Rabu, 14 Oktober 2015

Alun-alun Kidul Keraton di Waktu Malam

Pengalaman ini terjadi pertengahan tahun 2014, di mana saat itu aku dan David sedang menjalani Kerja Praktek di Jogja. 
Malam itu, teman kost kami, Adit (anak Sumbawa) dan Rafi (anak Kendari)  mengajak kami muter-muter kota Jogja. Oh ya, mereka itu siswa bimbingan belajar Ganesha Operation yang baru aja lulus SMA. Khusus buat ngerayain kelulusan itulah, mereka mau mengajak kami berdua jalan-jalan ke Malioboro alun-alun keraton. Sementara teman kost lain ke Monjali alias Monumen Jogja Kembali, kami berempat punya acara sendiri.
Sebelum berangkat, mereka lebih dulu mentraktir aku dan David makan di Sop Ayam Pak Min. Jujur, aku nggak terlalu suka makan daging, tapi demi menghargai, aku pesan aja sup ayam yang dagingnya dipotong kecil-kecil. Lumayan enak sih, biarpun terpaksa. 
Habis makan pulang sebentar ke kost buat siap-siap. Dengan mengendarai dua motor, kami berangkat dari kost di Jalan Magelang. Aku dibonceng sama Rafi sedangkan David boncengin Adit. Perlahan menembus keramaian kota Jogja. Ya, namanya kota besar, mau siang mau malam tetap aja rame. 
Tapi aku menikmati banget malam itu. Lewat Tugu, muter stasiun, memasuki Malioboro, kami jalan terus sampai ke depan Benteng Vredeburg yang di depannya daerah yang biasa disebut “titik nol”. Kami berhenti dulu di situ. David langsung mendekati penjual aksesoris di situ (tertarik sama aksesorisnya, bukan penjualnya!). Gantungan kunci di sini bagus-bagus dan murah. Ada yang berbentuk kendaraan dari kayu, ada juga yang berbentuk domba atau sapi dari kulit kerang. Lima ribu bisa dapat tiga atau empat, tergantung ukuran dan berapa kita nawarnya. Tahu harganya, aku ikut-ikutan beli biarpun cuma tiga biji.


Nongkrong di warung kopi… eh salah… di titik nol rasanya luar biasa. Banyaknya anak muda di situ bikin kami serasa jadi mahasiswa Jogja. Di depan kami, lampu kota dan kendaraan menerangi malam itu. Di seberang ada gedung BNI 46 dan Kantor Pos. Indahnya kota pelajar….



Setengah jam berlalu, kami lanjut perjalanan ke alun-alun keraton. Jalan yang ditempuh Rafi lumayan ribet, belok sana belok sini di kompleks keraton. Andai aku pergi ke sana sendiri bakalan celingukan di jalan saking jauhnya.
Setelah muter-muter sampai kepalaku pusing, akhirnya kami sampai di depan lapangan besar, dengan dua pohon beringin di tengahnya. Ratusan orang masih memadati lapangan biarpun sudah jam 9 malam. Ada penyewaan mobil kayuh di situ yang bisa disewa (aku lupa harganya) untuk mengitari alun-alun.


Kami ke tengah lapangan dulu. Di sini ada permainan unik namanya masangin. Seseorang ditutup matanya, lalu berjalan ke pohon beringin itu. Mitosnya, kalau bisa lewat di antara dua pohon itu, cita-cita kita bakal tercapai. Kalau gagal, katanya sih, berarti orang itu pikirannya jorok.
Kami berembuk, siapa yang mau coba. Karena kepalaku agak pusing, aku malas mencoba. Dan.. David yang jadi sasaran.
Dengan ditutup matanya, David berusaha berjalan ke arah pohon beringin. Aku dan lainnya memberitahu arah, kanan atau kiri. Sesekali kami sengaja ngerjain David ke arah yang salah dan ini yang bikin ketawa. Sementara, banyak orang lain yang juga jadi “pemain” di situ hingga kata “permisi” berbalas-balasan, malah beberapa kali kami nggak sengaja tubrukan sama orang lain. Lumayan, "bermesraan" sesaat.... haha... Dan karena dikerjain atau memang karena pikiran dia yang “kotor”, David salah arah, dia malah sampai ke samping pohon yang kanan… wkwkwkwk…
Puas bermain, kami menyewa mobil kayuh. Mobil ini kapasitas 4 orang. David bertindak sebagai sopir. Adit di sampingnya, aku dan Rafi di belakang. Biarpun sebagai penumpang, bukan berarti bisa duduk manis lho… kami semua tetap harus mengayuh biar mobil bisa jalan sempurna. Mobil dilengkapi lampu warna-warni, juga ada pemutar MP3 jadi selama jalan kami bisa diiringi musik. Aku berharap David muter lagunya Shaggy Dog atau Kla Project biar sesuai suasana Jogja, eh yang diputer malah lagu barat... ya udahlah.


Mobil ini berputar 3 kali mengelilingi alun-alun. Alun-alun di sini mengingatkanku pada Lapangan Pancasila Salatiga, bedanya di sini lebih ramai. Nggak jarang, David ngebut, bikin aku harus lebih kuat menggenjot pedal. Beberapa kali aku protes karena sandalku tersangkut atau hampir jatuh.
Saatnya pulang! Tapi sebelum pulang, aku harus bikin kenang-kenangan dong. Aku minta tolong Rafi buat foto aku. Aku ajak sekalian David dan Adit.


Di perjalanan, David mengingatkanku tentang gantungan kunci yang kubawa tadi. Ya ampuuuuun… di mana ya tadi? Aku rogoh kantong celana dan jaket, nggak ada! Tadi di parkiran, aku merasa ada plastik yang jatuh. Berarti itu! Sial deh… tapi mau gimana lagi? Balik juga percuma, udah dekat kost. Akhirnya beberapa hari kemudian, pas aku jalan-jalan sendirian, aku beliin lagi.


Sampai sekarang, aku nggak bisa lupain kebersamaan malam itu.
Salam buat Adit dan Rafi, semoga kelak kita bisa bertemu lagi… 

Minggu, 11 Oktober 2015

Lagu Masa Lalu (1) : Streets of London





Have you seen the old man 
In the closed-down market 
Kicking up the paper, 
with his worn out shoes? 
In his eyes you see no pride 
Hand held loosely at his side
Yesterday's paper telling yesterday's news 

Refrain:
So how can you tell me you're lonely, 

And say for you that the sun don't shine? 
Let me take you by the hand and lead you through the streets of London 
I'll show you something to make you change your mind 

Have you seen the old girl 
Who walks the streets of London 
Dirt in her hair and her clothes in rags? 
She's no time for talking, 
She just keeps right on walking 
Carrying her home in two carrier bags. 

In the all night cafe
At a quarter past eleven, 
Same old man is sitting there on his own 
Looking at the world 
Over the rim of his tea-cup, 
Each tea last an hour 
Then he wanders home alone 

And have you seen the old man 
Outside the seaman's mission 
Memory fading with 
The medal ribbons that he wears. 
In our winter city, 
The rain cries a little pity 
For one more forgotten hero 
And a world that doesn't care 


Menurut Wikipedia, lagu ini diciptakan oleh Ralph McTell sekitar tahun 1969. Lirik lagu ini menceritakan kehidupan di London pada masa itu dengan mengamati tema realita yang ada. Lagu ini meraih peringkat kedua di UK Singles Chart (Tangga Lagu Inggris) pada masa itu dan terjual hingga 90.000 copy. Dalam perkembangannya, selain oleh Ralph sendiri, lagu ini dibawakan oleh beberapa penyanyi, salah satunya Roger Whittaker. Versi Roger lebih easy listening. 
Makna yang terkandung dalam lagu ini adalah jangan mengeluh bila kita sedang dirundung masalah. Karena ada banyak orang di luar sana yang lebih menderita dari kita. Ada tuna wisma yang hidup tak menentu, orang yang hidup sendirian, hingga pahlawan yang terlupakan. Pada bagian refrain, jelas sekali teguran yang disampaikan. Kalau diterjemahkan secara bebas, kira-kira seperti ini : “Kamu kok ngeluh terus, ayo kita lihat di jalanan, biar kamu tahu kalau kamu nggak sendirian”
Dan pada bait terakhir ada satu cerita miris. Seorang mantan pelaut yang dulu pernah berjuang (mungkin seperti TNI Angkatan Laut di Indonesia), di masa tuanya dia hidup terabaikan, tidak ada yang mengingat jasanya. Itu di Inggris, bagaimana di Indonesia? Semoga jangan sampai terjadi.

Rabu, 16 September 2015

Djeladjah Djaloer Spoor Bedono-Ambarawa (with Kota Toea Magelang)

Minggu pagi itu, 13 September 2015 aku pergi ke depan Alfamart di Jalan Pahlawan, Magelang. Bukan mau belanja, tapi ikut acara bertajuk Djeladjah Djaloer Spoor atau kalau dibahasakan sekarang Jelajah Jalur Kereta Api. Event ini diadakan oleh komunitas Kota Toea Magelang, sebuah komunitas pemerhati sejarah dan cagar budaya di Magelang.
Tanpa sengaja, aku termasuk datang paling awal. Baru 3 orang yang datang, termasuk aku. Lewat dari jam 06.10 barulah satu persatu peserta lain datang. Total sekitar 140 orang. Tidak hanya dari Magelang, tapi juga dari Jogja, Purworejo, Parakan, bahkan Solo. Rupanya banyak yang antusias ikut acara ini, bahkan Mas Bagus, sang koordinator mengatakan ini rekor peserta jelajah terbanyak. Memang "menggali sejarah" itu menyenangkan. Selama ini aku cuma dengar cerita orang tua tentang kereta api zaman dulu, termasuk jalur kereta api di Ambarawa yang sudah dinonaktifkan sejak tahun 1976. Biarpun nggak naik keretanya, jalan-jalan di jalurnya aja udah menarik buatku.





Rencananya jelajah kali ini akan melewati rute Bedono-Ambarawa. Start di Stasiun Bedono, trekking. jalan kaki hingga Stasiun Ambarawa. Jaraknya sih kurang lebih 9 km. Untuk jelajah ini, aku nggak bisa ikut sampai selesai karena sorenya ada tugas khusus di gereja. Nanti sampai di Ambarawa aku langsung pulang.
Pukul 07.50 dengan menumpang angkudes (aku gak sempat lihat, jurusan mana), kami berangkat ke Stasiun Bedono. Sepanjang perjalanan, aku dan beberapa peserta asyik bercerita tentang jalur kereta api di Magelang. Rencananya sih jalur itu bakal dihidupkan kembali. Tapi masalahnya, sebagian besar jalur sudah berubah jadi pemukiman. Entah apa yang harus dilakukan PJKA. Membuat jalur baru atau menggusur dengan resiko harus kasih ganti rugi ke warga. Kalau dibuat jalur baru, mungkin lokasinya di Tegalrejo atau sekitar Sungai Elo. Daripada nantinya daerah itu dibuat jalan lingkar seperti di Salatiga, mungkin lebih baik dibuat jalur KA. Selain memajukan transportasi, juga meminimalisir kendaraan pribadi.

Kurang dari satu jam, sampailah kami di stasiun tersebut. Stasiun yang usianya nggak muda lagi tapi masih terawat dan biasa digunakan sebagai pemberhentian terakhir kereta wisata dari Ambarawa. Namun, kabarnya saat ini kereta tersebut sedang "absen" karena renovasi Stasiun Ambarawa. Ada sebuah joke yang mengatakan, stasiun ini punya hubungan dengan grup Warkop, karena mengandung nama “Dono”… hihihihi…
KTM sendiri pernah mengunjungi stasiun ini tahun lalu waktu jelajah jalur Bedono-Candi Umbul sejauh 15 km., sayangnya waktu itu aku nggak ikut.
Di Stasiun Bedono, tidak banyak yang kami lakukan. Malahan sebagian besar dari kami, termasuk aku, sibuk mengantri di toilet. Penjelasan dari Mas Bagus pun tidak banyak yang aku tangkap karena harus menuntaskan “masalah” yang aku tahan sejak tadi …wkwkwkwkwk..

Sesudah foto bersama, kami mulai jalan. Tak jauh dari stasiun, Mas Bagus menunjukkan beberapa hal menarik. Salah satunya rel bergerigi yang fungsinya untuk memperkuat jalan kereta saat menanjak. Rel bergerigi ini membentang dari Stasiun Bedono ke Stasiun Jambu sejauh 5 km. Konon, hanya ada dua daerah pemilik rel bergerigi di Indonesia, yaitu Bedono dan Sawahlunto, Sumatra Barat. Di pinggiran rel juga tercantum tahun pembuatan rel tersebut.

Kami terus berjalan. Udara panas menyengat. Sesekali kami bertemu dengan warga sekitar yang mengangkut kayu atau menjemur biji kopi. Ya, daerah Bedono dan sekitarnya memang daerah perkebunan kopi. Jalan sedikit menurun dengan tebing dan jurang di sisinya. Tapi masih cukup aman karena terdapat rel yang posisinya tepat di atas tanah. Di bawah, terlihat jalan raya Bedono-Jambu. Setiap kali aku naik bus ke Bawen, pasti lewat jalan itu. Jalan yang agak membosankan karena berbelok-belok dan rawan kemacetan.

Menariknya, jelajah kali ini diikuti oleh dua orang turis asal Jerman. Namanya Peter dan Erisa. Mereka dikawal oleh Mbak Ayu dan seorang kawannya sebagai penerjemah. Peter adalah orang asli Jerman, sementara Erisa orang Vietnam, tapi sudah menjadi warga negara Jerman. Sebagai pasangan, tak jarang mereka terlihat bergandengan mesra. Hal unik lainnya, kalau sebagian besar peserta memakai jaket atau kaos lengan panjang karena takut item, mereka dengan pedenya pakai kaos tanpa lengan. Ya, mungkin begitulah pakaian musim panas di negara mereka. Aku sendiri memilih melepas jaketku, bukan karena mau ikut-ikutan mereka, tapi karena gerah.



Lewat dari Bedono, masuklah kami ke area persawahan. Ada kejadian lucu saat tiba-tiba Erisa memanggilku, minta tolong difotokan “Can you help me to take a picture?”. Mbak Ayu pun menegaskan “Nyuwun tulung foto nggih mas”. Penggunaan dua bahasa ini bikin aku senyum-senyum. Mungkin kalau aku bisa bahasa Mandarin seperti papaku, aku bakal jawab “Hao ba, wo lai bang ni”...hihihi.. Dengan sedikit gugup, aku menyanggupi permintaa mereka. Begitu selesai, kembali ada dua bahasa terima kasih “Thank you” dan “Matur nuwun”. Bingung mau jawab apa, aku hanya berkata “Ya” sambil tertawa. Mau tahu kenapa aku gugup? Takut salah ngomong! Kemampuanku berbahasa kromo inggil itu sama dengan kemampuanku berbahasa Inggris, bisa tapi tidak lancar ngomongnya.
Tak jauh dari situ, ada jembatan bernama Kethekan, entah bagaimana sejarahnya bisa dinamai begitu. Kami istirahat sebentar di “kolong jembatan” sambil menunggu rombongan di belakang kami. Aku pun menyempatkan diri makan roti dan gorengan yang kubawa. Peter menawariku kue. “Thank you”, aku mengambil satu. Dan dia tertawa, mungkin menertawakan kegugupanku.
Tak lama, kami jalan lagi. Rel kereta mulai melintasi sungai, tapi beruntung ada jembatan batu dan bambu yang siap mengamankan, biarpun agak deg-degan juga lewatnya. Sampai di Stasiun Jambu, tempat kami istirahat berikutnya. Stasiun ini lebih kecil dari Stasiun Bedono tapi kondisinya juga masih terawat. Bahkan ada teras yang cukup luas, yang kata Mas Bagus bisa jadi tempat catwalk.. hahahaha..


Sambil menikmati semangka yang disajikan, aku melihat-lihat sekitar. Pemandangan di sini luar biasa indahnya. Sawah yang hijau membentang. Di kejauhan nampak Gunung Andong dan Merbabu. Seperti moto hidupku kalau lagi wisata, “segala yang indah tidak boleh dilewatkan”, aku pun berusaha memotret pemandangan dengan kamera HPku biarpun batere udah low bat.

“Can you help me to take a picture?” kembali Erisa memanggilku. “Yes”, aku mendekat. “Press this button” dia menunjukkan tombol kameranya. Okay, one..two…three.. kali ini aku sukses memotret mereka tanpa rasa gugup. Biar sepele, cukup jadi pelajaran biar nggak grogi ketemu bule..
Karena sudah siang, kami nggak lama di situ. Jalan lagi 4 km. ke Stasiun atau disebut juga Museum Kereta Api Ambarawa. Kali ini aku berusaha jalan lebih cepat dari yang lain, tapi tentunya nggak secepat lokomotif. Jalannya lebih datar karena dekat pemukiman. Tapi inilah dunia, yang datar nggak selalu aman. Terhitung tiga kali kami harus meniti rel yang posisinya tepat di atas sungai atau jalan. Minta ampun ngerinya. Apalagi kami harus lompat-lompat karena jarak antara titian satu dan berikutnya agak jauh. Salah langkah bisa goodbye. Dan seperti biasa, acrophobiaku kumat. Baru dua tiga titian aku udah nggak berani. Untungnya, ada mas-mas di belakangku yang bersedia menggandengku… ahahahaha… Tapi nggak cuma aku yang takut, mbak-mbak di depanku juga jalannya hampir merangkak karena takut jatuh…
Mendekati Stasiun Ambarawa, angin sejuk bertiup di persawahan, bikin moodku yang sempat gemetar jadi segar lagi….fiuuuuh…. jadi ingat pengalaman mendaki Gunung Ungaran beberapa waktu lalu.

The last, jam 13.00 tiba di Stasiun Ambarawa. Lumayan ramai karena hari Minggu. Dan, seperti kukatakan di awal, aku nggak bisa lanjut masuk ke museum. Aku hanya sempat memotret gerbong yang di depan. Tapi nggak terlihat gerbong kayu yang dulu ada di Stasiun Kebonpolo, mungkin ada di dalam. Memang sayang, aku nggak sempat menyaksikan “koleksi” gerbong kereta dari zaman ortu dan kakek nenekku, mungkin lain kali aku bisa solo travelling ke sini.

Aku pamitan pada Mas Bagus dan beberapa kawan lain, termasuk mas-mas dan mbak-mbak yang bersamaku sejak lewat titian rel tadi. Tak lupa kuucapkan terima kasih karena telah menolongku. Sampai jumpa kawan-kawan!

NB : Terima kasih buat Pak Widoyoko atas beberapa fotonya.

Senin, 24 Agustus 2015

Gunung Ungaran : Kesetiakawanan di tengah Kengerian (Part 3 - End)

Biarpun cuma 2 jam, aku tetap bisa tidur. Sesekali terbangun oleh suara pendaki yang istirahat di pos ini. Sampai akhirnya, aku lihat jam tanganku sudah menunjukkan jam setengah 6 pagi. Aku pun keluar dari tenda. Udara dingin tapi sejuk. Kulihat alam yang semalam tampak mengerikan, kini bagai tersenyum ramah di depanku. Pepohonan terlihat hijau berselimut embun pagi. Dan di ufuk timur, matahari terbit kemerahan. Andai saja aku bisa mencapai puncak pasti jauh lebih indah. Ya, cuma andai saja... sekarang nasi udah jadi tiwul... eh salah... jadi bubur.... haha..
David ikut terbangun. Ia berkata padaku “Semalam kejadian tak terlupakan. Tapi udahlah, nggak usah dibahas lagi. Ini ujian buat kita. Kita harus rela, sebagai teman kita harus saling menolong. “ Betul-betul ucapan yang menguatkanku. “Ya, yang sudah terjadi, biarin aja. Maafin aku” sahutku. “Kalau kita masih sama teman-teman yang lain, belum tentu mereka kuat lihat kondisi kamu tadi malam” David melanjutkan.
David membangunkan Sinin. Lalu dia merebus air buat menyeduh kopi. Sambil menunggu, kami asyik kriuk kriuk dengan cemilan yang kami bawa, sampai-sampai nggak tertarik buat bikin mie lagi. 
Lewat dari jam setengah 7, beberapa pendaki lain mulai turun gunung. Kami pun membereskan tenda lalu ikut turun. Aku disuruh berjalan di depan. Ternyata nggak seperti tadi malam, aku bisa berjalan tegak. Kalaupun lewat batu nggak sampai ngesot… hehehe.. Mungkin karena sudah lebih kuat, aku jauh lebih semangat.


Apalagi lewat dari hutan lebat, terpampang pemandangan yang luar biasa indahnya. Hamparan kebun teh di antara perbukitan yang hijau bikin sejuk mata kami yang merah akibat kurang tidur. Di antara pendaki yang sedang turun gunung atau nge-camp, kami bertiga duduk sebentar. Rugi kalau jalan terus, soalnya kesempatan belum tentu datang dua kali. Aku sendiri beberapa kali mengabadikan dengan kamera HPku. Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan… kegagalan kami mencapai puncak tergantikan oleh keindahan yang lain.


Matahari mulai naik, kami pun beranjak dari tempat ini, menuju kolam mata air. Di sini jauh lebih ramai, karena banyak pendaki yang istirahat. Sekedar istirahat, karena kolam renang di situ nggak bisa buat berenang. Dan… kami ketemu lagi dengan Adi dan kedua temannya. Dengan cepat kami akrab dalam pembicaraan. Mungkin karena jumlah kami tiga sama tiga. Cukup lama, sampai akhirnya mereka berpamitan untuk turun. Sampai jumpa lagi mas!
Sementara aku, David dan Sinin masih menunggu teman-teman kami. Karena lama banget, akhirnya kami memutuskan turun sampai ke basecamp. David dan Sinin berjalan lebih cepat dariku sampai aku tertinggal jauh. Mungkin mereka sengaja menguji keberanianku… ya, untunglah medan jalan lebih baik daripada di atas tadi. Dengan berjalan hati-hati, aku sampai juga di basecamp dan bertemu lagi dengan David dan Sinin. Puji Tuhan!
Kami bertiga menunggu di tempat teduh. Hari semakin siang. Sebagian besar pendaki yang kami temui di atas sudah pada turun. Bahkan, protokol dan pengibar bendera upacara di puncak sudah sampai di basecamp. Tapi mana teman-teman kami? Nggak boleh dong ninggalin mereka. Kan kami udah belajar setia kawan? 
Kami sempat bertemu dengan rombongan cewek yang kutemui tadi malam. “Eh, ketemu bapaknya lagi”. Bapak lagi, kapan gue kawin sama emak lo. Ingin rasanya aku berkata demikian, tapi aku tahan karena nggak mau merusak kebaikan mereka. Aku balas dengan senyuman aja.”Tapi nggak apa-apa pak, pendaki pemula sampai ke Pos 3 juga sudah hebat kok” kata mereka serius.
Panas matahari makin menyengat. 3 jam lebih kami menunggu. Kali ini David dan Sinin yang terlihat loyo karena kurang tidur. Sementara aku, mulai diserang rasa lapar. Karena bekalku habis, aku berniat ke warung makan beli sesuatu sambil melihat kalau-kalau Atun dan lainnya ada di warung makan.
Tapi belum sampai ke warung makan, terdengar suara Atun “Om.. sini.. om… mana yang lain?” Weladalah, rupanya dari tadi mereka nongkrong beberapa meter di belakang kami. Segera, aku panggil David dan Sinin. Kini kami bersatu kembali (sok puitis..wkwkwk)
Kami saling ceritakan pengalaman kami. Termasuk apa yang kualami semalam. Ternyata mereka pun nggak mempermasalahkan. Malah dengan jenaka, Atun bercerita bahwa semalam dia kelaparan gara-gara bekalnya katut (terbawa) di ranselnya Sinin. Sampai-sampai dia cuma makan Mie Gelas. Nah lo, makanya bawa bekal sendiri dong…
Dengan riang gembira, kami pulang. Tak lupa mampir ke “basecamp” kelompok kami, yaitu rumah Atun. Dan berakhirlah perjalanan penuh tantangan ini. Semoga kelak aku bisa menjejakkan kaki di puncak Ungaran. Amin... 



Ima sempat tanya padaku “Mas, kapok nggak naik gunung?”. Aku jawab “Ya, mungkin aku pikir-pikir dulu”. Jujur, pengalaman ini bikin aku ketagihan. Tapi aku sadar, mendaki gunung itu nggak mudah. Makanya, aku harus pertimbangkan baik-baik. Sebaiknya aku pilih gunung yang medannya nggak terlalu sulit. Dan satu lagi, aku nggak mau lagi mendaki gunung di malam hari!

TAMAT

Sabtu, 22 Agustus 2015

Gunung Ungaran : Kesetiakawanan di tengah Kengerian (Part 2)

Aku berusaha berpikir positif. Ini kan 17 Agustus. Banyak orang yang muncak hari ini. Jadi kalaupun ada masalah, cepat atau lambat pasti ada yang menolong. Sekali lagi aku teriak “David, kamu dimana? Aku takut nih” “Ya, masih di bawah” terdengar jawaban dari bawah. Nggak lama kemudian, David diikuti Sinin, dengan terengah-engah datang ke depanku. “Bawain tasmu nih, berat” katanya.
Sebentar, aku tenangkan pikiranku. Lalu kami naik lagi. Makin ke atas, makin curam jalannya. Tingkat kemiringannya bikin aku mau nggak mau harus memanjat. Sampailah kami di sebuah tempat landai. Di situ ada pendaki yang memasang tenda. Kata orang sih, puncak tinggal beberapa menit lagi. Jadi mungkin daerah ini “Arcopodo” nya Gunung Ungaran.
Kami lanjut terus, tapi kondisiku tambah drop. Apalagi lihat jalan ke atas makin miring. Banyak batu yang ukurannya belum pernah kulihat sebelumnya. Rasa lemas akibat lapar dan lelah ditambah kondisi tebing yang gelap betul-betul bikin acrophobiaku kumat. Aku nggak berani lihat ke bawah.
Aku terus berusaha, meski harus merangkak. Tapi sebuah batu besar menghentikan langkahku, aku harus lompat ke atasnya. Kalau teledor, bisa-bisa terjun bebas ke bawah. Nyaliku langsung menciut. “Aku senteri, kamu nggak usah takut” begitu kata David.  Aku coba memanjat, malah badanku hampir merosot lagi. “Berdiri kamu” David menyuruhku. “Nggak bisa, aku takut” sahutku terengah-engah. “Kalau nggak berdiri nggak bisa naik” serunya. Aku mencoba lagi. Susah sekali. Fisik dan mentalku betul-betul sudah drop.
Sinin muncul dari belakang “Kalau udah nggak sanggup, mending kita turun aja, daripada nanti kamu kenapa-kenapa. Kapan-kapan kita bisa naik lagi” “Nggak apa-apa mas?” David keheranan. “Nggak apa-apa, kita turun sekarang aja, nanti bikin tenda di kebun teh” jawab Sinin. “Nanti teman lain gimana mas?” tanyaku. “Biarin aja mereka naik”.
Kami memutuskan turun. Aku merasa nggak enak. Tapi kata Sinin “Kita turun langsung, kalau turun besok pagi nanti kamu lebih takut lihat medan yang sebenarnya” Ya, dia bersama David rela nggak ke puncak demi aku. Aku minta maaf pada mereka, dan mereka menjawab tidak apa-apa. Sungguh setia kawan.
Kami istirahat di tempat tenda tadi. Sebetulnya kami mau pasang tenda di sini. Pemandangannya terlihat bagus. Tapi di tempat itu sudah ada dua tenda. Nggak cukup lagi. Jadi, kami di situ cuma numpang menghangatkan badan dan masak mie sebelum lanjut turun ke bawah.
Udara dingin luar biasa, padahal aku sudah pakai jaket dobel. Pikiran dan badanku tak karuan, jadi makan pun rasanya nggak enak. Mungkin betul kata David, kalau naik gunung kita nggak boleh berpikir negatif. Atau bisa juga aku mulai mengalami hipotermia seperti Arial di film 5 Cm.
Sesudah makan, kami turun lagi. Sesekali kami berpapasan sama pendaki yang naik. Mereka tanya, kenapa kami turun. David dan Sinin menjawab bahwa aku takut ketinggian. Memalukan! Tapi ya, mau gimana lagi? Kenyataannya pas turun. kondisiku bukannya kuat lagi malah makin kacau. Aku susah berjalan tegak, sesekali harus main perosotan di batu. Baju dan celanaku sampai belepotan pasir.
Kejadian selanjutnya, bisa dibilang mengerikan. Tiba-tiba saja pikiranku terasa kosong. Aku berlari nggak tentu arah, lalu rebah. Aku tetap sadar, tapi badanku serasa masuk ke dunia lain. David dan Sinin panik.
“Bert, sadar Bert” teriak David sambil menepuk wajahku. Ia bacakan doa di telingaku. “Aku nggak ingat apa-apa, pikiranku kosong” jeritku. “Kamu jangan ngomong gitu, kamu harus sadar”. Sinin yang panik hampir saja melemparkan ranselnya ke arahku biar aku sadar.
Pendaki lain melihat dengan kasihan. “Mas, nyebut mas, istighfar”. Sambil menangis, David baca doa buat menyadarkanku, aku pun berusaha tanggapi sesuai keyakinanku. “Dalam nama Yesus, Haleluya, Puji Tuhan”. 
Untunglah kuasa Tuhan masih berpihak atasku. Aku kembali ingat waktu dan tempat. “Minum dulu” kata seseorang. Aku pun duduk sebentar, sampai kondisiku stabil. David mengajakku mengobrol berbagai hal biar pikiranku tenang. Aku katakan “Aku nggak kuat lagi, kita sampai Pos 3 aja, aku mau tidur”, yang langsung diiyakan oleh David dan Sinin.
Sesudah itu, kami turun lagi. Buat mencegah pikiran kosong, aku putar lagu dari HPku sambil sesekali menyanyi. Sampai di tempat aku jatuh tadi, aku istirahat sebentar. Tiba-tiba pikiranku kosong lagi. David dan Sinin pun harus susah payah menyadarkanku lagi. Entah karena hipotermia atau memang ada "sesuatu" di daerah itu. Untungnya, nggak separah tadi. Aku terpikir buat lakukan jurus menyadarkan orang pingsan secara manual, yaitu mengoleskan minyak kayu putih ke hidung dan leherku.
Apa yang terjadi padaku betul-betul bikin heboh. Andai di gunung ada sinyal internet, mungkin aku udah jadi trending topic di Twitter para pendaki saat itu. Selangkah demi selangkah dan sesekali melorot, akhirnya kami sampai di Pos 3. Tanpa pikir panjang, kami langsung duduk menyelonjorkan kaki sambil makan bekal roti tawar. Aku lemas, perlu berbaring. Tapi untuk mendirikan tenda di sini? David dan Sinin agak kebingungan karena tempatnya tidak terlalu besar.
Biarpun sudah larut malam, masih banyak pendaki yang menuju puncak. Saat itu ada 3 orang pemuda, mereka dua tiga tahun lebih tua dari kami, beristirahat di dekat kami. Katanya sih mereka juga mau ke puncak tapi udah kemalaman. Dari percakapan basa basi, David dan Sinin menceritakan tentang kondisiku. Salah satu dari mereka menawarkan untuk melakukan terapi untukku. Awalnya aku ragu, terapi apa? Ternyata pijat refleksi. Aku pun mengiyakan.
Maka, orang yang belakangan kuketahui bernama Adi itu mulai memijat kakiku. Ya, namanya pijat refleksi rasanya pasti sakit. Aku berusaha tahan, karena aku tahu Adi dan kedua temannya bermaksud baik. Tidak cuma itu, kedua teman Adi yang malu nyebutin nama itu membantu David dan Sinin memasang tenda. Tempat yang sempit mampu disiasati. Tak berapa lama, tenda undah terpasang, aku pun duduk di dalam tenda sementara Adi melanjutkan memijat kakiku. Katanya sih, dia juga lulusan Teknik Informatika di Semarang (aku lupa nama universitasnya), sekarang dia dan kedua temannya bekerja di pabrik.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 dini hari. Sinin memilih berbaring dengan sleeping bag di samping tenda. Sementara David masih asyik berbincang dengan kedua teman Adi. Malahan, tanpa rasa sungkan, kedua orang itu membuatkan teh hangat untuk kami berenam. Aku betul-betul nggak habis pikir, ternyata pendakian gunung bukan hanya mengakrabkan kami dengan alam, tapi juga dengan orang-orang yang nggak kami kenal sebelumnya. Betul-betul luar biasa.

Sayangnya, kebersamaan kami tidak lama. Waktu seakan berputar cepat. Pukul setengah 3 dini hari, Adi dan kedua temannya pamit. David pun masuk tenda untuk tidur, menyusul aku dan Sinin yang hampir terbuai mimpi. 

Bersambung ke Part 3....

Selasa, 18 Agustus 2015

Gunung Ungaran : Kesetiakawanan di tengah Kengerian (Part 1)

Suatu hari, sahabatku, David berkata padaku, “Bert, muncak yo”. Muncak di sini maksudnya mendaki gunung. Aku agak ragu menanggapinya, masalahnya aku belum pernah mendaki gunung selain Bukit Tidar di Magelang. Selain itu, aku juga mengidap acrophobia alias penyakit takut ketinggian. Jangankan berdiri di tebing yang curam, naik eskalator di mal aja suka merinding, seolah-olah tubuhku selalu mengikuti gaya gravitasi.
“Kemana?” aku bertanya. “Ke Gunung Ungaran, nanti 17 Agustus. Ini aku diajak sama temanku, aku disuruh ajak kamu” jawab dia. Aku masih bingung mau jawab ya atau tidak. “Ayolah Bert, ini pengalaman buat kita. Belum pernah kan kita naik gunung bareng-bareng”. Karena David terus merayu biar aku mau, aku menjawab “Ya”
Aku berusaha buang rasa takutku ke tubir laut (hahaha… lebay), tapi seolah rasa takut itu terlalu berat buat dilempar. Makanya, aku segera cari info tentang Gunung Ungaran lewat mbah google. Mulai dari blog perjalanan, grup backpacker sampai ke juru kunci… eh bukan ding... maksudnya sampai ke e-book pendakian gunung. Dari semua itu aku tahu bahwa Gunung Ungaran cocok buat pendaki pemula. Oke bos… berangkat!
David sendiri sudah memikirkan, perjalanan kami bakal seperti film 5 Cm… hahaha… ya,kalau dilihat sejarahnya, sejak awal kuliah, David itu sahabat terdekatku satu-satunya. Mulai dari awal kuliah D3 sampai kami lanjut S1 dan hampir lulus ini, kami selalu bersama-sama. Persahabatan kami dimulai ketika aku menemani dia di depan kampus, tunggu bapaknya menjemput. Ya, dia dengan manja minta aku temani, katanya biar nggak nunggu sendirian. . Selanjutnya, sudah banyak kebersamaan kami, mulai dari kerjakan tugas kuliah, main ke warnet, magang di Jogja, nonton film, pendaftaran skripsi, sampai yang terbaru dia ajak aku nge-gym. Nah, mendaki gunung ini pas buat menghayati tentang persahabatan (lebay lagi..). Ya, seperti di 5 Cm itu. Kebetulan, tepatnya, 14 Agustus, aku ujian skripsi. Jadi pas banget buat merayakan kelulusanku.
Nah, 14 Agustus, saatnya aku ujian. Sudah 2 hari aku menginap di rumah David, karena sejak mulai skripsi, aku tidak lagi ngekost. Benar saja, hari itu aku lulus ujian skripsi, meskipun harus kena revisi. Aku lega banget, separuh bebanku pergi... tapi separuh jiwaku tidak. Dan untuk merayakannya, ya tadi itu, mendaki Gunung Ungaran.

Aku dan David mulai bersiap-siap mempersiapkan ini itu. Bahkan ada beberapa barang yang harus kubeli karena emang nggak punya, yaitu masker, sarung tangan, jas hujan dan senter. Tak lupa beli bekal yang banyak. Lumayan menyedot tabunganku, tapi ya mau gimana lagi? Masa aku naik gunung modal badan doang? David sendiri menceramahiku macam-macam:  jangan ragu melangkah, jangan jalan sendiri, jangan melamun, jalannya begini begitu... pokoknya udah kayak leader pendakian nih anak. Dia memang udah pernah mendaki Gunung Cikuray di Jawa Barat.
Minggu, 16 Agustus 2015 jam 13.00 kami memulai perjalanan. Rombongan kami ada 7 orang, terdiri dari 4 cowok yaitu aku, David, Sinin dan Irul serta 3 cewek yaitu Ima, Atun dan ceweknya Irul yang tak kuketahui namanya. Berkumpul sebentar di rumah Atun buat mengatur perlengkapan, lalu jam 14.00 kami berangkat. Perjalanan lewat Jimbaran dengan 4 motor. Ima dan Atun udah ngebut duluan. Sedangkan yang lain mampir dulu ke Alfamart. Singkat cerita, jam 15.00 kami sampai di Basecamp Mawar, nggak jauh dari Umbul Sidomukti. Sesudah registrasi, kami duduk-duduk dulu. Karena menjelang 17 Agustus, banyak banget pendaki hari itu. Entah terinspirasi dari 5cm atau bagaimana, mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung jadi ritual wajib setiap tahunnya. Jumlahnya ratusan pokoknya. Belum lagi mereka yang sekedar nge-camp alias berkemah di Basecamp Mawar atau Kebun Teh Promasan.


Tepat jam 16.00 atau 4 sore, kami mulai pendakian. Dengan ransel pinjaman dari Sinin, aku mulai melangkah. Diawali dengan sebuah turunan berbatu, jalan makin lama makin menanjak di antara hutan pinus. Terus dan terus naik. Harus hati-hati karena banyak batu. Nafas kami mulai terengah-engah. Keringat mulai bercucuran. Aku sendiri sempat terpeleset sekali. Untungnya, nggak lama kemudian kami sampai di Pos 1. Istirahat sebentar buat minum. Jaket kulepas karena gerah. Pendaki lain lalu lalang di depan kami. Satu yang bikin aku terkesan setiap kali berpapasan di manapun, mereka selalu menyapa “Permisi mas/mbak”. Kami pun membalasnya dengan support “Semangat mas/mbak”, lalu kami tertawa bersama. Aura persahabatan begitu kuat di antara kami biarpun tidak saling kenal.
10 menit kemudian jalan lagi. Jalan menuju Pos 2 lebih banyak jalan landai. Tapi tak sedikit juga tanjakan berbatu dan kita musti ekstra hati-hati. Di Pos 2 rombongan kami bertambah, karena ada beberapa orang teman Irul bergabung. Begitulah, jumlah kami jadi sekitar 11 orang. Jalan lagi! Ups, karena tersandung pasir, aku kembali tersungkur dan… aku harus relakan jam tanganku putus dan bajuku kotor.  Huh! Bukan itu saja, teman-temanku sudah jauh di depan. Aku ketinggalan di belakang bersama Sinin. Untungnya Sinin baik hati, ia mau menemaniku “Pelan-pelan aja mas” begitu katanya.
Jalan setapak berikutnya cukup landai, diapit oleh tebing dan jurang. Di kejauhan, kota Ungaran dan Ambarawa terlihat kecil. Beberapa puluh menit, sebuah mata air yang dilengkapi toilet umum menyambut kami. Banyak pendaki yang istirahat di sini, terutama buat ke toilet atau cuci tangan.
Lanjut tak lama kemudian, kami disuguhi sebuah pemandangan alam yang luar biasa. Kebun teh Promasan nan hijau terhampar luas. Sementara itu matahari meredupkan sinarnya. Kami nggak tahan untuk tidak mengabadikan momen ini. Apalagi aku, si cowok narsis yang punya moto "Segala yang indah tidak boleh dilewatkan"

Langit makin gelap. Kami mulai nyalakan senter masing-masing lalu menanjak naik meninggalkan semua keindahan itu. Dan… mulailah masuk ke hutan rimba. Suasana betul-betul gelap lap, langit nyaris tak tampak karena tertutup pepohonan, jadi serasa masuk ke gua. Di sini, aku mulai rasakan dingin. “Berhenti sebentar, aku mau pakai jaket” teriakku pada teman-teman. David, Sinin dan Irul pun menungguku. “Istirahat aja sebentar mas” kata Sinin. Aku pun minum sambil meluruskan kakiku. Atun dan teman-teman lainnya sudah jalan lebih jauh. Betul-betul Wonder Woman cewek-cewek itu. Tapi tak lama “Sebentar, aku nyusul yang lain, kasihan nggak bawa tenda” Irul pun meninggalkan kami.
Kami hanya tinggal bertiga : aku, Sinin dan David. Setelah istirahat sekitar 10 menit, kami jalan lagi dan sampailah kami ke Pos 3. Hari betul-betul sudah gelap dan nggak ada lampu listrik satupun. Andai lampu senter dimatikan, kami nggak bakal bisa lihat apa-apa. Lewat dari Pos 3. jalan makin lama makin menantang. Batu-batu besar mulai terlihat, akar-akar dan dahan pohon yang tumbang juga banyak. Tanah pun berpasir. Tak jarang kami harus kepayahan memanjat batu sambil melompati dahan pohon.
Dengan berat beban di punggung dan bahuku aku pun berusaha menuju puncak. Eiiiiiit….. tiba-tiba aku terpeleset saat menaiki batu. Dan bisa ditebak, badanku hampir meluncur ke bawah! Aku menjerit minta tolong. “Berdiri mas” kata Sinin  yang berjalan di belakangku. Aku berusaha berdiri. Tapi badanku malah meluncur sejengkal lagi. “Naik sedikit Bert, lalu berdiri, nggak apa-apa” seru David. Aku berusaha memanjat tebing berbatu itu sambil tak hentinya berdoa dan menjerit. Susah sekali. Pasir yang bertebaran berusaha menjatuhkanku. Beberapa pendaki yang lewat melihatku, tapi kebingungan apa yang harus dilakukan?
Untunglah, seorang bapak mengulurkan tangannya. Perlahan dia menarikku ke atas dahan. Fuuuuh leganya. Kakiku terasa sakit, jadi aku harus duduk lagi. “Minum dulu pak” kata seorang cewek berjilbab. Aku pun mengambil air minum dari ransel. Bapak yang menolongku tadi memang memimpin grup yang terdiri dari lima cewek berjilbab itu. “Ya, soalnya saya masih pemula” ujarku. “Memang begini pak, saya juga baru pertama kali” sahut cewek itu. Melihat keadaanku yang melemah, Sinin dengan sukarela membawakan ranselku. Padahal dia sendiri juga bawa ransel segede gambreng! Aku agak tak enak hati, tapi kurelakan aja biar langkahku lebih enak.
Tak lama, kami kembali jalan, David dan Sinin berjalan di belakangku, tanpa sadar aku mengikuti rombongan cewek-cewek itu…hihihi.. “Semangat pak” seru mereka. Dipanggil “bapak”, satu hal yang sebetulnya tak kusukai. Tapi biar deh. Dengan nada bercanda, aku bilang “Jangan panggil pak, saya belum nikah”
Keadaan tidak lebih baik. Batu-batu sebesar meja bikin perjalanan terasa makin jauh aja. Nafasku makin kacau. Apalagi jatuh tadi betul-betul bikin aku shock. Acrophobiaku kumat.
“Istirahat dulu pak, kalau capek”.. hmmm.. cewek-cewek itu perhatian banget ya… hihihi. Aku duduk di sebuah batu. Rombongan cewek itu nggak lama berhentinya. “Ayo pak, lanjut” “Nanti aja, aku tunggu temanku” jawabku. Aku pun ditinggal sendirian di situ.

Aku menunggu David dan Sinin. Sendirian di tengah gunung malam-malam begini. Lama amat. “David, kamu dimana?” teriakku. Nggak ada jawaban. Apa jangan-jangan mereka sudah di atasku? Di kejauhan aku lihat tebing gunung yang gelap dan sepi. Di bawahku, batu-batu besar dan berpasir. Di sekitarku hutan dengan suara gemerisik angin malam. Betul-betul mencekam. Aku nggak terlalu takut gelap. Tapi bermalam di tengah hutan sendirian tetap saja bukan hal yang menyenangkan.

Bersambung ke Part 2.... 

Minggu, 09 Agustus 2015

Solo Travelling (3) : Solo-Wonogiri dengan Railbus Batara Kresna

Wonogiri, Gunung Gandul
Pusat jamu Air Mancur
Dulu gersang, s’karang makmur
Berkat Waduk Gajahmungkur
Wonogiri, Gunung Gandul

Syair lagu di atas mengingatkan aku saat masih duduk di bangku SD. Ya, lagu “dolanan” yang dinyanyikan dengan irama lagu Tanjung Perak itu sering dinyanyikan saat latihan Pramuka. Ceritanya tentang daerah Wonogiri, kabupaten di selatan Jawa Tengah. Tapi pengalamanku kali ini bukan tentang lagu itu lho, tapi beneran tentang kunjunganku ke Wonogiri.
Bagaimana ceritaku bisa sampai ke Wonogiri? Hari ini, aku yang masih dalam masa penantian ujian harus ditinggal ortu pergi ke Banjarnegara untuk acara gereja. Nah, daripada merasakan home alone (gak takut sih sebenarnya, cuma kesepian aja), aku rencanakan solo travelling lagi.
Awalnya aku di antara dua pilihan (kayak judul sinetron aja). Pilihan pertama naik KA Kalijaga jurusan Semarang-Solo lalu jalan-jalan ke Solo. Intinya karena aku pengin naik kereta lewat Grobogan. Pilihan kedua, naik KA Prameks jurusan Jogja-Solo, disambung Railbus Batara Kresna ke Wonogiri. Ternyata, hatiku lebih kuat memilih yang kedua. Aku penasaran dengan moda transportasi baru yang diresmikan oleh Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, pada Maret 2015 ini. Railbus atau bus rel ini diaktifkan untuk mempermudah transportasi Solo-Wonogiri, sekaligus menghidupkan kembali jalur kereta api di daerah itu.
Seperti biasa, dari mbah google, aku ketahui alur perjalanan yang harus kutempuh. Railbus Batara Kresna berangkat dari Stasiun Purwosari, Solo jam 10.00. Jadi setidaknya aku harus naik KA Prameks dari Stasiun Tugu, Jogja yang jam 07.35.
Pagi itu aku betul-betul sport jantung. Jam 6 pagi, bus yang kutumpangi baru berangkat dari Magelang. Jam 07.05 baru sampai di Terminal Jombor. Sempat terpikir buat naik taksi ke stasiun, tapi takut uangku nggak cukup. Akhirnya dengan terpaksa naik bus Trans Jogja. Hampir tiap menit aku lihat jam, andai saja bus ini bisa terbang… eh jangan ding… bisa-bisa bukannya sampai ke Stasiun Tugu malah sampai ke Parangtritis.
Tepat jam 07.30 sampai di depan Stasiun Tugu, aku buru-buru lari ke stasiun. Tapi dasar sial, begitu mau masuk gerbang, para petugas menghentikan setiap orang yang mau masuk. Bukan karena ada razia, tapi karena ada kereta barang lewat. Aku yang sudah lari-lari mau nggak mau harus nunggu. Lebih dari 10 gerbong tuh kereta, jadi cukup menguji kesabaran. Dan yang aku takutkan sejak tadi terjadi di depan mata. KA Prameks yang kuharapkan sudah melaju kencang di rel sebelah sana! 
Tapi bukan Robert namanya, kalau nggak nekat cari alternatif lain. Dengan pedenya aku menuju ke loket. Biar deh, kalau nggak ada kereta ke Solo, kereta jurusan Madiun atau Surabaya juga boleh , asal nggak terlalu mahal. Uang, nanti bisa ambil di ATM kalau kurang, pikirku nakal. Aku tanya ke petugas loket.

Aku : Mbak, kereta yang ke Solo ada jam berapa?
Petugas : Ada Joglo Ekspres jam 08.15 tapi beli tiketnya bukan di sini mas, belinya di pintu selatan Jalan Pasar Kembang.
Aku : Kalau dari sini arahnya sebelah mana, mbak?
Petugas : Ini keluar sampai rel, belok kanan, lurus lalu belok kanan lagi.
Aku : Oke, makasih mbak.

Aku keluar dari stasiun, berjalan ke tempat yang ditunjukkan mbak tadi. Pas lewat rel, ups, tanpa diduga, di kejauhan ada kereta berjalan siap menerkam. Ekstrim banget, aku cepat-cepat lompat pagar pembatas keluar stasiun. Ya, biarpun ada humor yang mengatakan ketabrak kereta itu nggak terasa sakit, tapi jangan coba-coba lah ya.
Berjalan terus lewat Jalan Pasar Kembang, daerah yang sering dicap negatif sebagai tempat “begituan”. Tapi toh, nyatanya aku lewat dengan mulus, nggak ada gangguan sedikit pun, sampai ke pintu selatan stasiun. Ternyata sejak 7 Juli 2015, penjualan tiket kereta lokal pindah ke  pintu selatan ini.

Sesudah beli tiket seharga Rp. 20.000 aku langsung ke tempat pemeriksaan tiket, lalu naik ke kereta. Dari nomor tiketnya sih gerbong 1 kursi 15 A. Aku sempat bingung cari tempat itu, sampai harus tanya ke petugas. Eh, tapi dasar norak, aku nggak bisa bedain gerbong depan belakang. Alhasil, bapak petugas itu musti 3 kali jelasin. Maaf ya pak.
Dan kereta berangkat. Jes.. jes.. jes… bukan jug gijag gijug, soalnya ini kereta pagi…wkwkwkwk. Agak lama, aku mulai pusing. Ternyata kalau naik kereta itu lebih enak hadap depan daripada hadap belakang. Untungnya, nggak lama, jam 09.10 kereta udah sampai di Stasiun Purwosari.

Begitu turun, aku ke toilet dulu. Gratis lho toilet di sini, nggak usah bayar. Habis itu, cari loket tiket KA Perintis alias Railbus Batara Kresna. Cukup Rp. 4.000 buat satu orang, betul-betul murah meriah. Tapi eit.. aku baca tiketku kok “tanpa tempat duduk”, berarti aku musti berdiri nanti?
Masih tunggu sekitar 40 menit, aku keliling keliling dulu di stasiun. Ada seorang ibu, pemilik warung makan, menyapaku dengan keramahan khas Solo. “Monggo mas, mampir dulu, mau makan soto ayam atau pecel? Minumnya ada kopi, teh, es buah.”. Kelemahlembutan sang ibu membuatku tergoda (bahasanya bro..). Aku putuskan mampir, tapi karena sudah makan nasi di rumah, aku cuma pesan segelas kopi dan mencomot dua potong tahu goreng.
Setelah membayar (ya iyalah, kan beli bukan dikasih!), aku kembali ke peron stasiun. Dan Railbus Batara Kresna pun datanglah. Wow, bagus banget keretanya. Kereta ini cuma terdiri dari 4 gerbong. Jadi kupikir wajar lah, kalau pas ramai kita nggak dapat tempat duduk. Karena tiketku tadi juga tertulis tanpa tempat duduk, aku sengaja duduk di peron dulu, nanti kalau udah kurang 5 menit baru naik.



Tapi perkiraanku rupanya salah besar. Begitu masuk ke sebuah gerbong, kondisinya betul-betul sepi. Petugasnya malah mempersilahkanku duduk di “tempat terhormat”, alias bangku yang menghadap ke depan, biar enak, gitu katanya. Dan beberapa penumpang naik. Akhirnya, sampai berangkat, gerbong yang kutempati cuma berisi 8 orang : aku sendiri, seorang cowok, seorang cewek, tiga ibu dan dua anak kecil.
Aku sempat mengobrol dengan salah satu ibu. Hari itu dia bermaksud mengajak cucunya naik kereta bersama beberapa saudara. Berangkat dari Sukoharjo, sampai di Solo, habis itu balik lagi ke Sukoharjo. Ternyata nggak sedikit warga yang menggunakan transportasi ini untuk sekedar jalan-jalan PP alias pulang pergi, apalagi dengan adanya railbus ini jalur KA Solo-Wonogiri diaktifkan lagi sesudah absen beberapa tahun. Railbus ini kadang melewati jalan yang ramai, salah satunya Jalan Slamet Riyadi. Jadi nggak melulu kita lihat pemandangan desa atau hutan. Karena lewat dekat jalan raya, nggak heran kalau kecepatannya cuma sekitar 10-30 km per jam. Kadang-kadang agak ekstrim juga, ada rumah-rumah tepat di pinggir lintasan kereta, atau lewat jembatan layang di atas kota.
Railbus 3 kali berhenti buat naik turun penumpang : Stasiun Solo Kota, Stasiun Sukoharjo dan Stasiun Pasarnguter. Barulah kemudian perhentian terakhir di Stasiun Wonogiri. Sepanjang perjalanan, nggak banyak penumpang naik. Kebanyakan orang tua yang ingin mengajak jalan-jalan anaknya. Jadi suasana kereta diramaikan oleh keusilan anak-anak… hahaha.. Anak-anak tuh kadang suka manjat pegangan di kereta, atau lari-larian di dalam gerbong. Untungnya, saat itu cuma ada dua anak di dekatku, jadi aku nggak merasa terganggu.

Sampai di Wonogiri tepat jam 11.45. Baru aja turun, aku langsung buru-buru beli tiket lagi. Tapi karena masih setengah jam, aku cari makan siang dulu. Pilihanku jatuh pada warung makan di seberang stasiun, aku pesan nasi pecel dengan telur ceplok. Pecelnya lumayan bikin aku terengah-engah karena puedes, tapi aku udah pesan penawarnya : es teh.
Oh ya, Stasiun Wonogiri ini bukan hanya melayani tiket KA Batara Kresna saja lho. Bisa juga pesan tiket KA lain yang ada di Stasiun Solo. Di sebelah barat stasiun ada terminal bus kecil, yang kata orang Jawa disebut bus engkel. Di sebelah utara adalah Pasar Wonogiri. Sayangnya, aku nggak bisa jelajah lebih jauh, tinggal 15 menit, bisa-bisa ketinggalan. Kalau ketinggalan, pulangnya gimana ya?

Aku naik lagi ke railbus. Gak pake lama, railbus jalan lagi. Kembali penumpangnya kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak. Tapi kali ini minta ampun deh. Anak-anaknya rame banget, lari kesana kemari. Eh, ibu-ibunya malah pada ngerumpi. Mantabs ributnya. Biar aku nggak dipusingkan sama suara mereka, aku pasang earphone dengerin lagu. Dan biar lebih sesuai sama suasana kota Solo, aku sengaja putar lagu campursari. Alhasil, di kupingku, suara Didi Kempot bersahut-sahutan dengan suara ibu dan anak itu. Hihihi…
Tiba di stasiun Purwosari lagi! Terima kasih Railbus Batara Kresna! Jam 2 siang sekarang. Artinya aku cuma punya waktu 7 menit lagi buat naik KA Prameks ke Jogja. Aku segera ke toilet dan beli tiket seharga Rp. 8.000. Dan, seperti tadi di tiketku tertulis “tanpa tempat duduk”. Tapi pas aku naik ke kereta, toh tetap ada tempat duduk kosong. Kalau bisa duduk, ngapain berdiri? Keretanya sih nggak sebagus Joglo Ekspres, apalagi Batara Kresna, tapi lumayan enak juga kok.
Sekitar jam 15.15, aku sudah menjejak Stasiun Tugu lagi. Sebenarnya udah waktunya pulang. Tapi belum puas, aku pengin jalan-jalan di Malioboro dulu. Buatku, kota Jogja memang sangat berkharisma, biarpun udah ratusan kali aku ke sini, tapi nggak pernah bosen. Ya, biarpun sore itu perlu bersabar dengan antrean kendaraan pulang kerja yang bikin aku susah nyeberang. Beberapa tukang ojek menawarkan jasa, tapi aku tolak karena Malioboro nggak jauh lagi.

Di Malioboro,ya, sekedar JJS (jalan-jalan sore) aja, nggak beli apa-apa tapi udah puas. Tak jarang ketemu rombongan bule yang lalu lalang dari Malioboro sampai titik nol. Bahkan, sampai menyeberang ke Bank Indonesia pun bareng dengan serombongan keluarga bule. Aku tetap jalan aja, tanpa sempat menyapa “Hello mister”.


Barulah perjalanan hari ini kuakhiri di depan Taman Pintar. Aku segera mendekati halte Trans Jogja, untuk kemudian pulang ke Magelang via Terminal Jombor. Sampai jumpa!

Lagu Masa Lalu (31) : The Banana Boat Song (Day-O)

Day-o, day-o Daylight come and me wan' go home Day, me say day, me say day, me say day Me say day, me say day-o Daylight come and me wan...