Kamis, 31 Desember 2015

Solo Travelling (4) : Purworejo, dari Benda Pusaka hingga Bukit Nan Hijau

Sewaktu kecil, agenda wajibku setiap pergantian tahun adalah berlibur. Pokoknya tiap mendekati 1 Januari, pasti deh aku mengajak orang tuaku (sambil sedikit merengek) buat pergi ke suatu tempat. Ya, memang, kami sekeluarga beberapa kali mengadakan liburan pada 1 Januari, entah itu ke Pantai Parangtritis, Kaliurang, bahkan pernah sampai ke Guci di Tegal. Mungkin karena itulah, aku yang waktu itu belum ngerti apa-apa menganggap itu adalah tradisi. Seiring berjalannya waktu, kebiasaanku itu hilang dengan sendirinya.
Tapi, akhir tahun ini, sindrom itu kembali menyengatku. Bedanya, sekarang aku nggak mau ngrepotin ortu, soalnya aku udah besar, face dan bodyku sekarang udah pantas jadi bapak (ngomong opo…). Di samping itu, aku kan penggemar solo travelling.

Udah deh basa-basinya. Yang pasti, sekarang kemana tujuanku? Sempat terpikir mau naik kereta api Kalijaga dari Semarang ke Solo. Setelah kuperhitungkan, duitku cukup sih sebenarnya, tapi di awal tahun nanti aku ada rencana lain  yang bakal makan budget besar (apa itu, kujelaskan di postingan selanjutnya). Di samping itu, jalan-jalan di Solo udah pernah. Maka aku putar haluan. Dan, kota Purworejo jadi pilihanku. Jadi, dengan menumpang bus Magelang-Purworejo, berangkatlah aku ke kota yang berjarak 44 km dari Magelang ini.

Tugu identitas kota Purworejo
Satu setengah jam, barulah aku sampai di Purworejo. Sesuai petunjuk kernet bus, aku turun di Plaza Purworejo untuk kemudian jalan kaki ke alun-alun. Berbekal peta yang aku print screen dari Google Maps, aku jalan. Jaraknya 1 km lebih, wah lumayan juga.
Sebetulnya tujuan pertamaku adalah Museum Tosan Aji. Tapi di tengah jalan, aku lihat bangunan eks Stasiun Purworejo. Dari papan namanya, ternyata bangunan ini termasuk bangunan cagar budaya yang dilindungi. Sesuai sloganku kalau travelling “segala yang indah tidak boleh dilewatkan”, aku pun tergoda untuk masuk. Siang itu, tidak banyak pengunjung, hanya ada beberapa anak muda asyik berfoto. Tak ada penjual tiket, mungkin bangunan ini dibuka untuk umum, tentunya dengan syarat tidak merusak.

Eks-Stasiun Purworejo yang kini bangunan cagar budaya.
Bangunan stasiun ini tidak terlalu besar. Kondisinya sangat bersih dan terawat dengan mempertahankan arsitektur tempo dulu. Di dalamnya ada beberapa papan dokumentasi berbentuk bilik layaknya museum. Yang tertulis di situ tidak hanya sejarah perkereta apian, tapi juga sejarah kota Purworejo sejak masa prasejarah. Ada juga dokumentasi renovasi stasiun seperti perbaikan atap dan pintu.

Papan dokumentasi
Menurut penjelasan di situ, konon Purworejo bernama Pangalihan, bekas bagian Kerajaan Galuh yang kemudian berubah nama menjadi Bagelen. Pada zaman kolonial, Kadipaten Bagelen diserahkan penguasaannya kepada pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian menjadikannya kota tangsi militer. Kondisi Purworejo yang subur sempat pula menjadi target tanam paksa pada tahun 1830.
Stasiun Purworejo ini dibangun pada abad ke-19 oleh Pemerintah Hindia Belanda lewat perusahaan bernama Staats Sporwegen. Stasiun ini sudah ditutup sekitar tahun 2010 dengan KA Feeder Purworejo (jurusan Purworejo-Kutoarjo) sebagai kereta terakhirnya. Karena sangat lekat dengan sejarah perkeretaapian di Indonesia, PT KAI menetapkan bangunan ini sebagai bangunan cagar budaya.
Puas membaca, aku beranjak ke bagian belakang stasiun. Di bagian belakang ini pun terdapat halaman luas, yang adalah peron. Rel kereta api masih utuh. Bahkan, jam besar untuk mengatur keberangkatan kereta masih tergantung di dinding.
 
Peron stasiun
Aku keluar dari stasiun, meneruskan perjalanan ke Museum Tosan Aji. Museum ini letaknya nggak jauh dari Alun-alun Purworejo. Di museum ini tersimpan benda-benda pusaka seperti tombak dan keris, yang konon dianggap bertuah menurut kepercayaan dinamisme. Memang, sebagai umat Kristen yang taat,  haram bagiku buat mempercayai benda itu. Tapi kalau sekedar melihat warisan sejarah dan budaya, apa salahnya.
 
Museum Tosan Aji
Begitu masuk museum, aku agak bingung dengan suasana yang sepi. Bahkan, meja receptionist yang sekaligus berfungsi sebagai loket nggak ada orang sama sekali. Untuk mengatasi kebingungan, aku melihat-lihat papan petunjuk di ruangan itu. Tercantum di situ mengenai pengertian tosan aji, sejarah pembuatan keris di pulau Jawa mulai dari zaman Kerajaan Kahuripan sampai Indonesia yang sekarang beserta nama empu (pembuat keris) yang terkenal. Ada juga tata cara pembuatan keris hingga upacara jamasan yaitu pembersihan benda pusaka.
Tak lama, seorang wanita masuk. Ia adalah petugas di sini. Dengan ramah, ia bertanya “Mau masuk mas?”. Aku menjawab “Ya mbak”. Aku pun membayar tiket seharga 1000 rupiah. Jujur saja, aku agak tak enak hati. Biaya yang murah sangat kontras dengan museum yang sepi di masa liburan seperti sekarang.
Aku pun melanjutkan membaca papan petunjuk. Tiba-tiba, aku tertarik melihat seperangkat peralatan di dekat pintu masuk “Itu peralatannya ya mbak?” tanyaku. “Ya, itu buat bikin keris, alat buat menempa besi”. Mbak petugas itu memencet sebuah tombol dan bara api di situ menyala. “Ini bara api buat melebur logamnya”. Aku memperhatikan sambil mengarahkan kamera HPku.
 
Alat menempa besi dan melebur logam
Selanjutnya, aku ditunjukkan bahan pembuatan keris. Ada besi, baja, pamor (hiasan pada keris), hingga bakal keris. Dalam pembuatan keris tidak boleh sembarangan. Harus memilih logam khusus. Prosesnya pun tidak mudah, karena ukuran dan bentuk harus disesuaikan berdasarkan tujuannya. Bahkan, perlu disediakan sesaji dalam pembuatannya. 
Masuk ke dalam, aku melihat beraneka macam keris. Dipajang pula di situ, bagian-bagian dari keris seperti wrangka (sarungan keris) dan mendak (pelengkap ukiran). Juga keris dalam beberapa gaya seperti gaya Cirebon, Surakarta dan Yogyakarta. Mengingat benda pusaka, sebagian besar benda di situ disimpan dalam lemari kaca agar tidak dipegang sembarangan. Tidak cuma keris yang disimpan di sini. Ada juga senjata lain seperti tombak, belati bahkan samurai yang konon berasal dari Jepang. Benda-benda di sini selain dari penemuan arkeolog, ada juga yang berasal dari keraton atau masyarakat yang sengaja dititipkan di museum untuk dilestarikan. Pernah ada yang menitipkan jenglot di sini, tapi kata mbak petugas, sudah diambil lagi oleh yang punya. 

Beberapa bentuk keris

 
Aneka macam keris beserta sarungnya.

Tombak besar
Saat aku asyik melihat-lihat, ada seorang bapak bersama anak kecil datang. Menariknya, si anak kelihatan antusias memperhatikan benda warisan budaya di sini. Ya, seperti kata mbak petugas, museum ini cukup baik untuk belajar sejarah. Tidak jarang, anak-anak sekolah study tour ke sini. Makanya, kalau ada yang menganggap museum membosankan adalah salah besar.
Mbak petugas mengantar kami ke ruang yang lain. Di sana terdapat benda-benda lain hasil temuan arkeolog, khususnya yang ditemukan di sekitar Purworejo. Ada arca Dewa Siwa dan Dewa Ganesha, ada juga lingga dan yoni, yaitu batuan candi yang menggambarkan (maaf) alat kelamin pria dan wanita.
Masuk semakin dalam, aku lihat seperangkat gamelan yang kata mbak petugas adalah peninggalan Bupati Purworejo pertama. Tak cuma itu, ada juga batu andesit, guci kuno, alat serpih, fosil kayu, sampai menhir (tugu pemujaan leluhur dari zaman batu)
 
Seperangkat gamelan peninggalan masa lalu
Tiba-tiba aku lihat sesuatu yang aneh, ada batu berbentuk tangan di lemari kaca.  Hmm.. apa ini fosil tangan manusia purba? “Mbak, ini apa?” tanyaku. “Itu patahan arca. Kadang ada arca yang ditemukan tidak utuh” jawabnya. Aku ketawa geli “Oh, saya kira ini fosil’.

Ini nih, patahan arca yang kukira fosil.
Tak lama, bapak dan anak tadi keluar dari museum. Aku pun sesudah puas lihat-lihat dan jepret sana sini, segera pamit pada mbak petugas. Tidak lupa kuucapkan terima kasih.
Di seberang museum, angkot jurusan Purworejo-Kutoarjo lewat. Aku langsung menyetop dan naik. Bukan berarti aku mau ke Kutoarjo lho… aku mau balik lagi ke Plaza Purworejo.
Udara panas banget, bikin aku haus berat, biarpun di tas ada air minum. Aku langsung teringat dawet ireng (hitam) khas Purworejo. Siang begini minum es dawet pasti nikmat. Sayangnya, aku nggak temukan di daerah pertokoan ini.  Terpaksa aku langsung jalan kaki ke arah Jalan Magelang-Purworejo, menuju destinasi terakhir : Bukit Geger Menjangan.
Tapi hei… di pinggir jalan aku lihat penjual dawet ireng. Dengan segera, aku pesan ke mas penjualnya, es dawet semangkuk, minum di sini. Dan nggak pakai lama, terhidang di depanku. Hmmm… dawet dengan kuah santan dan gula merah, manis dan segarrrr…. Berbeda dengan dawet ayu Banjarnegara, dawet di sini cendolnya berwarna hitam karena dicampur air abu merang, dicetak tipis-tipis seperti bihun. Harganya cukup 2500 rupiah saja.
Sesudah itu, aku jalan lagi menuju bukit Geger Menjangan. Bukit ini letaknya di belakang kolam renang Artha Tirta. Tepat di tepi jalan Magelang-Purworejo. Kenapa aku ke sini? Berdasarkan info dari mbah google, di puncak bukit ini ada gardu pandang, dimana kita bisa lihat kota Purworejo dari atas
Aku sempat salah masuk, karena di situ ada juga taman kota yang juga dinamai Geger Menjangan. Biarpun begitu, taman ini juga cukup menarik karena tertata rapi. Orang-orang memanfaatkan taman ini untuk bersantai atau mengajak anak-anak bermain. Aku sempat istirahat sebentar di bangku taman.
 
Taman kota dengan latar belakang perbukitan
Jalan beberapa puluh meter kemudian, sampailah aku ke kaki bukit. Suasana tampak sepi. Hanya beberapa orang di warung makan dekat situ. Aku pun membayar 2000 rupiah buat mendaki ke puncak. Sempat tanya ke bapak-bapak di situ “Jauh nggak pak?”. Dia jawab “Nggak”. Ya, aku pun pede buat masuk dan mendaki.
Perjalanan diawali dengan jalan setapak lewat rumah-rumah warga. Begitu masuk jalan menuju puncak, aku disambut puluhan anak tangga. Aku segera naik, berharap cepat sampai. Ternyata perkiraanku salah. Habis anak tangga tadi langsung disambung tangga lainnya. Untungnya, jalan di sini sudah dicor semen, jadi lebih aman. Biarpun begitu, kita tetap harus hati-hati karena ada anak tangga yang tertutup rerumputan atau daun kering.

Anak tangga yang panjaaaaaang. 
Sudah naik dan naik, anak tangga tiada habisnya, seakan mendaki gunung tertinggi di dunia. Aku sudah ngos-ngosan dan berkeringat, tapi gardu pandang nggak kunjung nampak, hanya hutan bambu dan rumput yang lumayan lebat. Sempat terpikir untuk turun, tapi karena semangat 45 ku masih ada, aku putuskan lanjut biarpun beberapa kali istirahat.
Sampai akhirnya aku lihat sebuah bangunan terbuka di atasku, mirip pendopo. Itu dia gardu pandangnya. Aku pun cepat-cepat naik dan menyelonjorkan kaki. Udara panas pun berubah jadi angin sepoi-sepoi. Ada sepasang suami istri duduk-duduk di situ, dengan ramah mereka mengajakku mengobrol.
Hal yang menarik di situ, kita bisa lihat pemukiman kota Purworejo dari kejauhan. Pemukiman yang membentang di jalur selatan Jawa terlihat di depan mata. Di bagian lain,  pemandangannya tak kalah bagus, perbukitan hijau dengan Pegunungan Menoreh di kejauhan.
Sayangnya, gardu pandang ini kurang terawat. Tanah di sekitarnya juga banyak sampah berserakan. Kalau saja tempat ini dibuat lebih menarik, mungkin bisa menarik wisatawan dari luar daerah.

Oh....indah pemandangan....
Hingga aku turun setengah jam kemudian, cuma ada tiga pasang muda mudi atau suami istri yang naik. Ya, mereka berpasangan, cuma aku sendirian yang jomblo. Mungkinkah mereka terinspirasi lagu Bukit Hijau-nya Jayanti Mandasari?. Ah biarlah, bukan urusanku kok.
Yang penting buatku, tempat ini bisa jadi potensi wisata kalau dirawat lebih baik. Cocok buat penggemar hiking, atau yang pengin latihan mendaki gunung.

Dan… saatnya pulang. Hal yang bisa aku pelajari dari  hari ini : Jangan pernah menganggap suatu daerah tidak ada apa-apa. Seperti halnya manusia, semua daerah punya potensi masing-masing. Entah itu dari bidang sejarah, kuliner atau alam, bisa jadi daya tarik asal kita mau menggali lebih lanjut dan tak lupa melestarikannya. Karena semua adalah wujud kekayaan negeri ini. Setuju? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar