Minggu, 31 Juli 2016

Lagu Masa Lalu (12) : Don't Cry Joni

Jimmy please say you'll wait for me
ll grow up someday you'll see
Savin' all my kisses just for you
Signed with love forever true

Joni was the girl who lived next door
I've known her I guess 10 years or more
Joni wrote me a note one day
And this is what she had to say

Jimmy please say you'll wait for me
I'll grow up someday you'll see
Savin' all my kisses just for you
Signed with love forever true

Slowly I read her note once more
Then I went over to the house next door
Her teardrops fell like rain that day
When I told Joni what I had to say

Joni, Joni, please don't cry
You'll forget me by and by
You're just fifteen I'm twenty two
Joni I just can't wait for you

Soon I left our little home town
Got me a job and tried to settle down
But her words kept haunting my memory
The words that Joni said to me

Jimmy please say you'll wait for me
I'll grow up someday you'll see
Savin' all my kisses just for you
Signed with love forever true

I packed my clothes and I caught a plane
I had to see Joni, I had to explain
How my heart was filled with her memory
And ask my Joni if she'd marry me

I ran all the way to the house next door
But things weren't like they were before
My teardrops fell like rain that day
When I heard what Joni had to say

Jimmy Jimmy please don't cry
You'll forget me by and by
It's been five years since you've been gone
Jimmy I married your best friend John.

Joni Lee berduet dengan Conway Twitty (Sumber : geocities.ws)

Alkisah, ada seorang gadis berumur 15 tahun, namanya Joni. Ia punya tetangga bernama Jimmy (22 tahun). Mereka saling menyukai, tapi Joni merasa masih terlalu muda untuk menikah. Lewat surat, ia minta Jimmy untuk menunggu sampai dia dewasa. Tapi, Jimmy merasa tidak bisa menunggu Joni karena dia sendiri sudah cukup matang. 
Tak lama kemudian, Jimmy mendapat pekerjaan di kota lain. Namun ingatan tentang Joni, terutama tentang permintaannya untuk menunggu, terus terngiang di benak Jimmy.
5 tahun berlalu, kenangan itu tidak bisa dia lupakan, sehingga dia terpaksa pulang. Dia ingin segera menikahi Joni.
Apa yang terjadi sesampai di rumahnya, ternyata Joni sudah menikah dengan John, sahabat Jimmy. Maka, hancurlah hati Jimmy.





Kisah di atas digambarkan dalam sebuah lagu “Don’t Cry Joni”, yang terkenal pada tahun 1975. Dibawakan oleh Conway Twitty, berduet dengan Joni Lee.
Uniknya, Joni Lee adalah putri dari Twitty, yang saat itu baru berumur 16 tahun. Ia sendirilah yang “memerankan” tokoh Joni dalam lagu ini. Sementara Jimmy, diambil dari nama Jimmy Jenkins, adik Joni. Tak heran, karena Twitty sendirilah yang menulis lagu ini bersama Ron Peterson. Selain dengan putrinya, Twitty juga pernah membawakan lagu ini bersama Loretta Lynn.
Lagu ini lebih cocok dibawakan secara duet laki-laki dan perempuan, karena sifatnya bersahutan antar bait. Kisah di lagu ini dilihat dari sudut pandang laki-laki, jadi penyanyi yang perempuan hanya menyanyikan bagian refrain (chours)  lalu menutupnya dengan coda. 

Joni Lee sekarang (Sumber : pageonekentucky.com)
Link video:

Rabu, 06 Juli 2016

Penyanyi Masa Lalu (7) : Lilis Suryani


Jakarta kotaku indah dan megah
Di situlah aku dilahirkan
Rumahku di salah satu gang
Namanya Gang Kelinci

Entah apa sampai namanya kelinci
Mungkin dulu kerajaan kelinci
Karena manusia bertambah banyak
Kasihan kelinci terdesak

Sekarang, rumahnya bejubel
Oh, padat penghuninya
Anak-anak segudang
Grudak gruduk kaya kelinci...

Kami semua hidup rukun dan damai
Hanya satu yang aku herankan
Badanku bulat tak bisa tinggi
Persis kaya' anak kelinci

Gang Kelinci. Sebuah lagu jenaka dari tahun 1960-an. Siapa nggak kenal lagu ini? Yes, biarpun kerajaan kelinci udah terdesak oleh manusia, lagu ini tidak terdesak oleh zaman. Sampai sekarang lagu ini banyak dicover mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Lalu, siapakah yang membawakannya pertama kali?
Pada tahun 1960-an, tersebutlah Lilis Suryani, penyanyi remaja yang top pada masa itu. Sejak kecil, Lilis suka menyanyi. Kendati tidak pernah mengikuti kursus vokal, wanita kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1948 ini memiliki bakat alami yang dikembangkannya secara otodidak. Di usia 15 tahun untuk pertama kalinya ia tampil di TVRI. Ia kemudian membuat rekaman pertamanya lewat Irama Records. Rekaman piringan hitam itu memuat 2 lagu : Tjai Kopi dan Di Kala Malam Tiba. Sejak itulah, nama Lilis Suryani mulai dikenal publik. Suaranya banyak diperdengarkan melalui radio.
Puncak karirnya adalah saat membawakan lagu “Gang Kelinci”, sebuah lagu tentang tempat tinggalnya waktu itu. Sampai kini lagu tersebut identik dengan penyanyi bertubuh mungil ini. Ia tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Kesuksesan Lilis tidak terlepas dari jasa Titiek Puspa, sahabat sekaligus guru bagi dirinya. Dalam suatu kesempatan, Titiek menceritakan awal kerjasamanya dengan Lilis.
Sekitar tahun 1963, Lilis yang masih berusia 15 tahun datang kepada Titiek untuk minta dibuatkan lagu. Namun, saat itu Titiek sedang tidak punya ide . Karena hari sudah sore, Titiek mengantar Lilis pulang dengan naik becak. Begitu memasuki tempat tinggal Lilis yakni Gang Kelinci, kawasan Pasar Baru, Jakarta, Titiek takjub dengan padatnya pemukiman dan keramaian anak-anak di situ. Lewat inspirasi itulah, Titiek menciptakan lagu “Gang Kelinci” untuk Lilis. Tak disangka, lagu ini meledak di pasaran. Selanjutnya, Titiek menciptakan beberapa lagu lagi untuk Lilis, salah satunya “Hari Ulang Tahun”, yang dirilis bertepatan dengan ulang tahun Lilis ke 17.   Lambat laun, Lilis pun bisa menciptakan lagu sendiri. Lagu “Baju Loreng”, “Hesty” dan “Tiga Malam” menjadi karya utamanya.

Salah satu cover album Lilis Suryani
Lagu-lagu yang dibawakan Lilis terbilang variatif. Mulai dari yang bertema cinta, jenaka, balada, hingga patriotisme. Sebut saja “Baju Loreng”, yang menceritakan kekaguman terhadap anggota ABRI. Nasionalisme juga tertuang lewat lagu daerah, seperti “Dayung Palinggam”, “Cing Tulungan”, dan “Tandak Sambas”. Ia juga berkolaborasi dengan Suhaeri dan Benyamin S. membawakan lagu Betawi. Lagu “Genjer Genjer” yang kontroversial itu pun sempat dibawakannya sebelum kemudian dicekal karena dikaitkan dengan PKI.
Bukan hanya masyarakat, Presiden Soekarno pun senang dengan suara merdu Lilis. Bahkan, sebelum “Gang Kelinci” berkumandang, ia sudah pernah tampil di Istana Negara. Bung Karno pulalah yang menginspirasi Lilis menciptakan lagu “Paduka Yang Mulia” dan “Muhibah”.


Lilis Suryani di usia 50-an
Ketenaran tidaklah membuat Lilis terlena. Meski disukai banyak kalangan, ia menghindari kehidupan hura-hura. Ia selalu menolak jika ditawari tampil di klub malam. Rezeki yang diperolehnya pun dikumpulkan untuk biaya naik haji dan kegiatan sosial seperti menyumbang ke panti asuhan.
Pada tahun 1967, Lilis menikah dengan M. Junus Jafar, seorang pria asal Makassar. Mereka bertemu ketika Lilis mengadakan show di kota tersebut. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak.
Lilis mahir memainkan alat musik, termasuk drum. Pada tahun 1968, ia membentuk band The Female bersama Rita Rachman dan Rose Sumanti, yang kemudian mengeluarkan hits “Januari”. Sayang, grup ini tidak berlangsung lama.
Nama Lilis Suryani mulai meredup ketika ia beranjak dewasa. Namun, bukan berarti ia tidak lagi eksis. Tawaran tampil on air maupun off air tetap dijalani oleh penyanyi yang identik dengan rambut pendek berjambul ini. Ia sempat rekaman lagu Melayu Deli dan kaset lawak, namun tidak terlalu sukes di pasaran.


Tahun 2003, Lilis divonis menderita kanker rahim. Sejak itu, ia menjalani berbagai pengobatan. Rekan-rekan artis pun menggalang dana bagi pengobatan Lilis. Namun, takdir berkata lain, pada 7 Oktober 2007, ia meninggal dalam usia 59 tahun. 

(Dari berbagai sumber)

Berikut link YouTube "Gang Kelinci" dengan suara asli Lilis Suryani

Sabtu, 18 Juni 2016

Solo Travelling (9) : Wates, Pesona Sebuah Kota Mungil

Kulon Progo, artinya sebelah barat Sungai Progo, adalah nama kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam hal wisata, daerah ini memang kurang terkenal dibanding Bantul atau Gunung Kidul. Kebanyakan orang tahunya cuma Pantai Glagah dan Hutan Wisata Kalibiru. Ibukota kabupaten, yaitu Wates, juga sering cuma jadi perlintasan jalur Purworejo-Yogyakarta. Nah, karena pengin tahu suasana kota ini, aku coba jelajahi. Yuk!
Sama sekali nggak sulit buat menuju Wates. Dari kawasan Wirobrajan, Yogyakarta, atau tepatnya Jalan Pierre Tendean, kita bisa langsung naik bus Menoreh jurusan Wates. Buat yang nggak sabar menunggu kayak aku, bisa juga ke Terminal Giwangan dulu.
Dengan Rp. 10.000 dan perjalanan 1 jam lebih beberapa menit, aku menikmati perjalanan ini. Jalan raya Jogja-Wates belum pernah kulewati sebelumnya. Makanya, aku sengaja duduk di barisan depan, biar lebih bisa lihat pemandangan. Nggak salah, daerah yang kulewati terasa “adem”, banyak pepohonan di kanan kiri bikin sejuk mata.
Bus melewati jembatan Sungai Progo sebagai "gerbang masuk" ke Kabupaten Kulon Progo. Dua jembatan timbang, difungsikan untuk masing-masing arah. Bentuknya seperti lazimnya jembatan yang memisahkan antar daerah. Satu jembatan lagi di sisi kanan, desainnya mirip Golden Gate di Amerika! Anehnya, jembatan itu nggak dilewati kendaraan. Apakah khusus pejalan kaki? Mungkin…
Tujuan pertamaku adalah Pasar Wates. Yups, pasar tradisional selain tempat belanja, juga sebuah ikon perekonomian daerah. Mungkin kurang pas disebut tempat wisata, tapi selalu ada daya tarik dimana kita bisa lihat keseharian masyarakat sekitar.
Yang paling jadi sasaranku, apa lagi kalau bukan makanan khas. Kalau di Gunung Kidul bisa kita temukan tiwul, maka di Kulon Progo ada yang namanya growol. Makanan ini sekarang udah langka, saking langkanya orang tuaku pun nggak tahu itu apa! Nah, aku kasih tau ya.. growol adalah ketela pohon yang diperam lalu dihaluskan dan dikukus. Sebagai pelengkap, biasanya disajikan ketak , yaitu sejenis perkedel terbuat dari endapan minyak kelapa. (NB : Hati-hati menyebut “ketak”, bacanya jangan terlalu ditekan, karena “kethak” dalam bahasa Jawa berarti menjitak).
Hm... kok jadi ngomongin makanan? Sekarang aku udah masuk kota Wates! Sebenarnya aku mau turun di Terminal Wates. Tapi pak sopir dan pak kernet menganjurkan kalau mau ke pasar, mendingan turun di depan BRI Wates aja, soalnya lebih dekat. Apalagi kebanyakan bus jurusan Jogja ngetem di seberang BRI.  Nanti saat pulang, naik busnya dari sini.

Monumen Nyi Ageng Serang
Turun dari bus, aku lebih dulu terpukau dengan sebuah monumen, nggak jauh dari situ. Patung seorang wanita menunggang kuda dengan gagah berani. Itulah Monumen Nyi Ageng Serang, yang dibangun untuk mengenang jasa pahlawan wanita tersebut. Nyi Ageng Serang adalah pejuang yang gigih melawan kolonialisme abad ke-19 . Bahkan sampai lanjut usia, ia tetap memimpin pasukan Perang Diponegoro dari atas tandu. Ia lahir di Purwodadi, Jawa Tengah tahun 1752 dan meninggal di Yogyakarta tahun 1828. Berkat jasanya terhadap masyarakat Kulon Progo, nama Nyi Ageng Serang diabadikan lewat monumen di pusat kabupaten ini. Makamnya sendiri ada di Kalibawang, sekitar 30 km dari Wates.
Dari monumen itu, aku bergerak ke utara menuju Jalan Brigjen Katamso.  Aku mampir sebentar ke Alfamart beli air mineral lalu lanjut berjalan ke timur. Di sinilah aku langsung menemukan Pasar Wates.

Bagian depan Pasar Wates
Pasar tradisional ini tidak terlalu besar. Terdiri dari 2 lantai. Karena tujuan utamaku ingin mencari growol, aku pikir aku nggak perlu lihat-lihat ke arah lain. Menurut info, penjualnya ada di lantai 2, jadi langsung aja aku ke sana.Seperti orang hilang, aku mengitari pasar sendirian. Kalau ada orang lihat, perasaanku rada gimana gitu, tapi karena niatku solo travelling, rasa malu itu harus kubuang jauh-jauh. Agak lama aku mencari penjual growol. Entah karena sudah siang, atau memang karena bulan puasa, banyak los atau meja yang kosong. Jadi nggak banyak aktivitas jual beli yang kutemui.
Sesudah hampir putus asa, aku lihat seorang pedagang di bagian timur. Mataku langsung tertuju pada sebuah makanan. Mirip ketupat, tapi dibungkus plastik dengan alas daun pisang. Maka, terjadilah percakapan antara aku dan ibu penjualnya (aslinya pakai bahasa Jawa, tapi biar pada ngerti, di sini kutulis pakai bahasa Indonesia aja).

Aku : “Bu, ini apa?” 
Ibu :  “Itu growol, dibuat dari ketela”
Aku : "Satu berapa bu?"
Ibu :  "2500"

Aku pun langsung membelinya sebuah. Harganya Rp. 2500 aja. Belum puas, mataku mengamati dagangan si ibu satu persatu. Sebuah bungkusan plastik menarik perhatianku. 

Aku : “Kalau ini apa bu?” 
Ibu : . “Itu serundeng, buat dimakan sama growol” 
Aku : "Berapa bu?"
Ibu :  "Sama. 2500"
Aku :  "Kalau ketak ada bu?"

Si ibu menunjuk butiran coklat dibungkus plastik. Ukurannya kecil. Aku kira itu terasi. 

Ibu : "Ketaknya adanya yang manis, soalnya puasa, nggak bikin yang asin”.

Aku langsung ingat artikel yang kubaca. Di daerah Wates ini ada juga yang namanya gula ketak. Bahannya sama dengan ketak biasa, cuma bedanya yang ini dibuat seperti wajik. 

Aku : “Dua aja bu” 
Ibu :  “Kok cuma dua? Itu enam ribu dapat sepuluh lho”.  
Aku : “Ya, ini aja nggak apa-apa bu
Ibu : “Begini aja, dua ribu tiga ya, biar hitungnya gampang”.

Aku setuju. Sebuah growol,  sebungkus serundeng dan 3 buah gula ketak, total Rp. 7000

Aku keluar dari Pasar Wates, menuju ke Alun-alun Wates. Dengan mengandalkan GPS, aku menuju ke arah barat, tepatnya Jalan Sutijab. Suasana kota siang itu agak sepi, mungkin karena bulan puasa. Keramaian cuma terlihat di sekitar pasar dan toserba.
Di sebuah pertigaan, aku belok ke utara. Pemandangan yang ada bikin aku serasa bukan di kota. Masih ada sawah yang membentang dengan jalur hijau yang menyejukkan mata. Semakin jauh aku berjalan, aku temukan lintasan kereta api. Tempat itu  memang dekat dengan Stasiun Wates, dimana hampir tiap jam kereta api lewat. Nggak ada jalan lain, aku harus menyeberangi rel. Deg-degan juga. Tapi dasar traveler, di tengah rel aku masih sempat ambil foto pemandangan. Habis bagus sih!

Rel kereta. Kapan lagi bisa lewat sini?
Tinggal jalan sedikit lagi, aku sudah sampai di Alun-alun Wates. Kembali pemandangan luar biasa menghipnotisku. Begitu datang, aku langsung disambut bundaran air mancur dengan bunga-bungaan. Terasa suasana begitu damai karena sepi. Saking sepinya, sampai kicauan burung terdengar jelas. Biarpun sinar matahari cukup panas, pohon-pohon rindang memancarkan kesejukan. Ada beringin, palem, cemara dan aneka bunga. Betul-betul bikin betah.

Suasana alun-alun yang penuh kedamaian....
Kemungkinan alun-alun ini baru akan ramai pada sore atau malam hari. Aku lihat di seberang alun-alun dibangun tenda untuk pasar takjil. Sementara di sisi lain, sebuah panggung disediakan untuk acara-acara khusus.
Aku nggak bisa gambarkan lagi kekagumanku terhadap kota Wates ini. Biarpun kota kecil, tapi ditata dengan rapi dan asri. Kapan lagi, aku bisa rasakan yang seperti ini?

Serundeng kelapa yang gurih

Gula ketak, sejenis wajik berbahan dasar kelapa

Growol, tanpa rasa tapi mengenyangkan

Rabu, 01 Juni 2016

Lagu Masa Lalu (11) : Topi Sarjana

Terpancang di hatiku
Waktu aku masih duduk di bangku SMA
Semangat yang menyala
Untuk segera dapat ku menjadi sarjana
Menyumbangkan tenaga
Bagimu negara

Ketika lulus ujian
Semua nilaiku diatas tujuh senangnya
Ku menyandang ijazah
Serta do'a restu ayah ibuku dan saudara
Aku pergi ke kota
Meneruskan cita-cita

Ayahku telah menjual sawahnya
Untuk membekali anaknya
Ohohoooo...
Sesampai di kota aku terpana
Mendengar kata mereka
Ratusan ribu ku perlu lagi
Untuk cita-citaku

Ohhhh... menangis dalam hatiku
Mengapakah mesti begitu
Aku berjalan membayangkan
Wajah ayah-ibuku

Ku memandang ke depan
Topi sarjanaku melayang-layang tertawa
Seakan-akan berkata
Pulanglah segera menghadap ayah ibunda
Suruh jual semua miliknya
Baru licin jalan ke muka


Cover album Jamal Mirdad
Lagu di atas dibawakan oleh Jamal Mirdad di albumnya “Perawan Desa”. Merinding. Itu kesanku saat pertama kali dengar lagu dari tahun 1981 ini. Jadi pengin bernostalgia dengan zaman awal kuliah…. Yess, menjelang akhir sekolah SMA, pengin deh cepat-cepat merasakan suasana baru di bangku perkuliahan.
Cari info perguruan tinggi yang bagus, biar ilmu yang didapat juga berkualitas. Tapi satu hal yang selalu jadi ganjalan : BIAYA. Bukan cuma sekarang, dari dulu meraih selembar ijazah itu mahal! Diceritakan di lagu itu, sang ayah sampai menjual sawah untuk biaya kuliah anaknya. Nyatanya, itu pun tidak cukup! Masih kurang lagi ratusan ribu (kalau sekarang ya jutaan). Kalau sudah gitu, apakah orang tuanya harus jual semua miliknya? Jelas, tokoh dalam lagu ini kecewa berat. Pupus harapannya untuk meraih topi sarjana.






Saat aku wisuda Sarjana
Apa yang kualami dulu nyaris serupa dengan lagu ini. Orang tuaku tidak punya biaya. Untungnya dengan bantuan banyak pihak, aku bisa masuk kuliah D3. Tapi jangan ditanya perjalananku bakal semulus jalan tol. Pernah orang tuaku sampai menggadaikan barang buat biaya kuliahku. Pernah juga nasib kuliahku di ujung tanduk gara-gara pembayaran uang kuliah macet (yang untungnya dapat pinjaman dari beberapa orang). Betul-betul tertatih-tatih. Sampai akhirnya, bukan cuma Diploma. Lewat kuliah lanjut yang kujalani sambil bekerja, aku berhasil mencapai Sarjana!
So, bersyukurlah kita yang bisa kuliah! Jangan sia-siakan kesempatan itu, karena perjuangannya sangat tidak mudah!







Link video :
https://www.youtube.com/watch?v=cy1agbAiRmE

Minggu, 15 Mei 2016

Solo Travelling (8) : Ngempon vs Derekan, 2 in 1 of Bergas

Siang yang panas nggak menyurutkan niat untuk melangkah. Suasana yang ramai nggak membuat hati enggan berjalan. Begitulah, aku memulai perjalananku hari ini.
Lewat dari Polsek Karangjati ke arah timur. Sebenarnya ada tukang ojek yang menawarkan jasa, ada juga MPU (mobil penumpang umum) yang sedang ngetem. Tapi aku putuskan jalan kaki aja. Udah biasa gini, pikirku. GPS di HPku menunjukkan jarak 2 km ke tujuanku : Candi Ngempon, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.
Ternyata perkiraanku salah besar. Jalan Karangjati-Pringapus bukanlah jalan yang sepi. Banyak truk dan mobil boks lalu lalang bikin aku sesekali harus jalan melipir. Di samping daerah industri, sejak dibuka jalan tol Ungaran, daerah ini jadi lebih padat. Jalan jadi terasa makin jauh. Yah… mau gimana lagi?

Penunjuk arah ke Candi Ngempon
1 km lebih dari Karangjati, aku temukan papan penunjuk arah ke Candi Ngempon. Kuikuti petunjuk itu masih dengan GPS aktif, memasuki Desa Ngempon, sampai akhirnya kutemukan sebuah gapura. 
Aku pun memasuki gapura itu dan kelanjutannya adalah hutan bambu. Alamak, ternyata lokasi candi itu sangat pelosok. Kita harus menuruni bukit dengan hutan lebat. Nyesel banget tadi nggak naik ojek. Tapi naik ojek pun, nggak akan bisa sampai ke depan candi, soalnya masih ada turunan tangga dan jalan setapak melintasi sawah.

Lokasi yang terpencil
Seorang ibu pencari rumput lewat di depanku. “Hati hati mas, pelan pelan” katanya dalam bahasa Jawa.  Dia tanya asalku, aku jawab dari Magelang. Ibu itu agak heran, karena aku datang sendirian ke sini. “Ya, semoga pulang dari sini diberkahi, badannya lebih sehat” begitu katanya. Kubalas dengan senyum ramah. Hm, apakah dia mengira aku lagi sakit? Hahaha, maklum, cara aku turun bukit memang kayak robot sempoyongan. Pengidap acrophobia akut sih!  Tapi di balik semua itu, aku dapat pelajaran berharga dari si ibu? Apa itu? Nanti ya ceritanya!
Nah, sudah sampai. Candi Ngempon terletak di dekat sawah. Dipisahkan oleh jembatan, ada Petirtaan atau Pemandian Derekan yang letaknya di ujung pemukiman warga. Keduanya tempat itu saling berkaitan sebagai bangunan peninggalan masa lalu. Suasana damai terasa lewat bukit hijau membentang dan aliran sungai bebatu-batu. Karena capek habis jalan jauh, aku pilih ke pemandian dulu.

Jalan menuju Petirtaan Derekan
Lokasi Derekan sebetulnya nggak jauh dari Pemandian Diwak yang kukunjungi dulu, cuma karena terhalang bukit jadi kalau mau ke sana harus memutar jalan. Begitu aku masuk, ternyata pemandian ini sangat sederhana. Pengelolaan dipegang oleh warga sekitar. Di antara pemandian ada sebuah warung yang sekaligus berfungsi sebagai loket. Kalau nggak ada pengelola lain di situ, kita langsung bayar aja ke ibu warung. Cukup 3000 rupiah saja tarifnya.
Ada 3 kolam pemandian di situ. Dua kolam ukurannya tidak terlalu besar, lengkap dengan atap agar terasa teduh. Masing-masing adalah kolam untuk laki-laki dan perempuan. Satu kolam lagi adalah kolam utama di ruang terbuka.
Awalnya aku mau masuk ke kolam laki-laki, tapi kuurungkan karena tempatnya sempit dan sudah ditempati orang. Ogah deh mandi berhimpitan sama orang yang nggak kukenal. Akhirnya aku ke kolam utama. Kata seorang bapak di situ, mau di kolam utama atau kolam laki-laki sama aja. Malahan kolam utama lebih hangat karena di situlah sumber airnya.

Kolam utama Petirtaan Derekan
Benar saja, saat aku menceburkan diri, air kolam mantap banget hangatnya. Ditambah panas matahari, jadi 2 kali lipat panasnya. Aku nggak peduli jadi hitam, soalnya udah jauh-jauh, lagian pegalku langsung hilang. Lazimnya pemandian air panas, air di sini juga mengandung belerang yang bermanfaat buat kesehatan kulit.
Kolam ini kedalamannya sekitar 1,5 meter, kira-kira setinggi bahuku. Karena nggak bisa renang, aku berendam sambil jalan aja. Kalau mau berendam sambil duduk, harus cari batu besar atau cukup di tangga terbawah. Untuk kamar bilas, tersedia 2 tempat. Di bagian depan ada 4 buah tapi khusus untuk kolam yang kecil. Yang lain, di belakang warung, seperti dianjurkan ibu warung buat aku.
Aku sempat tanya ke mas-mas yang jaga kamar mandi, ternyata cuma ada 2 jalan menuju jalan raya. Pertama, ke sebelah selatan menuju Harjosari (biasa disebut juga Merakmati) sejauh 3 km. Kedua, sebelah utara ke Karangjati, seperti yang kulewati tadi. Masalahnya, nggak ada tukang ojek di sini. Oo… lemas rasanya, harus jalan kaki sejauh itu lagi. Ya, siapa suruh ke sini sendirian?
Sesudah bilas aku siap-siap ke tujuanku yang satu lagi: Candi Ngempon. Cukup dengan menyeberang jembatan dan menembus persawahan, kita bisa langsung sampai ke sekumpulan candi. Uniknya candi ini, karena letaknya di tengah sawah. Candi ini sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh pemerintah dan dinas purbakala setempat.
Sayangnya, aku merasa tempat ini belum dikelola dengan baik. Sama sekali tidak ada petugas maupun orang yang kutemui. Aku pun masuk, tinggal masuk aja. Usut punya usut, ternyata memang tidak ada pungutan biaya buat pengunjung candi.

Ada 4 candi di Candi Ngempon
4 buah candi kecil berdiri tegak di tanah. Keempatnya punya bentuk dan ukuran yang hampir sama. Bagian atap tersusun bertingkat-tingkat, seperti kubah yang meruncing ke atas. Sedangkan bagian bawah adalah sebuah ruangan untuk sembahyang, terbukti dengan adanya dupa di situ. Sampai sekarang, candi ini masih digunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu, terutama saat hari raya Galungan. Sebelum berziarah ke candi, biasanya mereka menyucikan diri terlebih dulu di Petirtaan Derekan.

Ruang tempat sesaji
Batuan yang belum disusun
Batuan candi yang belum tersusun berserakan di sekitarnya beserta lingga dan yoni yang juga ditemukan. Untuk saat ini memang batu-batu itu dibiarkan ala kadarnya, lantaran susunannya rumit sehingga belum bisa disusun sebagai candi yang utuh. Mengingat kondisi medan yang berupa bukit dan sungai, diperkirakan masih ada batuan lain yang tertimbun longsoran bukit atau tersapu aliran sungai.
Konon, candi ini adalah peninggalan Wangsa Sanjaya, salah satu dinasti dari Kerajaan Mataram Kuno. Batuan candi ditemukan pertama kali tahun 1952 oleh seorang warga bernama Kasri, ketika sedang mencangkul sawahnya.
Nah, sekarang aku mau pulang! Yah… aku harus lewat jalan yang sama, mendaki lagi! Kakiku terasa ringan karena efek air panas tadi, tapi nafas nggak bisa kompromi. Ngos ngosan berat, seolah badan mau ambruk.. tapi jangan lah…Saran aja yang buat mau berkunjung ke sini, sebaiknya bawa kendaraan sendiri atau bareng teman. Kecuali buat yang terbiasa jalan jauh atau mendaki gunung.
Singkat cerita, aku keluar dari Desa Ngempon, kulihat sebuah MPU melaju. Tanpa pikir panjang aku langsung menyetop dan naik. Ups, ternyata, ibu yang tadi duduk di depanku. Dengan ramah, dia kembali menyapa. Hal yang nggak kusangka terjadi, dia membayari ongkos angkotku. Katanya, “Saya kasihan sama masnya, jalan sendiri. Kelihatan pucat, kayak lagi sakit”. Dengan tersenyum kujelaskan “Saya udah biasa jalan sendiri begini kok bu, ke Solo, Semarang, juga pernah, memang saya suka jalan-jalan”.
Aku terharu dengan kebaikan si ibu, dia tidak kenal aku, dia hanya seorang pencari rumput, tapi dia punya kepedulian terhadap orang lain. Jarang kutemui orang seperti itu di zaman sekarang. Benar-benar pelajaran berharga buat aku yang lebih sering cuek dengan orang yang nggak kukenal.

Lega rasanya saat aku sampai di pertigaan Polsek Karangjati. Aku turun di sini. Nggak lupa, kuucapkan terima kasih banyak pada si ibu. Semoga Tuhan memberkatinya. 

Senin, 02 Mei 2016

Penyanyi Masa Lalu (6) : Conway Twitty

Conway Twitty (discogs.com)





Hello darling, nice to see you
It's been a long time
You're just as lovely as you used to be

How's your new love? Are you happy?
Hope you're doin' fine
Just to know it means so much to me
……………………..






Conway Twitty? Siapa dia?. Jangan bayangkan Twitty, bebek lucu di Looney Tunes lho! Ini nama penyanyi Amerika zaman dulu.
Di Indonesia, apalagi zaman sekarang, tidak banyak orang yang tahu nama itu. Yeah, nama Conway Twitty memang tidak sengetop Elvis Presley atau Jim Reeves. Biarpun begitu, ia hidup sezaman dengan penyanyi-penyanyi tersebut. Dan pada masanya, ia cukup dikenal di Amerika.
Conway Twitty adalah nama panggung dari Harold Llyod Jenkins. Ia lahir di Mississippi, Amerika Serikat pada 1 September 1933. Bakatnya sudah nampak sejak dia kecil. Pada usia 10 tahun Harold sudah membentuk grup Philipps County Ramblers yang sering tampil di radio-radio lokal. Di samping menyanyi, ia juga hobi bermain baseball. Sayangnya, cita-citanya menjadi atlet terpaksa dipendam karena ia direkrut oleh Angkatan Darat AS menjadi tentara dalam Perang Korea.
Sepulangnya ke Amerika pada tahun 1956, Harold terinspirasi oleh kesuksesan Elvis Presley. Ia pun kembali menekuni dunia musik. Ia rekaman di Sun Studios, Memphis. Karena kurang berhasil, Harold memutuskan pindah ke Mercury Records. Ini pun hanya jalan di tempat. Akhirnya, lewat MGM Records, ia akhirnya mulai menuai kesuksesan. Hits “It’s Only Make Believe” pun meledak.  Agar mudah dikenal, Harold menggunakan nama panggung Conway Twitty. Conway adalah sebuah kota di Arkansas, sedangkan Twitty adalah kota di Texas.
Twitty memilih menekuni musik country. Selama tiga dekade,  lagu-lagunya menjadi hits, seperti “Linda On My Mind”, “I Love You More Today”, “To See My Angel Cry”, “You've Never Been  This Far Before”, “The Image Of Me”,  “Happy Birthday Darling” dan “Hello Darling”. Pada tahun 1970-an, ia juga berduet dengan Loretta Lynn membawakan “Lead Me On”, “After The Fire Is Gone”  hingga “Louisiana Woman, Mississippi Man”. Tak terhitung penghargaan yang sudah diperolehnya.

Conway Twiitty dan Loretta Lynn (youtube.com)
Ada cerita unik terkait lagu “Hello Darling”. Ketika Twitty menggelar konser di California, tiba-tiba seorang penonton wanita mengalami serangan jantung. Orang-orang yang menolongnya akan membawanya ke rumah sakit. Tapi wanita itu menolak. Ia tidak mau meninggalkan konser sebelum mendengarkan “Hello Darling”. Maka, sebuah catatan diserahkan ke Twitty. Twitty pun segera membawakan “Hello Darling”. Biarlah melenceng dari urutan acara, yang penting wanita itu bisa segera dirawat, begitu pikirnya.
Setiap kali konser, Twitty jarang berbicara. Namun anggapan sombong segera sirna karena ia sangat menghargai fansnya. Ia dengan sabar melayani permintaan tanda tangan. Di lingkungan tempat tinggalnya pun ia tetap bersikap layaknya orang biasa.
Hingga tahun 1990-an,  nama Conway Twitty tetap dikenal. Ia mengeluarkan hits “Crazy In Love” dan “Final Touches”, sehingga total ia sudah menghasilkan 55 single dan 110 album!
Pada tanggal 5 Juni 1993, Twitty menggelar tur di Missouri. Setelah konser, ia pingsan. Sempat dilarikan ke rumah sakit, namun akhirnya tak tertolong.  Conway Twitty meninggal dalam usia 59 tahun. Diagnosis dokter mengatakan, ia menderita aneurisma aorta, atau atau pembesaran pembuluh darah pada perut.
Nama Conway Twitty diabadikan lewat penghargaan Music Hall Country of Fame dan Hall of Fame Rockabilly. Kini, warisan musiknya dikelola oleh putra putrinya.

Link video:

Jumat, 22 April 2016

Dari Candi Sambisari Ke Candi Sari

Siapa yang menyangka, di tengah keramaian kota Jogja tersembunyi sebuah candi dengan taman yang sangat indah? Candi Sambisari namanya.
Dari arah Magelang, kita bisa lewat Ring Road Utara sampai pojok lalu belok kiri ke Jalan Raya Tajem. Agak mblusuk sih jalannya. Bila kau datang dari selatan (kata lagunya Shaggy Dog) atau dari arah Solo, ini lebih mudah. Setelah Akademi Angkatan Udara, kita bisa temukan Jalan Candi Sambisari di sebelah kanan lalu lurus aja asal jangan sampai nabrak….hehehe…
Candi ini letaknya agak di bawah, jadi buat yang lewat dari kejauhan mungkin heran “Lho, mana candinya?” Yes, kita harus menuruni anak tangga untuk sampai ke depannya. Bagaikan bangunan di lembah dikelilingi padang rumput hijau. Sesekali deru pesawat terbang dari Bandara Adisucipto akan memecah kesunyian. Keadaan yang sungguh mempesona. 

Candi Sambisari, letaknya di bawah
Bersama David, aku menikmatinya. Suasana siang itu lumayan ramai oleh serombongan pengunjung, cewek-cewek bersama seorang fotografer, yang kata David “kayak pemilihan Miss Universe”… lumayan buat cuci mata…hehehe…. Tapi nggak menyurutkan niat kami buat narsis-narsisan. Dan kok ya ndilalah, spot mana pun kami berfoto, semua sama bagusnya.

Bergaya di bawah pohon yang unik
Ada saluran air di sebelah kanan candi. Fungsinya sebagai saluran pembuangan air hujan agar candi tidak tergenang. Unik sekali, mirip kolam putri raja. Tangga buat ke bawah juga ada. Biarpun begitu, kami nggak mungkin turun, karena di sini ada rombongan makhluk penghisap darah, yaitu lintah. Siap-siap kena anemia kalau berani turun…eh….


Saluran pembuangan air hujan
Kami turun ke pelataran candi, dan wow… bukan cuma satu candi tapi empat. Satu candi utama dikelilingi tiga candi perwara yang sayang sekali bentuknya tidak utuh. Tambah lagi batu lingga dan yoni yang ikut melengkapi suasana. Nggak kalah sama situs Stonehenge di Inggris!

Tangga yang indah
Gerbang masuk pelataran

Situs bersejarah!

Batu yang belum disusun
Batu-batu candi yang belum disusun masih tersebar di sekitar pelataran. Ya, untuk merekonstruksi candi memang tidak mudah, perlu ketelitian untuk mengetahui susunan asli batu-batuan itu. Apalagi nggak jarang ada batu-batu yang hilang. Menurut buku yang pernah kubaca, biasanya penyusunan dilihat dari arah robohnya batuan. Kalau batunya ditemukan sebelah barat, itu artinya batu itu adalah bagian dinding sebelah barat.

Candi utama
Di depan candi utama
Relief yang cantik
Pahatannya halus
Salah satu candi perwara
Candi perwara yang tidak utuh beserta lingga di depannya

Eh, ada pesawat lewat

Relief candi menggambarkan ukiran-ukiran cantik. Di bagian dinding luar terdapat relung berisi arca Durga, Agastya dan Ganesha, dewa-dewa dalam agama Hindu Syiwa. Konon, candi Sambisari ini dibangun sekitar abad ke-9 oleh Wangsa Syailendra, dinasti penguasa kerajaan Mataram Kuno. Pada abad ke-10, terjadi bencana dahsyat Gunung Merapi yang mengubur peradaban tersebut. Sampai akhirnya tahun 1966, waktu warga sekitar menggarap lahan mereka menemukan batuan yang mengandung unsur candi. Melalui usaha Dinas Purbakala, Candi Sambisari pun berhasil ditemukan dan dipugar kembali.
Sesudah puas, kami lanjutkan perjalanan ke sebelah timur kota Jogja. Yeah, sebagai eks wilayah Kerajaan Mataram Kuno, Kalasan penuh dengan peninggalan sejarah, terutama candi. Bisa dibilang, Kalasan adalah “gerbang” dari Prambanan, karena selepas dari kota Yogyakarta, kita akan lewat Kalasan dulu baru sampai di Prambanan. Selain Candi Sambisari, masih ada Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Kedulan dan Candi Kadisoka. Dua candi yang kusebut terakhir baru ditemukan beberapa tahun yang lalu dan sekarang sedang proses rekonstruksi. Apakah masih ada candi lain yang belum ditemukan? Maybe…
Pilihan kami adalah Candi Sari, sebuah candi Buddha. Letaknya di Dusun Bendan, beberapa ratus meter sebelah timur Candi Kalasan. Cukup masuk beberapa meter dari jalan raya Jogja-Solo, kami udah sampai. Begitu lihat candinya, kami langsung takjub “wah… gede banget”.


Candi Sari, biara para biksu
Batu-batuan candi yang tidak atau belum tersusun
Memang nggak sebesar Candi Borobudur, tapi bangunan candi dari abad ke-8 ini begitu megah menjulang. Bagian atas dihiasi beberapa stupa yang mengingatkanku pada kubah katedral. Di dalamnya ruangan bertingkat dengan jendela. Maklum saja, Candi Sari adalah sebuah biara atau asrama bagi para biksu. Dindingnya dihiasi relief Bodhisatwa yang digambarkan berdiri dengan memegang bunga teratai. Menurut penjelasan di situ, saat ditemukan bagian selasar candi hilang. Jadi bayangin aja, sebesar apa candi ini kalau lengkap.

Relief Bodhisatwa
Arsitektur nan megah
Tangga masuk ke candi, belum tersusun rapi
Sayangnya, siang itu Candi Sari nampak sepi. Pengunjungnya cuma kami berdua. Tapi di luar candi yang adalah perkampungan, warga sekitar beraktivitas. Ada yang sedang menggembalakan sapi, menuju ke sebelah utara candi yang banyak rumputnya.
Baik Candi Sambisari maupun Candi Sari sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemkab Sleman. Harga tiket masuknya juga sama, yaitu Rp. 2000 per orang. Terjangkau banget kan?

Sebenarnya aku pengin lanjut ke Candi Kalasan, tapi berhubung kami udah capek, terpaksa aku pending dulu. Sampai jumpa di Kalasan suatu hari nanti! 

Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...