Selasa, 06 Februari 2018

My First Backpacker (Part 3) : Legenda Rokok Bentoel dalam Museum

Aku kembali memesan GoJek menuju tujuanku yang lain. : Museum Bentoel. Aku sengaja memilih tempat ini karena dekat dengan tempatku menginap nanti. Beruntung abang GoJek nya udah hafal dengan lokasi museum ini jadi aku bisa sampai dengan tepat. Terima kasih mas!
Lokasi tepatnya di Jalan Wiromargo, kawasan Pecinan Malang. Ya, di antara keramaian pertokoan dan pasar, terselip sebuah museum.
Kalau kita ingat dengan brand rokok Bentoel, pabriknya ada di Malang ini. Perusahaan besar itu berawal dari usaha sederhana oleh seorang bernama Ong Hok Liong. Nah, tempat ini dulunya adalah rumah tempat pengusaha tersebut mengawali usahanya. Tempat ini kini difungsikan sebagai museum memorial perjalanan pabrik Bentoel, juga memberi inspirasi dan pengetahuan bagi masyarakat.


Museum Bentoel

Begitu masuk ke halaman, aku disambut ramah oleh 2 orang petugas keamanan, satu cowok dan satu cewek. Di sini tidak ada tarif masuk, aku cukup mengisi buku tamu. Sesudah itu, petugas yang cewek mempersilahkanku masuk. 

Memasuki ruang depan, aku ditunjukkan patung Ong Hok Liong,sang pendiri perusahaan. Dengan fasih, mbak petugas menjelaskan tentang sejarah perusahaan Bentoel. Diawali dari sebuah usaha tembakau kering pada tahun 1910, kemudian mengembangkannya menjadi rokok lewat perusahaan manufaktur yang berdiri tahun 1930. Merek Bentoel baru dicetuskan pada tahun 1935. Dari tahun ke tahun perusahaan semakin berkembang hingga merambah ke seluruh Indonesia, serta mendapat pengakuan dari dunia internasional. Pada 2010 perusahaan ini bergabung dengan PT BAT Indonesia Tbk. menjadi Bentoel Group. Bahkan kini Bentoel Group telah menjadi bagian dari British American Tobacco.

Patung Ong Hok Liong, sang pendiri perusahaan

Museum ini ditata dengan rapi, seakan berkunjung ke rumah seseorang, Kita bisa melihat foto kenangan Ong Hok Liong serta beberapa perabot ruangan peninggalan beliau. Ada juga foto-foto para petinggi dari perusahaan Bentoel  saat ini. Ong Hok Liong sendiri sudah lama meninggal pada tahun 1967 di usianya yang ke 74 tahun. Bangunan museum ini adalah representasi dari rumah tinggal Ong Hok Liong di masa lalu. 

Lukisan Ong Hok Liong


Foto direksi Bentoel Group saat ini

Aku diajak masuk ke ruangan lain. Di sini dijelaskan tentang proses dari tembakau menjadi rokok, termasuk cara melinting rokok. Bukan hanya gambar, tapi juga sample beberapa jenis tembakau dan cengkeh. Tak ketinggalan, mesin penggiling tembakau dan mesin linting rokok.

Sample aneka macam tembakau

Mesin giling  tembakau
Mesin linting rokok
Gambaran cara melinting rokok

Ruangan selanjutnya menunjukkan foto-foto aktivitas serta pengembangan dan peraturan perusahaan. Pokoknya lengkap deh informasinya! Bahkan ada sebuah ruang yang unik, ibarat galeri kita bisa lihat desain merek atau kemasan rokok produksi Bentoel dari zaman dulu sampai sekarang. Merek yang diproduksi perusahaan ini ternyata banyak. Selain Bentoel, ada juga Lucky Strike, Sejati, Dunhill, dan sebagainya.

Aktivitas perusahaan tertuang dalam foto

Beraneka merek rokok produksi Bentoel



Sebelum keluar dari museum, mataku tertarik pada sebuah sepeda di tengah ruangan. Kata mbak petugas, sepeda itu dulu digunakan oleh Ong Hok Liong untuk beraktivitas menjalankan usahanya. Wow, hebat sekali, berangkat dari usaha sederhana dan sebuah sepeda menjadi perusahaan bertaraf internasional. Kubayangkan kalau sang pendiri itu masih hidup, dia pasti sudah naik BMW, malah mungkin punya pesawat pribadi.  Semua berkat perjuangan yang tak kenal kata menyerah. 

Sepeda tua, bukti perjuangan Ong Hok Liong



Selasa, 30 Januari 2018

My First Bacpacker (Part 2) : Indahnya "Kota Seribu Taman", Serunya Museum Brawijaya

Setelah keluar dari stasiun, aku sedikit bingung mau ngapain. Kalau dipikir-pikir, aku salah strategi. Masalahnya aku baru bisa check in hotel pukul 13.00, sedangkan waktu itu baru pukul 08.00. Itu artinya selama 5 jam ke depan aku harus luntang-lantung keliling kota! Padahal aku menggendong tas ransel yang lumayan berat. Huh…. Inilah  tandanya backpacker amatiran.

Nggak ada cara lain selain jalan-jalan dulu. Aku melangkah ke Taman Trunojoyo di seberang stasiun. Sebuah taman kecil dengan mainan anak sederhana, yang mengingatkanku pada Taman Badakan di Magelang.  Pagi itu, taman sedang ramai oleh anak-anak TK yang sedang bermain sambil belajar. Sedangkan di depannya ada beberapa penjual makanan seperti bubur ayam, bakso, dan soto.

Karena belum sarapan, aku pun beli Soto Madura. Begitu semangkuk soto sampai di tanganku, weladalah, porsinya gede banget. Sayangnya lagi, isi dagingnya adalah jeroan yang sama sekali nggak kusukai. Berhubung lapar, tetap kumakan sampai habis, cuma jeroannya terpaksa kusisihkan.

Dengan sedikit tertatih karena tas yang kubawa berat, aku menuju ke arah barat. Seketika aku dibuat terpesona dengan taman di tengah jalan. Aneka bunga dan tanaman hias lainnya jadi saksi bisu kendaraan yang lalu lalang. Ya, di Malang ini cukup banyak taman kota. Bahkan di pinggir Jalan Kertanegara yang kulewati disediakan bangku agar pengguna jalan bisa beristirahat sambil menikmati keindahan taman.

Ternyata di ujung taman adalah Alun Alun Tugu, letaknya tepat di depan Balai Kota Malang. Dinamakan Alun Alun Tugu karena di tengahnya terdapat sebuah tugu besar. Alun-alun ini ditata dengan sangat luar biasa. Di tengahnya terdapat air mancur, dikelilingi aneka bunga. Suasana terasa sejuk dan damai biarpun jalan cukup ramai. Aku jadi teringat slogan kotaku , Magelang Kota Sejuta Bunga. Tapi faktanya Malang punya lebih dari itu! By the way, Malang punya 2 alun-alun, yakni Alun-alun Tugu ini dan Alun-alun Merdeka.

Alun-alun Tugu


Nah, sekarang mau ke mana lagi? Pilihanku jatuh ke Museum Brawijaya. Letaknya 2 km dari Alun Alun Tugu. Sebenarnya aku sudah print daftar rute angkot di Malang, cuma berhubung malas buka tas, aku putuskan pesan GoJek.

Singkat cerita, aku diantar ke Museum Brawijaya, sebuah museum perjuangan yang dikelola oleh TNI AD setempat. Tapi sebelum ke museum,aku lebih dulu tertarik dengan pemandangan di seberangnya :  Ijen Boulevard.

Bayangkan, di tengah-tengah jalan 2 arah terbentang sebuah jalur hijau. Puluhan pohon palem menghiasi sepanjang tepi jalan. Sedangkan untuk pengunjung disediakan bangku taman dan beberapa gazebo beratap dedaunan. Benar-benar mirip jalur hijau di Eropa. Lebih-lebih semua bisa dinikmati secara gratis.  Dijamin betah deh berlama-lama di sini.

Ijen Boulevard yang bikin betah

Seperti biasa selfie dulu

Aku lebih dulu merebahkan diri di bangku taman. Menikmati semua keindahan yang ada sambil beristirahat. Bahuku mulai pegal gara-gara menggendong tas ransel. Siang itu Ijen Boulevard cukup sepi. Cuma ada dua muda mudi yang sedang jalan-jalan, serta beberapa petugas yang sedang memperbaiki jaringan listrik.

20 menit berlalu dengan cepat. Biarpun nyaman banget duduk di sini, aku tetap harus lanjut perjalanan. Langsung saja aku menyeberang ke Museum Brawijaya.

Masuk ke halaman, tiba-tiba tentara yang bertugas jaga di depan menegurku :

Tentara : Mas, dari mana?
Aku : Dari Magelang pak
Tentara : Itu tasnya isinya apa?
Aku : Baju
Tentara : Mau berkunjung?
Aku : Iya pak
Tentara : Ya, silahkan

Duh, gregetan rasanya. Bukan berarti pak tentara itu nggak welcome sama wisatawan lho. Mungkin penampilanku agak “mencurigakan”. Maklum deh, datang sendiri, bawa tas gede banget.


Museum Brawijaya, dengan patung Jendral Sudirman di depannya
 Biarpun sedikit sungkan, aku tetap menaiki tangga, masuk ke museum. Untungnya, seorang tentara dan seorang KOWAD yang bertindak sebagai “resepsionis”, menyambut dengan lebih ramah. Museum ini memang dikelola oleh KODAM V Brawijaya, jadi tak heran kalau nuansa militernya cukup kental.
Setelah mengisi buku tamu dan membayar Rp. 3000, aku langsung masuk ke ruangan di samping kanan. Saat itu pengunjung museum cuma aku sendiri serta sepasang orang tua dengan anaknya.
Di ruangan yang cukup besar itu banyak benda-benda peninggalan zaman kemerdekaan, khususnya yang berasal dari Jawa Timur. Begitu masuk, terlihat beberapa meriam kecil. Lantas sebuah mobil kuno bernama De Soto yang dulu pernah digunakan oleh Kolonel Sungkono, mantan Panglima Divisi Brawijaya tahun 1948-1950

Senjata hasil rampasan

Mobil De Soto

Semakin ke dalam, terpajang papan seperti majalah dinding berisi kliping berita perjuangan di Jawa Timur. Salah satunya peristiwa PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar, awal tahun 1945. PETA sebenarnya adalah organisasi pemuda bentukan Jepang yang tujuannya militerisasi pemuda Indonesia demi kekuatan melawan Sekutu. Namun, muncul kesadaran dari para pemuda tersebut untuk melawan penjajah Jepang hingga terjadilah pemberontakan besar
Ada juga peninggalan dari pertempuran melawan Belanda di Mojokerto tahun 1946. Di antaranya alat-alat kedokteran milik Mayor dr.Hadiyono, dokter KODAM yang ikut gugur dalam peristiwa itu. Ada jarum suntik, gunting, pinset, tempat obat, dan beberapa lagi.

Kliping berita perjuangan dari media zaman dulu

Alat kedokteran Mayor dr Hadiyono
 Seperangkat meja dan kursi pun terletak di tengah ruangan. Sejumlah perabot ini konon pernah digunakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta saat berunding dengan Brigjen Mallaby terkait gencatan senjata antara tentara Sekutu dengan arek Surabaya. Beberapa hari kemudian, tepatnya 10 November 1945, terjadilah Pertempuran Surabaya yang menewaskan Mallaby. Peristiwa terbunuhnya Mallaby beserta peristiwa 10 November itu terpampang dalam sebuah lukisan.


Meja kursi ini pernah dipakai Proklamator kita lho!

Lukisan terbunuhnya Mallaby dalam Pertempuran 10 November

Di museum ini kita juga bisa temukan koleksi uang kuno dari zaman perjuangan. Ada juga pesawat radio peninggalan Denhub Brawijaya yang masih menggunakan baterai aki, hingga panji-panji milik Kodam VII/Brawijaya.  Tak ketinggalan beberapa senjata api hasil rampasan dari tangan  penjajah.

Uang kuno dari zaman kemerdekaan
Radio dengan baterai aki

Panji-panj KODAM Brawijaya dari masa ke masa


Peta gerilya (taktik perang secara sembunyi-sembunyi dan berpindah-pindah) menjadi bukti betapa hebatnya pejuang di masa lalu. Jendral Sudirman misalnya, biarpun dalam keadaan sakit, beliau tetap memimpin pasukan gerilya dari Yogyakarta hingga Kediri tahun 1948-1949.
Masih banyak lagi koleksi museum ini, di antaranya gerbong tua . Sayangnya karena tubuh sudah lelah, aku nggak bisa berlama-lama di sini. Dalam hati aku menyindir diriku sendiri, aku baru begini saja udah capek, gimana dengan pahlawan zaman dulu yang berjuang tanpa kenal lelah? Berarti aku nggak pantas jadi pahlawan? Itu sih no comment, capek ya capek aja… hehehe.
Koleksi museum ini ternyata tidak hanya di dalam ruangan saja. Di depan gedung, kita juga bisa lihat beberapa senjata ukuran besar, yaitu tank yang digunakan dalam Pertempuran 10 November, tank amfibi dari pertempuran pasukan TRIP melawan Belanda, alat penangkis serangan udara, serta meriam besar yang disebut Si Buang. Yang menarik, taman di sekitarnya ditata dengan rapi sehingga tidak terasa membosankan.
Tank amfibi, saksi bisu pertempuran TRIP melawan Sekutu

Meriam Si Buang, hasil rampasan darI Belanda
Belakangan, aku baru tahu, ternyata yang kumasuki tadi baru sebagian dari ruangan museum. Masih ada satu ruangan lain yang belum kumasuki. Ya, mau gimana lagi, udah terlanjur. Lain kali aku akan datang lagi ke sini.

Museum Brawijaya menunjukkan padaku betapa hebatnya perjuangan para pendahulu kita. Semua tertulis menjadi sejarah yang semestinya dikenang. Sayang, tak banyak masyarakat yang berminat mempelajarinya. 

Jumat, 12 Januari 2018

My First Backpacker (Part 1) : "Melangkah" Sendirian ke Malang

“Kaki yang melangkah lebih jauh dari biasanya”. Itulah salah satu kata bijak di film 5 cm. Tak salah kalau kata itu disematkan ke perjalananku kali ini.
Baru kali ini aku merasakan travelling ala backpacker. Sebelumnya, aku memang sudah beberapa kali solo travelling, tapi itu paling-paling mengunjungi satu dua tempat, waktunya juga nggak sampai sehari. Nah, karena di liburan tahun baru ini keuanganku cukup, apa salahnya aku coba melangkah lebih jauh. Mumpung masih muda dan jomblo (tapi nggak ngenes).
Aku sengaja memilih Jawa Timur sebagai tujuan backpacking pertamaku. Yup, seumur-umur aku belum pernah mengunjungi Jatim secara langsung. Cuma pernah numpang lewat waktu wisata ke Bali saat SMA dulu.
Nah, untuk tujuan pastinya, awalnya aku agak bingung. Berdasarkan berbagai blog dan artikel yang pernah kubaca, lima kandidat kota tujuan ada di benakku : Surabaya, Malang, Kediri, Jember, dan Banyuwangi. Setelah cap cip cup kembang kuncup, googling sana sini, ditambah mempertimbangkan berbagai aspek, akhirnya terpilihlah kota Malang.
Maka, segeralah aku pesan tiket kereta dan hotel di Traveloka. By the way, ini juga pertama kalinya aku menggunakan jasa Traveloka lho! Benar-benar, tahun baru pengalaman baru!
Dengan budget pas-pasan, tentu saja aku memilih hotel dan kereta api yang murah. Eh, tapi yang murah kan biasanya cepat habis? Apalagi musim liburan begini. Solusinya, aku harus pesan dari jauh-jauh hari. Buat travelling tanggal 2-5 Januari 2018, aku pesan sejak tanggal 13 Desember 2017.
Oleh Traveloka, kita cuma dikasih waktu sekitar 1 jam untuk melunasi pembayaran. Dengan segera, aku menuju ke ATM, untung masih sempat. Oke,deal.
Tanggal 2 Januari 2018 sore, berangkatlah aku menuju Semarang, karena dari sana aku mau naik kereta ke Malang. Kereta api Matarmaja akan berangkat pukul 22.07, tapi daripada ketinggalan kereta, aku sudah di Stasiun Tawang pukul 19.30.

 

Malam itu, suasana Stasiun Tawang Semarang cukup ramai. Banyak calon penumpang yang lalu lalang. Beberapa diantar teman atau kerabatnya. Mungkin mereka baru aja menghabiskan liburan di Semarang. Sesekali pengeras suara mengumumkan kedatangan atau keberangkatan kereta diiringi musik lagu Gambang Semarang. Kalau sudah gitu, pasti langsung ada adegan cipika cipiki atau berpelukaaaan.  Satu persatu orang-orang itu berangkat, membuat stasiun berangsur-angsur sepi.
Aku sendiri? Nggak ada yang kukenal di sini. Maka, setelah cetak tiket dan mampir ke Indomaret sebentar, aku langsung duduk di ruang tunggu. Sesekali kupandangi bangunan stasiun yang berarsitektur kolonial ini. Mirip ruangan pesta dansa zaman dulu. Ada pilar-pilar dengan lampu gantung di tengahnya. 



Sekian lama menunggu, akhirnya tepat pukul 21.30 aku memutuskan boarding. Tapi kereta masih belum datang, jadi aku harus tunggu lagi di peron.
Ini bukan pertama kalinya aku masuk ke stasiun malam-malam, sebelumnya aku pernah mengalami waktu pulang dari Bandung. Tapi perasaan kali ini betul-betul luar biasa. Suasana peron yang sudah agak sepi dan sedikit gelap bikin aku serasa masuk ke garasi kereta api.





Kereta pun datang. Dan… seperti yang dibayangkan, kereta penuh, tidak ada lagi tempat duduk tersisa. Eits, bukan berarti aku nggak dapat tempat duduk lho. Aku kan sudah pesan. Malahan dekat jendela. Tapi ya… harap maklum, kereta kelas ekonomi. Di sekitarku ada beberapa ibu-ibu, ada yang bawa anak juga, dan barang bawaan mereka… ampun deh, karena nggak cukup ditaruh di rak atas terpaksa berjubel di sekitar tempat duduk.
Setelah kereta berangkat, aku mencoba tidur. Susah juga. Paling-paling tidur setengah jam, bangun lagi setengah jam. Habisnya tempat dudukku terasa sempit, bukan reclining seat yang bisa disandarkan. Belum lagi kaki nggak bisa selonjor, terhimpit tas penumpang lain.
Tiba-tiba, kereta berhenti di Stasiun Kalioso, dekat Solo. Aku sempat heran, kenapa berhenti di stasiun kecil malam-malam begini. Tak lama, dari jendela terlihat kereta api lain melintas. Baru tahulah aku, ini yang disebut persilangan. Saat kereta lain melintas, maka kereta dari arah sebaliknya harus mengalah dulu.
Lanjut perjalanan, aku tetap susah tidur, yang ada leherku mulai sakit karena posisi kepala harus menunduk atau miring. Sampai-sampai aku heran, kok ibu-ibu di sekitarku bisa tidur enak banget ya. 
Melewati Madiun, aku nggak bisa tidur lagi. Terpaksa aku main HP sambil makan camilan yang kubawa. Untungnya, sampai di Kediri, penumpang di sekitarku mulai turun. Sekarang aku bisa membaringkan diri, ya biarpun nggak bisa pulas. Memasuki Blitar, barulah aku betul-betul bangun. Tak disangka, di tempat duduk yang saling berhadapan ini cuma tersisa aku seorang! Wah, ini dia, akhirnya aku bisa menikmati pemandangan di luar sambil selonjoran. 
Matahari mulai terbit. Dari jendela, aku lihat warga pedesaan yang mulai beraktivitas. Sawah dan ladang indah terbentang…. Sungguh indah dan damai suasananya.

Morning has broken, like the first morning
Black bird has spoken, like the first bird
Praise for the singing, praise for the morning
Praise for the springing, fresh from the world


Kereta sempat juga melewati Bendungan Sutami, yang disebut juga Bendungan Karangkates. Ada juga dua terowongan : Eka Bakti Karya dan Dwi Bakti Karya, yang letaknya saling berdekatan. Sementara itu di sebelah timur, gunung tertinggi di Jawa,  Mahameru, terlihat samar-samar.
Hingga akhirnya, kereta api memasuki kota Malang, tepatnya Stasiun Malang Kota Lama. Suasana perkotaan mulai terasa. Aku sempat takjub dengan rumah-rumah warga yang letaknya sangat dekat dengan rel kereta api. Malah ada yang menjemur pakaian di pinggir rel kereta. Apa nggak takut ya? Tapi yang jelas, di daerah seperti ini, kereta api harus memperlambat jalannya.
Di Malang memang ada 2 stasiun : Kota Lama dan Kota Baru, dua-duanya masih aktif, yang membedakan adalah waktu berdirinya. Stasiun Kota Lama berdiri tahun 1879, sedangkan Stasiun Kota Baru dibangun tahun 1941. Di Stasiun Kota Baru lah aku akan turun nanti.
Lagi-lagi, pemandangan luar biasa seakan menyambut kedatanganku. Apa lagi kalau bukan Kampung Warna Warni Jodipan! Yup, pemukiman di tepi Sungai Brantas  yang dicat warna warni itu kini menjadi salah satu daya tarik wisata di kota Malang.




The last! Stasiun Malang Kota Baru. Waktu tepat pukul 08.00 pagi, Aku pun melangkah keluar dari kereta dengan gembira. Selamat pagi kota Malang! 

Bersambung ke Part 2


Selasa, 26 Desember 2017

Lagu Masa Lalu (20) : First Of May




When I was small, and christmas trees were tall
We used to love while others used to play.
Don't ask me why, but time has passed us by,
Some one else moved in from far away.

Now we are tall, and christmas trees are small,
And you don't ask the time of day.
But you and I, our love will never die,
But guess well cry come first of may.

The apple tree that grew for you and me,
I watched the apples falling one by one.
And I recall the moment of them all,
The day I kissed your cheek and you were mine.

When I was small, and christmas trees were tall,
Do do do do do do do do do...
Don't ask me why, but time has passed us by,
Some one else moved in from far away.


Lagu di atas adalah milik The Bee Gees yang populer sekitar tahun 1969. Lembut dan syahdu dengan iringan piano.  Ketika lagu ini tercipta, personel The Bee Gees masih berjumlah 4 orang, yakni Barry Gibb, Robin Gibb, Maurice Gibb, dan Colin Petersen. 




Secara jujur, Barry Gibb, penciptanya, mengisahkan tentang cinta yang berlangsung sejak kecil hingga dewasa, tetap setia walau terpisah jarak dan waktu. Meski menggunakan kata “Christmas tree”, lagu ini tidak ada kaitan dengan hari Natal.  Pohon Natal di sini hanya sebagai pembanding ukuran tubuh, dimana saat tokohnya masih kecil pohon itu terlihat tinggi.
Tapi tahukah kalian, bahwa sebenarnya lagu ini terinspirasi dari seekor anjing?
Ketika itu, Barry Gibb beserta istrinya, Linda, pindah ke apartemen baru mereka. Di sana mereka memelihara anjing bernama Barnaby, yang berulang tahun pada tanggal 1 Mei. Namun, Barnaby mati karena suatu hal. Sedih karena kehilangan anjing kesayangannya, Barry mencurahkannya dalam lirik lagu.
Namun, Barry tak mau terang-terangan menceritakan tentang anjingnya. Ia mengolah lirik lagu menjadi seakan-akan bercerita tentang kenangan cinta di masa kecil.  Bagaimana saat sang kekasih tiba, menjalin kasih hingga merayakan Natal bersama. Termasuk pohon apel yang menjadi kesukaan mereka. Waktu terus berlalu, hingga suatu hari mereka harus berpisah. Namun, cinta mereka takkan pernah mati. Tanggal 1 Mei atau First of May, adalah tanggal istimewa mereka (mungkin tanggal jadian), yang meninggalkan duka bila dikenang. 
Ketika seorang musisi menggunakan insting seni yang dimilikinya, cerita sedih pun dapat diubah menjadi simfoni yang indah. 


Link video:

Rabu, 29 November 2017

Lagu Masa Lalu (19) : Bright Eyes


Is it a kind of a dream 
Flloating out on the tide 
Following the river of death downstream  
Oh, is it a dream? 
There's a fog along the horizon 
A strange glow in the sky 
And nobody seems to know where it goes 
And what does it mean? 
Oh, is it a dream?

Bright eyes, burning like fire 
Bright eyes, how can you close and fail? 
How can the light that burned so brightly
Suddenly burn so pale? 
Bright eyes

Is it a kind of a shadow 
Reaching into the night 
Wandering over the hills unseen 
Or is it a dream? 
There's a high wind in the trees 
A cold sound in the air 
And nobody ever knows when you go 
And where do you start? 
Oh, into the dark

Bright eyes, burning like fire 
Bright eyes, how can you close and fail? 
How can the light that burned so brightly
Suddenly burn so pale? 
Bright eyes


Saat mendengarkan lagu ini, pikiranku seakan melayang ke “paradise world” alias negeri dongeng. Apalagi kalau didengarkan malam menjelang tidur, rasanya jadi pengantar tidur yang pas.
Jika diterjemahkan secara bebas, agak membingungkan. Memang, tema lagu ini cukup abstrak, menggambarkan keadaan yang misterius, seperti sungai yang berakhir di hilir, kabut di cakrawala, cahaya aneh di langit, suara kedinginan di udara, sampai mata yang cerah kemudian meredup. Si penulis bertanya-tanya, apakah ia sedang bermimpi saat melihat semua itu.
Lantas, tentang apakah lagu ini sebenarnya? Gambaran spiritual tentang kematian! Bagi yang menyukai filsafat, pasti bisa mendalami makna lagu ini. Waktu terus berjalan, hidup terus berputar, hingga suatu saat kita akan meninggalkan atau ditinggalkan orang yang kita kasihi. Ibarat cahaya mata yang akhirnya meredup dan mati, begitu jugalah hidup manusia.
Lagu ini adalah soundtrack dari sebuah film Inggris dengan judul Watership Down. Meski film kartun, film ini mengandung unsur filsafat.

Salah satu adegan Watership Down (youtube.com)

Ceritanya tentang sepasang kelinci, kakak beradik bernama Fiver dan Hazel, yang mengembara setelah mereka mendapat wahyu dari dewa. Mereka mengalami serangkaian petualangan, di antaranya Hazel sempat tertembak senapan petani tapi dia tidak mati. Di adegan inilah lagu Bright Eyes dikumandangkan.
Pencipta lagu ini adalah Mike Ball , sedangkan penyanyinya adalah Art Garfunkel. Lagu ini amat populer di Eropa pada tahun 1979.
Itulah gambaran singkat tentang lagu ini. 

Art Garfunkel (bluefrog.showare.com) 

Link video:

Senin, 25 September 2017

Solo Travelling (11) : Kereta Api Membawaku Keliling Joglosemar


Dalam hati aku agak menyesalkan, kota tempat tinggalku, Magelang tidak ada kereta api. Mau naik kereta api harus ke Jogja atau Semarang dulu. Andai saja ada… waw… enak banget….Apalagi kereta api itu berangkatnya nggak selalu pagi, kadang malam juga ada. Jadi kalau malam-malam aku lagi bête atau bosan di rumah, langsung ngacir aja ke stasiun, beli tiket seharga berapa puluh ribu… dan jugijaggijug….kereta berangkat.. dan tahu-tahu sampailah aku ke Solo atau Surabaya.
Pemerintah kabarnya ingin menghidupkan lagi jalur kereta di Magelang.. tapi ya, masih sebatas janji. Mungkin bingung, mau ditaruh di mana jalur itu, soalnya jalur lama udah banyak yang alih fungsi jadi pemukiman. Bisa heboh kalau terjadi penggusuran besar-besaran.
Ah udahlah, yang jelas hari ini aku mau mengitari daerah lain dulu. Tepatnya jalur kereta api Semarang-Solo. Cuma ada satu kereta jurusan Solo dari Semarang, yaitu KA Kalijaga. Sebuah trayek kereta yang menggunakan nama salah satu dari Walisongo. Udah lama banget aku ingin naik, karena kereta ini lewat Kabupaten Grobogan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Lagipula, tarifnya murah banget, Rp. 10.000 per orang.
KA Kalijaga cuma beroperasi untuk rute Solo-Semarang dan Semarang-Solo masing-masing 1 kali dalam sehari. Untuk rute Solo-Semarang berangkat pukul 05.20. Jelas sama sekali nggak terjangkau kalau berangkat dari Magelang, kecuali menginap di Solo. Akhirnya aku pilih rute kedua, Semarang-Solo, yang berangkat jam 08.45. Itu artinya, berangkat dari Magelang harus pagi-pagi.
Setelah sport jantung karena masalah perjalanan : jalanan macet, bus Magelang-Semarang ngetem lama dan sulitnya mendapat bus Trans Semarang, akhirnya dengan diantar GoJek dari Sukun Banyumanik, aku sampai di Stasiun Poncol.  Nggak pakai lama, aku langsung berlari ke loket penjualan  tiket. Waktunya tinggal 20 menit lagi, jadi cepatlah!

Stasiun Semarang Poncol

Tempat penjualan tiket KA lokal terpisah dengan KA jarak jauh, jadi kita harus jeli dengan tulisan di loket. Loket KA lokal sendiri letaknya paling kiri. Begitu aku mendekat, mbak yang jaga langsung tahu “Kereta Kalijaga ya? Untuk berapa orang?” “Satu” jawabku. Aku langsung menyerahkan uang Rp. 10.000 dan kami masing-masing mengucapkan terima kasih.
Ngomong-ngomong, selain KA Kalijaga, loket ini juga menjual tiket KA Kedungsepur dengan rute Semarang-Ngrombo. Buat yang belum tahu, Ngrombo itu sebuah kecamatan di dekat Purwodadi. Aku pengin juga sih, naik KA itu. Harganya sama, Rp. 10.000 per orang. Sayang beribu sayang, jam keberangkatannya dari Semarang adalah jam 06.00 dan 15.45. So, kapan-kapan aja ya!
Segera aku check in, masuk ke stasiun. Ternyata KA yang ingin kunaiki sudah datang. Aku langsung bertanya lokasi gerbong ke petugas, dan naik.
Asyik, aku dapat tempat duduk dekat jendela! Jadi nanti, aku bisa lihat pemandangan dengan jelas. Ya, biarpun dudukku menghadap ke belakang, posisi yang nggak terlalu kusukai karena bikin pusing kalau kelamaan. Terdengar pengumuman dari speaker kereta berupa ucapan selamat datang dan daftar  stasiun yang akan disinggahi, yaitu Stasiun Semarang Tawang, Brumbung, Kedungjati, Telawa, Gundih, Salem, dan berakhir di Stasiun Solo Balapan.

Inilah kereta api Kalijaga



Bagian dalam KA Kalijaga

Saat kereta berangkat, gerbong yang kunaiki masih lengang, baru terisi beberapa orang. Begitu juga ketika berhenti di Stasiun Tawang, jumlah penumpang tidak sampai 50%. Mungkin karena bukan hari libur, mungkin juga karena sebagian orang lebih suka naik bus ke Solo.
Kereta mulai meninggalkan kota Semarang. Aku berusaha menikmati perjalanan dengan lihat pemandangan sambil sesekali jeprat jepret kamera HP. Penumpang di sekitarku sibuk dengan aktivitas masing-masing, sementara beberapa kru kereta menjajakan minuman dan snack. Hingga tanpa disadari, kereta sudah berhenti. Sebuah stasiun yang bentuknya seperti gudang penyimpanan dengan kereta barang di depannya. Stasiun Semarang Gudang? Ternyata bukan. Ini adalah Stasiun Brumbung, satu-satunya stasiun kereta yang masih aktif di Kabupaten Demak. Dan ternyata bangunan utama stasiun itu sendiri nampak di jendela seberangku (sebelah kanan), bangunan gudang itu adalah bagian belakangnya. Belakangan aku ketahui, gudang ini adalah milik perusahaan semen Holcim. Semen diangkut dengan kereta barang dari pabriknya di Cilacap, untuk selanjutnya didistribusikan ke Semarang dan sekitarnya. Ooooh...

Gudang semen Holcim dan kereta barang di Stasiun Brumbung

Berangkat lagi! Kali ini kereta menyusuri ruas jalur Semarang-Tanggungharjo. Ngomong-ngomong, jalur ini adalah jalur kereta tertua di Jawa yang dibangun pada tahun 1867.  Stasiun Tanggung sendiri sudah tidak lagi melayani penumpang, hanya untuk persilangan kereta api. Sayangnya, karena terlalu fokus dengan jendela di sampingku, aku tidak sempat melihat stasiun yang letaknya di sebelah kanan.
Memasuki Kabupaten Grobogan, suasana yang ada nyaris membuatku tak percaya bahwa ini di Jawa Tengah. Terbentang tanah kapur yang berbukit-bukit. Sebagian besar digunakan sebagai ladang tanaman  jagung, pisang, dan ketela. Tak ketinggalan juga hutan jati yang menambah semarak.

Tanaman pisang di tengah perbukitan

Ladang jagung
Kalau kereta semakin mendekati pemukiman warga, itu tandanya stasiun sudah dekat. Ya, stasiun berikutnya : Stasiun Kedungjati. Daerah ini dinamakan Kedungjati, karena lokasinya di tengah hutan jati.

Stasiun Kedungjati
Stasiun Kedungjati dibangun pada tahun 1873, sezaman dengan Stasiun Ambarawa. Tak heran kalau  bangunannya pun menggunakan arsitektur zaman kolonial, dengan jendela berukuran besar dan pilar-pilar bergaya puri. Dulu, stasiun ini adalah penghubung utama jalur Semarang-Solo. Namun sekarang tidak banyak kereta api yang lewat di sini. Semoga saja reaktivasi jalur kereta Ambarawa-Kedungjati segera diselesaikan, agar stasiun ini ramai lagi.
Lepas dari Kedungjati, hari semakin siang, untungnya kereta ini memiliki AC sehingga penumpang tidak kepanasan. Pandanganku masih tidak lepas dari pemandangan di luar, biarpun yang terlihat sama dengan tadi : hutan jati, ladang jagung dan kebun pisang, kadang diselingi dengan pemukiman penduduk. Sempat melewati Stasiun Padas, stasiun kecil yang hanya berfungsi sebagai lokasi persilangan kereta api.
Tak lama, kereta berhenti lagi di Stasiun Telawa, Kecamatan Juwangi. Uniknya, meski “terkurung” oleh Kabupaten Grobogan, Juwangi termasuk dalam Kabupaten Boyolali. Dan Telawa adalah satu-satunya stasiun aktif di kabupaten ini. Entah kenapa dinamakan Telawa, aku nggak tahu, mungkin nama desa di sini. Stasiun kecil ini sempat dinonaktifkan oleh PT KAI, tapi karena banyaknya permintaan dari masyarakat, akhirnya dibuka kembali pada tahun 2015. Kenyataannya hari ini, tak sedikit juga penumpang yang naik atau turun di sini.

Rel kereta di depan Stasiun Telawa

Hutan jati diterpa sinar matahari

Perjalanan selanjutnya, lagi-lagi pemandangan tanaman jagung, pohon jati, dan pohon pisang yang diterpa sinar matahari. Aku coba alihkan pandangan ke jendela seberang. Ternyata sedikit berbeda. Suasana pemukiman pedesaan lebih mendominasi. Yang menarik, sebagian rumah di sini menggunakan atap tradisional, yaitu joglo.

Pemandangan sebuah rumah di Geyer, Grobogan

Waktu terus berjalan seiring dengan kereta yang terus melaju. Stasiun Gundih adalah perhentian berikutnya. Nama kecamatan di sini sebenarnya adalah Geyer, tapi lebih dikenal dengan nama Gundih.
Stasiun Gundih juga merupakan stasiun tua, seperti halnya Stasiun Kedungjati. Sayangnya, aku nggak bisa melihat jelas bangunannya karena terletak di sebelah kanan. Aku cuma bisa menyaksikan beberapa gerbong kereta dan lokomotif yang sedang parkir. Tapi sekilas bisa terlihat bahwa bangunan stasiun ini juga bergaya kolonial yang masih asli. Di dekat stasiun juga masih berdiri bangunan tua, yang mungkin adalah rumah dinas kepala stasiun.

Lokomotif yang sedang parkir di Stasiun Gundih

Oh ya, di sebelah utara stasiun ini ada persimpangan jalur kereta menuju Gambringan, yang saat ini cuma digunakan sebagai jalur cadangan.  Ingin rasanya aku turun buat lihat-lihat daerah ini, syukur-syukur nemuin penjual pecel Gambringan. Eh, tapi gimana kalau ketinggalan kereta? Repot pulangnya
Perjalanan di Kabupaten Grobogan diakhiri dengan melewati Stasiun Goprak, stasiun yang hanya digunakan untuk persilangan. Nah, sekarang saatnya memasuki Kabupaten Sragen. Pemandangan ladang masih terlihat, tapi karena datarannya lebih tinggi, di sini dibangun terasering untuk mencegah longsor.

Terasering untuk mencegah longsor

Jalan raya di Sumberlawang, Kabupaten Sragen

Sampai di Sumberlawang, suasana perkotaan mulai terasa, karena rel kereta berada tak jauh dari jalan raya. Begitu juga ketika mendekati Stasiun Salem, Gemolong, mulai terdapat beberapa perlintasan karena lokasi rel dekat dengan pemukiman warga. Stasiun Salem adalah stasiun terakhir bagi KA Kalijaga untuk menaikturunkan penumpang sebelum menuju perhentian terakhir di Stasiun Solo Balapan.

Sebuah rumah dekat Stasiiun Salem

Semakin mendekat ke perhentian terakhir, mulai terdengar alunan lagu. Tadinya aku pikir, awak kereta bakal memutar lagunya Didi Kempot. Eh, tak kusangka, yang diputar adalah lagu religi dari Gigi. Hmmm… mungkin pikir mereka daripada lagu campursari lebih baik dikasih lagu yang lebih punya makna.

Oh Tuhan... mohon ampun 
Atas dosa dan dosa
S'lama ini aku tak menjalankan perintahMu
Tak pedulikan namaMu
Tenggelam... melupakan diriMu.
...............

Daaan… tepat jam 11.45 KA Kalijaga sampai di Stasiun Solo Balapan. Total waktu perjalanan adalah 2 jam 45 menit. Aku langsung turun. Ya, untuk kesekian kalinya aku kembali menjejakkan kaki di kota Solo.

Sampai jumpa KA Kalijaga!

Stasiun Solo Balapan


Agar tidak kesorean pulangnya, aku sengaja nggak jauh-jauh dari stasiun. Menurut perhitunganku, sebaiknya aku segera naik KA Prameks ke Jogja jam 13.00. Seperti halnya di Stasiun Poncol tadi, di sini juga ada loket khusus untuk KA lokal.  Saat aku menuju ke loket, weladalah antrinya… panjang bener. Ternyata antrian beli tiket ini untuk KA Prameks yang jam 12.15. Setelah kloter ini berangkat, barulah tiket yang untuk jam 13.00 dijual. Minat masyarakat untuk naik KA Prameks memang tinggi, karena kereta ini adalah penghubung utama Jogja-Solo. Di samping itu, tarifnya juga terjangkau, lebih murah dari naik bus.
Karena masih setengah jam, aku jalan-jalan dulu keluar stasiun. Di dekat stasiun ada Pasar Ayu Balapan, yang menjual aneka kuliner, batik, hingga barang-barang kerajinan berukuran kecil yang kalau di sini disebut klithikan. Seporsi soto yang menyegarkan langsung mengenyangkan perutku siang ini.

Pasar Ayu Balapan

Nah, saatnya pulang. Aku balik ke stasiun dan langsung beli tiket. Untungnya, baru jam 12.20 sehingga loket masih sepi.  Langsung aku dapat tiket seharga Rp. 8000. Oh ya, sekedar tips buat kalian yang mau naik KA Prameks, sebaiknya kalau beli tiket waktunya jangan terlalu mepet. Jadi, setelah KA Prameks yang kloter sebelumnya diberangkatkan, segeralah beli tiketnya agar tidak terjebak antrian panjang seperti tadi. Satu lagi yang perlu diingat, tempat duduk tidak ditentukan. Kalau kalian nggak ingin kehabisan tempat duduk yang nyaman, sebaiknya naik dari Stasiun Balapan. Dan begitu kereta datang, segeralah naik.
Beruntung, aku dapat tempat duduk yang cukup nyaman di dekat pintu. Maka, biarpun nantinya kereta penuh, aku nggak terlalu sulit buat turun.
Setiba di Jogja, kira-kira 1 jam kemudian, aku putuskan turun di Stasiun Maguwo, yang letaknya satu komplek dengan Bandara Adisucipto. Bukannya mau sok masuk airport, tapi karena akses bus Trans Jogja untuk menuju terminal lebih mudah dari sini. Kalau dari Stasiun Tugu atau Lempuyangan, harus jalan kaki lumayan jauh buat menuju halte Trans Jogja. Ya, dari halte di depan bandara, aku tinggal naik bus ke Terminal Condongcatur, disambung ke Terminal Jombor, hingga akhirnya bus ke Magelang.
Tanpa terasa, hari ini aku sudah mengitari Joglosemar (lebih tepatnya sih Semarlojog, karena aku mulai dari Semarang). Keinginan naik KA Kalijaga yang selama ini aku dambakan terbayar sudah. 

Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...