Minggu, 19 April 2020
Bahasa Bhutan (Part 4): Angka
Kali ini kita belajar tentang angka dalam bahasa Dzongkha. Saat mencari referensi tentang ini, aku agak bingung karena pengucapannya berbeda-beda. Tapi di sini kita belajar sesuai aplikasi kamus yang kudapat, serta beberapa kata yang kudapat dari orang Bhutan asli.
0 (nol) = lay kor
1 (satu) = chi
2 (dua) = nee
3 (tiga) = som
4 (empat) = zhe
5 (lima) = nga
6 (enam) = du
7 (tujuh) = deen
8 (delapan) = gay
9 (sembilan) = gu
10 (sepuluh) = chu tam
11 (sebelas) = chu chi
Untuk angka belasan, cukup tambahkan "chu" sebelum angka satuan. Contoh: 13 = chu som.
20 (dua puluh) = nee chu
Untuk angka puluhan, cukup tambahkan "chu" setelah angka satuan. Contoh: 50 = nga chu.
100 (seratus) = chi ja
Untuk angka ratusan, cukup tambahkan "ja" setelah angka satuan. Contoh: 700 = deen ja
1000 (seribu) = chi tong
Untuk angka ribuan, cukup tambahkan "tong" setelah angka satuan. Contoh: 2000 = nee tong.
1.000.000 (satu juta) = bum
Untuk angka jutaan, cukup tambahkan "bum" setelah angka satuan. Contoh: 4.000.000 = zhe bum.
1.000.000.000 (satu miliar) = ter bum.
Untuk angka khusus, mohon maaf, aku belum bisa jabarkan di sini karena sumber yang kudapat agak membingungkan. Semoga lain kali bisa kususulkan.
Rabu, 15 April 2020
Bahasa Bhutan (Part 3): Family and Relationship
Ini adalah sebutan atau panggilan untuk seseorang dalam bahasa Dzongkha
Aku = Nga
Kamu = Choe
Dia (laki-laki) = Kho
Dia (perempuan) = Mo
Kita = Nga ce
Mereka = Khong cha chap
Kalian = Che cha chap
Ayah = A pa
Ibu = A ma
Kakek = A ge
Nenek = A bi
Paman = A zhang
Bibi = A ne
Saudara laki-laki = Po pun
Saudara perempuan = Mo pun
Sepupu = Nye pun
Keponakan laki-laki = Tsa po
Keponakan perempuan = Tsa mo
Anak laki-laki = Bu
Anak perempuan = Bu mo
Cucu laki-laki = Di bu
Cucu perempuan = Di bu mo
Ipar laki-laki = Kudpo
Ipar perempuan = Ma tang
Menantu laki-laki = Magpa
Menantu perempuan = Na ma
Ayah mertua = Gyos po
Ibu mertua = Gyug mo
Kawan = Drok
Kekasih = Che che
Senin, 06 April 2020
Bahasa Bhutan (Part 2): Warna
Kuzuzangpo la
Kita akan belajar macam-macam warna dalam bahasa Dzongkha. Spektrum warna sangat luas, tapi di sini hanya akan disebutkan warna-warna dasar.
Putih = Karp
Hitam = Naap
Merah = Marp
Hijau = Changkha
Kuning = Serp
Biru = Hoem
Coklat = Ja'mu
Orange = Leewang
Pink = Shakha
Ungu = Muk
Abu-abu = Kyawo
Kamis, 02 April 2020
Bahasa Bhutan (Part 1): Ucapan Sehari-hari
Selamat sore
Di sini aku ingin berbagi kamus kecil bahasa Dzongkha (Bhutan). Memang tidak bisa lengkap, karena selain perbendaharaan kata bahasa Dzongkha yang terbatas, hasil searching di Google dan aplikasi sulit dipahami. Doakan saja, semoga lewat pertemanan dengan beberapa orang Bhutan, aku bisa belajar lebih banyak. Sekali lagi, aku bukan mau menggurui, kita sama-sama belajar.
Kamus yang akan kutampilkan di sini juga dalam huruf latin. Karena puyeng bin vertigo kalau kita langsung belajar huruf asli Dzongkha.
Kita mulai saja dengan belajar ucapan sehari-hari. Seperti kujelaskan di postingan sebelumnya, saat memulai percakapan dengan orang yang dihormati atau lebih tua, kita perlu menambahkan la di belakang prase tersebut.
Selamat pagi = chubo delek
Selamat siang = nima delek
Selamat sore = churu delek
Selamat malam = simcha delek
Selamat datang = chamba lekso
Halo = kuzu zangpo
Apa kabar = gaday bay zhui
Kabar saya baik = legshom bay rang yoey
Semoga sukses = tashi delek
Terima kasih = kadrin chhe la
Terima kasih kembali = jembalaekso
Maaf = gom mathrae
Permisi = atsi zur nang
Ya = ong
Tidak = men
Di mana = ga tey
Apa = ani ga chi mo
Yang mana = ga dee
Berapa banyak = dilu gadem chi mo
Siapa namamu = choe gi ming ga chi mo
Nama saya Robert = ney gi ming Robert in
Sini = nalu
Sana = phalu
Dari mana asalmu = choe ga te lay mo
Saya berasal dari Indonesia = nga Indonesia ley in
Sampai jumpa = tama che gae
Sampai nanti = log jay gay
Oh ya, meskipun bahasa nasional Bhutan adalah Dzongkha, beberapa daerah di sana punya dialek khusus seperti Tsangla dan Khenga, sehingga terkadang ada penulisan atau pengucapan yang berbeda, seperti chi menjadi chig (bisa diibaratkan dalam bahasa Jawa ada logat Banyumasan atau Samin). Tapi tidak jadi masalah, asalkan tidak menyimpang dari maksud sebenarnya.
Selasa, 31 Maret 2020
Belajar Bahasa Bhutan? Why Not?
Kuzuzangpo la!
Di tengah suasana wabah COVID-19 alias Corona yang bikin aku merana, terbersit sebuah ide unik. Aku tertarik belajar bahasa asing. Bukan sembarang bahasa, yang mau kupelajari ini sama sekali nggak lazim buat orang Indonesia. Apa itu? Bahasa Bhutan! Hah?!
Jadi ceritanya, aku lagi frustasi lantaran hobiku berkirim kartu pos lewat Postcrossing harus break lantaran kondisi dunia yang morat marit (apa itu Postcrossing, silahkan cari sendiri di Google, udah banyak). Layanan pos di berbagai negara dibatasi. Bahkan ada yang tutup sementara. Aku coba cara lain buat cari teman dari negara lain. Lewat Facebook? Ah nggak asyik.
Dari searching sana sini, ketemulah situs Interpals (nggak ada hubungan dengan Iwan Fals). Biasanya situs sosmed ini dipakai buat cari sahabat pena dari seluruh dunia. Tapi berhubung kondisi saat ini..
ya begitulah... kita cuma bisa chatting.
Uniknya, di Interpals, kita juga bisa memperdalam bahasa asing, karena di sana ada kategori native speaker. Kita bisa praktek bahasa asing dengan penutur aslinya! Oh ya, selain lewat browser, Interpals juga sudah ada aplikasinya di Google Playstore.
Dasar aja aku ini orangnya nggak umum, teman yang kucari pun dari negara yang anti mainstream. Belajar bahasa Prancis, Spanyol, Jerman, udah biasa. Tapi belajar bahasa Bhutan, Tajikistan, Hongaria, Somalia? Nggak usah dikata lagi, luar biasa buat orang Indonesia!
Aku mencoba add beberapa orang native speaker dari Bhutan. Beberapa orang membalas, bahkan ada yang siap sedia membantu kalau aku ingin tahu banyak tentang negaranya! WOOOOW... antusiasmeku memuncak drastis. Aku semakin tertarik belajar bahasa Bhutan. Terbayang, nanti saat suasana dunia udah normal, aku punya keahlian baru yang nggak semua orang bisa.
Terus, seperti apa bahasa Bhutan itu?
Seperti kita ketahui Bhutan adalah negara kecil yang nyempil di antara pegunungan Himalaya. Tidak banyak yang diketahui tentang negara ini karena letaknya yang terpencil. Selain itu negara yang dijuluki Dragon Land ini sangat menjaga keaslian budayanya. Untuk masuk ke negara ini juga tidak mudah. Harus lewat travel agent yang bekerja sama dengan pemerintah setempat, atau atas undangan resmi dari warga atau lembaga setempat. Jadi kalau Nadine Chandrawinata dan Dimas Andrean bisa menikah di sana itu super duper beruntung. Entah berapa biaya yang mereka keluarkan.. aku nggak mau ngegosip di sini.
Bahasa resmi Bhutan disebut Dzongkha, masih satu rumpun dengan bahasa Tibet dan Nepal. Kosakata dalam bahasa Dzongkha masih terbatas, karena itu dalam percakapan sering dikombinasikan dengan istilah atau bahasa lain. Di Google Translate sendiri tidak ada bahasa Dzongkha, sehingga aku harus rela berpusing ria mencari di Google.
Nah, satu contohnya yang kuucapkan di awal tadi. Kuzuzangpo la adalah salam khas Bhutan. Artinya sama dengan halo. Sebenarnya mengucapkan kuzuzangpo saja sudah cukup jika kita berbicara pada teman dekat atau anak-anak. Tapi kalau dengan orang yang lebih tua dan dihormati, tambahan la sangat penting untuk diucapkan agar lebih sopan.
Sekarang, aku coba bikin kamus kecil bahasa Bhutan. Lebih jelasnya, lihat postingan berikutnya!
Jumat, 12 Juli 2019
My Third Backpacker (Part 4 - Habis) : Eksplorasi Jiwa Muda di Pantai Jatisari
Sekali lagi aku harus lewat pinggiran jalan raya yang berbatu-batu di antara truk yang lalu lalang. Beneran uji nyali banget. Kali ini aku coba lebih teliti memandang ke sebelah kanan, kalau-kalau aku menemukan plang bertuliskan “Pantai Jatisari”.
Seperti yang kulihat tadi, di seberang SPBU Sluke adalah hutan laut yang juga berfungsi sebagai rest area. Sayangnya pagar tempat itu masih dikunci. Aku memelototi setiap bagiannya, kalau-kalau ada celah untuk masuk. Tapi nihil.
Hampir putus asa rasanya. Tiba-tiba kulihat jalan setapak menuju ke arah pantai. Aku coba saja masuki, beberapa puluh meter. Yes! Kali ini tujuanku tidak salah, sebuah pantai yang landai!
Inilah Pantai Jatisari itu. Huh, kenapa nggak terlihat dari tadi sih? Mau gimana lagi, tadi langit masih gelap lagian nggak ada papan petunjuknya. Ah, udahlah, yang penting udah sampai ke sini.
Seperti kusebutkan tadi, pantai ini landai dan ombaknya tidak terlalu besar. Puluhan batu besar berjajar di tepinya sebagai pemecah ombak. Tak ketinggalan batu karang yang turut menghiasi. Jauh di sebelah barat, terlihat dermaga dengan perahu nelayan yang berjajar. Memang, mayoritas warga pesisir utara ini berprofesi nelayan.
![]() |
| Dermaga sebelah barat |
![]() |
| Pantai Jatisari yang landai |
Cahaya matahari belum terlalu terang. Aku masih bisa lihat sisa-sisa sunrise tadi mwmbentuk siluet yang indah. Di saat seperti ini, aku sendirian di pantai. Kubuka jaketku dan kulepas sepatu. Seketika udara pagi yang sejuk menyentuh tubuhku. Ah, enaknya…
Beruntung sekali di tepi pantai banyak batu besar, jadi aku nggak usah tunggu orang datang buat bantuin memotret. Beberapa batu yang permukaannya agak tinggi bisa membantuku buat berfoto. Hah, serius? Ngapain bohong! Caranya tinggal aku setel timer kamera, sandarkan HPnya ke batu, bergaya, lalu beberapa saat otomatis “cekrek”. Inilah teknologi zaman now.
Aku beranikan diri mendekati laut. Ombak tidak terlalu besar, tapi tetap harus hati-hati, apalagi buat aku yang nggak bisa berenang…. salah-salah terseret sampai Kalimantan (mana bisa?). Baru kali ini aku ke pantai sendirian saat sunrise, jadi nggak boleh dilewatkan dong. Sementara kamera HP menjepret berulang kali, aku ekspresikan diri. Kuangkat tangan tinggi-tinggi… Hiyaaaaaa….
Santailah dulu sejenak kawanku
Tinggalkanlah semua masalahmu
Bisik pasir deburan ombak
Temani semesta membiru
Dengarlah
Pantai memanggilmu
Apa yang kau cari ada di luar sana
Ke pantai berlari bersama sama
Ayo ikut denganku
Menari di bawah langit biru
Kau dan aku
Kita bercanda ria
(Ku Lari Ke Pantai by RAN)
![]() |
| Narsis di depan siluet langit pagi |
![]() |
| Berlindung di balik batu karang |
![]() |
| Ekspresikan dirimu! Selamat pagi dunia! |
![]() |
| Perahu nelayan Kabupaten Rembang |
![]() |
| Lapangan dengan latar belakang Gunung Lasem |
Selasa, 09 Juli 2019
My Third Backpacker (Part 3) : Tak Sengaja Ke Pantai Robyong
![]() |
| Mentari segera muncul dari peraduannya |
![]() |
| Pemandangan dari atas tebing |
![]() |
| Salam jumpa lagi matahari! |
![]() |
| Dermaga di bawahku |
Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)
Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...
-
Setelah nonton film Sore : Istri Dari Masa Depan, tiba-tiba saja aku ingin nonton film di bioskop lagi (bilang aja ketagihan). Eh, tunggu ...
-
Kan kuingat s'lalu, kan kukenang s'lalu Senja indah, senja di Kaimana Seiring surya meredupkan sinar Dikau datang ke hati berde...
-
I peeked in to say goodnight When I heard my child in prayer "And for me, some scarlet ribbons Scarlet ribbons for my hair...









.jpg)







