Rabu, 06 Juni 2018

My Second Backpaker (Part 1) : Senja di Pantai Marina


Bisa dibilang liburan kali ini paling memusingkan buatku. Penginnya ke tempat yang spektakuler (bukan Indonesian Idol lho), sayangnya budget sedang tipis dan ada masalah dalam pekerjaan (tapi nggak perlu kuceritakan itu apa).

Awalnya Jepara jadi pilihanku, tapi begitu searching info, tarifnya kurang terjangkau kantong. Surabaya? Apalagi itu, kejauhan! Bisa bolong kantongku (padahal kalau nggak bolong, gimana nyimpan duitnya?)

Tiba-tiba aku teringat kereta api Kedungsepur jurusan Semarang-Ngrombo. Aku pengin banget mencoba kereta itu, cuma karena jadwalnya pagi-pagi, aku harus menginap di Semarang.

Akhirnya deal, aku pesan penginapan di Semarang. Aku memilih yang cukup murah, yaitu DS Layur Hostel di Jalan Layur. Kelebihan lain, hostel ini  dekat dengan Stasiun Tawang, kalau kita kuat, jalan kaki pun terjangkau.

Maka, 14 April 2018, tepat saat itu hari Isra Miraj, aku berangkat ke Semarang. Karena takut kehabisan tiket kereta, aku langsung menuju loket Stasiun Tawang. Tapi oh…. sialnya, tiket KA Kedungsepur hanya tersisa tiket untuk berdiri. Aku pikir, bisa tepar kalau hampir 2 jam berdiri di kereta. Apalagi saat liburan seperti ini kan banyak orang tua yang mengajak anak-anak. Pasti berisik banget. Dengan lunglai dan tangan hampa aku keluar dari stasiun.

Huh.. kalau nggak sayang uangnya, aku udah batalkan menginap, dan pulang ke Magelang. Sambil menyusuri jalan di Kota Lama Semarang, aku berpikir, harus kemana aku?  Apa pun terjadi, aku harus tetap mengunjungi suatu tempat, dan itu harus di luar kota Semarang. Aku udah puluhan kali mengunjungi Semarang, jadi harus ada suasana baru.

Dengan diantar Gojek, aku sampai di Jalan Layur ,Semarang Utara (ngomong-ngomong daerah ini punya cerita tersendiri, tunggu ya di postingan berikutnya). Tepat di pojok jalan adalah tempatku bermalam nanti, namanya DS Layur Hostel.. Jangan bayangkan hotel mewah, karena bentuk hostel ini mirip sebuah ruko besar. Ruang receptionist pun terkesan seadanya, malah terlihat kurang rapi karena ada tumpukan kasur yang diletakkan begitu saja.




Setelah check in dengan menunjukkan KTP dan voucher pesanan dari Traveloka, seorang petugas mengantarku ke kamar di lantai 2.

Kamar yang kutempati adalah Single Budget Room. Aku memang sengaja pilih kamar ini biarpun ada kamar Dormitory yang lebih murah. Aku pengin bisa tidur tenang, nggak terganggu sama orang yang suka telepon pacar sampai tengah malam (maklum, jomblo negatif).



Harga 76 ribu per malam termasuk murah buat kamar ini. Ruangannya nggak terlalu besar, tapi tempat tidurnya nyaman banget. Udah gitu ada AC nya, yang bisa bikin sejuk. Wah, dengan segera aku rebahkan tubuhku. Oh ya, selain fasilitas kasur, lemari, dan air mineral, aku juga dapat sabun mandi, odol dan sikat gigi. Tapi karena aku udah bawa perlengkapan mandi sendiri, jadi nggak kupakai.

Sambil tiduran, aku merenung. Bukan soal cinta, tapi lagi-lagi soal besok mau ke mana. Demak? Ada apa di sana? Aku nggak mau kalau sekedar muter-muter keliling kota. Jepara? Terlalu jauh, nanti waktunya malah habis di jalan. Ah, tahu begini tadinya aku menginap di Kudus atau Jepara aja.

Asyik tiduran, tahu-tahu udah sore. Aku siap-siap mandi. Kamar mandinya ada di luar kamar alias shared bathroom. Jujur aku kurang suka dengan kamar mandi ini. Selain sempit, fasilitasnya minim, cuma ada shower dan satu gantungan kecil.  Lebih horor lagi, tembok pembatas kamar mandi tidak terlalu tinggi. Awas aja kalau ada yang ngintip! (Maaf ya, buat pengelola hotel, aku bukan mau mencela, tapi biar jadi masukan lah, soalnya orang yang menginap kan beda-beda)

Setelah mandi dan ganti pakaian, sekarang aku mau jalan-jalan sore dulu. Nah, sore-sore begini kan paling asyik lihat sunset di pantai. Jadi, aku pun memesan Gojek untuk mengantarku ke Pantai Marina. Dengan cepat, motor itu bergerak ke daerah pelabuhan Tanjung Mas. Mungkin karena jalan yang dilewati “kurang umum”, abang Gojeknya agak bingung memilih jalan. Apalagi kondisi jalan banyak lubang akibat rob, lumayan bikin sport jantung juga. Berulang kali aku tahan nafas, selain karena bau air sungai yang kotor juga akibat motor berguncang keras.

Sempat hampir tersasar, akhirnya aku sampai di gerbang Pantai Marina. Langit sudah mulai gelap. Dengan tiket seharga Rp. 5000, aku masuk ke kawasan pantai. Tapi yaaah… sepertinya aku nggak bisa menikmati suasana. Pantai ini sangat ramai pengunjung.

Pantai Marina sebenarnya adalah sebuah laguna atau teluk. Tidak ada ombak besar seperti di pantai selatan Jawa. Dilihat sepintas lebih mirip kolam raksasa. Nggak heran, jika pantai ini aman buat berenang. Sore itu, banyak anak-anak yang sedang main air bersama orang tuanya.

Dengan keadaan begini nggak mungkin aku ikutan berenang. Malu banget lah, udah gede begini. Jangankan menceburkan diri, duduk sambil merendam kaki aja harus diurungkan karena saking penuhnya. Akhirnya aku berjalan terus menyusuri sepanjang pantai, terserah mau ke mana.



Semakin jauh berjalan, masih saja keramaian yang kutemui. Cuma bedanya, di sini bukan lagi tempat main air, tapi pemancingan. Ombak laut berdesir di antara batu-batu besar. Beberapa kapal ditambatkan pada beberapa tiang. Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam. (Beneran, bukan sekedar lagunya Iwan Fals). Yes, pemandangan sunset melingkupi sepanjang Teluk Semarang.





Di sebelah timur, nampak kelap-kelip lampu Pelabuhan Tanjung Mas. Sebenarnya di sana ada satu pantai lain, namanya Pantai Baruna. Sayangnya, kalau mau ke sana aku harus berjalan memutar karena terhalang perairan. Apalagi akses jalan ke sana agak sulit.

Berhubung hari mulai gelap, aku nggak bisa lebih lama di sini. Aku harus balik ke pintu masuk Pantai Marina. Sengaja aku pilih jalan yang berbeda, yaitu lewat perumahan di belakang kawasan pantai. Kebanyakan rumah di sini besar dan bagus, mungkin villa milik orang-orang kaya di Semarang.

Lewat jalan yang sepi ini aku jadi kayak orang hilang. Untunglah, aku berhasil menemukan gerbang loket tadi. Segera kupesan Gojek untuk pulang ke hotel. Dan….persis seperti berangkat tadi, aku dibuat deg-degan oleh jalan yang rusak plus abang Gojek yang nggak paham jalan. Makanya, begitu memasuki Jalan Layur, lega hati ini.