Minggu, 15 Mei 2016

Solo Travelling (8) : Ngempon vs Derekan, 2 in 1 of Bergas

Siang yang panas nggak menyurutkan niat untuk melangkah. Suasana yang ramai nggak membuat hati enggan berjalan. Begitulah, aku memulai perjalananku hari ini.
Lewat dari Polsek Karangjati ke arah timur. Sebenarnya ada tukang ojek yang menawarkan jasa, ada juga MPU (mobil penumpang umum) yang sedang ngetem. Tapi aku putuskan jalan kaki aja. Udah biasa gini, pikirku. GPS di HPku menunjukkan jarak 2 km ke tujuanku : Candi Ngempon, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.
Ternyata perkiraanku salah besar. Jalan Karangjati-Pringapus bukanlah jalan yang sepi. Banyak truk dan mobil boks lalu lalang bikin aku sesekali harus jalan melipir. Di samping daerah industri, sejak dibuka jalan tol Ungaran, daerah ini jadi lebih padat. Jalan jadi terasa makin jauh. Yah… mau gimana lagi?

Penunjuk arah ke Candi Ngempon
1 km lebih dari Karangjati, aku temukan papan penunjuk arah ke Candi Ngempon. Kuikuti petunjuk itu masih dengan GPS aktif, memasuki Desa Ngempon, sampai akhirnya kutemukan sebuah gapura. 
Aku pun memasuki gapura itu dan kelanjutannya adalah hutan bambu. Alamak, ternyata lokasi candi itu sangat pelosok. Kita harus menuruni bukit dengan hutan lebat. Nyesel banget tadi nggak naik ojek. Tapi naik ojek pun, nggak akan bisa sampai ke depan candi, soalnya masih ada turunan tangga dan jalan setapak melintasi sawah.

Lokasi yang terpencil
Seorang ibu pencari rumput lewat di depanku. “Hati hati mas, pelan pelan” katanya dalam bahasa Jawa.  Dia tanya asalku, aku jawab dari Magelang. Ibu itu agak heran, karena aku datang sendirian ke sini. “Ya, semoga pulang dari sini diberkahi, badannya lebih sehat” begitu katanya. Kubalas dengan senyum ramah. Hm, apakah dia mengira aku lagi sakit? Hahaha, maklum, cara aku turun bukit memang kayak robot sempoyongan. Pengidap acrophobia akut sih!  Tapi di balik semua itu, aku dapat pelajaran berharga dari si ibu? Apa itu? Nanti ya ceritanya!
Nah, sudah sampai. Candi Ngempon terletak di dekat sawah. Dipisahkan oleh jembatan, ada Petirtaan atau Pemandian Derekan yang letaknya di ujung pemukiman warga. Keduanya tempat itu saling berkaitan sebagai bangunan peninggalan masa lalu. Suasana damai terasa lewat bukit hijau membentang dan aliran sungai bebatu-batu. Karena capek habis jalan jauh, aku pilih ke pemandian dulu.

Jalan menuju Petirtaan Derekan
Lokasi Derekan sebetulnya nggak jauh dari Pemandian Diwak yang kukunjungi dulu, cuma karena terhalang bukit jadi kalau mau ke sana harus memutar jalan. Begitu aku masuk, ternyata pemandian ini sangat sederhana. Pengelolaan dipegang oleh warga sekitar. Di antara pemandian ada sebuah warung yang sekaligus berfungsi sebagai loket. Kalau nggak ada pengelola lain di situ, kita langsung bayar aja ke ibu warung. Cukup 3000 rupiah saja tarifnya.
Ada 3 kolam pemandian di situ. Dua kolam ukurannya tidak terlalu besar, lengkap dengan atap agar terasa teduh. Masing-masing adalah kolam untuk laki-laki dan perempuan. Satu kolam lagi adalah kolam utama di ruang terbuka.
Awalnya aku mau masuk ke kolam laki-laki, tapi kuurungkan karena tempatnya sempit dan sudah ditempati orang. Ogah deh mandi berhimpitan sama orang yang nggak kukenal. Akhirnya aku ke kolam utama. Kata seorang bapak di situ, mau di kolam utama atau kolam laki-laki sama aja. Malahan kolam utama lebih hangat karena di situlah sumber airnya.

Kolam utama Petirtaan Derekan
Benar saja, saat aku menceburkan diri, air kolam mantap banget hangatnya. Ditambah panas matahari, jadi 2 kali lipat panasnya. Aku nggak peduli jadi hitam, soalnya udah jauh-jauh, lagian pegalku langsung hilang. Lazimnya pemandian air panas, air di sini juga mengandung belerang yang bermanfaat buat kesehatan kulit.
Kolam ini kedalamannya sekitar 1,5 meter, kira-kira setinggi bahuku. Karena nggak bisa renang, aku berendam sambil jalan aja. Kalau mau berendam sambil duduk, harus cari batu besar atau cukup di tangga terbawah. Untuk kamar bilas, tersedia 2 tempat. Di bagian depan ada 4 buah tapi khusus untuk kolam yang kecil. Yang lain, di belakang warung, seperti dianjurkan ibu warung buat aku.
Aku sempat tanya ke mas-mas yang jaga kamar mandi, ternyata cuma ada 2 jalan menuju jalan raya. Pertama, ke sebelah selatan menuju Harjosari (biasa disebut juga Merakmati) sejauh 3 km. Kedua, sebelah utara ke Karangjati, seperti yang kulewati tadi. Masalahnya, nggak ada tukang ojek di sini. Oo… lemas rasanya, harus jalan kaki sejauh itu lagi. Ya, siapa suruh ke sini sendirian?
Sesudah bilas aku siap-siap ke tujuanku yang satu lagi: Candi Ngempon. Cukup dengan menyeberang jembatan dan menembus persawahan, kita bisa langsung sampai ke sekumpulan candi. Uniknya candi ini, karena letaknya di tengah sawah. Candi ini sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh pemerintah dan dinas purbakala setempat.
Sayangnya, aku merasa tempat ini belum dikelola dengan baik. Sama sekali tidak ada petugas maupun orang yang kutemui. Aku pun masuk, tinggal masuk aja. Usut punya usut, ternyata memang tidak ada pungutan biaya buat pengunjung candi.

Ada 4 candi di Candi Ngempon
4 buah candi kecil berdiri tegak di tanah. Keempatnya punya bentuk dan ukuran yang hampir sama. Bagian atap tersusun bertingkat-tingkat, seperti kubah yang meruncing ke atas. Sedangkan bagian bawah adalah sebuah ruangan untuk sembahyang, terbukti dengan adanya dupa di situ. Sampai sekarang, candi ini masih digunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu, terutama saat hari raya Galungan. Sebelum berziarah ke candi, biasanya mereka menyucikan diri terlebih dulu di Petirtaan Derekan.

Ruang tempat sesaji
Batuan yang belum disusun
Batuan candi yang belum tersusun berserakan di sekitarnya beserta lingga dan yoni yang juga ditemukan. Untuk saat ini memang batu-batu itu dibiarkan ala kadarnya, lantaran susunannya rumit sehingga belum bisa disusun sebagai candi yang utuh. Mengingat kondisi medan yang berupa bukit dan sungai, diperkirakan masih ada batuan lain yang tertimbun longsoran bukit atau tersapu aliran sungai.
Konon, candi ini adalah peninggalan Wangsa Sanjaya, salah satu dinasti dari Kerajaan Mataram Kuno. Batuan candi ditemukan pertama kali tahun 1952 oleh seorang warga bernama Kasri, ketika sedang mencangkul sawahnya.
Nah, sekarang aku mau pulang! Yah… aku harus lewat jalan yang sama, mendaki lagi! Kakiku terasa ringan karena efek air panas tadi, tapi nafas nggak bisa kompromi. Ngos ngosan berat, seolah badan mau ambruk.. tapi jangan lah…Saran aja yang buat mau berkunjung ke sini, sebaiknya bawa kendaraan sendiri atau bareng teman. Kecuali buat yang terbiasa jalan jauh atau mendaki gunung.
Singkat cerita, aku keluar dari Desa Ngempon, kulihat sebuah MPU melaju. Tanpa pikir panjang aku langsung menyetop dan naik. Ups, ternyata, ibu yang tadi duduk di depanku. Dengan ramah, dia kembali menyapa. Hal yang nggak kusangka terjadi, dia membayari ongkos angkotku. Katanya, “Saya kasihan sama masnya, jalan sendiri. Kelihatan pucat, kayak lagi sakit”. Dengan tersenyum kujelaskan “Saya udah biasa jalan sendiri begini kok bu, ke Solo, Semarang, juga pernah, memang saya suka jalan-jalan”.
Aku terharu dengan kebaikan si ibu, dia tidak kenal aku, dia hanya seorang pencari rumput, tapi dia punya kepedulian terhadap orang lain. Jarang kutemui orang seperti itu di zaman sekarang. Benar-benar pelajaran berharga buat aku yang lebih sering cuek dengan orang yang nggak kukenal.

Lega rasanya saat aku sampai di pertigaan Polsek Karangjati. Aku turun di sini. Nggak lupa, kuucapkan terima kasih banyak pada si ibu. Semoga Tuhan memberkatinya. 

Senin, 02 Mei 2016

Penyanyi Masa Lalu (6) : Conway Twitty

Conway Twitty (discogs.com)





Hello darling, nice to see you
It's been a long time
You're just as lovely as you used to be

How's your new love? Are you happy?
Hope you're doin' fine
Just to know it means so much to me
……………………..






Conway Twitty? Siapa dia?. Jangan bayangkan Twitty, bebek lucu di Looney Tunes lho! Ini nama penyanyi Amerika zaman dulu.
Di Indonesia, apalagi zaman sekarang, tidak banyak orang yang tahu nama itu. Yeah, nama Conway Twitty memang tidak sengetop Elvis Presley atau Jim Reeves. Biarpun begitu, ia hidup sezaman dengan penyanyi-penyanyi tersebut. Dan pada masanya, ia cukup dikenal di Amerika.
Conway Twitty adalah nama panggung dari Harold Llyod Jenkins. Ia lahir di Mississippi, Amerika Serikat pada 1 September 1933. Bakatnya sudah nampak sejak dia kecil. Pada usia 10 tahun Harold sudah membentuk grup Philipps County Ramblers yang sering tampil di radio-radio lokal. Di samping menyanyi, ia juga hobi bermain baseball. Sayangnya, cita-citanya menjadi atlet terpaksa dipendam karena ia direkrut oleh Angkatan Darat AS menjadi tentara dalam Perang Korea.
Sepulangnya ke Amerika pada tahun 1956, Harold terinspirasi oleh kesuksesan Elvis Presley. Ia pun kembali menekuni dunia musik. Ia rekaman di Sun Studios, Memphis. Karena kurang berhasil, Harold memutuskan pindah ke Mercury Records. Ini pun hanya jalan di tempat. Akhirnya, lewat MGM Records, ia akhirnya mulai menuai kesuksesan. Hits “It’s Only Make Believe” pun meledak.  Agar mudah dikenal, Harold menggunakan nama panggung Conway Twitty. Conway adalah sebuah kota di Arkansas, sedangkan Twitty adalah kota di Texas.
Twitty memilih menekuni musik country. Selama tiga dekade,  lagu-lagunya menjadi hits, seperti “Linda On My Mind”, “I Love You More Today”, “To See My Angel Cry”, “You've Never Been  This Far Before”, “The Image Of Me”,  “Happy Birthday Darling” dan “Hello Darling”. Pada tahun 1970-an, ia juga berduet dengan Loretta Lynn membawakan “Lead Me On”, “After The Fire Is Gone”  hingga “Louisiana Woman, Mississippi Man”. Tak terhitung penghargaan yang sudah diperolehnya.

Conway Twiitty dan Loretta Lynn (youtube.com)
Ada cerita unik terkait lagu “Hello Darling”. Ketika Twitty menggelar konser di California, tiba-tiba seorang penonton wanita mengalami serangan jantung. Orang-orang yang menolongnya akan membawanya ke rumah sakit. Tapi wanita itu menolak. Ia tidak mau meninggalkan konser sebelum mendengarkan “Hello Darling”. Maka, sebuah catatan diserahkan ke Twitty. Twitty pun segera membawakan “Hello Darling”. Biarlah melenceng dari urutan acara, yang penting wanita itu bisa segera dirawat, begitu pikirnya.
Setiap kali konser, Twitty jarang berbicara. Namun anggapan sombong segera sirna karena ia sangat menghargai fansnya. Ia dengan sabar melayani permintaan tanda tangan. Di lingkungan tempat tinggalnya pun ia tetap bersikap layaknya orang biasa.
Hingga tahun 1990-an,  nama Conway Twitty tetap dikenal. Ia mengeluarkan hits “Crazy In Love” dan “Final Touches”, sehingga total ia sudah menghasilkan 55 single dan 110 album!
Pada tanggal 5 Juni 1993, Twitty menggelar tur di Missouri. Setelah konser, ia pingsan. Sempat dilarikan ke rumah sakit, namun akhirnya tak tertolong.  Conway Twitty meninggal dalam usia 59 tahun. Diagnosis dokter mengatakan, ia menderita aneurisma aorta, atau atau pembesaran pembuluh darah pada perut.
Nama Conway Twitty diabadikan lewat penghargaan Music Hall Country of Fame dan Hall of Fame Rockabilly. Kini, warisan musiknya dikelola oleh putra putrinya.

Link video:

Jumat, 22 April 2016

Dari Candi Sambisari Ke Candi Sari

Siapa yang menyangka, di tengah keramaian kota Jogja tersembunyi sebuah candi dengan taman yang sangat indah? Candi Sambisari namanya.
Dari arah Magelang, kita bisa lewat Ring Road Utara sampai pojok lalu belok kiri ke Jalan Raya Tajem. Agak mblusuk sih jalannya. Bila kau datang dari selatan (kata lagunya Shaggy Dog) atau dari arah Solo, ini lebih mudah. Setelah Akademi Angkatan Udara, kita bisa temukan Jalan Candi Sambisari di sebelah kanan lalu lurus aja asal jangan sampai nabrak….hehehe…
Candi ini letaknya agak di bawah, jadi buat yang lewat dari kejauhan mungkin heran “Lho, mana candinya?” Yes, kita harus menuruni anak tangga untuk sampai ke depannya. Bagaikan bangunan di lembah dikelilingi padang rumput hijau. Sesekali deru pesawat terbang dari Bandara Adisucipto akan memecah kesunyian. Keadaan yang sungguh mempesona. 

Candi Sambisari, letaknya di bawah
Bersama David, aku menikmatinya. Suasana siang itu lumayan ramai oleh serombongan pengunjung, cewek-cewek bersama seorang fotografer, yang kata David “kayak pemilihan Miss Universe”… lumayan buat cuci mata…hehehe…. Tapi nggak menyurutkan niat kami buat narsis-narsisan. Dan kok ya ndilalah, spot mana pun kami berfoto, semua sama bagusnya.

Bergaya di bawah pohon yang unik
Ada saluran air di sebelah kanan candi. Fungsinya sebagai saluran pembuangan air hujan agar candi tidak tergenang. Unik sekali, mirip kolam putri raja. Tangga buat ke bawah juga ada. Biarpun begitu, kami nggak mungkin turun, karena di sini ada rombongan makhluk penghisap darah, yaitu lintah. Siap-siap kena anemia kalau berani turun…eh….


Saluran pembuangan air hujan
Kami turun ke pelataran candi, dan wow… bukan cuma satu candi tapi empat. Satu candi utama dikelilingi tiga candi perwara yang sayang sekali bentuknya tidak utuh. Tambah lagi batu lingga dan yoni yang ikut melengkapi suasana. Nggak kalah sama situs Stonehenge di Inggris!

Tangga yang indah
Gerbang masuk pelataran

Situs bersejarah!

Batu yang belum disusun
Batu-batu candi yang belum disusun masih tersebar di sekitar pelataran. Ya, untuk merekonstruksi candi memang tidak mudah, perlu ketelitian untuk mengetahui susunan asli batu-batuan itu. Apalagi nggak jarang ada batu-batu yang hilang. Menurut buku yang pernah kubaca, biasanya penyusunan dilihat dari arah robohnya batuan. Kalau batunya ditemukan sebelah barat, itu artinya batu itu adalah bagian dinding sebelah barat.

Candi utama
Di depan candi utama
Relief yang cantik
Pahatannya halus
Salah satu candi perwara
Candi perwara yang tidak utuh beserta lingga di depannya

Eh, ada pesawat lewat

Relief candi menggambarkan ukiran-ukiran cantik. Di bagian dinding luar terdapat relung berisi arca Durga, Agastya dan Ganesha, dewa-dewa dalam agama Hindu Syiwa. Konon, candi Sambisari ini dibangun sekitar abad ke-9 oleh Wangsa Syailendra, dinasti penguasa kerajaan Mataram Kuno. Pada abad ke-10, terjadi bencana dahsyat Gunung Merapi yang mengubur peradaban tersebut. Sampai akhirnya tahun 1966, waktu warga sekitar menggarap lahan mereka menemukan batuan yang mengandung unsur candi. Melalui usaha Dinas Purbakala, Candi Sambisari pun berhasil ditemukan dan dipugar kembali.
Sesudah puas, kami lanjutkan perjalanan ke sebelah timur kota Jogja. Yeah, sebagai eks wilayah Kerajaan Mataram Kuno, Kalasan penuh dengan peninggalan sejarah, terutama candi. Bisa dibilang, Kalasan adalah “gerbang” dari Prambanan, karena selepas dari kota Yogyakarta, kita akan lewat Kalasan dulu baru sampai di Prambanan. Selain Candi Sambisari, masih ada Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Kedulan dan Candi Kadisoka. Dua candi yang kusebut terakhir baru ditemukan beberapa tahun yang lalu dan sekarang sedang proses rekonstruksi. Apakah masih ada candi lain yang belum ditemukan? Maybe…
Pilihan kami adalah Candi Sari, sebuah candi Buddha. Letaknya di Dusun Bendan, beberapa ratus meter sebelah timur Candi Kalasan. Cukup masuk beberapa meter dari jalan raya Jogja-Solo, kami udah sampai. Begitu lihat candinya, kami langsung takjub “wah… gede banget”.


Candi Sari, biara para biksu
Batu-batuan candi yang tidak atau belum tersusun
Memang nggak sebesar Candi Borobudur, tapi bangunan candi dari abad ke-8 ini begitu megah menjulang. Bagian atas dihiasi beberapa stupa yang mengingatkanku pada kubah katedral. Di dalamnya ruangan bertingkat dengan jendela. Maklum saja, Candi Sari adalah sebuah biara atau asrama bagi para biksu. Dindingnya dihiasi relief Bodhisatwa yang digambarkan berdiri dengan memegang bunga teratai. Menurut penjelasan di situ, saat ditemukan bagian selasar candi hilang. Jadi bayangin aja, sebesar apa candi ini kalau lengkap.

Relief Bodhisatwa
Arsitektur nan megah
Tangga masuk ke candi, belum tersusun rapi
Sayangnya, siang itu Candi Sari nampak sepi. Pengunjungnya cuma kami berdua. Tapi di luar candi yang adalah perkampungan, warga sekitar beraktivitas. Ada yang sedang menggembalakan sapi, menuju ke sebelah utara candi yang banyak rumputnya.
Baik Candi Sambisari maupun Candi Sari sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemkab Sleman. Harga tiket masuknya juga sama, yaitu Rp. 2000 per orang. Terjangkau banget kan?

Sebenarnya aku pengin lanjut ke Candi Kalasan, tapi berhubung kami udah capek, terpaksa aku pending dulu. Sampai jumpa di Kalasan suatu hari nanti! 

Jumat, 15 April 2016

Lagu Masa Lalu (10) : Que Sera, Sera


When I was just a little girl
Doris Day tahun 2014 (www.showbiz411.com) 

I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

When I was young, I fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead
Will we have rainbows, day after day
Here's what my sweetheart said.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

Now I have children of my own
They ask their mother, what will I be
Will I be handsome, will I be rich
I tell them tenderly.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera

What will be, will be
Que Sera, Sera

Masih ingat lagunya mbak Ria Enes yang terkenal dengan boneka Suzan-nya? “Suzan, Suzan, Suzan, besok gede mau jadi apa?” Yup, anak-anak pasti punya cita-cita buat masa depannya. Dengan lugunya mereka bilang mau jadi dokter, insinyur atau malah presiden! Kayak aku waktu TK dulu, pengin jadi insinyur! Biarpun sebenarnya nggak tahu insinyur itu apa…. hehehe… Sesudah besar apakah anak-anak itu beneran jadi dokter, insinyur atau presiden? Oh, belum tentu!
Begitu juga lagu ciptaan Ray Evans dan Jay Livingstone yang dinyanyikan oleh Doris Day pada 1956 ini. Seorang anak perempuan bertanya pada ibunya, apakah kelak ia akan jadi cantik dan kaya? Ibunya menjawab “que sera, sera” karena kita tidak bisa melihat masa depan. Ketika anak perempuan itu beranjak dewasa, ia bertanya tentang kebahagiaan pada pacarnya, dan dapat jawaban sama. Bertahun-tahun kemudian, ia menjadi seorang ibu, ia mendapat pertanyaan sama dari anak laki-lakinya. Di sinilah ia teringat dan mengutip jawaban ibu dan pacarnya dulu.

Film The Man Who Knew Too Much  tahun 1956 (www.doctormacro.com) 
Perjalanan lagu ini mirip dengan cerita liriknya. Awalnya digunakan sebagai soundtrack utama film “The Man Who Know Too Much” besutan Alfred Hitchcock. Sempat terlupakan selama beberapa dekade, lagu ini mencuat lagi beberapa tahun terakhir lewat channel You Tube. Jingle iklan semen Holcim juga memakai lagu ini.  Jadi generasi sekarang bisa tahu apa itu “que sera, sera”.
Apa sih “que sera sera”? Makanan apa itu? Wkwkwkwkwk… Que sera sera itu istilah dalam bahasa Spanyol, artinya “apa yang terjadi terjadilah” (wah… kayak refrain lagu Kupu-kupu Malam aja). Istilah ini digunakan untuk menggambarkan “kepasrahan”. Kita bisa bercita-cita, tapi kita nggak akan tahu hari esok itu seperti apa (kecuali kita bisa menciptakan mesin waktunya Doraemon). Dan jangan lupa kata pepatah: manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Yang bisa kita lakukan cuma berdoa dan berusaha biar masa depan kita cerah.
Ingatlah pengalaman berharga dari masa lalu dan jadikan pelajaran bagi generasi selanjutnya.

Link video:

Ini yang versi iklan Holcim

Selasa, 05 April 2016

Lagu Masa Lalu (9) : Do Re Mi



Salah satu adegan The Sound of Music (Sumber : bbc.com)

Let's start at the very beginning
A very good place to start
When you read you begin with A B C
When you sing you begin with Do Re Me
Do Re Me, Do Re Me
The first three notes just happen to be
Do Re Me, Do Re Me
Do Re Me Fa So La Ti
Let's see if I can make it easier

Doe, a deer, a female deer
Ray, a drop of golden sun
Me, a name I call myself
Far, a long long way to run
Sew, a needle pulling thread
La, a note to follow so
Tea, a drink with jam and bread
That will bring us back to Do, oh oh oh

Doe, a deer, a female deer
Ray, a drop of golden sun
Me, a name I call myself
Far, a long long way to run
Sew, a needle pulling thread
La, a note to follow so
Tea, a drink with jam and bread
That will bring us back to

Doe, a deer, a female deer
Ray, a drop of golden sun
Me, a name I call myself
Far, a long long way to run
Sew, a needle pulling thread
La, a note to follow so
Tea, a drink with jam and bread
That will bring us back to Do

Do Re Me Fa So La Ti Do, So Do

'Now children, Do Re Me Fa So and so on
Are only the tools we use to build a song
Once you have these notes in your heads'
'You can sing a million different tunes by mixing them up
Like this'

So Do La Fa Me Do Re
'Can you do that?'
So Do La Fa Me Do Re
So Do La Ti Do Re Do
So Do La Ti Do Re Do
'Now, put it all together'

So Do La Fa Mi Do Re
So Do La Ti Do Re Do
Good
'But it doesn't mean anything?'
'So we put in words'
'One word for every note, like this'

When you know the notes to sing
You can sing most anything
Together
When you know the notes to sing
You can sing most anything

Doe, a deer, a female deer
Ray, a drop of golden sun
Me, a name I call myself
Far, a long long way to run
Sew, a needle pulling thread
La, a note to follow so
Tea, a drink with jam and bread
That will bring us back to Do

Do Re Me Fa So La Ti Do
Do Ti La So Fa Me Re
Do Me Me
Me So So
Re Fa Fa
La Ti Ti
Do Me Me
Mi So So
Re Fa Fa
La Ti Ti

When you know the notes to sing
You can sing most anything

Doe, a deer, a female deer
Ray, a drop of golden sun
Me, a name I call myself
Far, a long long way to run
Sew, a needle pulling thread
La, a note to follow so
Tea, a drink with jam and bread
That will bring us back to

So Do La Fa Me Do Re
So Do La Fa
La So Fa Me Re
Ti Do

So Do


Anak-anak…. mari kita belajar menyanyi…. Ya, lagu di atas memang identik dengan pelajaran menyanyi di TK atau SD. Tapi bukan berarti orang dewasa nggak cocok nyanyi lagu ini lho! Malah, dalam sejarahnya, lagu ini dibawain oleh orang dewasa.
Bicara tentang lagu ini nggak bisa dilepaskan dari film The Sound of Music dengan aktris Julie Andrew sebagai tokoh utamanya. Dalam film itu, Julie berperan sebagai Maria, seorang biarawati yang bertugas mengasuh anak-anak seorang kapten Angkatan Laut. Sebagai anak-anak perwira, wajar kalau mereka dididik ala militer oleh sang ayah. Tapi saat bertemu Maria, keadaan berubah 360 derajat. Dengan sabar, Maria menemani anak-anak itu bermain dan belajar menyanyi. Maria mengajarkannya dengan mengajak anak-anak menghafalkan notasi. Lagu “Do Re Mi” pun menjadi soundtrack utama film yang meraih Oscar pada tahun 1965 ini. Dilengkapi dengan perkataan Maria, membuat suasana lagu ini lebih “hidup”, ibarat guru yang sedang mengajari murid-muridnya menyanyi.
Lirik maupun irama lagu ciptaan Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein ini memang sangat sederhana, sehingga mudah dinyanyikan. Notasi antar kalimat juga berurutan, tidak terlalu ribet perpindahannya. Pas buat anak-anak yang sedang belajar menyanyi atau main alat musik.

Julie Andrew sekarang (Sumber: usatoday.com)


1 2 3 1 3 1 3
2 3 4 4 3 2 4
3 4 5 3 5 3 5
4 5 6 6 5 4 6
5 1 2 3 4 5 6
6 2 3 4 5 6 7
7 3 4 5 6 7 i
i 7 6 5 6 5 i
1 2 3 4 5 6 7 i 5 i

5 i 6 4 3 1 2
5 i 6 7 i 2 i





Tidak sekedar mengenal notasi, dalam lagu ini anak-anak juga diajak memaknai kata lain, yang bunyinya hampir sama dengan not. Seperti “doe” (plesetan dari “do”) yang adalah sebutan untuk rusa betina, “ray” (plesetan dari “re”) yang artinya pancaran sinar matahari, “me” (plesetan dari “mi”) yang merupakan sebutan untuk diri sendiri, dan seterusnya. Inilah yang dimaksud “when you know the notes to sing, you can sing most anything”, saat kamu memahami not untuk dinyanyikan, kamu bisa nyanyikan hal lain.
Yuk, nyanyi lagi…. do re mi fa sol la si do… sol do ! 


Link video :

Senin, 04 April 2016

Intermezzo

Kali ini aku nggak akan membahas jalan-jalan atau lagu, apalagi penyanyi. Lalu apa dong? Aku lagi pengin curhat tentang hobi nge-blog yang baru setahun ini kujalani. Sharing aja, agar semua membaca dan jadi paham betapa indahnya tulisanku. (lho…kok jadi lagunya Nikita Willy?)
Gimana sih blog ini terlahir?
Dulu, di zaman baheula, sebetulnya aku pernah bikin blog. Namanya view-robertkurniawan.blogspot.co.id Bukan atas kemauan sendiri, tapi perintah dari dosen. Ada-ada aja dulu, aku musti bikin blog buat tuliskan jawaban tugas Pengantar Teknologi Informasi. Pernah juga bikin akangrobert.multiply.com yang isinya pengalaman lucu semasa kuliah. Ya, tapi akhirnya  kedua blog itu mangkrak, habisnya aku bingung mau nulis apa. Nulis tentang orang tua, takut bocorin rahasia keluarga. Nulis tentang teman, nanti dikira gosipin orang. Nulis tentang kucing tetangga? Lha wong tiap kali dia datang selalu kuusir.
Sejak itu, aku nggak pernah terinspirasi buat bikin blog, biarpun aku suka mengintip (maksudnya membaca) blog orang lain. Sampai suatu hari, aku ikut audisi X Factor Indonesia. Lho, apa hubungannya? Ikut audisi ini membuatku kenal dengan teman-teman baru. Mereka antusias banget saling cerita pengalaman. Sampai akhirnya, satu dari mereka menganjurkanku bikin blog. Aku pikir, okelah, aku bikin, aku ceritakan  motivasi dan pengalamanku ikut audisi. Aku sengaja bikin blog baru, bukan merenovasi blog lamaku, lagian Multiply juga udah bubar. Biarlah yang lama jadi kenangan, gitu pikirku.
Postingan pertama berjudul “Mimpiku”, isinya curhat tentang apa yang sebenarnya jadi cita-citaku. Agak deg-degan waktu itu, bakalan jadi headline news kalau teman dekatku sampai baca ceritaku ini,. So, biarpun udah bikin blog baru, naluri blogger nggak langsung menghinggapiku. Butuh waktu 4 bulan, baru bisa kukisahkan pengalamanku ikut audisi.
Sesudah bikin postingan itu, aku merasa sayang banget kalau blog baru ini dibiarkan berlumut. Putar otak  pikirkan isi yang sesuai, maka muncullah inspirasi dari beberapa blog traveler. Pengalamanku jalan-jalan kumasukkan juga di sini biar bisa jadi cerita menarik.
Sebagian besar pengalaman jalan-jalanku adalah solo travelling, bukan berarti jalan-jalan ke Solo, tapi travelling sendirian. Tahu nggak sih? Solo travelling itu enak, kita bisa bebas mau kemana tanpa ada yang mengatur, sekaligus menguji nyali..eh…menguji keberanian kita. Kenapa aku kasih penomoran? Biar orang penasaran, aku udah kemana aja selama ini. Kayak cerita seri, kalau orang udah baca seri ke 20, pasti penasaran bagian awalnya gimana. Pemandian Air Panas Diwak dan Puri Maerokoco jadi tujuan  awalku, tapi untuk selanjutnya aku berusaha nggak cuma mengunjungi satu tempat kalau solo travelling. Ini sesuai dengan sloganku “segala yang indah tidak boleh dilewatkan”. Percuma jauh-jauh kalau nggak menikmati apa yang ada.
Selanjutnya, kok ada lagu dan penyanyi masa lalu? Bukan sekedar buat memenuhi blog, tapi memang itulah kesukaanku. Yup! Sejak SMA, aku suka banget dengerin lagu-lagu barat jadul. Hampir tiap malam siaran Golden Memories di radio nggak pernah kulewatkan. Malah, papaku juga suka acara ini dan sering request lagu. Jadilah semua itu meresap dalam naluriku. Nggak seperti orang seumuranku, kupingku lebih nyaman dengerin “Sweet Memories” nya Andy Williams ketimbang “Baby” nya Justin Bieber.
Tapi aku nggak sembarangan cerita tentang lagu dan penyanyi. Aku sengaja tampilkan lagu yang punya “faktor X” alias mengandung sejarah, cerita atau pesan tertentu. Tema cinta sudah biasa, tapi kalau tema rindu kampung halaman itu jauh lebih kena maknanya kan?  Untuk penyanyi, aku tulis tentang mereka yang sudah almarhum atau almarhumah, karena kalau yang masih hidup segala kemungkinan masih bisa terjadi. Nggak lucu dong, kalau hari ini aku bilang dia “penyanyi yang punya jiwa sosial”, tapi besoknya dia kesandung kasus?
Terus apa lagi? Hmmm… kalau ada pengalaman yang betul-betul berkesan, aku masukin juga. Contohnya tentang gerhana matahari 9 Maret lali. Tentang gaya bahasa, aku akui bahasaku memang masih morat marit. Semua tergantung dari mood saat mengetik. Ada saatnya untuk bercanda, ada saatnya untuk serius. Asal tahu aja, di dunia nyata, aku orangnya introvert, jarang ngomong. Tapi di dunia maya, bisa berbalik 360 derajat.

Ya beginilah blog ini. Kalau ada masukan, silahkan komen di bawah. Thank you. 

Minggu, 27 Maret 2016

Lagu Masa Lalu (8) : Terang Bulan


Terang bulan, terang bulan di kali
Buaya timbul disangkalah mati
Jangan percaya mulutnya lelaki
Berani sumpah tapi takut mati
                        
Jujur aja, aku kurang setuju dengan dua baris terakhir lagu ini. Masalahnya, zaman sekarang bukan cuma lelaki, perempuan juga banyak yang nggak bisa dipegang ucapannya! Tapi udahlah, bukan saatnya ngomongin itu, lagian aku sendiri juga nggak selalu bisa dipercaya kok…. hehehe… tapi tulisanku di sini bukan asal-asalan lho ya….
Kalau kita perhatikan, lirik lagu di atas adalah sebuah syair. Dahulu kala, syair memang merupakan sebuah karya sastra pendek dengan makna tertentu dan bunyi yang hampir sama setiap baitnya (bersajak a-a-a-a).
Pada akhir decade 1930-an, lagu ciptaan Saiful Bahri  ini melejit seiring berkembangnya musik keroncong di Indonesia, yang waktu itu masih bernama Hindia Belanda. Banyak musisi dan penyanyi suka dengan lagu ini, sampai-sampai dibuat filmnya pada tahun 1937. Lagu ini juga terkenal sampai ke negeri Belanda. Beberapa penyanyi Belanda membawakannya, baik dengan bahasa Belanda, bahasa Indonesia atau bahasa campuran. Ada Rudy van Dalm, Wieteke van Dort hingga Zangeres Zonder Naam. Liriknya pun digubah dalam berbagai versi, tapi tetap dengan tema dan ritme yang sama. 


Zangeres Zonder Naam membawakan "Terang Bulan"  (Sumber : You Tube)
Tidak diketahui pasti bagaimana melodi lagu ini sama dengan lagu kebangsaan Malaysia, “Negaraku”. Beberapa sumber mengatakan, Presiden Soekarno pernah menghadiahkan piringan hitam lagu “Terang Bulan” kepada pemerintah Malaysia. Polemik “Terang Bulan” kembali mencuat di tahun 2009, ketika perusahaan rekaman Lokananta Records mengeluarkan anggapan bahwa irama “Negaraku” menjiplak “Terang Bulan”.
Tapi orang Malaysia sendiri malah membantah, dengan mengatakan bahwa “Negaraku” diadopsi dari lagu daerah Perak, Malaysia. Ada juga yang “menyerang” dengan mengingatkan bahwa “Terang Bulan” sendiri juga menjiplak “La Rosalie”, sebuah lagu berbahasa Prancis. ‘La Rosalie” sendiri diciptakan pada abad ke-19 oleh Pierre Jean de Beranger di Kepulauan Seychelles, yang kala itu menjadi koloni Prancis.
Ternyata beginilah sejarahnya, “La Rosalie” pada zamannya begitu populer sampai ke Asia. Dan pada tahun 1888, Kesultanan Perak, yang waktu itu masih di bawah jajahan Inggris, menggunakan lagu ini sebagai lagu kebangsaan Perak dengan judul “Allah Lanjutkan Usia Sultan”. Pada akhir tahun 1930-an, barulah  “La Rosalie” masuk ke Indonesia dan diadaptasi menjadi “Terang Bulan” oleh pencipta lagu Saiful Bahri. Jadi? Ya, kita tidak bisa menyalahkan siapa pun, karena semua bersumber dari  kepopuleran “La Rosalie”.

Link video
https://www.youtube.com/watch?v=z9-rHPlDEQk

Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...