Jumat, 30 September 2016

Berbagi Tips Ikut Audisi Pencarian Bakat

“Mari ikut saya ke ruangan sebelah sana”, seorang panitia audisi Rising Star Indonesia di Hotel Sahid Yogyakarta membawa aku dan 9 orang lainnya ke sebuah tempat.
Hal seperti ini tidak asing lagi buatku. Sudah ketiga kalinya, aku mengalami ini. Result room, penentuan lolos atau tidak dari tahap awal audisi pencarian bakat nyanyi di TV. Asal tahu aja, persaingan di audisi ini ketat banget. Kita bersaing dengan ribuan orang, jadi lolos dari tahap awal aja udah membanggakan banget.

Di hadapan kami, panitia itu membuka sebuah amplop. 

“Yang saya sebut namanya, silahkan maju ke depan”.  

Seketika rasa deg-degan menghinggapi kami. Ibarat penentuan hidup mati.

“ROBERT”

HAH? Aku kaget luar biasa. Rasanya nggak percaya, namaku disebut. Loloskah? Hm… nanti dulu.

“Yang kedua, IMAS”

Seorang cewek berjilbab pun maju dan berdiri di sampingku.

“Untuk yang lainnya, mohon maaf, kalian belum bisa lanjut, mungkin kalian bisa coba lagi di waktu lain”

DHUARRRR! Perasaanku campur aduk. Tapi berbalik 360 derajat dengan audisi yang sudah-sudah. Aku kini mendapat hadiah manis bahwa aku…. LOLOS! YESSSSS!. 
Seketika kedelapan peserta lainnya kasih ucapan selamat ke aku dan Imas. Tapi perjuanganku belum selesai. Masih ada serangkaian tahap sebelum aku tampil di TV nanti. Apa itu? Maaf, aku nggak bisa tulis di sini. Bukannya sombong, tapi rahasia perusahaan.


Setelah perjuangan berkali-kali, akhirnya.....

Nah, biar nggak kecewa, aku mau kasih beberapa tips buat kalian yang pengin atau suka ikut audisi seperti ini

1. Latihan
Ini hal yang paling penting dilakukan. Seorang penyanyi harus mempersiapkan diri agar penampilannya maksimal. Materi lagu (lirik, nada, penghayatan) harus dikuasai dan tampil nggak boleh malu-malu. 
Latihan bisa dilakukan di mana aja, di tempat karaoke, di kamar tidur, di kamar mandi, atau di mana aja kamu merasa nyaman. Akan lebih baik kalau kamu latihan tampil di depan orang lain. Undanglah teman-teman yang paham musik dan mintalah mereka kasih masukan untuk penampilan kamu.

2. Jaga suara
Sebagai penyanyi, suara adalah modal utama. Maka, suara harus dijaga. Istirahat yang cukup dan batasi makanan seperti gorengan, susu dan es agar tidak mengganggu pita suara. Hindari berteriak terlalu kencang kecuali kamu lagi dalam bahaya. 
Satu ramuan yang biasa aku minum, air jeruk nipis ditambah sedikit kapur sirih dan madu. Minumnya cukup seminggu sekali aja. Kabarnya ramuan ini bisa menguatkan pita suara sehingga suara yang dikeluarkan lebih merdu.

3. Pilih lagu yang tepat
Lagu yang mau kamu bawain harus benar-benar pas dengan karakter kamu. Kalau suara kamu bass jangan coba-coba deh bawain “I Want To Break Free” nya Queen.
Hindari lagu-lagu yang asing atau terlalu jadul, karena selera juri biasanya kekinian. Untuk lirik lagu pun, kamu harus benar-benar hafal. Nggak perlu malu bawain lagu Indonesia kalau bahasa Inggris kamu kurang. Karena yang paling penting di sini adalah penampilan kamu bisa menghibur. Ingat, Justin Bieber atau Britney Spears bisa aja kalah sama Rayi RAN!

4. Hindari nervous
Beberapa peserta awalnya pede banget, tapi begitu ketemu juri langsung buyar semua.. Lupa lirik, fals, ekspresi kaku, itu yang bisa terjadi kalau kamu gugup.
Jalan keluarnya, jangan kamu anggap juri sebagai sosok yang “siap menerkam”. Bayangkan seakan-akan kamu tampil di depan panggung. Dengan begitu, ekspresi kamu lebih “lepas”. Pandangan lurus ke depan dan jangan menunduk.

5. Tidak sekedar menyanyi
Salah besar kalau kamu beranggapan suara bagus pasti lolos. Selain suara, gaya dan penampilan kamu juga masuk penilaian. Jadi, persiapkan performa terbaikmu. Jangan takut untuk berekspresi, gokil dikit nggak masalah asal jangan over acting. Untuk pakaian, pilih aja yang rapi, sopan dan nyaman dipakai.

6. Ramah
Juri nggak bakal tertarik kalau kamu pasang muka masam kayak pepaya. Saat masuk ke bilik audisi, perkenalkan dirimu dengan sopan dan tersenyum, sampai juri mempersilahkan kamu bernyanyi. Sesudah selesai, ucapkanlah terima kasih. Pokoknya buatlah juri merasa dihargai.

7. Jadi diri sendiri
Kamu lihat orang lain suaranya keren, lalu nyalimu ciut? Don’t worry! Ini adalah sebuah kompetisi. Setiap orang berhak mengeksplor kelebihan masing-masing tapi keputusan di tangan juri. So, tetaplah pada pendirian dan karakter kamu. Kamu pasti punya kelebihan yang belum tentu dimiliki orang lain.
Dalam membawakan lagu, kamu bisa keluar dari karakter penyanyi aslinya. Contohnya, untuk lagu berirama slow rock bisa dibikin lebih semangat. Tapi sesuaikan juga dengan not dan tema lagunya.

8. Enjoy
Nikmati aja setiap proses yang ada, nggak perlu terlalu berambisi. Kalau pikiranmu cuma fokus pada lolos dan tidak lolos, kamu bakal merasa terbebani dan ujung-ujungnya mengacaukan penampilanmu. Ubahlah stigma "aku pasti lolos" menjadi "aku mungkin lolos", karena seperti aku bilang di awal, persaingan di sini ketat banget, suara bagus pun nggak menjamin kamu lolos.

9. Akrab dengan peserta lain
Di sekitarmu banyak orang kan? Nah, cobalah berkenalan dan mengobrol dengan mereka. Kalian bisa saling sharing pengalaman sampai vokal. Apalagi kalau orang yang kamu temui sudah sering ikut audisi seperti ini, kamu kan bisa tanya banyak hal. Tapi hat-hati juga, jangan langsung percaya dengan info yang belum tentu benar.
Terlepas kamu lolos audisi atau nggak, kamu bisa dapat teman baru di sini. Siapa sangka, salah satu dari kalian akhirnya jadi juara di ajang ini. Bangga kan, punya kenalan artis? Atau syukur-syukur malah ketemu jodoh di sini? Hehehe... ya itulah, persahabatan adalah hadiah terindah dari ajang ini!

10. Berdoa
Yang nggak kalah penting, berdoalah sebelum berjuang. Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.


Itulah beberapa tips yang aku dapat dari serangkaian pengalamanku. Bukan bermaksud menggurui, tapi mau berbagi.
Nah, sekarang, aku lagi nunggu pengumuman buat ke tahap selanjutnya. Lolos atau nggak, aku pasrah aja, yang penting pengalaman ini begitu berharga. TETAP SEMANGAT! YESSSSS! 

UPDATE
Aku lolos sampai tahap Room Audition di depan juri artis. Biarpun aku harus terhenti di situ, pengalaman itu sungguh tak terlupakan seumur hidup. Salah satunya, aku sempat satu grup dengan Ghea Indrawari yang nantinya jadi peserta Indonesian Idol!  


Sabtu, 03 September 2016

Penyanyi Masa Lalu (8) : Elvis Presley

It's now or never, come hold me tight
Kiss me my darling, be mine tonight
Tomorrow will be too late,
it's now or never
My love won't wait.

When I first saw you
with your smile so tender
My heart was captured,
my soul surrendered
I'd spend a lifetime
waiting for the right time
Now that your near
the time is here at last.

It's now or never, come hold me tight
Kiss me my darling, be mine tonight
Tomorrow will be too late,
it's now or never
My love won't wait.

Just like a willow,
we would cry an ocean
If we lost true love
and sweet devotion
Your lips excite me,
let your arms invite me
For who knows when
we'll meet again this way

It's now or never, come hold me tight
Kiss me my darling, be mine tonight
Tomorrow will be too late,
it's now or never
My love won't wait.



Suatu hari, di tahun 1953, seorang pemuda datang ke Memphis Recording Service, Amerika Serikat, untuk merekam suaranya. Hanya satu keinginannya, membuat sebuah rekaman lagu sebagai hadiah untuk ibunya, meski sebenarnya ia sendiri memang punya bakat terpendam dalam hal musik. Tak disangka, suara pemuda tersebut, yang melantunkan lagu “My Happiness”, menarik perhatian seorang karyawati di studio tersebut. Kebetulan, ia punya relasi dengan Sun Records (perusahaan rekaman lokal di AS). Serta merta, ia menawarkan pada si pemuda untuk membuat rekaman lagi untuk ditunjukkan ke pihak Sun Records. Hasilnya, Sun Records “meminang” si pemuda untuk bergabung dengan perusahaan rekamannya. Dan siapa sangka, kelak pemuda ini akan menjadi penyanyi ternama dengan gelar “King of Rock”.
Siapakah pemuda tersebut? Pasti semua sudah mengenalnya. Elvis Presley. Terlahir di East Tupelo, Mississippi pada tanggal 8 Januari 1935. Masa kecil Elvis jauh dari menyenangkan. Selain keluarganya miskin, ayahnya pun pernah masuk penjara akibat penggelapan cek. Namun, terlepas dari semua itu, Elvis tertarik pada dunia musik. Lagu gospel yang sering dinyanyikan di gereja maupun lagu country yang kerap dibawakan anak muda di masa itu menjadi inspirasi baginya. Ketika keluarganya pindah ke Memphis, Elvis mengikuti ajang pencarian bakat tingkat lokal dan berhasil menjadi juara. Namun, ia tidak segera menjadi penyanyi. Setelah menyelesaikan sekolah pun, ia menekuni berbagai pekerjaan seperti karyawan toko dan supir truk. Barulah, ketika ia mencoba rekaman, ia mulai memupuk kesuksesan.
Tak sia-sia pula Elvis bergabung dengan Sun Records. Sam Philipps, pimpinan Sun Records, jeli melihat talenta pemuda yang baru berusia 18 tahun ini. Sam jugalah yang menganjurkan Elvis mempelajari alat musik gitar dan bass. Pada tahun 1954, Elvis meluncurkan single perdana “That’s All Right”.  Hal ini membawanya melakukan roadshow di berbagai daerah.
Album pertamanya “Heartbreak Hotel” cepat mendapat tempat di hati penggemar.  Disusul “Hound Dog”, yang terjual hingga 5 juta copy. Radio, televisi, hingga live concert mulai banyak menampilkan Elvis. Sejak itulah, gelar “King of Rock” disandangnya biarpun Elvis juga bisa membawakan lagu pop, country dan gospel.

Elvis Presley, King of Rock

Sukses di dunia musik, Elvis mulai mendapat tawaran sebagai pemain film. Film pertamanya adalah “Love Me Tender” (1956), di mana ia juga mengisi soundtracknya.
Atas kesuksesannya, di usia muda, Elvis mampu membeli sebuah kawasan mewah di Memphis. Lokasi yang dinamakan Graceland tersebut menjadi kediamannya.
Selama beberapa tahun, Elvis bergabung dengan militer AS dan ditugaskan di Jerman. Namun, hal ini tidak menyurutkan karir musiknya. Malahan, ia semakin populer sebagai artis papan atas AS. Tahun 1960, sekembalinya dari Jerman, ia meluncurkan album “Are You Lonesome Tonight” dan “It’s Now or Never”, hingga album lagu rohani berjudul “How Great Thou Art”. Ia juga tetap eksis sebagai aktor, salah satunya dalam film Viva Las Vegas (1964). Berbagai penghargaan emas dan platinum pun diterimanya.


Elvis bersama Ann Margret dalam "Viva Las Vegas"

Ada hal yang lucu dari penampilan Elvis, ia pandai bergoyang pinggul saat membawakan lagu rock. Justru gayanya yang tidak biasa ini menjadi “faktor X”. Cara berpakaian dan gaya Elvis banyak menginspirasi budaya Amerika. Bahkan John Lennon pun mengaku bahwa “soul” The Beatles juga terinspirasi dari Elvis. Sampai saat ini, penampilan Elvis yang mengenakan jumpsuit atau jas tanpa dikancingkan sambil memainkan gitar banyak ditiru. Padahal, siapa sangka, Elvis nyaris tidak pernah tampil di luar Amerika Serikat!


Cover album Elvis

Tak selalu yang baik berakhir baik. Begitupun dengan Elvis. Pernikahannya dengan Priscilla Wagner harus berakhir dengan perceraian. Di samping itu, kesibukan membuatnya bergantung dengan obat-obatan seperti obat tidur, obat penenang dan penghilang rasa sakit. Kebiasaan ini semakin menjadi-jadi ketika ia memiliki masalah kegemukan, obat pelangsing pun dikonsumsinya. Sayang, dokter pribadinya, George Nichopoulos, justru dengan mudah memberikan resep seperti permintaan Elvis.
Kesehatan bermasalah, namun karir tetap jalan. Kepopuleran Elvis pun tetap terjaga dengan konser di berbagai daerah, membuat rekaman baru, hingga acara televisi yang disiarkan hingga 40 negara.
Sampai akhirnya, pada tanggal 16 Agustus 1977, “King of Rock” ini ditemukan meninggal di kediamannya. Penyebab kematiannya diduga akibat gagal jantung. Ada juga yang menyebutkan karena overdosis obat. Namun, apa pun itu, kematian Elvis mengejutkan banyak orang. Mereka tidak menyangka, sang  “King of Rock” harus tiada di usia muda, 42 tahun.
Berbagai cara dilakukan fans sebagai penghormatan kepada almarhum. Danny Mirror, seorang musisi Belanda, merilis lagu “I Remember Elvis Presley”. Patung lilin Elvis terpampang di Madame Tussauds Museum. Namanya pun diabadikan dalam Rock and Roll Hall of Fame.
Kediaman Elvis, yakni Graceland, kini dikelola oleh putrinya, Lisa Marie Presley. Tempat ini dibuka untuk umum. Setiap tahun, para fans berkunjung ke sini untuk mengadakan acara “tribute”. 

Priscilla Presley (kiri) bersama Lisa Marie Presley

Graceland, kediaman Elvis Presley
Link video:


Selasa, 16 Agustus 2016

Lagu Masa Lalu (13) : I Remember Elvis Presley


Spoken:
Last night I turned radio on for the midnight news
Suddenly I thought I died of a broken heart
When I heard the announcer say
(“Ladies and gentlemen, the king is dead
Elvis Presley just died in a hospital in Memphis, Tennessee
42 Years on this planet, but he'll be here forever”)

Berita kematian Elvis di surat kabar
(Sumber : za.pinterest.com)
I remember Elvis Presley
Lord, how I love to hear him sing!
So I'll adore him just forever
For he's the one and only king

I remember Elvis Presley
And he won't ever set me free
Like he was singing "Now or never"
He's just a golden memory

Good luck charm is not forever
Good luck songs we need 'em ever
Again, again I'll play your songs
‘Cause in my mind you haven't gone

Are you lonesome tonight?
Do you miss him tonight?
Tell me, dear, are you lonesome tonight?

I remember Elvis Presley
Lord, how I love to hear him sing!
So I'll adore him just forever
For he's the one and only king

I remember Elvis Presley
And he won't ever set me free
Like he was singing "Now or never"
He's just a golden memory

My dear friend, I won't forget you
When I need you I can hear you
King, though I don't know where or when
There'll be a day we'll meet again

Wise man say
Only fools rush in
But I can't help falling in love again

Spoken:
Elvis Presley
I wanna thank you for all the happiness you gave so many people
All over the world during many, many years
I remember the DJ was playing "Jailhouse rock"
When I had my first date with a beautiful girl
And since that evening you've been my friend, Elvis

I remember Elvis Presley
Lord, how I love to hear him sing!
So I'll adore him just forever
He's just a golden memory


Hari ini tepat 39 tahun yang lalu, seorang penyanyi top Amerika Serikat telah berpulang. Ya, dialah Elvis Presley. Seluruh dunia dibuat terkejut oleh kematian Elvis yang begitu mendadak dalam usia yang sangat muda, 42 tahun. Penyebab kematiannya masih simpang siur hingga sekarang. Ada yang menyebutkan Elvis mengalami serangan jantung, ada juga yang mengatakan akibat overdosis.

Eddy Ouwens alias Danny Mirror
(Sumber : secondhandsongs.com)
Namun, apa pun penyebabnya, banyak pihak merasa kehilangan seorang superstar. Bukan cuma para fans, tapi juga para musisi lain yang terinspirasi oleh Elvis. Ini juga yang dirasakan tiga musisi asal Belanda , Eddy Ouwens, Dick Bakker dan Dunhill. Uniknya, mereka bukan orang Amerika, tapi orang Belanda. Sebagai “penghormatan” pada sang idola, mereka menciptakan lagu untuk mengenang Elvis, “I Remember Elvis Presley”. Lagu ini dibawakan sendiri oleh Eddy Ouwens, dengan nama panggung Danny Mirror. Dalam beberapa minggu menjadi hits di seantero Eropa.
Lagu diawali dengan sebuah narasi tentang kabar kematian Elvis yang disiarkan di radio. Setelah itu, lewat nada, Danny Mirror mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Elvis. Bagi Danny, Elvis adalah kenangan yang akan hidup sepanjang masa.
Dalam lagu ini diselipkan juga petikan lirik lagu Elvis, “Are You Lonesome Tonight” dan “Can’t Help Falling In Love”, membuat suasana makin mengharukan. Tak lupa, Danny mengucapkan rasa terima kasih kepada Elvis karena telah menjadi penghiburnya. Lagu “Jailhouse Rock”, yang dibawakan Elvis menjadi awal perkenalan Danny dengan penyanyi yang dijuluki “King of Rock” ini.


Begitulah, seorang idola juga manusia, cepat atau lambat dia pasti berpulang. Tapi seperti kata pepatah “harimau mati meninggalkan belangnya”, demikian juga kenangan tentang seseorang akan terus melekat di hati pecintanya.

Link video:


NB: Tunggu biografi Elvis Presley di postingan selanjutnya



Minggu, 31 Juli 2016

Lagu Masa Lalu (12) : Don't Cry Joni

Jimmy please say you'll wait for me
ll grow up someday you'll see
Savin' all my kisses just for you
Signed with love forever true

Joni was the girl who lived next door
I've known her I guess 10 years or more
Joni wrote me a note one day
And this is what she had to say

Jimmy please say you'll wait for me
I'll grow up someday you'll see
Savin' all my kisses just for you
Signed with love forever true

Slowly I read her note once more
Then I went over to the house next door
Her teardrops fell like rain that day
When I told Joni what I had to say

Joni, Joni, please don't cry
You'll forget me by and by
You're just fifteen I'm twenty two
Joni I just can't wait for you

Soon I left our little home town
Got me a job and tried to settle down
But her words kept haunting my memory
The words that Joni said to me

Jimmy please say you'll wait for me
I'll grow up someday you'll see
Savin' all my kisses just for you
Signed with love forever true

I packed my clothes and I caught a plane
I had to see Joni, I had to explain
How my heart was filled with her memory
And ask my Joni if she'd marry me

I ran all the way to the house next door
But things weren't like they were before
My teardrops fell like rain that day
When I heard what Joni had to say

Jimmy Jimmy please don't cry
You'll forget me by and by
It's been five years since you've been gone
Jimmy I married your best friend John.

Joni Lee berduet dengan Conway Twitty (Sumber : geocities.ws)

Alkisah, ada seorang gadis berumur 15 tahun, namanya Joni. Ia punya tetangga bernama Jimmy (22 tahun). Mereka saling menyukai, tapi Joni merasa masih terlalu muda untuk menikah. Lewat surat, ia minta Jimmy untuk menunggu sampai dia dewasa. Tapi, Jimmy merasa tidak bisa menunggu Joni karena dia sendiri sudah cukup matang. 
Tak lama kemudian, Jimmy mendapat pekerjaan di kota lain. Namun ingatan tentang Joni, terutama tentang permintaannya untuk menunggu, terus terngiang di benak Jimmy.
5 tahun berlalu, kenangan itu tidak bisa dia lupakan, sehingga dia terpaksa pulang. Dia ingin segera menikahi Joni.
Apa yang terjadi sesampai di rumahnya, ternyata Joni sudah menikah dengan John, sahabat Jimmy. Maka, hancurlah hati Jimmy.





Kisah di atas digambarkan dalam sebuah lagu “Don’t Cry Joni”, yang terkenal pada tahun 1975. Dibawakan oleh Conway Twitty, berduet dengan Joni Lee.
Uniknya, Joni Lee adalah putri dari Twitty, yang saat itu baru berumur 16 tahun. Ia sendirilah yang “memerankan” tokoh Joni dalam lagu ini. Sementara Jimmy, diambil dari nama Jimmy Jenkins, adik Joni. Tak heran, karena Twitty sendirilah yang menulis lagu ini bersama Ron Peterson. Selain dengan putrinya, Twitty juga pernah membawakan lagu ini bersama Loretta Lynn.
Lagu ini lebih cocok dibawakan secara duet laki-laki dan perempuan, karena sifatnya bersahutan antar bait. Kisah di lagu ini dilihat dari sudut pandang laki-laki, jadi penyanyi yang perempuan hanya menyanyikan bagian refrain (chours)  lalu menutupnya dengan coda. 

Joni Lee sekarang (Sumber : pageonekentucky.com)
Link video:

Rabu, 06 Juli 2016

Penyanyi Masa Lalu (7) : Lilis Suryani


Jakarta kotaku indah dan megah
Di situlah aku dilahirkan
Rumahku di salah satu gang
Namanya Gang Kelinci

Entah apa sampai namanya kelinci
Mungkin dulu kerajaan kelinci
Karena manusia bertambah banyak
Kasihan kelinci terdesak

Sekarang, rumahnya bejubel
Oh, padat penghuninya
Anak-anak segudang
Grudak gruduk kaya kelinci...

Kami semua hidup rukun dan damai
Hanya satu yang aku herankan
Badanku bulat tak bisa tinggi
Persis kaya' anak kelinci

Gang Kelinci. Sebuah lagu jenaka dari tahun 1960-an. Siapa nggak kenal lagu ini? Yes, biarpun kerajaan kelinci udah terdesak oleh manusia, lagu ini tidak terdesak oleh zaman. Sampai sekarang lagu ini banyak dicover mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Lalu, siapakah yang membawakannya pertama kali?
Pada tahun 1960-an, tersebutlah Lilis Suryani, penyanyi remaja yang top pada masa itu. Sejak kecil, Lilis suka menyanyi. Kendati tidak pernah mengikuti kursus vokal, wanita kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1948 ini memiliki bakat alami yang dikembangkannya secara otodidak. Di usia 15 tahun untuk pertama kalinya ia tampil di TVRI. Ia kemudian membuat rekaman pertamanya lewat Irama Records. Rekaman piringan hitam itu memuat 2 lagu : Tjai Kopi dan Di Kala Malam Tiba. Sejak itulah, nama Lilis Suryani mulai dikenal publik. Suaranya banyak diperdengarkan melalui radio.
Puncak karirnya adalah saat membawakan lagu “Gang Kelinci”, sebuah lagu tentang tempat tinggalnya waktu itu. Sampai kini lagu tersebut identik dengan penyanyi bertubuh mungil ini. Ia tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Kesuksesan Lilis tidak terlepas dari jasa Titiek Puspa, sahabat sekaligus guru bagi dirinya. Dalam suatu kesempatan, Titiek menceritakan awal kerjasamanya dengan Lilis.
Sekitar tahun 1963, Lilis yang masih berusia 15 tahun datang kepada Titiek untuk minta dibuatkan lagu. Namun, saat itu Titiek sedang tidak punya ide . Karena hari sudah sore, Titiek mengantar Lilis pulang dengan naik becak. Begitu memasuki tempat tinggal Lilis yakni Gang Kelinci, kawasan Pasar Baru, Jakarta, Titiek takjub dengan padatnya pemukiman dan keramaian anak-anak di situ. Lewat inspirasi itulah, Titiek menciptakan lagu “Gang Kelinci” untuk Lilis. Tak disangka, lagu ini meledak di pasaran. Selanjutnya, Titiek menciptakan beberapa lagu lagi untuk Lilis, salah satunya “Hari Ulang Tahun”, yang dirilis bertepatan dengan ulang tahun Lilis ke 17.   Lambat laun, Lilis pun bisa menciptakan lagu sendiri. Lagu “Baju Loreng”, “Hesty” dan “Tiga Malam” menjadi karya utamanya.

Salah satu cover album Lilis Suryani
Lagu-lagu yang dibawakan Lilis terbilang variatif. Mulai dari yang bertema cinta, jenaka, balada, hingga patriotisme. Sebut saja “Baju Loreng”, yang menceritakan kekaguman terhadap anggota ABRI. Nasionalisme juga tertuang lewat lagu daerah, seperti “Dayung Palinggam”, “Cing Tulungan”, dan “Tandak Sambas”. Ia juga berkolaborasi dengan Suhaeri dan Benyamin S. membawakan lagu Betawi. Lagu “Genjer Genjer” yang kontroversial itu pun sempat dibawakannya sebelum kemudian dicekal karena dikaitkan dengan PKI.
Bukan hanya masyarakat, Presiden Soekarno pun senang dengan suara merdu Lilis. Bahkan, sebelum “Gang Kelinci” berkumandang, ia sudah pernah tampil di Istana Negara. Bung Karno pulalah yang menginspirasi Lilis menciptakan lagu “Paduka Yang Mulia” dan “Muhibah”.


Lilis Suryani di usia 50-an
Ketenaran tidaklah membuat Lilis terlena. Meski disukai banyak kalangan, ia menghindari kehidupan hura-hura. Ia selalu menolak jika ditawari tampil di klub malam. Rezeki yang diperolehnya pun dikumpulkan untuk biaya naik haji dan kegiatan sosial seperti menyumbang ke panti asuhan.
Pada tahun 1967, Lilis menikah dengan M. Junus Jafar, seorang pria asal Makassar. Mereka bertemu ketika Lilis mengadakan show di kota tersebut. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak.
Lilis mahir memainkan alat musik, termasuk drum. Pada tahun 1968, ia membentuk band The Female bersama Rita Rachman dan Rose Sumanti, yang kemudian mengeluarkan hits “Januari”. Sayang, grup ini tidak berlangsung lama.
Nama Lilis Suryani mulai meredup ketika ia beranjak dewasa. Namun, bukan berarti ia tidak lagi eksis. Tawaran tampil on air maupun off air tetap dijalani oleh penyanyi yang identik dengan rambut pendek berjambul ini. Ia sempat rekaman lagu Melayu Deli dan kaset lawak, namun tidak terlalu sukes di pasaran.


Tahun 2003, Lilis divonis menderita kanker rahim. Sejak itu, ia menjalani berbagai pengobatan. Rekan-rekan artis pun menggalang dana bagi pengobatan Lilis. Namun, takdir berkata lain, pada 7 Oktober 2007, ia meninggal dalam usia 59 tahun. 

(Dari berbagai sumber)

Berikut link YouTube "Gang Kelinci" dengan suara asli Lilis Suryani

Sabtu, 18 Juni 2016

Solo Travelling (9) : Wates, Pesona Sebuah Kota Mungil

Kulon Progo, artinya sebelah barat Sungai Progo, adalah nama kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam hal wisata, daerah ini memang kurang terkenal dibanding Bantul atau Gunung Kidul. Kebanyakan orang tahunya cuma Pantai Glagah dan Hutan Wisata Kalibiru. Ibukota kabupaten, yaitu Wates, juga sering cuma jadi perlintasan jalur Purworejo-Yogyakarta. Nah, karena pengin tahu suasana kota ini, aku coba jelajahi. Yuk!
Sama sekali nggak sulit buat menuju Wates. Dari kawasan Wirobrajan, Yogyakarta, atau tepatnya Jalan Pierre Tendean, kita bisa langsung naik bus Menoreh jurusan Wates. Buat yang nggak sabar menunggu kayak aku, bisa juga ke Terminal Giwangan dulu.
Dengan Rp. 10.000 dan perjalanan 1 jam lebih beberapa menit, aku menikmati perjalanan ini. Jalan raya Jogja-Wates belum pernah kulewati sebelumnya. Makanya, aku sengaja duduk di barisan depan, biar lebih bisa lihat pemandangan. Nggak salah, daerah yang kulewati terasa “adem”, banyak pepohonan di kanan kiri bikin sejuk mata.
Bus melewati jembatan Sungai Progo sebagai "gerbang masuk" ke Kabupaten Kulon Progo. Dua jembatan timbang, difungsikan untuk masing-masing arah. Bentuknya seperti lazimnya jembatan yang memisahkan antar daerah. Satu jembatan lagi di sisi kanan, desainnya mirip Golden Gate di Amerika! Anehnya, jembatan itu nggak dilewati kendaraan. Apakah khusus pejalan kaki? Mungkin…
Tujuan pertamaku adalah Pasar Wates. Yups, pasar tradisional selain tempat belanja, juga sebuah ikon perekonomian daerah. Mungkin kurang pas disebut tempat wisata, tapi selalu ada daya tarik dimana kita bisa lihat keseharian masyarakat sekitar.
Yang paling jadi sasaranku, apa lagi kalau bukan makanan khas. Kalau di Gunung Kidul bisa kita temukan tiwul, maka di Kulon Progo ada yang namanya growol. Makanan ini sekarang udah langka, saking langkanya orang tuaku pun nggak tahu itu apa! Nah, aku kasih tau ya.. growol adalah ketela pohon yang diperam lalu dihaluskan dan dikukus. Sebagai pelengkap, biasanya disajikan ketak , yaitu sejenis perkedel terbuat dari endapan minyak kelapa. (NB : Hati-hati menyebut “ketak”, bacanya jangan terlalu ditekan, karena “kethak” dalam bahasa Jawa berarti menjitak).
Hm... kok jadi ngomongin makanan? Sekarang aku udah masuk kota Wates! Sebenarnya aku mau turun di Terminal Wates. Tapi pak sopir dan pak kernet menganjurkan kalau mau ke pasar, mendingan turun di depan BRI Wates aja, soalnya lebih dekat. Apalagi kebanyakan bus jurusan Jogja ngetem di seberang BRI.  Nanti saat pulang, naik busnya dari sini.

Monumen Nyi Ageng Serang
Turun dari bus, aku lebih dulu terpukau dengan sebuah monumen, nggak jauh dari situ. Patung seorang wanita menunggang kuda dengan gagah berani. Itulah Monumen Nyi Ageng Serang, yang dibangun untuk mengenang jasa pahlawan wanita tersebut. Nyi Ageng Serang adalah pejuang yang gigih melawan kolonialisme abad ke-19 . Bahkan sampai lanjut usia, ia tetap memimpin pasukan Perang Diponegoro dari atas tandu. Ia lahir di Purwodadi, Jawa Tengah tahun 1752 dan meninggal di Yogyakarta tahun 1828. Berkat jasanya terhadap masyarakat Kulon Progo, nama Nyi Ageng Serang diabadikan lewat monumen di pusat kabupaten ini. Makamnya sendiri ada di Kalibawang, sekitar 30 km dari Wates.
Dari monumen itu, aku bergerak ke utara menuju Jalan Brigjen Katamso.  Aku mampir sebentar ke Alfamart beli air mineral lalu lanjut berjalan ke timur. Di sinilah aku langsung menemukan Pasar Wates.

Bagian depan Pasar Wates
Pasar tradisional ini tidak terlalu besar. Terdiri dari 2 lantai. Karena tujuan utamaku ingin mencari growol, aku pikir aku nggak perlu lihat-lihat ke arah lain. Menurut info, penjualnya ada di lantai 2, jadi langsung aja aku ke sana.Seperti orang hilang, aku mengitari pasar sendirian. Kalau ada orang lihat, perasaanku rada gimana gitu, tapi karena niatku solo travelling, rasa malu itu harus kubuang jauh-jauh. Agak lama aku mencari penjual growol. Entah karena sudah siang, atau memang karena bulan puasa, banyak los atau meja yang kosong. Jadi nggak banyak aktivitas jual beli yang kutemui.
Sesudah hampir putus asa, aku lihat seorang pedagang di bagian timur. Mataku langsung tertuju pada sebuah makanan. Mirip ketupat, tapi dibungkus plastik dengan alas daun pisang. Maka, terjadilah percakapan antara aku dan ibu penjualnya (aslinya pakai bahasa Jawa, tapi biar pada ngerti, di sini kutulis pakai bahasa Indonesia aja).

Aku : “Bu, ini apa?” 
Ibu :  “Itu growol, dibuat dari ketela”
Aku : "Satu berapa bu?"
Ibu :  "2500"

Aku pun langsung membelinya sebuah. Harganya Rp. 2500 aja. Belum puas, mataku mengamati dagangan si ibu satu persatu. Sebuah bungkusan plastik menarik perhatianku. 

Aku : “Kalau ini apa bu?” 
Ibu : . “Itu serundeng, buat dimakan sama growol” 
Aku : "Berapa bu?"
Ibu :  "Sama. 2500"
Aku :  "Kalau ketak ada bu?"

Si ibu menunjuk butiran coklat dibungkus plastik. Ukurannya kecil. Aku kira itu terasi. 

Ibu : "Ketaknya adanya yang manis, soalnya puasa, nggak bikin yang asin”.

Aku langsung ingat artikel yang kubaca. Di daerah Wates ini ada juga yang namanya gula ketak. Bahannya sama dengan ketak biasa, cuma bedanya yang ini dibuat seperti wajik. 

Aku : “Dua aja bu” 
Ibu :  “Kok cuma dua? Itu enam ribu dapat sepuluh lho”.  
Aku : “Ya, ini aja nggak apa-apa bu
Ibu : “Begini aja, dua ribu tiga ya, biar hitungnya gampang”.

Aku setuju. Sebuah growol,  sebungkus serundeng dan 3 buah gula ketak, total Rp. 7000

Aku keluar dari Pasar Wates, menuju ke Alun-alun Wates. Dengan mengandalkan GPS, aku menuju ke arah barat, tepatnya Jalan Sutijab. Suasana kota siang itu agak sepi, mungkin karena bulan puasa. Keramaian cuma terlihat di sekitar pasar dan toserba.
Di sebuah pertigaan, aku belok ke utara. Pemandangan yang ada bikin aku serasa bukan di kota. Masih ada sawah yang membentang dengan jalur hijau yang menyejukkan mata. Semakin jauh aku berjalan, aku temukan lintasan kereta api. Tempat itu  memang dekat dengan Stasiun Wates, dimana hampir tiap jam kereta api lewat. Nggak ada jalan lain, aku harus menyeberangi rel. Deg-degan juga. Tapi dasar traveler, di tengah rel aku masih sempat ambil foto pemandangan. Habis bagus sih!

Rel kereta. Kapan lagi bisa lewat sini?
Tinggal jalan sedikit lagi, aku sudah sampai di Alun-alun Wates. Kembali pemandangan luar biasa menghipnotisku. Begitu datang, aku langsung disambut bundaran air mancur dengan bunga-bungaan. Terasa suasana begitu damai karena sepi. Saking sepinya, sampai kicauan burung terdengar jelas. Biarpun sinar matahari cukup panas, pohon-pohon rindang memancarkan kesejukan. Ada beringin, palem, cemara dan aneka bunga. Betul-betul bikin betah.

Suasana alun-alun yang penuh kedamaian....
Kemungkinan alun-alun ini baru akan ramai pada sore atau malam hari. Aku lihat di seberang alun-alun dibangun tenda untuk pasar takjil. Sementara di sisi lain, sebuah panggung disediakan untuk acara-acara khusus.
Aku nggak bisa gambarkan lagi kekagumanku terhadap kota Wates ini. Biarpun kota kecil, tapi ditata dengan rapi dan asri. Kapan lagi, aku bisa rasakan yang seperti ini?

Serundeng kelapa yang gurih

Gula ketak, sejenis wajik berbahan dasar kelapa

Growol, tanpa rasa tapi mengenyangkan

Rabu, 01 Juni 2016

Lagu Masa Lalu (11) : Topi Sarjana

Terpancang di hatiku
Waktu aku masih duduk di bangku SMA
Semangat yang menyala
Untuk segera dapat ku menjadi sarjana
Menyumbangkan tenaga
Bagimu negara

Ketika lulus ujian
Semua nilaiku diatas tujuh senangnya
Ku menyandang ijazah
Serta do'a restu ayah ibuku dan saudara
Aku pergi ke kota
Meneruskan cita-cita

Ayahku telah menjual sawahnya
Untuk membekali anaknya
Ohohoooo...
Sesampai di kota aku terpana
Mendengar kata mereka
Ratusan ribu ku perlu lagi
Untuk cita-citaku

Ohhhh... menangis dalam hatiku
Mengapakah mesti begitu
Aku berjalan membayangkan
Wajah ayah-ibuku

Ku memandang ke depan
Topi sarjanaku melayang-layang tertawa
Seakan-akan berkata
Pulanglah segera menghadap ayah ibunda
Suruh jual semua miliknya
Baru licin jalan ke muka


Cover album Jamal Mirdad
Lagu di atas dibawakan oleh Jamal Mirdad di albumnya “Perawan Desa”. Merinding. Itu kesanku saat pertama kali dengar lagu dari tahun 1981 ini. Jadi pengin bernostalgia dengan zaman awal kuliah…. Yess, menjelang akhir sekolah SMA, pengin deh cepat-cepat merasakan suasana baru di bangku perkuliahan.
Cari info perguruan tinggi yang bagus, biar ilmu yang didapat juga berkualitas. Tapi satu hal yang selalu jadi ganjalan : BIAYA. Bukan cuma sekarang, dari dulu meraih selembar ijazah itu mahal! Diceritakan di lagu itu, sang ayah sampai menjual sawah untuk biaya kuliah anaknya. Nyatanya, itu pun tidak cukup! Masih kurang lagi ratusan ribu (kalau sekarang ya jutaan). Kalau sudah gitu, apakah orang tuanya harus jual semua miliknya? Jelas, tokoh dalam lagu ini kecewa berat. Pupus harapannya untuk meraih topi sarjana.






Saat aku wisuda Sarjana
Apa yang kualami dulu nyaris serupa dengan lagu ini. Orang tuaku tidak punya biaya. Untungnya dengan bantuan banyak pihak, aku bisa masuk kuliah D3. Tapi jangan ditanya perjalananku bakal semulus jalan tol. Pernah orang tuaku sampai menggadaikan barang buat biaya kuliahku. Pernah juga nasib kuliahku di ujung tanduk gara-gara pembayaran uang kuliah macet (yang untungnya dapat pinjaman dari beberapa orang). Betul-betul tertatih-tatih. Sampai akhirnya, bukan cuma Diploma. Lewat kuliah lanjut yang kujalani sambil bekerja, aku berhasil mencapai Sarjana!
So, bersyukurlah kita yang bisa kuliah! Jangan sia-siakan kesempatan itu, karena perjuangannya sangat tidak mudah!







Link video :
https://www.youtube.com/watch?v=cy1agbAiRmE

Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...