tahun, namanya Joni. Ia punya tetangga bernama Jimmy (22 tahun). Mereka saling menyukai, tapi Joni merasa masih terlalu muda untuk menikah. Lewat surat, ia minta Jimmy untuk menunggu sampai dia dewasa. Tapi, Jimmy merasa tidak bisa menunggu Joni karena dia sendiri sudah cukup matang. 
Tak lama kemudian, Jimmy mendapat pekerjaan di kota lain. Namun ingatan tentang Joni, terutama tentang permintaannya untuk menunggu, terus terngiang di benak Jimmy.
5 tahun berlalu, kenangan itu tidak bisa dia lupakan, sehingga dia terpaksa pulang. Dia ingin segera menikahi Joni.
Apa yang terjadi sesampai di rumahnya, ternyata Joni sudah menikah dengan John, sahabat Jimmy. Maka, hancurlah hati Jimmy.





Kisah di atas digambarkan dalam sebuah lagu “Don’t Cry Joni”, yang terkenal pada tahun 1975. Dibawakan oleh Conway Twitty, berduet dengan Joni Lee.
Uniknya, Joni Lee adalah putri dari Twitty, yang saat itu baru berumur 16 tahun. Ia sendirilah yang “memerankan” tokoh Joni dalam lagu ini. Sementara Jimmy, diambil dari nama Jimmy Jenkins, adik Joni. Tak heran, karena Twitty sendirilah yang menulis lagu ini bersama Ron Peterson. Selain dengan putrinya, Twitty juga pernah membawakan lagu ini bersama Loretta Lynn.
Lagu ini lebih cocok dibawakan secara duet laki-laki dan perempuan, karena sifatnya bersahutan antar bait. Kisah di lagu ini dilihat dari sudut pandang laki-laki, jadi penyanyi yang perempuan hanya menyanyikan bagian refrain (chours)  lalu menutupnya dengan coda. 

Joni Lee sekarang (Sumber : pageonekentucky.com)
Link video:

Rabu, 06 Juli 2016

Penyanyi Masa Lalu (7) : Lilis Suryani


Jakarta kotaku indah dan megah
Di situlah aku dilahirkan
Rumahku di salah satu gang
Namanya Gang Kelinci

Entah apa sampai namanya kelinci
Mungkin dulu kerajaan kelinci
Karena manusia bertambah banyak
Kasihan kelinci terdesak

Sekarang, rumahnya bejubel
Oh, padat penghuninya
Anak-anak segudang
Grudak gruduk kaya kelinci...

Kami semua hidup rukun dan damai
Hanya satu yang aku herankan
Badanku bulat tak bisa tinggi
Persis kaya' anak kelinci

Gang Kelinci. Sebuah lagu jenaka dari tahun 1960-an. Siapa nggak kenal lagu ini? Yes, biarpun kerajaan kelinci udah terdesak oleh manusia, lagu ini tidak terdesak oleh zaman. Sampai sekarang lagu ini banyak dicover mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Lalu, siapakah yang membawakannya pertama kali?
Pada tahun 1960-an, tersebutlah Lilis Suryani, penyanyi remaja yang top pada masa itu. Sejak kecil, Lilis suka menyanyi. Kendati tidak pernah mengikuti kursus vokal, wanita kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1948 ini memiliki bakat alami yang dikembangkannya secara otodidak. Di usia 15 tahun untuk pertama kalinya ia tampil di TVRI. Ia kemudian membuat rekaman pertamanya lewat Irama Records. Rekaman piringan hitam itu memuat 2 lagu : Tjai Kopi dan Di Kala Malam Tiba. Sejak itulah, nama Lilis Suryani mulai dikenal publik. Suaranya banyak diperdengarkan melalui radio.
Puncak karirnya adalah saat membawakan lagu “Gang Kelinci”, sebuah lagu tentang tempat tinggalnya waktu itu. Sampai kini lagu tersebut identik dengan penyanyi bertubuh mungil ini. Ia tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Kesuksesan Lilis tidak terlepas dari jasa Titiek Puspa, sahabat sekaligus guru bagi dirinya. Dalam suatu kesempatan, Titiek menceritakan awal kerjasamanya dengan Lilis.
Sekitar tahun 1963, Lilis yang masih berusia 15 tahun datang kepada Titiek untuk minta dibuatkan lagu. Namun, saat itu Titiek sedang tidak punya ide . Karena hari sudah sore, Titiek mengantar Lilis pulang dengan naik becak. Begitu memasuki tempat tinggal Lilis yakni Gang Kelinci, kawasan Pasar Baru, Jakarta, Titiek takjub dengan padatnya pemukiman dan keramaian anak-anak di situ. Lewat inspirasi itulah, Titiek menciptakan lagu “Gang Kelinci” untuk Lilis. Tak disangka, lagu ini meledak di pasaran. Selanjutnya, Titiek menciptakan beberapa lagu lagi untuk Lilis, salah satunya “Hari Ulang Tahun”, yang dirilis bertepatan dengan ulang tahun Lilis ke 17.   Lambat laun, Lilis pun bisa menciptakan lagu sendiri. Lagu “Baju Loreng”, “Hesty” dan “Tiga Malam” menjadi karya utamanya.

Salah satu cover album Lilis Suryani
Lagu-lagu yang dibawakan Lilis terbilang variatif. Mulai dari yang bertema cinta, jenaka, balada, hingga patriotisme. Sebut saja “Baju Loreng”, yang menceritakan kekaguman terhadap anggota ABRI. Nasionalisme juga tertuang lewat lagu daerah, seperti “Dayung Palinggam”, “Cing Tulungan”, dan “Tandak Sambas”. Ia juga berkolaborasi dengan Suhaeri dan Benyamin S. membawakan lagu Betawi. Lagu “Genjer Genjer” yang kontroversial itu pun sempat dibawakannya sebelum kemudian dicekal karena dikaitkan dengan PKI.
Bukan hanya masyarakat, Presiden Soekarno pun senang dengan suara merdu Lilis. Bahkan, sebelum “Gang Kelinci” berkumandang, ia sudah pernah tampil di Istana Negara. Bung Karno pulalah yang menginspirasi Lilis menciptakan lagu “Paduka Yang Mulia” dan “Muhibah”.


Lilis Suryani di usia 50-an
Ketenaran tidaklah membuat Lilis terlena. Meski disukai banyak kalangan, ia menghindari kehidupan hura-hura. Ia selalu menolak jika ditawari tampil di klub malam. Rezeki yang diperolehnya pun dikumpulkan untuk biaya naik haji dan kegiatan sosial seperti menyumbang ke panti asuhan.
Pada tahun 1967, Lilis menikah dengan M. Junus Jafar, seorang pria asal Makassar. Mereka bertemu ketika Lilis mengadakan show di kota tersebut. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak.
Lilis mahir memainkan alat musik, termasuk drum. Pada tahun 1968, ia membentuk band The Female bersama Rita Rachman dan Rose Sumanti, yang kemudian mengeluarkan hits “Januari”. Sayang, grup ini tidak berlangsung lama.
Nama Lilis Suryani mulai meredup ketika ia beranjak dewasa. Namun, bukan berarti ia tidak lagi eksis. Tawaran tampil on air maupun off air tetap dijalani oleh penyanyi yang identik dengan rambut pendek berjambul ini. Ia sempat rekaman lagu Melayu Deli dan kaset lawak, namun tidak terlalu sukes di pasaran.


Tahun 2003, Lilis divonis menderita kanker rahim. Sejak itu, ia menjalani berbagai pengobatan. Rekan-rekan artis pun menggalang dana bagi pengobatan Lilis. Namun, takdir berkata lain, pada 7 Oktober 2007, ia meninggal dalam usia 59 tahun. 

(Dari berbagai sumber)

Berikut link YouTube "Gang Kelinci" dengan suara asli Lilis Suryani

Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...