Selasa, 22 November 2016

Lagu Masa Lalu (15) : Candle In The Wind


Lilin tertiup angin

Goodbye Norma Jean
Though I never knew you at all
You had the grace to hold yourself
While those around you crawled
They crawled out of the woodwork
And they whispered into your brain
They set you on the treadmill
And they made you change your name

And it seems to me you lived your life
Like a candle in the wind
Never knowing who to cling to
When the rain set in
And I would have liked to have known you
But I was just a kid
Your candle burned out long before
Your legend ever did

Loneliness was tough
The toughest role you ever played
Hollywood created a superstar
And pain was the price you paid
Even when you died
Oh the press still hounded you
All the papers had to say
Was that Marilyn was found in the nude

And it seems to me you lived your life
Like a candle in the wind
Never knowing who to cling to
When the rain set in
And I would have liked to have known you
But I was just a kid
Your candle burned out long before
Your legend ever did

Goodbye Norma Jean
Though I never knew you at all
You had the grace to hold yourself
While those around you crawled
Goodbye Norma Jean
From the young man in the 22nd row
Who sees you as something more than sexual
More than just our Marilyn Monroe

And it seems to me you lived your life
Like a candle in the wind
Never knowing who to cling to
When the rain set in
And I would have liked to have known you
But I was just a kid
Your candle burned out long before
Your legend ever did


Marilyn Monroe (1926-1962)
Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu waktunya. Tapi bagaimana rasanya kalau kita ingin bertemu seseorang, tapi dia keburu meninggal? Pasti rasanya menyesal, andai waktu bisa diputar, andai dia mau menunggu, dan andai-andai lainnya. Pada akhirnya, kita cuma bisa mengenang.
Itu jugalah yang dikisahkan oleh Elton John dalam lagunya. Lagu itu didedikasikan untuk mengenang artis “bom seks” Hollywood, Marilyn Monroe. Diceritakan bahwa Marilyn, yang bernama asli Norma Jean, adalah aktris besutan Hollywood. Meski seorang superstar, sosoknya penuh kontroversi, bahkan hingga saat kematiannya pun misterius. Dalam lirik lagu, ia digambarkan seperti “lilin yang tertiup angin”, hidupnya penuh cobaan.
Ya, kenyataannya Elton John memang tidak pernah bertemu Marilyn Monroe. Tentu saja, karena Marilyn meninggal tahun 1962, sedangkan lagu ini baru diciptakan tahun 1973. Pada zaman Marilyn, Elton John masih anak-anak, jadi wajar kalau saat itu dia belum pantas menonton film dewasa. Berangkat dari tema yang “tidak biasa”, lagu ini menjadi salah satu single paling sukses dari Elton John. Sampai sekarang, lagu ini telah dicover banyak penyanyi seperti Sandy Denny, Billy Joel, hingga Ed Sheeran.

Elton John 
Elton John sendiri sempat beberapa kali me-remake “Candle In The Wind” sebagai “tribute” bagi tokoh-tokoh terkenal lainnya. Yang paling terkenal adalah versi yang ditujukan bagi Putri Diana pada tahun 1997. Liriknya mengungkap rasa kehilangan atas wafatnya “England’s Rose”. Seorang putri yang berjiwa sosial tinggi, namun banyak mengalami cobaan dalam hidupnya. Mulai dari perceraian hingga berbagai gosip tentang dirinya. 

Putri Diana (1961-1997)


Goodbye England's rose
May you ever grow in our hearts
You were the grace that placed itself
Where lives were torn apart
You called out to our country
And you whispered to those in pain
Now you belong to heaven
And the stars spell out your name

And it seems to me you lived your life
Like a candle in the wind
Never fading with the sunset
When the rain set in
And your footsteps will always fall here
Along England's greenest hills
Your candle's burned out long before
Your legend ever will

Loveliness we've lost
These empty days without your smile
This torch we'll always carry
For our nation's golden child
And even though we try
The truth brings us to tears
All our words cannot express
The joy you brought us through the years

And it seems to me you lived your life
Like a candle in the wind
Never fading with the sunset
When the rain set in
And your footsteps will always fall here
Along England's greenest hills
Your candle's burned out long before
Your legend ever will

Goodbye England's rose
May you ever grow in our hearts
You were the grace that placed itself
Where lives were torn apart
Goodbye England's rose
From a country lost without your soul
Who'll miss the wings of your compassion
More than you'll ever know

And it seems to me you lived your life
Like a candle in the wind
Never fading with the sunset
When the rain set in
And your footsteps will always fall here
Along England's greenest hills
Your candle's burned out long before
Your legend ever will

Inilah hidup…. Tidak selalu mereka yang terkenal dan hidup mewah itu bahagia…  Di dunia banyak cobaan yang membuat hidup bagaikan “lilin tertiup angin”. Yang penting, sekuat apa “lilin” itu berjuang untuk tetap menyala.

Link video:

Marilyn Monroe version:
https://www.youtube.com/watch?v=kRBHERttdP4

Lady Diana version:
https://www.youtube.com/watch?v=OefdqK3jKi0



Sabtu, 05 November 2016

Lagu Masa Lalu (14) : Bunga Flamboyan

Seindah cinta yang pernah kurasakan
Begitu juga kemesraan wajahnya
Bunga flamboyan ganti dirimu yang kini tiada lagi

Bunga flamboyan kau pujaan hatiku
Terjalin indah menemani hidupku
Tak ingin lagi aku berpisah walau hanya sekejap saja

Bila kau ingin datang kembali
Seperti pertama bertemu
Tak jua aku melepaskan

Bunga flamboyan yang tumbuh di halaman
Terjalin indah menemani hidupku
Biarpun layu ’kan kusayangi seperti cintaku padamu




Bunga flamboyan (Delonix regia)
Manis, puitis, dan mengharukan. Itulah kesanku saat mendengar lagu di atas. Penyanyinya bernama Laily Dimyati, yang dikenal pada tahun 1960-an.
Tak banyak informasi tentang penyanyi asal Malang, Jawa Timur yang kini sudah almarhum ini. Memang, nama Laily Dimyati tidak sepopuler Ernie Djohan atau Tetty Kadi. Tapi, di kalangan orang-orang tua (termasuk ibu saya sendiri), ia selalu diingat lewat lagunya, Bunga Flamboyan. Kenapa?
Coba kita resapi lirik lagu di atas. Seseorang yang telah ditinggal pergi kekasihnya, mencoba membuka kenangan. Satu hal yang bisa membuatnya teringat adalah bunga flamboyan yang mulai layu, yang tumbuh di halaman rumahnya. Tidak dijelaskan apa sebabnya, mungkin dia mendapat tanaman itu dari kekasihnya, atau mereka pernah menanamnya bersama-sama. Yang jelas, penyanyi lagu ini mengungkapkan bahwa dia sangat mencintai kekasihnya. Ia siap menerima kembali sang pujaan hati bila kelak datang kembali, bagaimana pun keadaannya
Jadi, tema yang bisa dipetik dari lagu ciptaan Wedhasmara ini adalah kesetiaan. Biarlah bunga flamboyan itu layu, tapi cinta takkan pernah padam.  Makna itulah yang membuat lagu ini abadi. 




Link video:

Minggu, 16 Oktober 2016

Solo Travelling (10) : Sekelumit Cerita dari Kotagede


Di samping Malioboro, ada satu kawasan yang nggak boleh dilewatkan kalau berkunjung ke Yogyakarta. Ya, tidak bukan dan tidak lain adalah Kotagede, yang berada di selatan kota Jogja.
Keinginan menjelajahi Kotagede muncul secara tidak sengaja. Tujuan utamaku ke Jogja hari itu sebenarnya mau cari info lowongan kerja di Kantor Pos Besar Yogyakarta. Tapi sesudah membaca sebuah artikel tentang Kotagede, aku jadi tertarik buat datang ke sana.
Nah, simak perjalananku kali ini.

Inilah jalan masuk Kotagede
Sama sekali nggak sulit buat mencapai ibukota Kerajaan Mataram ini, biarpun sedikit angkutan umum yang masuk daerah itu. Dengan bus Trans Jogja jalur 3A (dari arah Terminal Giwangan) atau 3B (dari arah Bandara Adisucipto), kita turun di Jalan Tegal Gendhu, lalu jalan kaki ke arah timur. Saat kita melihat jembatan Sungai Gajahwong, itulah pintu masuk Kotagede. Tegal Gendhu sendiri adalah "kampung terluar" dari Kotagede. 
Banyak orang sudah tahu, Kotagede dikenal sebagai sentra kerajinan perak bertaraf internasional. Tak salah lagi, belum sampai di jembatan Gajahwong, sudah banyak kutemui toko yang menjual kerajinan perak. Dan uniknya lagi, beberapa bangunan toko memiliki bentuk dan arsitektur khas Jawa tempo dulu. Bangunan tua yang telah direnovasi hingga tetap berdiri kokoh sebagai peninggalan sejarah dan budaya. Keeksotisan inilah yang jadi daya tarik buat para pelancong.

Resto Omah Dhuwur, bangunannya bergaya tempo dulu
Salah satu pusat kerajinan perak
Semakin masuk ke kawasan Kotagede, nuansa Jawa tempo dulu sangat terasa. Mulai dari rumah, tugu, lampu jalan, sampai papan nama jalan, sebagian besar bergaya etnik. Memang, sejak beberapa abad silam, Kotagede sudah dikenal sebagai pusat pertumbuhan di selatan Jogja. Sayang, daerah ini sangat ramai oleh kendaraan yang lalu lalang, sehingga agak mengurangi kenyamanan.
Sampailah aku ke Pasar Kotagede. Pusat ekonomi masyarakat ini dinamakan Pasar Legi, yang konon ramai pada hari pasaran Legi menurut penanggalan Jawa. Namun pada hari biasa pun, aktivitas jual beli tetap berjalan. Sebuah gardu listrik dari tahun 1900 menjulang di sisi barat pasar. Gardu ini dinamakan Babon Aniem, karena merupakan gardu induk yang menyalurkan listrik ke seantero Kotagede di masa itu. 

Pasar Legi Kotagede
Tugu Babon Aniem

Salah satu sudut pasar
Papan nama jalan bergaya etnik
Toko-toko yang menjual kerajinan perak pun bertebaran di mana-mana, khususnya di Jalan Kemasan (utara pasar) yang merupakan pusat pengrajin perak. Konon, harga yang ditawarkan mulai dari puluhan ribu rupiah untuk hiasan kecil seperti bros, hingga jutaan rupiah. Berhubung uang pas-pasan, aku cukup window shopping aja… hahaha…

Salah satu toko kerajinan perak di Jalan Kemasan
Setelah semangkuk bakso mengenyangkan perutku siang itu, petualanganku berlanjut ke Makam Raja-raja Mataram yang letaknya di belakang pasar. Karena hari ini bukan hari libur, aku berpikir, jangan-jangan pengunjungnya cuma aku sendiri. Tapi perkiraanku salah. Ada juga beberapa orang lalu lalang. Warung yang menjual souvenir juga tetap buka. Di tempat yang dinaungi oleh pohon beringin besar ini juga ada beberapa rumah, yang adalah tempat tinggal para abdi dalem. Abdi dalem adalah orang-orang yang bertanggung jawab menjaga masjid dan makam di sini.

Jalan masuk Makam Raja-raja Mataram

Gerbang masuk bergaya candi
Aku pun mencoba memasuki gerbang depan Masjid Agung Kotagede. Uniknya, meski sebuah masjid, tapi gerbang masuknya lebih mirip candi. Penyebabnya, karena pada waktu itu pengaruh Hindu masih kuat dalam kebudayaan Jawa. Jadi meskipun agama Islam sudah menjadi agama resmi dalam kerajaan Mataram, arsitektur bangunan tetap disesuaikan dengan budaya saat itu, agar proses akulturasi antara agama dan budaya bisa berjalan lancar. Ini jugalah yang diterapkan pada Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah.
Tak perlu terlalu jauh, begitu memasuki gerbang, langsung terlihat masjid dengan bangunan bergaya keraton. Masjid yang dibangun pada tahun 1589 ini adalah salah satu komponen utama kota kuno Kotagede yang masih bertahan. Meski pernah terbakar dan mengalami kerusakan, tapi berhasil diperbaiki tanpa mengubah bentuk aslinya.

Inilah Masjid Agung Kotagede
Total ada tiga gapura bergaya candi yang menjadi akses menuju masjid. Gapura sebelah selatan adalah gerbang menuju ke makam raja-raja Mataram. Dipicu rasa penasaran, aku nekat memasuki gapura. Ternyata kita nggak langsung masuk ke makam. Di dalam area ini masih ada area sebelum memasuki makam. .
Halaman ini adalah tempat untuk administrasi pengunjung. Beberapa buah pendopo tersedia di sini, yang fungsinya untuk kegiatan abdi dalem dan persiapan pengunjung yang mau berziarah. Makam dipisahkan oleh gapura di sebelah barat. Oh ya, demi menghormati para raja yang sekaligus leluhur keraton, ada hal-hal yang harus dipatuhi bagi peziarah saat masuk ke makam. Pertama, harus mengenakan pakaian adat Jawa. Pengunjung bisa menyewa di situ. Kedua, dilarang memakai perhiasan emas. Ketiga, dilarang memotret di area makam.

Salah satu pendopo administrasi

Art shop di dekat pendopo
Raja-raja yang dimakamkan di sini adalah Panembahan Senopati (raja Mataram Islam pertama), Ki Gede Pemanahan (ayah Panembahan Senopati, yang juga pelopor daerah ini), Panembahan Krapyak (putra Panembahan Senopati), Sri Sultan Hamengkubuwono II, Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang, dan beberapa keluarga kerajaan Mataram lainnya.
Kerajaan Mataram Islam berdiri pada abad ke-16. Dulu, sebelum abad ke-10, di daerah ini pernah berdiri Kerajaan Mataram Hindu. Namun, peradaban tersebut berpindah ke Jawa Timur, diduga kuat akibat letusan dahsyat Gunung Merapi tahun 1006. Baru pada abad ke-16, Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang memberikan daerah yang sudah menjadi hutan ini kepada Ki Gede Pemanahan, yang selanjutnya dikembangkan menjadi Kerajaan Mataram Islam. Kini, warisan kerajaan ini dikelola oleh Keraton Yogyakarta.
Di pendopo pertama, dua orang abdi dalem atau petugas berpakaian adat Jawa dengan ramah menyambutku. Tak ada tarif, aku cukup mengisi buku tamu (yang nantinya sebagai bahan laporan untuk keraton) lalu mengisi kotak sumbangan seikhlasnya. Dari pendopo itu terlihat gapura menuju halaman kedua. Beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang bersembahyang di depan gapura. Karena aku  nggak ingin berziarah, petugas menunjukkan tempat menarik lainnya, yaitu Sendang Selirang.
Dengan antusias, aku menuruni anak tangga ke arah Sendang Selirang, yang juga dipisahkan dengan gapura bergaya candi. Di bagian selatan adalah Sendang Putri untuk perempuan, yang airnya berasal dari pohon beringin di dekat makam. Di bagian barat Sendang Kakung untuk laki-laki yang airnya dari sumber air di bawah makam. Bentuknya hampir sama, mata air yang dikelilingi tembok dan pagar. Kedua mata air ini selain untuk membersihkan diri bagi peziarah, juga untuk kebutuhan mandi dan mencuci bagi warga sekitar. Yang tak kalah menarik, sebagian sendang digunakan untuk memelihara ikan, khususnya ikan lele. \

Tempat mandi di Sendang Kakung
Kolam ikan lele
Sumur di dekat Sendang Kakung
Setelah puas melihat-lihat, aku meninggalkan tempat itu dengan tidak lupa pamit ke petugas.
Gang sempit di luar masjid bikin aku tertarik buat menjelajahinya. Udara panas tak peduli, yang penting segala yang indah tidak boleh dilewatkan! Ternyata lorong ini menuju ke pemukiman warga. Banyak rumah warga yang mempertahankan bentuk joglo atau limas dengan dinding kayu dan pintu besar. Sampai-sampai pos ronda pun dirancang dengan pakem yang sama. Eksotis tapi menakjubkan.

Joglo, atap rumah khas Jawa

Rumah tradisional Jawa, dilengkapi dengan gerbang


Lampu kuno di balik tembok makam


Poskamling pun bergaya etnik. Wow!
Sedangkan di luar tembok makam, di antara rumah warga terdapat Sendang Kemuning, yang juga masih difungsikan untuk memenuhi kebutuhan air warga sekitar.
Hari semakin siang, tapi aku belum puas. Aku mengikuti jalan menuju selatan pasar.  Sebuah penunjuk arah bertuliskan “Watu Gilang” membuatku penasaran. Tempat apakah itu?
Belum sampai ke Watu Gilang, aku dibuat takjub sama hal lain. Terdapat sebuah gerbang menuju perkampungan kecil. Bahasa kerennya adalah “Between Two Gates”, karena terdapat dua gerbang untuk masuk ke daerah ini .  Sebuah komplek perumahan dengan arsitektur joglo yang sudah ada sejak tahun 1840. Rumah-rumah bergaya klasik ini adalah milik pribadi, namun jarang ditinggali oleh pemiliknya.  Untuk berkunjung pun, kita wajib lapor ke ketua RT.

Between Two Gates

Bagian dalam Between Two Gates

Reruntuhan benteng Cepuri
Nggak jauh dari Between Two Gates, kita juga bisa temukan reruntuhan benteng Cepuri, tepatnya di mulut sebuah gang. Unik banget, ada benteng di tengah pemukiman. Benteng ini dulunya menjadi tembok pertahanan bagi kerajaan Mataram.
Ternyata Watu Gilang adalah situs bebatuan yang diyakini adalah singgasana Panembahan Senopati. Tidak cuma itu, di sini tersimpan juga Watu Gatheng, bola batu yang merupakan mainan Raden Rangga (putra Panembahan Senopati) dan Watu Genthong yang adalah tempat air wudhu Panembahan Senopati. Sayang, kita nggak bisa lihat langsung. Benda-benda tersebut disimpan dalam sebuah bangunan tertutup, yang hanya bisa dibuka dengan izin ke petugas di makam Hastorenggo. Makam Hastorenggo terletak di dekat situ. Tempat ini adalah komplek makam dari keluarga Sultan Hamengkubuwono VIII.

Penjelasan tentang situs Watu Gilang
Makam Hastorenggo, milik keluarga Sultan Hamengkubuwono VIII
Dalam perjalanan pulang ke Halte Tegal Gendhu, aku sengaja memilih jalan berseberangan dengan waktu berangkat tadi. Tujuanku biar bisa lihat lebih dekat rumah-rumah besar di jalan masuk Kotagede tadi. Memang, seperti kuceritakan di awal, baik rumah, art shop maupun restoran di sini banyak yang bergaya tempo dulu.

Kafe dengan desain yang unik
Seharian itu kamera HPku nggak berhenti menjepret sana sini. Mengabadikan segala hal eksotis, yang belum tentu kutemui di daerah lain. Warisan sejarah dan budaya tetap terjaga di Kotagede meski arus modernisasi bermunculan. Mungkin kalau aku telusuri dari kampung ke kampung, masih banyak pemandangan menarik di sini. Sayang, waktu jugalah yang membatasi. 

Jumat, 30 September 2016

Berbagi Tips Ikut Audisi Pencarian Bakat

“Mari ikut saya ke ruangan sebelah sana”, seorang panitia audisi Rising Star Indonesia di Hotel Sahid Yogyakarta membawa aku dan 9 orang lainnya ke sebuah tempat.
Hal seperti ini tidak asing lagi buatku. Sudah ketiga kalinya, aku mengalami ini. Result room, penentuan lolos atau tidak dari tahap awal audisi pencarian bakat nyanyi di TV. Asal tahu aja, persaingan di audisi ini ketat banget. Kita bersaing dengan ribuan orang, jadi lolos dari tahap awal aja udah membanggakan banget.

Di hadapan kami, panitia itu membuka sebuah amplop. 

“Yang saya sebut namanya, silahkan maju ke depan”.  

Seketika rasa deg-degan menghinggapi kami. Ibarat penentuan hidup mati.

“ROBERT”

HAH? Aku kaget luar biasa. Rasanya nggak percaya, namaku disebut. Loloskah? Hm… nanti dulu.

“Yang kedua, IMAS”

Seorang cewek berjilbab pun maju dan berdiri di sampingku.

“Untuk yang lainnya, mohon maaf, kalian belum bisa lanjut, mungkin kalian bisa coba lagi di waktu lain”

DHUARRRR! Perasaanku campur aduk. Tapi berbalik 360 derajat dengan audisi yang sudah-sudah. Aku kini mendapat hadiah manis bahwa aku…. LOLOS! YESSSSS!. 
Seketika kedelapan peserta lainnya kasih ucapan selamat ke aku dan Imas. Tapi perjuanganku belum selesai. Masih ada serangkaian tahap sebelum aku tampil di TV nanti. Apa itu? Maaf, aku nggak bisa tulis di sini. Bukannya sombong, tapi rahasia perusahaan.


Setelah perjuangan berkali-kali, akhirnya.....

Nah, biar nggak kecewa, aku mau kasih beberapa tips buat kalian yang pengin atau suka ikut audisi seperti ini

1. Latihan
Ini hal yang paling penting dilakukan. Seorang penyanyi harus mempersiapkan diri agar penampilannya maksimal. Materi lagu (lirik, nada, penghayatan) harus dikuasai dan tampil nggak boleh malu-malu. 
Latihan bisa dilakukan di mana aja, di tempat karaoke, di kamar tidur, di kamar mandi, atau di mana aja kamu merasa nyaman. Akan lebih baik kalau kamu latihan tampil di depan orang lain. Undanglah teman-teman yang paham musik dan mintalah mereka kasih masukan untuk penampilan kamu.

2. Jaga suara
Sebagai penyanyi, suara adalah modal utama. Maka, suara harus dijaga. Istirahat yang cukup dan batasi makanan seperti gorengan, susu dan es agar tidak mengganggu pita suara. Hindari berteriak terlalu kencang kecuali kamu lagi dalam bahaya. 
Satu ramuan yang biasa aku minum, air jeruk nipis ditambah sedikit kapur sirih dan madu. Minumnya cukup seminggu sekali aja. Kabarnya ramuan ini bisa menguatkan pita suara sehingga suara yang dikeluarkan lebih merdu.

3. Pilih lagu yang tepat
Lagu yang mau kamu bawain harus benar-benar pas dengan karakter kamu. Kalau suara kamu bass jangan coba-coba deh bawain “I Want To Break Free” nya Queen.
Hindari lagu-lagu yang asing atau terlalu jadul, karena selera juri biasanya kekinian. Untuk lirik lagu pun, kamu harus benar-benar hafal. Nggak perlu malu bawain lagu Indonesia kalau bahasa Inggris kamu kurang. Karena yang paling penting di sini adalah penampilan kamu bisa menghibur. Ingat, Justin Bieber atau Britney Spears bisa aja kalah sama Rayi RAN!

4. Hindari nervous
Beberapa peserta awalnya pede banget, tapi begitu ketemu juri langsung buyar semua.. Lupa lirik, fals, ekspresi kaku, itu yang bisa terjadi kalau kamu gugup.
Jalan keluarnya, jangan kamu anggap juri sebagai sosok yang “siap menerkam”. Bayangkan seakan-akan kamu tampil di depan panggung. Dengan begitu, ekspresi kamu lebih “lepas”. Pandangan lurus ke depan dan jangan menunduk.

5. Tidak sekedar menyanyi
Salah besar kalau kamu beranggapan suara bagus pasti lolos. Selain suara, gaya dan penampilan kamu juga masuk penilaian. Jadi, persiapkan performa terbaikmu. Jangan takut untuk berekspresi, gokil dikit nggak masalah asal jangan over acting. Untuk pakaian, pilih aja yang rapi, sopan dan nyaman dipakai.

6. Ramah
Juri nggak bakal tertarik kalau kamu pasang muka masam kayak pepaya. Saat masuk ke bilik audisi, perkenalkan dirimu dengan sopan dan tersenyum, sampai juri mempersilahkan kamu bernyanyi. Sesudah selesai, ucapkanlah terima kasih. Pokoknya buatlah juri merasa dihargai.

7. Jadi diri sendiri
Kamu lihat orang lain suaranya keren, lalu nyalimu ciut? Don’t worry! Ini adalah sebuah kompetisi. Setiap orang berhak mengeksplor kelebihan masing-masing tapi keputusan di tangan juri. So, tetaplah pada pendirian dan karakter kamu. Kamu pasti punya kelebihan yang belum tentu dimiliki orang lain.
Dalam membawakan lagu, kamu bisa keluar dari karakter penyanyi aslinya. Contohnya, untuk lagu berirama slow rock bisa dibikin lebih semangat. Tapi sesuaikan juga dengan not dan tema lagunya.

8. Enjoy
Nikmati aja setiap proses yang ada, nggak perlu terlalu berambisi. Kalau pikiranmu cuma fokus pada lolos dan tidak lolos, kamu bakal merasa terbebani dan ujung-ujungnya mengacaukan penampilanmu. Ubahlah stigma "aku pasti lolos" menjadi "aku mungkin lolos", karena seperti aku bilang di awal, persaingan di sini ketat banget, suara bagus pun nggak menjamin kamu lolos.

9. Akrab dengan peserta lain
Di sekitarmu banyak orang kan? Nah, cobalah berkenalan dan mengobrol dengan mereka. Kalian bisa saling sharing pengalaman sampai vokal. Apalagi kalau orang yang kamu temui sudah sering ikut audisi seperti ini, kamu kan bisa tanya banyak hal. Tapi hat-hati juga, jangan langsung percaya dengan info yang belum tentu benar.
Terlepas kamu lolos audisi atau nggak, kamu bisa dapat teman baru di sini. Siapa sangka, salah satu dari kalian akhirnya jadi juara di ajang ini. Bangga kan, punya kenalan artis? Atau syukur-syukur malah ketemu jodoh di sini? Hehehe... ya itulah, persahabatan adalah hadiah terindah dari ajang ini!

10. Berdoa
Yang nggak kalah penting, berdoalah sebelum berjuang. Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.


Itulah beberapa tips yang aku dapat dari serangkaian pengalamanku. Bukan bermaksud menggurui, tapi mau berbagi.
Nah, sekarang, aku lagi nunggu pengumuman buat ke tahap selanjutnya. Lolos atau nggak, aku pasrah aja, yang penting pengalaman ini begitu berharga. TETAP SEMANGAT! YESSSSS! 

UPDATE
Aku lolos sampai tahap Room Audition di depan juri artis. Biarpun aku harus terhenti di situ, pengalaman itu sungguh tak terlupakan seumur hidup. Salah satunya, aku sempat satu grup dengan Ghea Indrawari yang nantinya jadi peserta Indonesian Idol!  


Sabtu, 03 September 2016

Penyanyi Masa Lalu (8) : Elvis Presley

It's now or never, come hold me tight
Kiss me my darling, be mine tonight
Tomorrow will be too late,
it's now or never
My love won't wait.

When I first saw you
with your smile so tender
My heart was captured,
my soul surrendered
I'd spend a lifetime
waiting for the right time
Now that your near
the time is here at last.

It's now or never, come hold me tight
Kiss me my darling, be mine tonight
Tomorrow will be too late,
it's now or never
My love won't wait.

Just like a willow,
we would cry an ocean
If we lost true love
and sweet devotion
Your lips excite me,
let your arms invite me
For who knows when
we'll meet again this way

It's now or never, come hold me tight
Kiss me my darling, be mine tonight
Tomorrow will be too late,
it's now or never
My love won't wait.



Suatu hari, di tahun 1953, seorang pemuda datang ke Memphis Recording Service, Amerika Serikat, untuk merekam suaranya. Hanya satu keinginannya, membuat sebuah rekaman lagu sebagai hadiah untuk ibunya, meski sebenarnya ia sendiri memang punya bakat terpendam dalam hal musik. Tak disangka, suara pemuda tersebut, yang melantunkan lagu “My Happiness”, menarik perhatian seorang karyawati di studio tersebut. Kebetulan, ia punya relasi dengan Sun Records (perusahaan rekaman lokal di AS). Serta merta, ia menawarkan pada si pemuda untuk membuat rekaman lagi untuk ditunjukkan ke pihak Sun Records. Hasilnya, Sun Records “meminang” si pemuda untuk bergabung dengan perusahaan rekamannya. Dan siapa sangka, kelak pemuda ini akan menjadi penyanyi ternama dengan gelar “King of Rock”.
Siapakah pemuda tersebut? Pasti semua sudah mengenalnya. Elvis Presley. Terlahir di East Tupelo, Mississippi pada tanggal 8 Januari 1935. Masa kecil Elvis jauh dari menyenangkan. Selain keluarganya miskin, ayahnya pun pernah masuk penjara akibat penggelapan cek. Namun, terlepas dari semua itu, Elvis tertarik pada dunia musik. Lagu gospel yang sering dinyanyikan di gereja maupun lagu country yang kerap dibawakan anak muda di masa itu menjadi inspirasi baginya. Ketika keluarganya pindah ke Memphis, Elvis mengikuti ajang pencarian bakat tingkat lokal dan berhasil menjadi juara. Namun, ia tidak segera menjadi penyanyi. Setelah menyelesaikan sekolah pun, ia menekuni berbagai pekerjaan seperti karyawan toko dan supir truk. Barulah, ketika ia mencoba rekaman, ia mulai memupuk kesuksesan.
Tak sia-sia pula Elvis bergabung dengan Sun Records. Sam Philipps, pimpinan Sun Records, jeli melihat talenta pemuda yang baru berusia 18 tahun ini. Sam jugalah yang menganjurkan Elvis mempelajari alat musik gitar dan bass. Pada tahun 1954, Elvis meluncurkan single perdana “That’s All Right”.  Hal ini membawanya melakukan roadshow di berbagai daerah.
Album pertamanya “Heartbreak Hotel” cepat mendapat tempat di hati penggemar.  Disusul “Hound Dog”, yang terjual hingga 5 juta copy. Radio, televisi, hingga live concert mulai banyak menampilkan Elvis. Sejak itulah, gelar “King of Rock” disandangnya biarpun Elvis juga bisa membawakan lagu pop, country dan gospel.

Elvis Presley, King of Rock

Sukses di dunia musik, Elvis mulai mendapat tawaran sebagai pemain film. Film pertamanya adalah “Love Me Tender” (1956), di mana ia juga mengisi soundtracknya.
Atas kesuksesannya, di usia muda, Elvis mampu membeli sebuah kawasan mewah di Memphis. Lokasi yang dinamakan Graceland tersebut menjadi kediamannya.
Selama beberapa tahun, Elvis bergabung dengan militer AS dan ditugaskan di Jerman. Namun, hal ini tidak menyurutkan karir musiknya. Malahan, ia semakin populer sebagai artis papan atas AS. Tahun 1960, sekembalinya dari Jerman, ia meluncurkan album “Are You Lonesome Tonight” dan “It’s Now or Never”, hingga album lagu rohani berjudul “How Great Thou Art”. Ia juga tetap eksis sebagai aktor, salah satunya dalam film Viva Las Vegas (1964). Berbagai penghargaan emas dan platinum pun diterimanya.


Elvis bersama Ann Margret dalam "Viva Las Vegas"

Ada hal yang lucu dari penampilan Elvis, ia pandai bergoyang pinggul saat membawakan lagu rock. Justru gayanya yang tidak biasa ini menjadi “faktor X”. Cara berpakaian dan gaya Elvis banyak menginspirasi budaya Amerika. Bahkan John Lennon pun mengaku bahwa “soul” The Beatles juga terinspirasi dari Elvis. Sampai saat ini, penampilan Elvis yang mengenakan jumpsuit atau jas tanpa dikancingkan sambil memainkan gitar banyak ditiru. Padahal, siapa sangka, Elvis nyaris tidak pernah tampil di luar Amerika Serikat!


Cover album Elvis

Tak selalu yang baik berakhir baik. Begitupun dengan Elvis. Pernikahannya dengan Priscilla Wagner harus berakhir dengan perceraian. Di samping itu, kesibukan membuatnya bergantung dengan obat-obatan seperti obat tidur, obat penenang dan penghilang rasa sakit. Kebiasaan ini semakin menjadi-jadi ketika ia memiliki masalah kegemukan, obat pelangsing pun dikonsumsinya. Sayang, dokter pribadinya, George Nichopoulos, justru dengan mudah memberikan resep seperti permintaan Elvis.
Kesehatan bermasalah, namun karir tetap jalan. Kepopuleran Elvis pun tetap terjaga dengan konser di berbagai daerah, membuat rekaman baru, hingga acara televisi yang disiarkan hingga 40 negara.
Sampai akhirnya, pada tanggal 16 Agustus 1977, “King of Rock” ini ditemukan meninggal di kediamannya. Penyebab kematiannya diduga akibat gagal jantung. Ada juga yang menyebutkan karena overdosis obat. Namun, apa pun itu, kematian Elvis mengejutkan banyak orang. Mereka tidak menyangka, sang  “King of Rock” harus tiada di usia muda, 42 tahun.
Berbagai cara dilakukan fans sebagai penghormatan kepada almarhum. Danny Mirror, seorang musisi Belanda, merilis lagu “I Remember Elvis Presley”. Patung lilin Elvis terpampang di Madame Tussauds Museum. Namanya pun diabadikan dalam Rock and Roll Hall of Fame.
Kediaman Elvis, yakni Graceland, kini dikelola oleh putrinya, Lisa Marie Presley. Tempat ini dibuka untuk umum. Setiap tahun, para fans berkunjung ke sini untuk mengadakan acara “tribute”. 

Priscilla Presley (kiri) bersama Lisa Marie Presley

Graceland, kediaman Elvis Presley
Link video:


Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...