Jumat, 29 Juni 2018

My Second Backpacker (Part 2) : KA Kedungserpur, Perjuangan Mencapai Ngrombo


Setelah memutar otak, akhirnya aku putuskan, besok aku akan tetap naik KA Kedungsepur. Tiket berdiri? Ah biarin. Kan masih ada lantai kereta. Aku akan tetap duduk biarpun harus lesehan!

Malam itu, setelah makan malam di warteg dan pergi ambil uang di ATM, aku segera beristirahat di hotel. Alarm HP kupasang jam 04.00. Dalam hitungan menit, aku terlelap. Selain karena capek, tempat tidur ini sangat nyaman.

Tanpa terasa, alarm di HP bordering. Aaaah… masih ngantuk…. Eh, pilih tidur lagi atau ketinggalan kereta? Akhirnya aku bangun, langsung mandi biarpun agak menggigil. Habis itu siap-siap berangkat ke stasiun.



Tepat seperti kemarin, aku dapat tiket KA Kedungsepur untuk berdiri. Cukup dengan Rp. 10.000 aku akan menuju Ngrombo. Harga yang murah karena kereta ini sangat bersih dan dilengkapi AC. Makanya nggak heran, di hari libur begini minat masyarakat sangat tinggi

Biar tiketnya untuk berdiri, ogah banget kalau harus berdiri hampir 2 jam. Aku langsung “menyegel” sebuah sudut gerbong sebagai tempat lesehanku. Di sini enak, bisa selonjoran. Oh, tapi saat kereta berangkat ternyata kereta belum terlalu penuh. Langsung aja aku cari kursi kosong. Buat apa duduk di lantai kalau bisa duduk di kursi?







Aku sangat santai, memandangi suasana kota di jendela, biarpun harus siap tergusur kalau ada penumpang yang dapat kursi ini. Sempat berhenti di Stasiun Tawang, eh ternyata “pemilik kursi” ini belum ada, jadi aku masih aman. Lanjut!

Next Stasiun Alastua. Di sinilah akhirnya aku harus kembali ke tempat lesehan tadi. Kursi ini ternyata “milik” seorang ibu guru TK yang sedang mengajak murid-muridnya naik kereta. Dalam sekejap, kereta penuh. Yah, biarin aja, yang penting nggak ada yang ganggu  “daerah kekuasaanku”

Maka, sambil asyik berinternet ria lewat HP, aku duduk selonjoran di lantai. Sesekali aku berdiri melihat pemandangan di luar. Tidak terlalu istimewa, sebagian besar cuma sawah dan ladang. Ada 4 stasiun lagi yang disinggahi kereta ini sebelum sampai di Ngrombo, semuanya adalah stasiun kecil yaitu Brumbung, Gubug, Karangjati dan Sedadi.





Dalam 1 jam lebih beberapa menit, akhirnya KA Kedungsepur merapat di Stasiun Ngrombo. Aku cepat-cepat turun buat mencari sarapan dan beli tiket pulang. Waktuku cuma sekitar 20 menit karena KA Kedungsepur yang arah Semarang akan berangkat jam 07.50





Stasiun Ngrombo ternyata bukan stasiun kecil seperti yang kubayangkan selama ini. Buktinya, penataannya sangat rapi. Dan suasana pagi itu…… bukan main ramainya. Banyak pengunjung atau calon penumpang yang berombongan.
Kemungkinan terburuk pun terjadi…. TIKET HABIS! Bahkan meski aku sempat “mengemis” ke petugas, tiket berdiri juga nggak apa-apa, nyatanya tetap nggak dikasih. Huh…. Dengan perasaan campur aduk, aku berjalan ke luar stasiun. Mau nggak mau harus cari transportasi lain. Tapi kemana? Aku nggak tahu arah utara selatan timur barat. Salah-salah nyasar ke Solo atau Blora.

Melihatku kebingungan, bapak-bapak yang nongkrong di pos jaga menyapaku. Aku beranikan diri bertanya transportasi ke Semarang. Eh, bukannya kasih jawaban pasti, si bapak malah nawarin aku naik ojek ke Purwodadi. Katanya sih aku bisa naik bus dari terminal Purwodadi. Tarif Rp. 30.000 yang ditawarkan si bapak bikin aku berpikir ulang.

Biar pikiran gundah, aku tetap harus cari makan. Dan yang kuincar, apalagi kalau bukan pecel Gambringan. Syukurlah, aku nggak perlu jalan jauh. Tepat di seberang pintu masuk stasiun ada seorang ibu yang menjual nasi pecel. Bukan sebuah warung, hanya menggunakan meja dan kursi yang ditata di pinggir jalan. Tapi soal kelarisan, jangan ditanya. Banyak pembelinya.



Aku duduk dan memesan nasi pecel. Tak perlu waktu lama, si ibu menghidangkan nasi pecel di atas pincuk daun pisang. Sayuran yang disiram sambal kacang itu langsung memancing seleraku. Untuk pelengkapnya, ada gorengan. Aku memilih bakwan ketela, atau biasa disebut lentho. Benar-benar enak! Saking nikmatnya, rasa pedas tidak terlalu kurasakan. Harganya sangat murah, nasi pecel dengan 2 potong gorengan cuma Rp. 4000. 



Kenapa dinamakan pecel Gambringan? Dahulu kala (nyata lho, bukan dongeng), pecel ini amat terkenal di Stasiun Gambringan, beberapa kilometer sebelah timur Stasiun Ngrombo. Penjual yang menggunakan tampah atau bakul banyak menjajakan pecel ini di dalam stasiun hingga ke atas gerbong. Sayangnya, seiring larangan dari PT KAI untuk berjualan di atas kereta, ditambah Stasiun Gambringan tidak lagi melayani naik turun penumpang, terpaksa para penjual pecel ini pindah ke tempat lain. Adapun perbedaan pecel Gambringan dengan pecel lainnya terletak pada bumbu kacangnya yang ditumbuk tidak terlalu halus. Jadi serpihan kacangnya masih terasa. 

Sehabis makan, aku bertanya ke ibu penjual pecel ini, apakah ada bus ke Semarang dari depan stasiun ini. Ternyata memang tidak ada. Aku harus ke Terminal Purwodadi dulu. Caranya dengan naik bus yang dari arah Solo.

Aku mengucapkan terima kasih, lalu menyeberang jalan. Tak lama, bus jurusan Solo-Purwodadi lewat. Aku pun naik. Baru dalam hitungan menit, sudah sampai di Terminal Purwodadi. Barulah aku tahu, jarak dari Ngrombo ke Purwodadi ternyata cuma sekitar 7 km. Dekat banget kalau naik bus, tapi kalau jalan kaki… hmmm….nggak banget ah

Tidak sulit bagiku menemukan bus jurusan Semarang. Tak perlu menunggu lama, bus segera berangkat. Dalam perjalanan aku sibuk memelototi pemandangan Kabupaten Grobogan bagian utara yang baru pertama kali kulihat. Tidak ada yang istimewa memang. Di sebelah kanan adalah daerah perbukitan kapur yang gersang , sebelah kiri ladang dan pepohonan jati, sementara di depan sana aliran Sungai Serang dengan area persawahan.

Bus sempat berhenti lama di Pasar Godong. Di sini kesabaranku benar-benar diuji. Udara panasnya bukan main padahal bus tidak ada ACnya. Benar-benar serasa direbus. Aku melihat keluar jendela, berharap ada tukang es lewat, ternyata satu pun tidak ada....



Untunglah bus segera berangkat. Lewat Gubug, Tegowanu, Mranggen... semakin lama semakin mendekati kota Semarang hingga akhirnya berhenti di Terminal Penggaron. Perjalanan makan waktu 2 jam.

Bus dari Purwodadi memang hanya sampai Terminal Penggaron ini. Jadi aku harus naik angkot jurusan Pasar Johar untuk balik ke hotel. Itupun tidak sampai ke Jalan Layur. Terpaksalah aku jalan kaki dari jembatan Kota Lama. Ah, padahal aku sudah tidak tahan kepanasan.

Maka, sesampai di kamar hotel aku langsung menyalakan AC, dan rebah di kasur. Lelah dan gerah banget rasanya

Rabu, 06 Juni 2018

My Second Backpaker (Part 1) : Senja di Pantai Marina


Bisa dibilang liburan kali ini paling memusingkan buatku. Penginnya ke tempat yang spektakuler (bukan Indonesian Idol lho), sayangnya budget sedang tipis dan ada masalah dalam pekerjaan (tapi nggak perlu kuceritakan itu apa).

Awalnya Jepara jadi pilihanku, tapi begitu searching info, tarifnya kurang terjangkau kantong. Surabaya? Apalagi itu, kejauhan! Bisa bolong kantongku (padahal kalau nggak bolong, gimana nyimpan duitnya?)

Tiba-tiba aku teringat kereta api Kedungsepur jurusan Semarang-Ngrombo. Aku pengin banget mencoba kereta itu, cuma karena jadwalnya pagi-pagi, aku harus menginap di Semarang.

Akhirnya deal, aku pesan penginapan di Semarang. Aku memilih yang cukup murah, yaitu DS Layur Hostel di Jalan Layur. Kelebihan lain, hostel ini  dekat dengan Stasiun Tawang, kalau kita kuat, jalan kaki pun terjangkau.

Maka, 14 April 2018, tepat saat itu hari Isra Miraj, aku berangkat ke Semarang. Karena takut kehabisan tiket kereta, aku langsung menuju loket Stasiun Tawang. Tapi oh…. sialnya, tiket KA Kedungsepur hanya tersisa tiket untuk berdiri. Aku pikir, bisa tepar kalau hampir 2 jam berdiri di kereta. Apalagi saat liburan seperti ini kan banyak orang tua yang mengajak anak-anak. Pasti berisik banget. Dengan lunglai dan tangan hampa aku keluar dari stasiun.

Huh.. kalau nggak sayang uangnya, aku udah batalkan menginap, dan pulang ke Magelang. Sambil menyusuri jalan di Kota Lama Semarang, aku berpikir, harus kemana aku?  Apa pun terjadi, aku harus tetap mengunjungi suatu tempat, dan itu harus di luar kota Semarang. Aku udah puluhan kali mengunjungi Semarang, jadi harus ada suasana baru.

Dengan diantar Gojek, aku sampai di Jalan Layur ,Semarang Utara (ngomong-ngomong daerah ini punya cerita tersendiri, tunggu ya di postingan berikutnya). Tepat di pojok jalan adalah tempatku bermalam nanti, namanya DS Layur Hostel.. Jangan bayangkan hotel mewah, karena bentuk hostel ini mirip sebuah ruko besar. Ruang receptionist pun terkesan seadanya, malah terlihat kurang rapi karena ada tumpukan kasur yang diletakkan begitu saja.




Setelah check in dengan menunjukkan KTP dan voucher pesanan dari Traveloka, seorang petugas mengantarku ke kamar di lantai 2.

Kamar yang kutempati adalah Single Budget Room. Aku memang sengaja pilih kamar ini biarpun ada kamar Dormitory yang lebih murah. Aku pengin bisa tidur tenang, nggak terganggu sama orang yang suka telepon pacar sampai tengah malam (maklum, jomblo negatif).



Harga 76 ribu per malam termasuk murah buat kamar ini. Ruangannya nggak terlalu besar, tapi tempat tidurnya nyaman banget. Udah gitu ada AC nya, yang bisa bikin sejuk. Wah, dengan segera aku rebahkan tubuhku. Oh ya, selain fasilitas kasur, lemari, dan air mineral, aku juga dapat sabun mandi, odol dan sikat gigi. Tapi karena aku udah bawa perlengkapan mandi sendiri, jadi nggak kupakai.

Sambil tiduran, aku merenung. Bukan soal cinta, tapi lagi-lagi soal besok mau ke mana. Demak? Ada apa di sana? Aku nggak mau kalau sekedar muter-muter keliling kota. Jepara? Terlalu jauh, nanti waktunya malah habis di jalan. Ah, tahu begini tadinya aku menginap di Kudus atau Jepara aja.

Asyik tiduran, tahu-tahu udah sore. Aku siap-siap mandi. Kamar mandinya ada di luar kamar alias shared bathroom. Jujur aku kurang suka dengan kamar mandi ini. Selain sempit, fasilitasnya minim, cuma ada shower dan satu gantungan kecil.  Lebih horor lagi, tembok pembatas kamar mandi tidak terlalu tinggi. Awas aja kalau ada yang ngintip! (Maaf ya, buat pengelola hotel, aku bukan mau mencela, tapi biar jadi masukan lah, soalnya orang yang menginap kan beda-beda)

Setelah mandi dan ganti pakaian, sekarang aku mau jalan-jalan sore dulu. Nah, sore-sore begini kan paling asyik lihat sunset di pantai. Jadi, aku pun memesan Gojek untuk mengantarku ke Pantai Marina. Dengan cepat, motor itu bergerak ke daerah pelabuhan Tanjung Mas. Mungkin karena jalan yang dilewati “kurang umum”, abang Gojeknya agak bingung memilih jalan. Apalagi kondisi jalan banyak lubang akibat rob, lumayan bikin sport jantung juga. Berulang kali aku tahan nafas, selain karena bau air sungai yang kotor juga akibat motor berguncang keras.

Sempat hampir tersasar, akhirnya aku sampai di gerbang Pantai Marina. Langit sudah mulai gelap. Dengan tiket seharga Rp. 5000, aku masuk ke kawasan pantai. Tapi yaaah… sepertinya aku nggak bisa menikmati suasana. Pantai ini sangat ramai pengunjung.

Pantai Marina sebenarnya adalah sebuah laguna atau teluk. Tidak ada ombak besar seperti di pantai selatan Jawa. Dilihat sepintas lebih mirip kolam raksasa. Nggak heran, jika pantai ini aman buat berenang. Sore itu, banyak anak-anak yang sedang main air bersama orang tuanya.

Dengan keadaan begini nggak mungkin aku ikutan berenang. Malu banget lah, udah gede begini. Jangankan menceburkan diri, duduk sambil merendam kaki aja harus diurungkan karena saking penuhnya. Akhirnya aku berjalan terus menyusuri sepanjang pantai, terserah mau ke mana.



Semakin jauh berjalan, masih saja keramaian yang kutemui. Cuma bedanya, di sini bukan lagi tempat main air, tapi pemancingan. Ombak laut berdesir di antara batu-batu besar. Beberapa kapal ditambatkan pada beberapa tiang. Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam. (Beneran, bukan sekedar lagunya Iwan Fals). Yes, pemandangan sunset melingkupi sepanjang Teluk Semarang.





Di sebelah timur, nampak kelap-kelip lampu Pelabuhan Tanjung Mas. Sebenarnya di sana ada satu pantai lain, namanya Pantai Baruna. Sayangnya, kalau mau ke sana aku harus berjalan memutar karena terhalang perairan. Apalagi akses jalan ke sana agak sulit.

Berhubung hari mulai gelap, aku nggak bisa lebih lama di sini. Aku harus balik ke pintu masuk Pantai Marina. Sengaja aku pilih jalan yang berbeda, yaitu lewat perumahan di belakang kawasan pantai. Kebanyakan rumah di sini besar dan bagus, mungkin villa milik orang-orang kaya di Semarang.

Lewat jalan yang sepi ini aku jadi kayak orang hilang. Untunglah, aku berhasil menemukan gerbang loket tadi. Segera kupesan Gojek untuk pulang ke hotel. Dan….persis seperti berangkat tadi, aku dibuat deg-degan oleh jalan yang rusak plus abang Gojek yang nggak paham jalan. Makanya, begitu memasuki Jalan Layur, lega hati ini.

Kamis, 03 Mei 2018

Lagu Masa Lalu (21) : El Lute



(This is the story of El Lute
A man who was born to be hunted like a wild animal
Because he was poor
But he refused to accept his fate
And today his honor has been restored)

He was only nineteen
And he was sentenced to die
For something that somebody else did
And blamed on El Lute

Then they changed it to life
And so he could escape
From then on they chased him
And searched for him day and night all over Spain
But the search was in vain for El Lute

He had only seen the dark side of life
The man they called El Lute
And he wanted a home just like you and like me
In a country where all would be free

Though he taught himself to read and to write
It didn't help El Lute
He was one who had dared to escape overnight
They had to find El Lute

Soon the fame of his name
Spread like wild fire all over the land
With a price on his head people still gave him bread
And they gave him a hand

For they knew he was right
And his fight was their fight

No-one gave you a chance
In the Spain of those days
On the walls every place they had put up
The face of El Lute

And he robbed where he could
Just like once Robin Hood
They finally caught him and that seemed the end
But they caught him in vain

'Cause a change came for Spain
And El Lute

He had only seen the dark side of life
The man they called El Lute
And he wanted a home just like you and like me
In a country where all would be free

And then freedom really came to his land
And also to El Lute
Now he walks in the light of a sunny new day
The man they called El Lute

El Lute dalam cover buku Camina O Revienta karyanya

Tahu Boney M ? Itu grup vokal kulit hitam yang terkenal dengan lagu-lagunya yang menghentak. Pokoknya kalau dengar lagu mereka, bawaannya jadi semangat.

Tapi lagu di atas bisa dibilang hits yang unik dari Boney M. Mereka mencoba keluar dari pakemnya dengan membawakan lagu berirama ballad. Lantas, apa atau siapakah El Lute yang mereka maksud?

El Lute ternyata bukanlah sebuah istilah, bukan juga tokoh dongeng, tapi nama julukan dari seseorang yang benar-benar ada di dunia nyata.

Tersebutlah Eleuterio Sanchez, seorang pria miskin dari Spanyol. Karena kehidupan yang serba keras, ketika dewasa ia menjadi penjahat. Mulai dari maling ayam, hingga perampok.

Puncaknya, ia dijadikan tersangka atas tewasnya seorang penjaga toko di Madrid. Padahal, Sanchez bukan pelaku sebenarnya. Namun, penegak hokum tidak begitu saja percaya pada pengakuannya, malahan pada tahun 1965, Sanchez terancam hukuman mati.

Setelah melalui proses hokum yang panjang, akhirnya Sanchez divonis 30 tahun penjara. Namun, seringan apa pun tak ada orang yang mau hidup di penjara. Sanchez mencoba melawan. Dengan bantuan orang-orang yang peduli padanya, akhirnya ia bisa melarikan diri dari penjara. Bukan sekali dua kali namun berulang kali ia berhasil kabur dan tertangkap lagi. Sejak itu Sanchez mendapat julukan El Lute. Ia pun menjadi “Most Wanted”, alias penjahat paling dicari di Spanyol.

Meski dikenal sebagai penjahat, ternyata masih banyak orang yang peduli dengan El Lute. Dalam pelariannya, beberapa orang memberinya makan. Mereka tahu bahwa sebenarnya El Lute adalah korban salah tangkap. Dari kasus inilah, muncul perlawanan atas diskriminasi terhadap orang miskin. Ketika itu Spanyol masih di bawah kekuasaan Franco, presiden yang diktator.

Beberapa tahun kemudian, terjadi perubahan sistem pemerintahan di Spanyol, dari republic menjadi monarki. Dalam pemerintahan Raja Juan Carlos I, El Lute mendapat pengampunan, hingga akhirnya dibebaskan pada tahun 1981.

Untuk membersihkan namanya, semasa di penjara El Lute belajar membaca dan menulis. Kemudian, ia menulis buku, hasil curahan hatinya. Sampai kini telah 5 buku yang dihasilkannya.

Ternyata drama El Lute sebagai “korban salah tangkap” terulang kembali di tahun 2006. Bedanya, kini ia dituduh menganiaya mantan istrinya. Namun, karena tidak cukup bukti, ditambah alibi yang kuat dari seorang teman mereka, akhirnya El Lute dibebaskan. Kini, ia masih hidup di Tomares, Spanyol.


El Lute sekarang, dalam sebuah wawancara dengan media


Lagu tentang El Lute diciptakan oleh Frank Farlan pada tahun 1979. Ketika itu El Lute masih berada di dalam penjara, namun grasi (pengampunan) untuknya telah disetujui.

Bukan kali ini saja Boney M mengangkat kisah kehidupan tokoh terkenal. Ada “Ma Barker” (seorang ibu yang memimpin geng penjahat Amerika),, “Rasputin” (paranormal Rusia), hingga “Everybody Wants To Dance Like Josephine Baker” yang didedikasikan untuk Josephine Baker, penari asal Prancis. Dari semua lagu tersebut, El Lute adalah satu-satunya lagu berirama slow.

Boney M


Lewat lagu ini Frank Farlan dan Boney M ingin menggambarkan kisah kehidupan El Lute yang telah membawa perubahan besar bagi negaranya. Ya, beberapa tahun setelah kasus El Lute mencuat, kediktatoran militer dan Francoisme di Spanyol runtuh, dikembalikan ke sistem monarki yang lebih baik. El Lute bukanlah pahlawan, ia manusia biasa bahkan berlabel penjahat, namun dari kisah hidupnya ia berhasil “mengubah dunia”.

Link video:
https://www.youtube.com/watch?v=_FoVCBMkUw0

Senin, 23 April 2018

Solo Travelling (12) : Satu Jam di Pekalongan




Kota batik di Pekalongan
Bukan Jogja, bukan Solo
Gadis cantik jadi pujaan
Jangan bejat, jangan bodo




Februari 2018…

Dari pengalamanku travelling, perjalanan dengan kereta api adalah yang paling menyenangkan buatku. Nggak seperti angkutan darat lainnya yang suka ngetem sembarangan atau pasang tarif seenaknya, waktu dan tempat naik kereta terjadwal dengan baik. Itu sebabnya, beberapa rute kereta api bikin aku penasaran ingin mencobanya.

Kali ini untuk pertama kalinya aku mencoba naik kereta api di jalur Pantura. Dengan segala perhitungan, terutama soal waktu, aku memilih Pekalongan sebagai tujuanku. Kereta yang kupilih juga tarif termurah, maklum kantong tipis. Lewat Traveloka, aku tentukan semuanya.

Cuaca di langit kota Semarang kurang bersahabat. Baru jam 10 pagi, tapi sudah hujan deras. Begitu turun dari bus, air banjir di Kaligawe sudah mencapai betisku. Aku nggak peduli, mau banjir sepinggang juga biar, yang penting tetap berangkat. Dengan rasa deg-degan takut ketinggalan kereta, aku pesan GoCar. Untungnya, aku sampai di Stasiun Tawang tepat waktu.

Nggak ada waktu lagi buat duduk santai di stasiun, aku segera cetak tiket. Tak lama, KA Kamandaka datang diiringi lagu Gambang Semarang, ciri khas stasiun ini. Aku langsung check in dan naik ke kereta.

Kereta api Kamandaka di Stasiun Tawang

Bagian dalam KA Kamandaka



KA Kamandaka ini jurusan Semarang-Purwokerto, tapi seperti kusebutkan di atas, aku mau turun di Pekalongan. Begitu naik, aku takjub karena kereta ini masih sepi. Cuma sekitar 15 orang di dalam gerbong. Sengaja aku pilih tempat nomor 1 di gerbong paling belakang. Tepat jam 11.00 kereta berangkat.

Ah, ternyata kelegaan ini pecah begitu sampai di Stasiun Poncol. Penumpang yang naik berjubel, dalam sekejap nggak ada lagi kursi kosong. Malah di depanku, ada 2 orang mahasiswi dan seorang bapak yang naik, barang bawaan mereka setumpuk. Yah… aku berusaha jangan sampai protes, lagipula apa gunanya, toh aku juga penumpang. Kualihkan saja pandanganku ke luar jendela.

Kereta melaju ke sebelah barat kota Semarang. Muara banjir kanal, tambak, hingga jalan sekitar pelabuhan jadi pemandangan awal. Daerah Semarang Utara memang dekat dengan laut, maka nggak heran jika sering banjir seperti tadi.

Perhentian berikutnya adalah Stasiun Weleri. Di sini berhentinya setengah jam, jadi penumpang boleh turun sebentar. Kebanyakan yang turun adalah bapak-bapak. Ada yang sholat Zuhur, ada yang merokok, ada juga yang sekedar nongkrong di stasiun. Aku? Jelas aku punya “acara sendiri”. Jalan keliling dari ujung ke ujung stasiun, nggak lupa sambil foto-foto.

Stasiun Weleri tidak terlalu besar. Tapi selalu ada hal menarik buatku. Jalan di sekitar rel masih berupa tanah dan penuh batu kerikil. Belum lagi banyak genangan air bekas hujan tadi. Maka aku harus hati-hati berjalan, bisa gawat kalau nyungsep.

Stasiun Weleri

Pose di depan bantalan rel

Besi bantalan rel yang ditumpuk di pinggir jalan juga menarik perhatianku. Tidak kuketahui fungsinya, apakah sisa pembangunan jalur ganda, atau apa. Yang jelas, selain jumlahnya tidak banyak, besi-besi itu dibiarkan saja kena air hujan.

Lanjut! Selepas Kabupaten Kendal, suasana berpindah ke Alas Roban, hutan terbesar di jalur Pantura. Lagi asyik memandangi pohon-pohon lebat, tiba-tiba sebuah pemandangan spektakuler terpampang jelas. Yang baru pertama kali lihat pasti terpesona.

Apa itu? Beberapa kali jalur kereta berada di tepi pantai! Terlihat jelas panorama Laut Jawa dengan ombak berdebur. Warna airnya kecoklatan, bukan biru. Bahkan pernah air laut seolah-olah ada di bawah jendela kereta, cuma dibatasi oleh batu-batu besar atau tebing yang tidak terlalu tinggi. Luar biasa!

Aku yang ingin tahu lebih lanjut, mencari info di google. Selidik punya selidik, jalur kereta tepi pantai ini satu-satunya yang masih aktif di pulau Jawa. Hebatnya lagi, ada stasiun tepi pantai, namanya Stasiun Plabuan. Sayangnya, stasiun ini cuma buat persilangan, bukan buat naik turun penumpang. Wah… seandainya penumpang bisa turun, pasti tempat ini jadi “arena selfie”. 

Tak berlangsung lama, kereta merapat ke Stasiun Pekalongan. Jam menunjukkan pukul 12.50. Saatnya aku harus turun. Ngomong-ngomong, aku cuma punya waktu 1 jam di kota ini, soalnya kereta pulang akan berangkat sekitar jam 14.00.

Nggak ada yang bisa kulakukan selain jalan-jalan di dekat stasiun aja. Stasiun Pekalongan ternyata letaknya di pusat kota. Aku langsung ingat pernah lewat jalan ini waktu pulang dari Jakarta. Dari pengamatanku, suasana jalan kota Pekalongan ini biasa aja, seperti kota pada umumnya. Maka, aku coba lebih teliti, kalau-kalau ada sesuatu yang menarik.


Keramaian kota Pekalongan

 
Karena udah waktunya makan siang, aku cari makan aja. Yeah, pastinya aku mau makanan khas Pekalongan. Nggak perlu jauh-jauh karena beberapa ratus meter dari stasiun ada Warung Makan Mbak Dur, yang khusus menyediakan kuliner khas kota batik ini. Garang asem, nasi megono dan tauto adalah beberapa menu utama.  Tapi tauto lebih mengundang seleraku. Coba yuk!

Tauto itu singkatan dari tauco soto, artinya soto yang dicampur bumbu tauco. Kuah berwarna coklat kemerahan diisi irisan daging sapi, ditambah soun. Hmmm… padahal aku nggak suka daging sapi utuh. Tapi demi rasa penasaran (dan rasa lapar pastinya), rasa mual harus kubuang jauh-jauh. Nyatanya toh, tauto ini lumayan enak. Manis, gurih, dan sedikit pedas. Tanpa terasa semangkuk beserta nasi putih berhasil kuhabiskan tanpa sisa. Nah lo?

Manis dan gurihnya tauto

 

Pas membayar, aku kaget ternyata harga seporsi tauto adalah Rp. 17.500. Tapi, positive thinking aja, harganya sebanding kok dengan mahalnya daging sapi…. eh dengan kelezatannya.

Selesai makan, inginnya sih cari oleh-oleh khas seperti capret atau limun oriental. Tapi dengan terpaksa kuurungkan karena toko yang menjualnya agak jauh dari sini. Nggak ada waktu lagi buat jalan jauh-jauh. Yah… aku cuma bisa jalan beberapa ratus meter lagi. Dan ternyata pusat kota Pekalongan tidak jauh dari sini. Seperti di Jogja, Pekalongan juga punya kawasan titik nol kilometer. Sebuah tugu dikelilingi taman berbentuk segitiga menghiasi Jalan Merdeka ini.

Titik nol kota Pekalongan

Wah, waktu sudah pukul 13.30! Aku segera balik ke stasiun setelah sebelumnya beli minuman di Alfamart dulu. Begitu masuk stasiun, ternyata KA Kaligung tujuan Semarang sudah datang. Cuma masih berhenti beberapa menit karena bersilang dengan KA Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya.

Kalau Stasiun Tawang dan Stasiun Weleri punya instrumen Gambang Semarang tiap kedatangan kereta api, maka di Stasiun Pekalongan ada Nyidam Sari. Sempat terdengar peringatan dari pengeras suara, agar penumpang jangan sampai salah naik kereta, karena kedua kereta berhenti berdekatan. Agak menggelitik juga, kalau sampai calon penumpang KA Kaligung yang notabene kelas ekonomi, salah naik ke Argo Bromo yang kelasnya orang berduit. Keberuntungan banget tuh…. hehehe.. tapi jangan coba-coba deh, nanti ketahuan petugas, terus diturunkan di tengah jalan kan gawat.

Hujan rintik-rintik mulai turun. Tapi dasar traveler, sebelum naik ke kereta aku masih sempat-sempatnya mengabadikan bangunan tua di sebelah timur stasiun. Yup, di Pekalongan juga banyak bangunan tua, bahkan stasiun ini konon juga peninggalan zaman Belanda.


Memotret bangunan tua sebelum naik KA Kaligung

KA Kaligung yang nyaman

Akhirnya tiba waktunya untuk pulang. KA Kaligung ini sudah penuh penumpang. Aku sendiri dapat tempat duduk di gerbong belakang, dua baris dari belakang. Nggak tahu kenapa kalau naik kereta aku suka yang belakang-belakang. Tapi no problem, nyatanya kereta ini sangat nyaman, bahkan lebih nyaman dari KA Kamandaka tadi. Di sini sebagian besar kursi penumpang menghadap depan, jadi kita nggak bakal pusing akibat berlawanan arah. Udah gitu, ACnya terasa banget sejuknya.

Rute kereta sama dengan saat berangkat tadi. Aku melihat lagi pemandangan pantai di jendela. Sungguh luar biasa negeriku ini….


Memandang laut dari jendela kereta


Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...