Selasa, 09 Juli 2019

My Third Backpacker (Part 3) : Tak Sengaja Ke Pantai Robyong


Alarm di HPku bunyi bikin aku mau tak mau harus membuka mata. Saatnya aku jalankan misi hari ini : lari pagi di pantai. Secepat kilat, aku segera gosok gigi, cuci muka, dan ganti pakaian. Tak lupa tas pinggang sebagai tempat HP melingkar di perut 

Suasana masih sepi. Langit masih hitam pekat. Susah payah kubuka gerbang penginapan, tak lupa kututup kembali (takut dikira maling). Begitulah, aku mulai berjalan cepat menyusuri jalur pantura yang masih gelap. Nyaris tidak ada yang lewat, cuma satu dua orang yang berangkat ke pasar atau sholat subuh. Selebihnya truk-truk proyek yang merajai jalanan.

Biarpun niatku lari pagi, aku nggak mungkin lari kencang kayak biasanya. Masalahnya, di sini kurang penerangan, nggak ada trotoar, pinggir jalan lumayan sempit dan banyak batu kerikil. Ditambah truk yang sering oleng kiri kanan. Kalau aku nekat lari-larian bisa-bisa mereka mengirimku keluar dari dunia ini. Ekstrim pokoknya!

Sudah hampir 2 km aku berjalan. Nafas mulai ngos-ngosan, kaki mulai pegal. Matahari sudah hampir terbit.  Lanjut terus. Medan jalan terasa makin sempit, jadi aku harus melipir. Orang yang lihat mungkin heran, siapa sih itu, pagi-pagi jalan sendirian kayak orang hilang. Aku nggak peduli, yang penting aku harus ke Pantai Jatisari lihat sunrise.

Tak lama kutemukan jalan kecil ke atas tebing. Merasa bahwa itu pantai, aku nekat naik. Wow… di bawahku pemandangan sunrise di pantai indah terbentang. Sekilas mirip Tanah Lot, Bali. Aku tengok kanan kiri, ternyata tebing ini curam. Ada sih jalan ke sebelah timur tapi terhalang batu dan rerumputan. Karena nggak pengin kayak host MTMA, aku turun dan jalan lagi ke sebelah timur.

Mentari segera muncul dari peraduannya

Pemandangan dari atas tebing


Tepi pantai belum juga kutemukan. Padahal menurut Google Maps tujuanku sudah terlewat. Malah Desa Jatisari sudah jauh di belakang. Sementara jalan berubah menanjak. Sampailah aku ke sebuah pangkalan truk yang dilengkapi rumah makan. Lho, ini gimana sih, pantainya mana?

Di antara truk yang sedang parkir, aku nekat berjalan masuk. Aku sudah sangat lelah, tapi aku kuat-kuatkan nafasku biar nggak dikira orang hilang. Menembus rumput-rumput di samping rumah makan. Tidak ada tepi pantai seperti di Pantai Sluke kemarin. Yang ada justru pantai dengan tebing yang curam.

Aku makin bingung tak karuan. Sepertinya rencana lihat sunrise sambil lari di tepi pantai bakal gagal kalau tempatnya macam begini. Biarpun gitu, aku tetap nggak boleh melewatkan matahari terbit pagi ini. Dari atas tebing, aku memotret pantai di bawahku.


Salam jumpa lagi matahari!

Dermaga di bawahku


Pantai ini lumayan bagus juga kok. Dari atas aku bisa melihat jelas pesisir timur laut Jawa Tengah dengan matahari yang mulai muncul. Jauh di bawah sana ada dermaga untuk perahu nelayan yang terbuat dari kayu. Aku cari-cari bagaimana caranya turun ke bawah, tapi pencarianku tanpa hasil.  Lompat? Sama aja bunuh diri. 

Akhirnya aku coba mengitari pangkalan truk, kalau-kalau menemukan sesuatu yang menarik. Mau pemandangan indah, makanan enak, cewek cantik juga boleh (apaan sih). Eh, tiba-tiba, plang rumah makan terbaca olehku “Robyong”. Olalala… salah alamat bro, ini bukan Pantai Jatisari tapi Pantai Robyong. Pantas aja beda sama yang kulihat di internet.

Terus, dimana dong Pantai Jatisari nya? Nah ini… aku lihat lagi Google Maps. Menurut peta sih di seberang SPBU, tapi yang kutemui tadi malah hutan laut. Apakah petanya salah? Ups, tapi di ujung Desa Jatisari ada Dermaga Jatisari, mungkin itu ya? Ya udah, aku jalan lagi ke sana. Aku udah jauh-jauh ke sini harus dimaksimalkan. Kalau misalkan Pantai Jatisari tetap nggak ketemu, nanti aku ke Pantai Sluke lagi aja.

 
Inilah Pantai Robyong

 
Ini di tepi jalan raya lho..

 Bersambung ke Part 4


Minggu, 07 Juli 2019

My Third Backpacker (Part 2) : Makan Lontong Tahu Tak Jauh Dari Pantai Sluke

Semalaman aku susah tidur. Entah ada apa denganku. Hanya terlelap sekitar 3 jam lalu bolak balik kanan kiri. Eh, tahu-tahu sudah jam 6 pagi! Waduh, aku harus segera  berangkat ke Tuban.
 
Tidak ada lagi waktu untuk ini dan itu, aku langsung mandi dan bersiap-siap.  Oh ya, pesan dari kondektur bus yang kutumpangi kemarin, kalau mau naik bus jurusan Surabaya sebaiknya aku mencegatnya setelah jembatan Nyamplung, kira-kira 700 meter dari penginapan, karena kontur tanah di Sluke ini agak menurun, jadi bus susah mengerem.
 
Maka, setelah sarapan nasi rames di warung makan dekat jembatan Nyamplung, aku berjalan ke timur sampai Polsek Sluke. Tak lama, kucegat bus jurusan Surabaya.


Bus pun berangkat. Dari jendela tampak pemandangan pantai, bahkan sempat melewati langsung tepi pantai! Yes,  antara jalan raya dan pantai hanya dipisahkan tebing yang tidak terlalu tinggi.  Benar-benar menyejukkan mata! Seketika rencana tersusun di benakku, besok aku mau lari pagi ke pantai ah…

Semakin ke timur, pemukiman tepi pantai semakin banyak. Aku heran, apa mereka nggak takut ya, punya rumah di tepi laut? Kalau ada badai besar gimana? Tapi saat kualihkan pandangan ke sebelah selatan, aku langsung merasa Tuhan sungguh adil. Biarpun di utara adalah laut, di selatan adalah Pegunungan Kapur Utara, yang salah satu puncaknya adalah Gunung Lasem. Jadi, jika terjadi apa-apa di laut, pegunungan itu siap menjadi tempat perlindungan.

Gunung Lasem di pagi hari


(untuk perjalanan ke Tuban hingga pulang ke Sluke aku SKIP aja ya, karena nggak ada yang bisa kuceritakan)

Sore itu, sesudah beristirahat sebentar di penginapan, aku mulai menjalankan rencana yang kemarin tertunda : lihat sunset di pantai. Kuikatkan tas pinggang di tubuh dan kuatur lokasi Google Maps di HPku. Waktu sudah menunjukkan jam 17.00, jadi nggak ada waktu lagi buat berleha-leha.

Jalan ke Pantai Sluke


Dengan penuh semangat, aku melangkah ke pantai. Pengin rasanya lompat-lompat, bergaya ala bintang video klip yang sedang menikmati alam.  Nampak beberapa orang sedang menggarap tanah untuk ditanami, ada pula yang mencari rumput buat pakan ternak. Malahan ada yang sedang menggembala kambing di tengah padang rumput. Sungguh pemandangan yang sulit kutemui di pantai manapun.

Tepi Pantai Sluke


Antara tepi pantai dengan lahan luas itu hanya dipisahkan serangkaian pohon cemara pantai. Jadi sesampai di ujung jalan setapak, aku tinggal turun sedikit, sampailah di tanah berpasir.

Dari referensi yang kudapat, Pantai Sluke ini tidak seterkenal “saudaranya”, Pantai Jatisari (ada ceritanya nanti di postingan berikutnya). Malahan orang sering salah mengartikan Pantai Jatisari sebagai Pantai Sluke, atau sebaliknya. Faktanya memang, pengunjung pantai sore ini cuma beberapa orang. Selain aku, ada beberapa cewek yang asyik berfoto di tepi pantai. Beberapa kapal nelayan tertambat di bawah pohon. 

Mana mau aku kalah sama mereka. Aku langsung jeprat jepret sana sini. Sesekali ombak menerpa kakiku. Sebenarnya sih pantai di sini ombaknya tenang. Tapi tetap aja keinginan main air harus kuurungkan. Pertama, aku udah mandi, jadi  nggak ingin basah kuyup lagi. Kedua, bisa nangis darah aku kalau HPku ikut “berenang”.

Beberapa menit berlalu… dan inilah yang kami tunggu-tunggu. Matahari mulai turun ke peraduan, sedikit demi sedikit. Luar biasa! Ah… andai ada yang menemaniku saat ini, berdua memandang sunset sambil bersenandung lagu Kemesraan…. Aku tunggu cewek-cewek itu apakah ada yang minta tolong difotokan lalu ngajak kenalan, tapi belum selesai aku memandangi sunset, mereka malah beranjak pergi (nasib  seorang jomblo).

Sang surya mulai kembali ke peraduannya

Indah sekali bukan?


Maaf ya mbak, nggak sengaja terfoto


Debur ombak di kala senja


Ah udahlah, bukan saatnya ngomongin itu. Yang jelas, aku belum mau beranjak dari pantai ini. Aku duduk di tepi sambil memandang lautan luas dipayungi horizon senja. Satu ide pun tercetus. Aku bisa letakkan HPku bersandar di sebuah ban bekas atau batu yang ada di situ. Aku setel timer kamera dan jepret… bisa berfoto selfie tanpa repot pegang HP. Tapi pastinya harus jauh dari air dan harus sigap kalau ombak mendekat. Kalau tidak… wah…Sungguh beruntung rasanya bisa ke sini.  Aku bayangkan teman-temanku di Jawa Tengah bagian selatan, pasti banyak yang tidak tahu tempat bagus seperti ini.
Duduk termenung di tepi pantai

Santai dulu ah


Tak menyangka bisa ke sini

Ini pemandangan sebelah timur


Biarpun indah, pastinya ogah kalau bermalam di sini. Aku menoleh ke belakang, ternyata tinggal aku sendiri dan seorang nelayan yang sedang memeriksa kapalnya. Wah, dengan cepat aku beranjak pergi. Di sini minim penerangan jadi aku harus balik ke penginapan sebelum gelap.

Deg-degan aku lewat kebun dan kandang ternak tadi. Segera kupercepat langkahku karena langit makin gelap. Bukan mbak kunti atau om druwo yang kutakutkan tapi kalau-kalau ada ular nongol dari balik pohon. Dari dulu aku memang takut banget sama hewan melata itu. Bayangin bentuknya aja udah hiiiii…

Untunglah jalan di kebun itu tidak terlalu panjang. Aku segera tiba di perkampungan tadi dan berjalan pulang ke penginapan. Begitu sampai aku langsung mencuci kaki dan tangan yang belepotan pasir.

Nah, sekarang saatnya makan malam. Mau makan apa? Aku lihat di dekat penginapan ada warung yang menjual lontong tahu dan gado-gado. Tentu saja yang paling bikin penasaran adalah lontong tahu. Ibu penjualnya sangat ramah dan cekatan. Dalam hitungan menit, sepiring lontong tahu dan segelas teh manis hangat terhidang di depanku. Harganya cuma Rp. 7.000

Lontong tahu adalah makanan khas Pati. Bentuknya mirip dengan kupat tahu di Magelang. Berupa tahu goreng dan taoge yang disiram kuah berbumbu kacang. Bedanya, di sini dihidangkan dengan lontong bukan ketupat. Kuahnya pun bukan kuah gula merah plus kacang, tapi sambal kecap plus kacang. Taburan bawang goreng dalam jumlah banyak ikut memancing selera.

Begitu kurasakan…woooowwww… rasa pedas membakar mulut. Makin disendok makin hot. Sialnya, aku justru memesan teh hangat, bukan es teh. Satu-satunya penawar cuma bakwan jagung yang tersedia di meja. Akhirnya karena nggak mau rugi, tetap kuhabiskan makananku sambil meringis sesekali.

Tak heran, sesampai di penginapan, aku banyak minum air putih. Aku sadar, perutku sensitif dengan makanan pedas, jangan sampai deh aku sakit di sini.

Malam itu aku sengaja tidur lebih cepat, karena besok pagi mau lari pagi sekalian lihat sunrise. Tak lupa, kupasang alarm HPku dua-duanya jam 04.00.


 Bersambung ke Part 3




Jumat, 05 Juli 2019

My Third Backpacker (Part 1) : Sluke, Tujuan yang Tak Terduga


Sungguh perjalanan kali ini penuh kejutan. Aku pernah kepikiran mengunjungi Rembang dan Lasem, tapi tak pernah sekalipun terbersit untuk mengunjungi Sluke. Biarpun sering buka peta, aku sama sekali nggak ngeh dengan daerah ini. Sluke hanyalah sebuah kecamatan di sebelah timur Rembang, beberapa kilometer sebelum perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur.

Lalu kenapa aku bisa ke sana? Nyasar? Gak mungkinlah! Traveler kok nyasar. Begini ceritanya

Tujuan awalku sebenarnya adalah Tuban. Rencanaku jalan-jalan sekalian mengunjungi seorang teman di Kerek, Kabupaten Tuban. Nah, sebagai backpacker berkantong tipis, aku berusaha menekan biaya sekecil mungkin, baik transportasi maupun penginapan. Kalau perlu nggak usah bayar (mimpi). 

Penginapan memang cuma buat numpang tidur, tapi jelas aku nggak mau cari yang abal-abal. Dan seperti biasa, Traveloka siap membantu. Tapi…. oh sayang… (nggak pakai cinta), tarif hotel di Tuban termurah adalah Rp. 150.000. Kalau 2 malam menginap, berarti Rp. 300.000 harus kukeluarkan. Tidak!

Bukan Robert namaku kalau menyerah begitu aja. Saat menginap di Tuban nggak bisa, coba kota di sekitarnya, yang penting tetap bisa jalan-jalan ke Tuban. Bojonegoro, Lamongan, Babat, Blora, coba kucari dan hasilnya… setali tiga uang alias sami mawon. Malahan seperti kata iklan, yang lebih mahal banyak.

Harapan terakhir sekarang adalah Rembang. Di pusat kota Rembang harganya masih sama, begitu juga daerah Lasem. Hah… tapi aku nggak menyerah, dengan semangat masih berkobar aku klik Kabupaten Rembang. Daaaan akhirnyaaa… ketemulah Penginapan Kurnia di Sluke. Tarifnya cuma Rp. 95.000 per malam. Segera aku mencari tahu dimana itu Sluke, ternyata ada di tepi jalur Pantura juga. Berarti masih mungkinlah buat jalan ke Tuban. Oke, deal!

Sudah pasti aku harus ke Semarang dulu, dan naik bus jurusan Surabaya. Ada beberapa bus untuk rute itu, baik patas maupun ekonomi. Untuk berangkat ini, aku naik bus patas Indonesia. Sebenarnya mau patas atau ekonomi sama aja sih, ada ACnya, dan bakal berhenti di beberapa tempat. Cuma bentuk bus dan tarif aja yang beda. Yang patas nggak bakal ada yang berdiri dan so pasti lebih mahal

Pemandangan jalan raya Pantura, Sluke



Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, sampailah aku di Sluke. Tadinya aku berencana sore ini mau lihat sunset di Pantai Sluke. Tapi… gara-gara bus sempat ngetem lama, ditambah macet di Pati, aku baru sampai jam 17.30. Jadi harus kutunda, ngapain ke pantai gelap-gelapan. 

Penginapan Kurnia (namanya pas dengan nama belakangku nih) ini letaknya tepat di pinggir jalan raya Pantura. Uniknya, selain penginapan, pemiliknya juga punya minimarket dengan nama sama di bagian depannya. Jadi kalau check in lewat kasir minimarket.

(Sayangnya karena HPku agak bermasalah, aku lupa memotret penginapannya, tapi anda-anda sekalian bisa lihat di Traveloka, search aja “Budget Room Penginapan Kurnia”, kalau nggak muncul berarti kamar lagi penuh atau ada yang salah dengan koneksi internet anda)

Mbak-mbak kasir membawaku ke sebuah kamar. Setelah aku ditinggal sendiri (ya iyalah, siapa juga yang minta ditemani), aku langsung mengagumi kamar ini. Tidak terlalu besar tapi fasilitasnya lumayan. Kamar mandi dalam, lemari pakaian, meja, kursi, kipas angin, air mineral, handuk, semua tersedia. Sayang tempat tidurnya cuma bantal dan kasur. (Ya maklum, harga segitu, bisa bangkrut penginapannya kalau lu minta spring bed pakai selimut tebal).

Segera aku menata barang-barang. Pakaian di lemari, makanan kecil dan perlengkapan lainnya di meja, handuk di kamar mandi. Khusus handuk, aku udah bawa sendiri. Kalau yang dipinjamkan, aku nggak mau pakai, soalnya pasti pernah dipakai orang lain yang belum tentu kulitnya sehat. Setelah selesai, aku mandi.

Eh, tapi kok terasa makin pengap aja ya? Bahkan setelah aku mandi pun rasanya masih gerah. Oh, ternyata kamar ini kurang ventilasinya. Memang terdapat relung di dinding tapi semuanya ditutup kaca. Dengan terpaksa, kubuka sedikit jendelanya. Mendingan kena udara malam daripada sesak nafas.   

Hari sudah gelap, nggak memungkinkan bagiku jalan kemana-mana. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah pergi mencari makan (kayak burung pipit aja). Karena nggak selera makan nasi, bakso di seberang Pasar Sluke pun jadi alternatif pengisi perut. Begitu terhidang... weladalah... diriku  terbelalak dengan ukuran baksonya. Sedikit lebih besar dari bola tenis, plus beberapa bakso ukuran sedang dan irisan jeroan sapi. Tapi, setelah kurasakan, mmm… lumayan enak. Bakso tenisnya ternyata berisi telur rebus dibalut daging yang nggak terlalu tebal, pas banget dengan seleraku. Dalam hitungan menit, langsung tandas kunikmati. Cuma jeroannya nggak kumakan, soalnya memang nggak suka. Harga Rp. 17.000 wajar lah.

Sebelum tidur, aku sempatkan duduk di teras yang sekaligus berfungsi sebagai lobby. Cari angin sambil main internet. Ada beberapa orang bapak di situ, mengajakku ngobrol sedikit. Mereka berasal dari Cilacap, datang ke Rembang untuk project perusahaan perkapalan. Memang, sebagai daerah pesisir, Rembang terkenal dengan komoditas perikanan, kelautan, dan tambang batu kapur. Belum lagi industri lain yang sudah berkembang di jalur pantura. Sebuah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) berdiri di sebelah barat Sluke, dengan sebuah semenanjung bernama Tanjung Bendo.  So, meskipun Sluke bukan daerah wisata yang terkenal, penginapan ini selalu ramai oleh para pengusaha dan karyawan yang sedang melakukan project khusus. Jadi merasa unik, aku satu-satunya traveler di sini. 

Hampir saja aku terlena oleh koneksi internet yang kayak kereta api. Tahu-tahu sudah jam 22.00. Aku harus tidur sekarang, karena besok harus pergi ke Tuban.


Bersambung ke Part 2

Rabu, 17 April 2019

Lagu Masa Lalu (23) : I Will Follow Him

I will follow him, follow him wherever he may go
There isn't an ocean too deep
A mountain so high it can keep me away
I must follow him  ever since he touched my hand I knew
That near him I always must be
And nothing can keep him from me
He is my destiny 
I love him, I love him, I love him
And where he goes I'll follow, I'll follow, I'll follow
He'll always be my true love, my true love, my true love
From now until forever, forever, forever
I will follow him (follow him), follow him wherever he may go
There isn't an ocean too deep
A mountain so high it can keep, keep me away
Away from my love (
I love him, I love him, I love him
And where he goes I'll follow, I'll follow, I'll follow
He'll always be my true love, my true love, my true love
From now until forever, forever, forever


Follow Jesus - ilustration (Sumber : Pinterest)


Bagi kita yang beragama Nasrani, pasti nggak asing lagi dengan lagu di atas. Yup, di gerejaku sendiri lagu ini pernah dibawakan oleh paduan suara saat acara Paskah. Liriknya dengan tegas mengatakan “aku mau ikut Dia ke manapun dan kapan pun ”. Dia di sini adalah Tuhan Yesus. 

Meskipun kerap dibawakan sebagai lagu rohani, ternyata lagu ini dulunya dimasukkan dalam lagu pop sekuler. Kok bisa?

Adalah Peggy March (atau sering dijuluki Little Peggy March karena bertubuh mungil), penyanyi remaja Amerika tahun 1960-an yang mempopulerkan lagu ini. Sedangkan penciptanya adalah Frank Pourcel dan Paul Mauriat. Pada awalnya lagu ini hanya berbentuk instrumen dengan judul “Chariot”, yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah lagu utuh oleh Arthur Altman dan Norman Gimbel. Pada tahun 1963, lagu ini masuk jajaran top chart di seluruh dunia. Tak hanya itu, lagu ini juga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dicover oleh banyak penyanyi. 

Little Peggy March (Sumber : villages-news.com)


Memang, pada awalnya tidak jelas, siapa yang disebut “Him” pada lagu ini. Bisa dipersepsikan sebagai kekasih yang setia (ingat lagunya Ria Resty Fauzi yang katanya mau ikut kekasihnya biarpun sampai ke Ethiopia), bisa juga seperti anak kecil yang selalu menguntit ayahnya ke manapun pergi. Tak heran, pemahaman yang beragam membuat lagu ini bisa diterima sebagai lagu pop.

Namun, sebagian orang memaknai “I Will Follow Him” sebagai lagu religi. Terlebih sejak dibawakan oleh Whoopi Goldberg yang berperan sebagai biarawati dalam film Sister Act (tahun 1992). Ini karena susunan liriknya sangat tepat untuk menggambarkan keimanan yang sempurna. Setelah hidup kita diselamatkan, kita bersedia mengikut Tuhan dalam keadaan apa pun dan tetap setia sampai akhir. Dalam bahasa Indonesia, lagu ini diterjemahkan sebagai lagu rohani dengan judul “Ku Mau Ikut Dia”.


 Link video:

Senin, 18 Maret 2019

Lagu Masa Lalu (22) : Pinda Pinda Lekka Lekka


Ik kom van 't andere eind der aard
Mijn boot die haalden ze uit de vaart
Toen hingen ze me doodbedaard
Een trommel voor mijn buik
Ze zeiden mij, ga nou maar door
En roep alleen maar pinda hoor
En vraag er dan vijf centen voor
Toen zat ik in de fuik
'k Verkocht mijn eerste pakkie dra
Die stuiver had ik vlug
Ik gaf toen in mijn zenuwen
Een dubbeltje terug.



Pinda pinda, lekka lekka
Als je maar vijf centen biedt
Pinda pinda, lekka lekka
Of je 't kauwen kan of niet
'k Sta en dommel bij mijn trommel
Tot ik uit mijn jasje waai
Van je tsjing, tsjing, tsjing
Van je tsjang, tsjang, tsjang
Wiede wiede wiet Sjanghai.

Sudah bukan cerita baru kalau terjadi “perang urat syaraf” antara Indonesia dengan Malaysia. Mulai dari masalah perbatasan, kesenian, bahkan lagu kebangsaan! Seolah nggak terima lagu kebangsaan Malaysia, “Negaraku” disebut-sebut mirip lagu “Terang Bulan”, si tetangga ini bikin klaim bahwa lagu “Indonesia Raya” mirip sama lagu “Pinda Pinda Lekka Lekka”. Anggapan ini jelas ngawur. Saat para netizen, termasuk aku, cari tahu seperti apa sih “Pinda Pinda Lekka Lekka” ini,  sama sekali nggak mirip dengan “Indonesia Raya”!

Terlepas dari semua rumor itu, pertama kali dengar “Pinda Pinda Lekka Lekka”, aku langsung ngefans sama lagu ini. Enak banget dengernya, apalagi bagian refrainnya, bakalan joss kalau sambil loncat kesana kemari. Eh, tapi ini lagu apa sih?

Ini adalah lagu dalam bahasa Belanda yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Willy Derby, sekitar tahun 1920-an. Pinda artinya kacang tanah, dan lekka berasal dari kata “lekker” yang artinya sedap. Kisah dalam lagu ini adalah komunitas pelaut asal Shanghai, Cina yang datang di Amsterdam pada zaman itu. Pada saat bersamaan, sedang terjadi “Great Depression” atau krisis ekonomi di Eropa. Menariknya, mereka menyiasati hal tersebut dengan menjual kue kacang khas Cina. Kue kacang dijual seharga lima sen dan banyak digemari.



Willy Derby (1886 – 1944) adalah penyanyi dan komposer Belanda yang populer dari tahun 1920-an hingga 1940-an. Selain lagu Pinda Pinda Lekka Lekka, ia juga pernah menciptakan lagu Hallo Bandoeng (bukan Halo Halo Bandung lho!). Lagu ini adalah salah satu lagu tersukses dari Willy Derby. Inspirasinya dari ucapan pembuka di Radio Kootwijk, yang konon memiliki koneksi dengan Radio Malabar di Bandung, Indonesia (atau Hindia Belanda). Pada saat itu, Ratu Emma dari Belanda melakukan komunikasi dengan putrinya, Ratu Wilhelmina yang sedang berada di Bandung lewat pesawat radio tersebut.

Kembali ke Pinda Pinda Lekka Lekka, ini dia link videonya :

Minggu, 16 Desember 2018

Solo Travelling (13) : Berjalan di Kalasan


Kalau bicara tentang Kalasan, orang bakal ingat akan 2 hal : ayam goreng dan candi. Yes, siapa nggak kenal ayam goreng Kalasan yang gurih dengan bumbu khas Jawa itu? Tapi bukan itu yang mau aku bahas kali ini, lagian aku nggak suka ayam goreng. Aku mau share kunjunganku ke dua tempat bersejarah di Kalasan awal Mei lalu.

Kalasan, yang dalam bahasa Jawa berarti “kehutanan”. Bisa dibilang, daerah ini adalah “gerbang” dari Prambanan, karena selepas dari kota Yogyakarta, kita akan lewat Kalasan dulu baru sampai di Prambanan, kalo jalan terus sampai Klaten.

Sebagai eks wilayah Kerajaan Mataram Kuno, Kalasan penuh dengan peninggalan sejarah, terutama candi. Sezaman dengan Borobudur dan Prambanan, berdiri pula belasan candi-candi lainnya. Di Kalasan sendiri yang terkenal, yaitu Candi Sambisari, Candi Sari, dan Candi Kalasan. Satu lagi, Candi Kedulan, yang masih belum selesai dipugar. Karena Candi Sambisari dan Candi Sari sudah pernah kukunjungi dulu, sekarang aku mau ke Candi Kalasan. Candi ini memang dinamai sesuai nama kecamatan di timur Yogyakarta ini.

Biarpun lokasinya tepat di jalan raya Jogja-Solo, pengguna bus Trans Jogja tetap harus jalan kaki kurang lebih 1 km ke timur. Dan itulah yang terjadi pada diriku. Di tengah ramainya jalan raya, aku harus berjalan melipir karena trotoar di sini kurang luas.

Di sebuah gang, Candi Kalasan tegak menjulang. Dengan mudah aku mengenalinya, dan langsung membeli tiket masuk seharga Rp. 5000. Agak mengherankan juga, meski hari libur candi ini benar-benar sepi. Pengunjungnya hanya aku sendirian. Hmm…. Mungkinkah karena hari ini pas Hari Buruh jadi pada sibuk demo? Malas ah ngomongin hal begituan…



Candi ini berupa sebuah bangunan batu berukuran besar dengan teras yang cukup tinggi. Bagian atas dikelilingi oleh stupa kecil. Sementara di tiap sisinya terdapat pintu dengan tangga, menuju bagian dalam yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Uniknya, di setiap tangga menuju teras diapit oleh arca, yang menunjukkan bahwa ini adalah tempat yang sakral.




Konon candi bercorak Budha ini adalah sebuah kuil yang diperuntukkan untuk pemujaan pada Dewi Tara. Dibangun sekitar tahun 778 oleh Rakai Panangkaran, penguasa Kerajaan Mataram Kuno saat itu. Saat itu selain kuil, dibangun juga asrama untuk para pemuka agama, yang adalah Candi Sari.



Berlanjut ke halaman, terdapat batu-batuan lain, seperti candi perwara (candi kecil), arca, dan batuan candi yang tidak dapat disusun. Semua tertata rapi sehingga indah dilihat.



Setelah puas, aku keluar dari area candi. Mau kemana sekarang? Aku teringat Stasiun Kalasan. Salah besar kalau berpikir aku mau naik kereta, mau nunggu sampai tepar juga nggak akan bisa karena stasiun itu sudah tidak beroperasi. Justru karena tidak aktif itulah, aku ingin lihat kondisinya sekarang.


Huahhh… untuk kedua kalinya aku harus melipir di jalan raya Jogja-Solo. Beneran kayak orang hilang, karena nyaris tak ada pejalan kaki lain. Agak malas juga sebenarnya. Panas!
Di tepi jalan sempat kulihat pintu air yang adalah pertemuan antara Sungai Opak dengan Selokan Mataram,  saluran air legendaris di Yogyakarta.


Berbelok ke sebuah gang, sebuah palang perlintasan kereta api sedang beroperasi. Tapi tunggu dulu, mana stasiunnya? GPSku nggak mungkin salah lokasi Ternyata stasiun itu ada di sebelah timur. Halaman stasiun tidak terlalu terlihat karena tertutup rumput liar.

Aku berusaha lompat di antara rerumputan dan gundukan tanah, mendekati bangunan stasiun. Harus ekstra hati-hati karena berbatu dan dekat dengan rel kereta aktif. Kalau terpeleset pas ada kereta lewat nggak tahu deh gimana nasibku…




Akhirnya! Aku berhasil mencapai bangunan stasiun. Segera kamera HPku menjepret sana sini.  Tapi melihat gedung ini rasanya miris…. Coretan vandalisme di mana-mana, lantainya ada yang berlubang. Sebagian pintu dan jendela hilang tinggal kerangka. 




Di sini ada beberapa ruangan. Ruangan di depan kemungkinan adalah kantor dan ruang operasional, sementara bagian dalam yang tertutup rapat adalah ruang kepala stasiun dan loket penjualan tiket. Di sebelah timur ada bangunan lain, yaitu gudang stasiun. Kondisinya pun nyaris tak terawat. Bahkan tiang persinyalan pun sudah tidak ada. Satu-satunya yang masih aktif hanyalah palang perlintasan di tepi jalan kampung. Hampir tiap jam palang pintu dibuka tutup untuk memberi kesempatan kereta api lewat. Dan mereka semua melewatkan begitu saja Stasiun Kalasan. Sayang sekali memang…








Konon Stasiun Kalasan ini dinonaktifkan pada tahun 2007. Alasannya karena pembangunan jalur ganda Kutoarjo-Solo yang menyebabkan stasiun ini tidak lagi melayani persilangan. Untuk naik turun penumpang pun kurang efektif karena letaknya yang dekat dengan Stasiun Maguwo dan Stasiun Prambanan. Kini tempat ini hanya sesekali dikunjungi warga sekitar untuk menonton kereta api lewat. 

Aku keluar lewat pintu depan dan… ternyata ada akses jalan yang lebih baik. Yah, kenapa nggak dari tadi? Rupanya karena jalan di sini penuh batu bikin aku nggak ngeh…




Berjalan perlahan, aku meninggalkan tempat itu. Dan stasiun tua itu kembali tenggelam dalam kesunyian,  entah sampai kapan....

Kamis, 29 November 2018

Madu Asli atau Campuran?


Hai semua… rasanya sudah agak lama, aku tidak menulis di blog ini. Maklum, selain kesibukan, aku juga sulit menentukan tulisan apa yang menarik di sini.

Kali ini aku mau bahas soal madu, karena kebetulan aku penggemar madu. Minum madu itu berguna banget sebagai antioksidan, mencegah panas dalam, dan menambah stamina tubuh. Tapi kita wajib tahu, tidak semua madu yang dijual di pasaran itu 100% murni atau berasal dari sarang lebah asli ! Lho, maksudnya?

Begini, ada beberapa jenis madu yang dicampur dengan gula atau bahan lainnya. Malah ada produk tertentu yang berlabel "madu", tapi kadar gulanya lebih banyak daripada madunya sendiri. Madu campuran memang tidak berbahaya buat kesehatan, cuma khasiatnya tidak semaksimal yang asli. Tidak bisa disebut palsu juga sih, karena kandungan madu lebahnya tetap ada biarpun kadang tidak banyak.




Langsung aja, ini beberapa cara membedakan madu asli dan campuran :

1. Komposisi
Perhatikan komposisi pada kemasannya. Jika terdapat bahan-bahan lain selain madu, bisa dipastikan itu madu campuran. Tapi hati-hati juga, terkadang ada yang tidak mencantumkan bahan campurannya biar "rahasianya tidak terbongkar". Untuk memastikannya, gunakan cara yang lain.

2. Harga
Madu asli umumnya  lebih mahal dari madu campuran

3. Tuang dalam air
Inilah cara paling simple untuk mengetesnya. Tuang sesendok madu dalam air putih di gelas, diamkan dan jangan diaduk. Madu asli tidak mudah larut dalam air

4. Masukkan di freezer
Madu campuran akan membeku bila berada di freezer, madu asli hanya akan mengental. Tapi sebaiknya jangan menyimpan madu di freezer, agar kualitasnya tidak menurun.

5. Ketahanan
Bila disimpan dengan baik, madu asli lebih tahan lama dibanding madu campuran. Bahkan ada penelitian yang mengatakan bahwa madu tidak bisa basi.

Oh ya, kalau ada yang bilang madu asli tidak disemutin, itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Ya, namanya semut, mana tahan dengan seesuatu yang manis? 

Begitulah, ini sekedar pengetahuan aja, bukan menakut-nakuti atau menyinggung produk tertentu. Sekali lagi, apa pun madu yang kita pilih, tidak berbahaya buat kesehatan selama kualitas dan penggunaannya tepat. Boleh aja kita memilih madu campuran kalau memang lebih suka atau  kantong terlalu tipis buat beli yang asli… hehehe.

Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...