Sabtu, 31 Desember 2016

Penyanyi Masa Lalu (9) : Arie Wibowo, Bagian dari Sejarah Keluargaku


Engkau yang cantik
Engkau yang manis
Engkau yang manja
Selalu tersipu, rawan sikapmu
Di balik kemelutmu

Di remang kabutmu
Di tabir mega-megamu
Kumelihat dua tangan
Dibalik punggungmu

Madu di tangan kananmu
Racun di tangan kirimu
Aku tak tahu
Mana yang akan kau berikan padaku
Aku tak tahu
Mana yang akan kau berikan padaku

Arie Wibowo dalam video klip Madu dan Racun

Buat ayah ibu atau om tante, yang melewatkan masa remaja di tahun 1980-an pasti tahu lagu di atas. Penyanyinya adalah Arie Wibowo, yang tergabung dalam grup Bill & Brod. Tapi jangan salah, Arie Wibowo yang ini beda dengan Arie Wibowo yang adiknya Ira Wibowo.
Arie Wibowo lahir di Salatiga, 5 April 1952. Meski terlahir dari keluarga sederhana, sejak kecil ia sudah menunjukkan bakat bermusik.
Awalnya Arie Wibowo bergabung dengan Prambors Vocal Group. Pernah juga ia membentuk Topan Group. Sampai akhirnya, bersama Nyong Anggoman, Rully Bachri, Wawan Konkos dan Kenny Damayanti, ia membentuk grup Bill & Brod. Posisi Arie Wibowo di sini adalah vokalis dan gitaris. Justru di sinilah, namanya terkenal.
“Madu dan Racun” menjadi trademark penyanyi yang punya ciri khas topi baret dan kacamatan hitam ini. Lagu ini adalah hasil remake dari salah satu lagu Prambors Vocal Group yang berjudul “Bingung”. Pada tahun 1985, “Madu dan Racun” adalah lagu paling populer di Indonesia.
Begitu larisnya lagu ini, sampai-sampai dibuat sebuah film dengan judul sama, yang dibintangi oleh Rico Tampatty dan Nurul Arifin. Ceritanya tentang sepasang muda mudi yang saling bimbang satu sama lain, karena punya latar belakang buruk soal cinta, si cowok playboy dan si cewek playgirl.
Lagu lainnya, “SIngkong dan Keju”, juga tak kalah menarik. Menceritakan cinta antara dua orang yang berbeda status sosial. Lagu ini juga yang melejitkan istilah “anak singkong”.
Uniknya, Bill & Brod sering menyelipkan suasana ramai dalam rekaman lagunya. Jadi pendengar akan dibawa dalam suasana “konser live”, di mana ada sorakan dan tepuk tangan penonton. Konon, hal ini terinspirasi dari band Art Company yang booming saat itu.


Kepopuleran Bill & Brod melejit hingga akhir 1980-an dengan beberapa hits lain, seperti "Harap Maklum", “Astaga”, “Kodokpun Ikut Bernyanyi” dan “Ida Ayu Komang”. Dan hampir semua lagu di album mereka adalah ciptaan Arie Wibowo sendiri.. Sayang, memasuki tahun 1990-an, namanya mulai tenggelam.
Lantas kenapa aku kasih judul di atas begitu? Apa hubungan Arie Wibowo dengan sejarah keluargaku?
Asal tahu aja, Arie Wibowo masih ada hubungan kerabat dengan papaku. Konon, nenekku yang biasa dipanggil Mak Kiem, punya sepupu, sebut saja Mak Ru. Mereka adalah wanita asli Jawa (kelahiran Banyubiru, Kabupaten Semarang) yang menikah dengan orang Tionghoa. Begitu dekatnya mereka, sampai-sampai Mak Ru dianggap sebagai adik oleh Mak Kiem.
Nah, Arie Wibowo adalah anak dari Mak Ru ini.
Ketika aku masih kecil, Mak Ru kerap datang ke Magelang, tempat tinggal kami. Demikian juga Arie Wibowo, pernah beberapa kali berkunjung bersama istri dan anaknya. Setiap kali menghasilkan rekaman terbaru, Om Arie selalu memberikan kasetnya pada papaku. Sampai sekarang, kaset itu masih tersimpan. Pernah juga aku bersama sepupuku foto bareng sama Om Arie, sayang fotonya udah rusak.
Setelah Mak Ru dan Mak Kiem tiada, aku tidak pernah lagi bertemu Om Arie. Yang kudengar, dia punya studio musik di Bandung. Sampai akhirnya, kabar duka kudengar lewat radio, bahwa Arie Wibowo meninggal dunia pada tanggal 14 April 2011 di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta.

Di saat aku berambisi jadi penyanyi sekarang ini, aku sering teringat Om Arie. Andai saja dia masih hidup, aku ingin sekali belajar banyak darinya. Anak daerah yang berhasil di kancah nasional. Ah, mudah-mudahan kelak aku bisa seperti dia. Semoga. 

Link video:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar