Sabtu, 18 Maret 2017

Air Terjun Seloprojo : Menikmati Guyuran Air Di Atas "Sumur"


Kalau bicara soal potensi wisata di negeri kita ini seakan nggak ada habisnya. Banyak tempat-tempat yang mempesona, yang bisa dikembangkan jadi objek wisata baru. Tidak terkecuali di sekitar tempat tinggalku : Magelang. Dulu kalau ngomongin air terjun pasti pikiranku pasti tertuju ke Grojogan Sewu di Tawangmangu, Solo.  Ah itu sih jauh bro... di Kabupaten Magelang sini juga ada kok.  Ya, ini salah satunya.
Ada sebuah air terjun di Kecamatan Ngablak. Apa lagi kalau bukan Air Terjun Seloprojo. Letaknya di lereng gunung Telomoyo, beberapa kilometer sebelum Air Terjun Sekarlangit yang pernah kukunjungi dulu.
Dengan diantar teman, aku memulai petualanganku. Setelah melewati serangkaian jalan yang lumayan menantang, naik-turun-rusak, sampailah aku ke lokasi. 
Untuk menemukan lokasi wisata ini, kita harus jeli. Di tepi jalan Ngablak-Grabag, perhatikan gapura "Selamat Datang di Air Terjun Seloprojo". By the way, karena jalan menuju air terjun ini sempit, kalau kita bawa mobil, kita harus parkir di bawah bukit, lalu jalan kaki. Lain soal kalau bawa motor, kita bisa menanjak lewat jalan berbatu sampai depan loket retribusi. Tiket masuknya cukup 5000 rupiah aja.
Baru aja aku sampai, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Yah, terpaksa harus berteduh dulu. Biar nggak bosan, mataku menelusuri pemandangan sekitar. Kanan dan kiri menawarkan pemandangan yang berbeda. Sisi kanan berupa perumahan warga yang memenuhi lereng bukit. Mungkin itulah sebabnya, desa di bawah itu dinamai Pagergunung. Sedangkan sisi kiri adalah sawah dan perkebunan, lengkap dengan tanah bertingkat alias terasering untuk mencegah longsor. Air terjunnya sendiri terlihat samar-samar di belakangku.

Pemukiman di lereng bukit

Sawah dan ladang terhampar luas
Sempat mau nyerah karena hujan nggak kunjung reda, akhirnya tepat di tengah hari harapanku terkabul. Pelan-pelan, aku naik ke lereng bukit, yang ternyata jalannya udah disemen. Di jalan, aku sesekali ketemu warga sekitar yang baru pulang bertani dan beberapa anak muda yang baru saja ke air terjun. Ternyata biarpun letaknya terpencil dan bukan hari libur, tempat ini lumayan ramai juga.

Lewar jalan setapak menuju air terjun

Iseng-iseng turun ke sawah


Kayak mendaki gunung ya?
Maklum saja, selain dekat dengan pusat aktivitas warga, tempat ini memang indah banget. Sebuah sungai kecil berair jernih mengalir ke tempat rendah. Nggak salah lagi, airnya bersumber dari atas bukit, tempat air terjun itu berada. Ternyata sungai ini adalah sarana untuk mengairi sawah dan ladang di bawahnya. Semakin ke atas, jalan kita ibarat jalur pendakian gunung. Hutan pinus yang mengelilinginya bikin suasana jadi lebih adem. Ijo royo-royo, istilahnya dalam bahasa Jawa. Luar biasa! Tidak heran, di sini sudah dibangun camping ground. Cuma sayangnya, warung makan satu-satunya di sini saat itu sedang tutup.
Akhirnya aku menemukan anak tangga menurun ke lokasi air terjun itu. Dan… sampailah aku ke tempatnya.

Akhirnya sampai juga!

Air terjun ini punya bentuk yang unik. Air yang deras tercurah dari atas tebing , menuju ke dua buah cekungan besar yang bentuknya seperti kolam, lalu berlanjut ke sungai kecil di bawahnya. Kedua kolam ini bentuknya seperti sumur, dan dari sinilah mengalir sumber air bagi warga sekitar. Karena itu, air terjun ini disebut juga Air Terjun Sumuran. Antara kolam atas dan bawah dipisahkan oleh pancuran berbentuk patung singa dan burung. Mirip batuan candi, tapi sesungguhnya hanyalah arsitektur belaka.
Musim hujan membuat aliran air lebih deras. Dari sebelah kiri air terjun, kita sudah bisa menikmati guyuran airnya. Tapi kebanyakan pengunjung lebih suka ke sebelah kanan, soalnya fokusnya lebih pas. Nah, biar aman, buat menuju ke sebelah kanan sudah dibangun sebuah jembatan besi.

Duduk dulu di jembatan besi

Arsitektur pancuran yang mirip candi (abaikan orangnya)
Beberapa pengunjung sedang berfoto di bawah air terjun. Biar lebih leluasa main air, aku jalan-jalan di sekitar dulu. Baru sesudah mereka pergi, aku mendekati air terjun.

Ya, inilah air terjunnya!

Dengan hati-hati aku melangkah ke kolam, melompati pancuran.  Wah, rasanya nyaman luar biasa. Titik-titik air menerpaku dari atas, sedangkan di bawah, kakiku merasakan aliran air. Belum lagi pepohonan hijau di sekitar tebing yang bikin sejuk mata.

Welcome to  the waterfall!

Wah sejuuuk...

Nah, di tempat seperti ini, apa lagi yang lebih mengasyikkan selain main air? Berhubung aliran air agak deras dan nggak bisa berenang, aku cukup memercikkan air ke badanku. Wow, lumayan dingin. Ngomong-ngomong, kolam bagian atas, kira-kira airnya setinggi pinggang. Sedangkan kolam bagian bawah jauh lebih dalam. Jadi aku mesti hati-hati, jangan sampai terpeleset ke kolam bagian bawah. Kalau kecebur, bisa-bisa aku nggak muncul lagi.


Mandi ahhhh... airnya dingin... 

Berasa host MTMA
Puas main air, aku balik lagi ke tepi. Biarpun nggak lama di sini, aku merasa fresh. Ya, tempat ini cocok banget buat melepas penat. Memang belum dikembangkan sebagai objek wisata unggulan, tapi keaslian alamnya lebih mengesankan. 

Puas...puas..puas... Sampai jumpa! 

Selain Seloprojo dan Sekarlangit, masih ada beberapa lagi air terjun di sekitar daerah ini. Rencananya dalam waktu dekat aku mau kunjungi air terjun Kalipancur. Seperti apa? Tunggu ceritaku selanjutnya! Salam traveler! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar