Kamis, 26 Juli 2018

My Second Backpacker (Part 3- habis) : Kisah Kampung Multietnis di Semarang


Teng! Waktu menunjukkan jam 12 siang. Biarpun tubuh masih ingin tidur, tapi kantong nggak mau kena charge biaya tambahan, jadi aku harus check out. Segera kupakai bajuku dan kurapikan semua barang. Lalu turun ke bawah, kembalikan kunci dan ambil KTP. Terima kasih DS Layur Hostel!

Kembali aku melangkah dari Jalan Layur ke Kota Lama. Ngomong-ngomong apa sih keistimewaan daerah ini? Inilah ceritanya:



Kampung Layur ini disebut juga Kampung Melayu. Di masa kolonial, daerah ini adalah pusat perdagangan. Banyak pedagang dari mancanegara yang datang mengadu nasib. Utamanya adalah pedagang dari Arab, yang sekaligus menyebarkan agama Islam. Dalam perkembangannya, tak sedikit keturunan mereka yang menetap di Semarang. Begitulah, saat melewati daerah ini kita serasa masuk ke perkampungan di Malaysia atau Timur Tengah. Bangunan tua peninggalan masa lalu juga bertebaran.

Tidak hanya keturunan Arab yang bermukim di sini. Etnis lain juga ada seperti China, India, Banjar, dan sebagainya. Tak heran, terdapat beberapa lorong atau gang yang bernama Kampung Banjar, Kampung Cirebonan, Kampung Peranakan dan beberapa lainnya. Meski multietnis, kita tidak perlu takut soal bahasa, karena mayoritas warga di sini sudah fasih berbahasa Indonesia dan Jawa.








Kekurangannya? Rob! Eh, tunggu dulu, ini bukan nama panggilanku lho. Rob adalah air laut pasang yang menyebabkan banjir dan pengikisan tanah. Akibatnya daerah ini terlihat kumuh, jalan rusak dan sering banjir bila hujan lebat. Kondisi ini berpengaruh juga ke eksistensi Kampung Melayu. Banyak warga yang kemudian pindah ke tempat lain, sehingga kini warga keturunan jumlahnya tinggal sedikit. Rumah-rumah yang dulu ditinggali pun banyak yang tidak terawat, bahkan sebagian sudah diuruk tanah.







Bangunan tua yang paling terkenal adalah Masjid Layur yang dibangun pada abad ke-18 oleh ulama dari Arab. Masjid dengan menara setinggi 10 meter ini sampai kini masih digunakan untuk tempat ibadah. Hanya saja, tidak seperti dulu. Lagi-lagi akibat rob, lantai satu tidak lagi difungsikan. Tinggi bangunan pun berkurang karena amblas. Konon ada tradisi unik yang dilakukan warga di sini yaitu minum kopi Arab sambil ngabuburit menunggu adzan Maghrib.




Selain masjid, tak jauh dari sini kutemukan sebuah kelenteng kecil. Tempat ibadah bagi warga Tionghoa yang beragama Konghucu. Nuansa China sangat terasa dengan beberapa patung naga di bagian atap





Aku ingat semalam saat cari makan. Jalan yang kulewati sangat minim penerangan hingga terkesan “horor”. Ya karena penyebab di atas, banyak bangunan tua yang tidak terawat. Mungkin seharusnya kawasan ini dirapikan agar jadi cagar budaya seperti halnya Kota Lama. Sayang jika peninggalan masa lalu harus hilang terkikis oleh robert… eh salah… rob…